Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Rekonsiliasi 6


__ADS_3

“ Siapa wanita cantik disampingmu ini?.”


“ Menurutmu?.”


“ Apa kau bercanda?. Tunggu, jangan bilang akhirnya kau membawa kekasihmu?, jadi kau sengaja menyombongkannya dihadapan kami semua?.”


“ Aaahh, kau rubah licik. Kupikir berita yang tersebar hanya isu belaka, ternyata benar.”


“ Aku baru ada kesempatan mengenalkannya pada kalian semua. Perkenalkan, Byana.”


Mendorong sedikit tubuh Byana untuk melangkah maju, Byana yang merasa canggung pun terlihat kikuk saat para ketiga rekan bisnis Aldrik menyapa untuk berjabat tangan dengannya. Menatap pada mereka, reaksi yang diberikan Byana tidak seperti biasanya.


Alih alih berjabat tangan dengan mereka, Byana lebih memilih untuk menundukkan tubuhnya layaknya seorang putri kerajaan dengan gaun mengibas pelan tertarik kebelakang.


Merasa terkejut dengan sapaan formal Byana saat ini, ketiga rekan bisnis Aldrik langsung menarik kembali tangan mereka dan memalingkan pandangannya terlihat rasa malu yang kini hinggap pada tatapan mereka yang melihat pada Byana.


“ Baiklah, kami pergi dulu. Selamat menikmati acara malam ini.” Ucap Aldrik tersenyum puas dengan melingkarkan tangannya kembali pada pinggang Byana.


“ Teee..tentu saja... kalian juga, selamat menikmati acara.” Ucap salah satu rekan bisnis Aldrik sembari mengangkat gelas wine ditangannya.


“ Sepertinya, berita mengenai wanita itu salah. Dia tidak seperti yang diberitakan.” Ucap salah satu rekan bisnis Aldrik lainnya saat melihat mereka berlalu pergi.


“ Ya... dari pada materialistik dan kupu kupu malam. Yang aku lihat justru dia lebih seperti wanita yang sangat terpelajar. Penampilannya pun mempesona.”


“ Ya, kau benar.”


Terdengar sedikit pembicaraan mereka oleh Aldrik yang sengaja memperlambat gerak langkahnya, senyuman puas kembali melengkung sempurna pada wajah tampannya yang tertutup topeng. Tak urung akan Byana yang menatap pada Aldrik pun akhirnya menanyakan sikap aneh sang kekasih kontrak yang dicintainya itu.


“ Senyuman itu... sejak tadi aku lihat. Jelaskan arti senyum licik itu...” ucap Byana sembari menunjukkan salah satu jemarinya pada Aldrik.


“ Kau, mempelajari hal itu darimana?. Seingatku justru aku memberitahu padamu untuk tegas penuh percaya diri saat berhadapan dengan mereka.” Aldrik memegang telunjuk Byana seraya menggenggamnya.


“ Pak Gio. Beliau pernah memberitahuku bahwa saat melakukan perjalanan bisnis, kau menyukai budaya dimana saat memperkenalkan diri para wanita tidak perlu melakukan kontak fisik namun sangat sopan dan terpelajar memperkenalkan diri.” Balas Byana.


“ Kau... mengingatnya?” tanya Aldrik terkejut.


“ Yup... kurang lebih seperti itu.” Byana tersenyum jahil.


Didepan orang banyak, seperti tidak melihat keramaian orang orang yang sedang menatap mereka, sebuah kecupan lembut pada kening Byana kembali dilakukan Aldrik secara tiba tiba.


Tak urung akan Gestara dan Hana yang juga merasa malu saat menatap mereka, dengan terbatuk batuk mencoba memberitahu posisi mereka saat ini mengingat masih ada orang tua yang berkeliaran disekitar mereka saat ini.


( KLING KLING KLING) Bunyi suara bel yang menandakan pelelangan akan segera dimulai.


Memandang kearah lainnya dimana akhirnya peran utama muncul, Vlora yang hadir begitu menawan yang tidak kalah dari Byana pun berhasil mencuri perhatian saat terduduk pada sebuah bangku tepat diseberang Byana bersama teman temannya.


Tatapan Byana pun menjurus begitu serius menatap pada wajah yang sepertinya dia kenali mengingat kejadian buruk yang menimpanya siang tadi, hingga akhirnya Byana menyadari apa maksud dari Aldrik yang membawanya kemari.


“ Permainan untuk membalas mereka kita lakukan nanti. Sekarang fokus pada acara lelang dulu.” Aldrik sengaja berbisik pada Byana sehingga terlihat seperti mengecup pipinya dari kejauhan.


Byana menatap pada Vlora saat ini yang dipenuhi api cemburu dan marah. Tidak habis pikir akan cara kotor yang selalu dia lakukan berulang kali, sepertinya untuk saat ini Byana merasa muak untuk bersabar padanya.


“ Baiklah... aku akan mengikuti permainanmu. Beritahu saja aku harus bagaimana.” Balas Byana tersenyum dengan menyentuh lembut wajah Aldrik.


Dari kejauhan, Vloran yang saat ini menatap pada Byana dan Aldrik terlihat tersenyum satu sama lain seolah tidak ada yang terjadi, membuat Vlora mengepalkan kedua tangannya seolah siap untuk melompat memukuli Byana.


Tepukan pelan pada pundak Vlora yang dilakukan oleh teman temannya seraya menenangkannya, begitu terlihat oleh Hana yang tiba tiba berdiri tegap mendukung Byana dengan mengusap pundak Byana agar merasa tenang.

__ADS_1


Menatap pada Hana yang begitu terlihat menakutkan, Vlora bersama teman temannya pun langsung memalingkan wajahnya seolah tidak sanggup beradu pandang dengannya.


Tak urung akan Gestara dan Aldrik yang Hana saat ini, sungguh tak kuasa menahan tawa mereka melihat Hana begitu terbawa suasana dalam rencana yang sudah mereka siapkan.


“ Duduk dan tenanglah... acara akan segera dimulai...” ucap Gestara dengan masih tersenyum.


“ Jangan salahkan aku. Mereka mulai lebih dulu.” Balas Hana dengan penuh kesal.


Acara pelelangan pun dimulai dengan hadirnya beberapa barang barang mewah dan antik. Pajangan yang tertutup bingkai kaca, semakin membuat nilai barang itu terlihat begitu mahal, serta hanya memperlihatkan dari kejauhan dengan layar proyektor besar.


Pelelangan yang dimulai dari sebuah Guci kemudian perhiasan dengan harga tidak masuk akal, sungguh membuat Byana tercengang akan mereka yang menaruh harga dengan begitu mudah. Aldrik yang menatap Byana terheran heran, kembali hanya dapat tersenyum melihatnya.


“ Baiklah, terakhir lukisan karya seniman asal Negeri Jiran. Dengan goresan bernama Realistis, lukisan ini akan dilelang dimulai dengan harga Rp 400.000.000,-“ ucap Auctioneer, orang yang menjadi MC dalam acara lelang.


“ Rp 600.000.000,-“ ucap Alex tiba tiba mengangkat papan nomor lelangnya.


“ Sepertinya benar, Daniel menginginkan lukisan ini.” Ucap Gestara berbisik kepada Aldrik.


“ Rp 800.000.000,-“ Aldrik mengangkat papan nomornya.


“ 1 miliar.” Balas Alex spontan mengangkat papannya kembali.


Tatapan keduanya pun semakin intens dengan Byana yang secara kebetulan terduduk ditengah tengah mereka. Tak urung akan Gerry yang baru menyelesaikan panggilan, Gerry membisikkan sesuatu pada Alex hingga dia pun langsung mengangkat papan nomor lelangnya kembali.


“ 2 miliar.” Ucap Alex kembali.


Byana menatap pada Aldrik yang terlihat begitu serius meski tertutup dengan sebuah topeng diwajahnya. Mencuri pandang pada Alex yang juga terlihat seperti menantang Aldrik, Byana dihadapkan penuh kebingungan dengan mereka berdua yang bermain angka dengan jumlah yang tidak masuk akal.


“  5 miliar.” Tiba tiba Aldrik mengangkat papan nomernya.


“ Aldrik?... untuk apa kau sampai me---”


Suasana sempat hening sesaat. Menatap pada Alex yang terlihat kebingungan, Aldrik melengkungkan senyumannya karena dengan percaya diri mengetahui dapat memenangkan penawaran lukisan ini.


Byana menggenggam tangan Aldrik dengan tatapan kebingungan seolah mencoba menghentikan Aldrik. Namun yang Aldrik lakukan justru tersenyum dan hanya membalas menggenggam tangan Byana tanpa keraguan.


“ Ketukan 1... 2... ketukan 3... 4... 5... LUKISAN REALISTIS JATUH KEPADA PAPAN NOMOR 11. TUAN ALDRIK MAHENDRA.” ( TOK TOK TOK)


Dengan berbunyinya ketukan palu menandakan penawaran berakhir dengan acara lelang yang juga selesai tepat waktu. Tidak perlu berbasa basi, Byana langsung menarik tangan Aldrik menuju sudut ruangan untuk berbicara dengannya.


“ Ini masalahku. Kau tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu!. Aldrik, meski ada yang disembunyikan didalam lukisan itu, kau tidak perlu me---”


“ Byana, yang aku lakukan ini tidak sebanding dengan semua yang sudah kau lakukan untukku. Agar kau tenang, apa kau ingin melihat tabunganku di bank sebanyak apa?.”


“ Aldrik, aku sedang tidak bercanda denganmu!.”


 “ Apa aku terlihat bercanda?. Kau tahu kemampuanku, dengan waktu tidak terlalu lama aku bisa mendapatkan 5 miliar kembali. Akan aku berikan padamu nanti sebagai bukti.”


Tidak ingin melanjutkan percakapan karena rasa kesal, Byana memalingkan tubuhnya dengan berjalan menghindari Aldrik mengarah pada Gestara dan Hana yang saat ini terlihat sedang menikmati minuman dingin mereka pada sebuah meja bar.


Langkah Byana tiba tiba terhenti dengan Alex yang tiba tiba muncul dihadapannya. Menatap pada Byana begitu serius, Alex terlihat curiga melihat kening dan tangan Byana yang terluka meski tertutup dengan rambut dan gaun indahnya.


“ Tuan Mosse, ada keperluan apa?” tanya Aldrik dengan menarik Byana kebelakangnya.


“ Aku penasaran, wanita secantiknya bisa mendapat luka luka itu... sepertinya dia bukan wanita biasa yang me---”


“ Byana mendapat luka ini saat aku mengajarinya bermain ski air ketika liburan di Jepang. Aku terlalu ceroboh hingga membuatnya terluka.” Ucap Aldrik tiba tiba mengecup kening Byana dengan tatapan bersalah.

__ADS_1


“ Bermain ski air?... benarkah?, terdengar menyenangkan.” Balas Alex yang tiba tiba ditarik mundur oleh Gerry yang mempertingatkannya untuk tidak mencari masalah dengan Aldrik.


“ Baiklah... aku hanya ingin mengatakan sepertinya kau sangat menyukai lukisan itu. Semoga kau memajangnya dengan sangat baik dirumahmu.” Lanjut Alex dengan berjalan mundur menjaga jarak.


“ Tentu saja, aku akan memajangnya dengan sangat baik. Selamat malam, Tuan Mosse.”


“ Malam Tuan Mahendra.”


Kembali melingkarkan tangannya pada Byana, Aldrik berjalan berdampingan dengan Byana yang sedikit terlihat ketakutan. Tak ingin membuat kecurigaannya bertambah, Aldrik berbelok menuju sebuah Bar yang menyediakan minuman dengan Byana yang terduduk.


“ Maafkan aku... entah kenapa tanganku tidak berhenti bergetar...” ucap Byana dengan menekan kedua tangannya masuk kedalam lipatan gaunnya.


“ Byana, lihat aku. Jelas kau tidak menyukai aku yang bertindak seperti ini, tapi dalam duniaku hal seperti ini wajar dan pasti harus kulakukan. Terlebih dalam lukisan itu terdapat informasi mengenai kehilangan orang tuamu.” Aldrik menggenggam tangan Byana dengan erat.


“ Dari mana kau tahu hal ini?” tanya Byana dengan lirih.


“ Saat Gestara memberitahu Vlora akan mengadakan acara ulang tahun temannya disini, aku melihat acara lainnya yaitu lelang dimana Daniel akan hadir.” Balas Aldrik.


“ Daniel?... tapi Alex yang datang kemari.” Balas Byana kebingungan.


“ Karena acara ini hanya khusus dihadiri oleh pengusaha muda. Direktur sepertinya tidak diijinkan mengikuti acara ini. Lalu aku melihat barang apa saja yang dilelangkan, beranggapan Daniel akan fokus pada lukisan itu. Dan ternyata benar dugaanku.”


“ Tapi kita tidak tahu benar atau tidak ada sesuatu didalam lukisan itu... kenapa kau sampai harus mem---“


“ Karena aku ingin membantumu menyelesaikan masalahmu. Kau sudah membantuku dengan mengorbankan nyawamu, maka kini ijinkan aku berbalas budi padamu.”


Berbalas budi?... aaahh Byana, apa yang kau pikirkan?! Tentu saja Aldrik merasa sungkan dan tidak nyaman. Pikirmu dia memiliki perasaan padamu?, sadarlah!. Tapi Aldrik, kenapa saat itu kau menawarkan kata pernikahan padaku?. Gumam Byana dalam hati.


Aldrik yang memang tidak bisa merangkai kata kata, selalu membuat Byana salah paham padanya. Kini semua perasaan yang sempat hadir kembali membeku hanya karena sebuah kata yang tidak dimaksudkan Aldrik untuk mengatakannya.


“ Aldrik, kau datang....”


Tak menunggu waktu lama, Vlora bersama teman temannya hadir berjalan mendekati Aldrik. Tanpa rasa malu dan harga diri, Vlora mendekatkan dirinya pada Aldrik dimana Byana masih terduduk diantara mereka seolah sengaja mengacuhkan keberadaannya.


Tangan Aldrik yang tiba tiba menggenggam tangan Byana secara diam diam dari arah samping, seolah memberikan isyarat akan dirinya yang hanya harus diam terduduk biarkan dia, Gestara, dan Hana yang mengambil alih.


(PLAAKKK) tamparan keras yang dilakukan Hana pada Vlora.


“ APA YANG KAU LAKUKAN WANITA SIALAN!” teriak Vlora begitu marah.


“ Maafkan aku, tiba tiba tangan ini teringat pada wanita yang mencoba mengambil alih lahan pemukiman warga secara paksa untuk membangun sebuah Mall.” Ucap Hana dengan polos.


“ Lalu kenapa dengan itu?! Pemukiman itu memang kumuh, bahkan kepala RT RW mereka bisa aku suap dengan mudah. Warga tidak berpendidikan seperti mereka, bukankah pantas dihilangkan?!” Balas Vlora kesal.


“ Kau bahkan menyebarkan berita palsu mengenai Byana. Sepertinya aku bisa melihat siapa yang sebenarnya kupu kupu malam dengan mencoba merayu kekasih orang lain.” Ucap Hana kembali.


“ Apa kau bilang?!”


Salah satu teman Vlora tiba tiba menarik tangan Vlora seolah mencoba untuk menghentikan Vlora untuk terus berbicara. Dengan memperlihatkan rekaman online secara langsung dari balik handphonenya, terihat dirinya bersama teman temannya dalam rekaman itu.


“ Apa iiiinnnii?... tidak, tidak. Ini salahnya, dialah yang melempar telur busuk itu pada Byana!” Vlora yang tersudutkan melempar batu pada temannya.


“ Apa?, Vlora kau menyalahkanku?!” balas temannya tersebut.


“ Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu?, jelas aku berkata jangan lakukan apa pun pada Byana... meski Aldrik sudah tidak melihatku, aku akan mendoakan kebahagiaan mereka. Tapi kalian yang mengambil inisiatif untuk melakukan itu siang tadi!.”


“ Vlora, kau sudah gila! jelas kau yang meminta kami untuk me---”

__ADS_1


“ PERGI! AKU TIDAK INGIN MELIHAT KALIAN LAGI... apa yang kalian lihat?, PERGI KALIAN!” teriak Vlora pada teman temannya.


Dengan perginya teman teman Vlora dengan penuh malu dan kesal, bagi Vlora yang menjaga nama baiknya dengan hanya mengorbankan orang yang berada dibawahnya, sungguh mungkin untuk dilakukannya. Bukankah, memang seperti itu disaat mempunyai strata sosial yang tinggi?.


__ADS_2