Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Rekonsiliasi 7


__ADS_3

Lembaran hidup akan setiap keputusan yang tertulis. Bahkan kejadian tak yang terduga hadir disaat semua berjalan dengan lancar. Kembali menatap diri dari pantulan kaca, siapa yang kau lihat dalam pantulan itu?.


Benar adanya jika kau memiliki segalanya maka penantian tidak akan berguna, bahkan nilai dari sebuah kehidupan tidak ada arti lagi. Berujung pada penyesalan, waktu tidak akan bisa terulang kembali untuk pihak yang menyombongkan dirinya.


“ Aldrik, percayalah... aku tidak mungkin melakukan hal itu, terlebih pada Byana yang jelas terluka dan baru keluar dari rumah sakit....”


Muak. Melihat raut wajah dan nada bicaranya. Untuk apa selalu memakai topeng hanya untuk mendekati hati yang memang sudah tidak bisa untuk disinggahi. Apa harga dirinya begitu sangat rendah hingga seperti ini.


Benar yang dikatakan orang, jika saat kau sedang jatuh cinta maka semua akan terlihat begitu berbeda. Bahkan jika kau sampai benar benar dibutakan olehnya, jati diri sering kali berubah.


“ Masih bisa mengelak?! Tidak tahu malu.” Hana berbicara dari arah belakang.


“ Apa maksudmu?, aku benar benar tidak tahu...” balas Vlora berwajah polos.


Belum selesai menuntaskan sandiwara, Gestara tampil dengan memutar percakapan yang dilakukan Vlora bersama teman temannya melalui sambungan telephone. Merasa dikhianati dan difitnah oleh Vlora, salah seorang temannya secara diam diam mengirimkan rekaman itu pada Gestara.


Tidak mampu lagi untuk mengelak, Vlora berdiri diam membatu dengan raut wajah yang akhirnya berubah. Menatap pada sebuah layar online sosial media yang sedang berlangsung, kini hanya tinggal dirinya sendiri yang berdiri bagai orang bodoh.


“ Bukti apa lagi yang harus kami berikan padamu?” tanya Hana dengan nada menyudutkan.


“ Dari mana kalian mendapatkan rekaman ini?! jelas ini editan!” Vlora melakukan pembelaan diri.


Tahu tidak akan menyelesaikan masalah dan memperpanjang malam, Byana yang sudah tidak ingin lagi melihat sandiwara yang dilakukan Vlora, menarik tangan Aldrik seraya memberikan isyarat ingin segera meninggalkan tempat ini.


Namun belum sempat Aldrik melangkah, datang salah seorang Manager pengelola Bar dengan membawa tiga orang pengawal bertubuh besar dibelakangnya.


“ Maaf Nona Vlora, mulai hari ini kartu keanggotaan VVIP anda kami non aktifkan, serta kedepannya anda tidak diijinkan untuk ikut hadir dalam acara pelelangan atau lainnya.” Ucap Manager tersebut.


“ Apa kau bilang?... tunggu pasti ada kesalahan yang---”


“ Tidak ada kesalahan apa pun disini. Maafkan saya Nona, saya hanya menjalankan aturan dan perintah saja.” Balas Manager itu kembali dengan memotong Vlora berbicara.


“ Perintah?... siapa yang memerintahkanmu?. JAWAB AKU!” Vlora terbawa emosi.


“ Silahkan Nona, pintu keluar ada disebelah sana dan saya harap anda tidak menimbulkan keributan yang tidak diinginkan.”


Kembali menatap seolah tidak mempunyai pilihan, kaki yang melangkah pergi pun terlihat begitu kesal dengan amarah akan harga dirinya yang terinjak injak. Tak ingin membalas, semua memalingkan pandangan hanya sekedar karena tak ingin mencari masalah.


********


-Kediaman utama Mahendra-


Mutia yang mendapat kabar serta melihat dengan kedua matanya sendiri atas hal bodoh yang dilakukan Vlora, mencoba untuk menutupinya dengan langsung meminta kuasa hukumnya untuk menyelesaikan hal ini.


Tak urung akan kedua orang tua Vlora yang juga ikut membereskan awak media, Vlora yang kini hanya dapat menundukkan kepalanya pun merasa malu atas kekalahan yang diterimanya.


“ Apa yang kau lakukan?! Bukankah sudah kubilang jangan mencari masalah hingga acara ulang tahun perusahaan mereka!. Setidaknya jangan membuat onar sebelum Aldrik melamarmu!” ucap sang ayah, Pak Adhitama begitu kesal kepada anaknya Vlora.


“ Maaf Dad... Vlora tidak menyangka hal ini akan terjadi.” Balas Vlora tertunduk malu.


“ Untuk saja nona Mutia menghubungiku dan dengan cepat kami bertindak untuk membereskan masalah ini agar jangan sampai Arie mendengar hal ini...” ucap sang ibu pada Vlora.


“ Untuk sekarang, jangan lakukan apa pun dan diam dirumah. Vlora, kau dengar?.”


“ Yes Dad.”


Lain halnya dengan keluarga Adhitama, disatu sisi lainnya saat Daniel mendapatkan kabar adiknya yang gagal melakukan penawaran lelang, kembali membuatnya begitu marah.


Tak urung akan alasan yang disembunyikannya, Daniel terlihat semakin hilang akal karena rencana yang sudah tersusun dengan baik, hancur begitu saja dengan mudahnya.


“ Maafkan aku.” Ucap Alex menunduk penuh rasa bersalah.

__ADS_1


“ Bukankah sudah kubilang, tidak perduli berapa kau harus membawa pulang lukisan itu kemari. Bagaimana bisa kau sampai gagal?” tanya Daniel dengan begitu menyudutkan.


“ Bukan harga yang menjadi halangan. Tapi aku sengaja membuat Aldrik membeli lukisan itu.”


“ Apa maksudmu?” tanya Daniel kebingungan.


“ Aku merasa, Aldrik terlihat mulai mencurigai kita. Dari sekian banyak mewah barang yang di lelangkan, dia hanya tertuju pada lukisan itu. Jika aku bersikeras membelinya, apa membuat Aldrik semakin merasa curiga?!”


Mendengar perkataan sang Adik, Daniel pun terdiam mencoba untuk menimbang apakah yang dikatakan benar. Dengan Gerry yang sepertinya setuju dengan keputusan Alex, Daniel mencoba untuk meredam marahnya.


“ Kau tahu kenapa lukisan itu dilelangkan?” tanya Daniel sembari meminum winenya.


“ Yang kutahu, saat kakak melakukan transaksi dengan salah satu klien, mereka mengatakan menyembunyikan kordinat suatu tempat dilukisan itu.” Balas Alex.


“ Kau benar. Lukisan itu mereka kirim lewat kargo sebuah kapal. Namun ditengah pengiriman, akibat badai kapal itu karam namun lukisan itu berhasil diselamatkan dengan beberapa barang lainnya.”


Alex terdiam sejenak membiarkan sang Kakak menghabiskan minumannya. Kembali berjalan memutari sebuah meja, Daniel membuka salah satu laci mejanya untuk membawa sesuatu yang diberikan pada Alex untuk melihatnya secara langsung.


Menatap pada sebuah berkas dimana kertas kertas usang dengan foto foto lama berada, Alex terkejut mendapati sebuah tambang yang tersembunyi dibalik sebuah bukit.


“ Apa tempat ini... yang selama ini kau cari?” tanya Alex pada kakaknya.


“ Ya. Bukan hanya tambang batubara, tapi emas pun ada disana... bisa kau bayangkan berapa banyak keuntungan yang akan kita dapatkan.” Balas Daniel dengan senyum menyeringainya.


“ Lalu, apa informasi yang diberikan klien itu dapat dipercaya hingga harus menyembunyikan titik kordinat tempat itu pada sebuah lukisan?” tanya Alex mengerutkan alisnya.


“ Tentu saja. Karena sebelumnya aku pernah mengunjungi tempat itu, namun bodohnya aku tidak percaya dan lupa tempat itu berada dimana. Sejauh yang kutahu hanya tempat di Negeri Jiran.”


“ Apa?! Kau... pernah ke tempat itu?.”


Tidak lagi membalas perkataan sang adik, Daniel kembali menghabiskan minumannya dengan terduduk santai pada sebuah sofa. Terlihat pikirannya sedang mengambang merencanakan akan suatu rencana lainnya yang harus dia lakukan secepat mungkin.


Tersembunyi sebuah rahasia lainnya yang membuat Daniel menculik dan menyembunyikan keempat karyawan Aldrik hingga perang pun dimulai. Masih dengan ambisinya, Daniel benar benar harus bertindak sangat hati hati jika ingin rencananya kali ini berhasil.


“ Belum Boss. Karena wanita itu berhasil melarikan diri, kami sedikit kesulitan menemukan tempat dokumen itu.” Balas Gerry dengan menundukkan kepalanya.


“ Dokumen itu harus kau temukan. PT. Linux memiliki saham terbesar disini. Aku sangat memerlukan perusahaan seperti itu jika ingin semua rencana berjalan lancar....”


“ Baik Boss.”


Bukan hanya sebuah dokumen mengenai aset pemilikan perusahaan, namun dalam dokumen tersebut tersimpan beberapa investor yang dapat Daniel gunakan sebagai batu loncatan atas kekuasaan yang saat ini berada ditangan Aldrik.


Mempergunakan jasa seorang pria untuk mendekati Azka dan menipunya, rencana Daniel yang sebelumnya belum berhasil, kini mulai terkuak dengan Gestara yang bertindak cepat terlebih Aldrik yang mudah menyelesaikan masalah dan membaca keadaan dengan mudah.


“ Kita mulai permainan baru. Aldrik bersiaplah.”


*********


- Kediaman Tante dan Om Dhika-


Melihat Byana yang sudah tertidur lelap akibat obat yang harus diminum saat dalam perjalanan pulang, Aldrik kembali menggendongnya menuju kamar dan membiarkan Tante Lesti serta Hana untuk membantunya membersihkan diri kembali.


Kembali menuju lantai bawah setelah meminta ijin Om Dhika untuk menginap, Aldrik menatap pada Gestara yang terduduk begitu serius menatap layar hendphonenya.


“ Ada apa?” tanya Aldrik terduduk sembari melepaskan dasi dan jasnya.


“ Lukisan itu... apa kau yakin ada sesuatu yang disembunyikan didalamnya?” tanya Gestara sembari menaruh handphonenya diatas meja.


“ Aku pun belum begitu dapat memastikannya. Kita akan tahu begitu lukisan itu sampai sampai disini.” Balas Aldrik.


“ Kau... membawa lukisan itu kemari?. Kenapa tidak dikediamanmu?” tanya Gestara kebingungan.

__ADS_1


“ Sepertinya ada yang berniat mencoba merencanakan sesuatu... kita lihat saja firasatku ini benar atau tidak.” Balas Aldrik dengan melipat kedua tangannya.


Terdiam mendengar perkataan Gestara, rasa penasaran dan bingung pun seketika melandanya. Tak urung akan acara lelang yang juga tidak disadari sebelumnya karena fokus pada Vlora, Gestara tidak menyadari bahwa Aldrik begitu teliti melihat keadaan.


Terlampau pada detik jam, saat menjelang dini hari handphone Aldrik pun berbunyi. Dengan masih terjaga, baik Aldrik dan Gestara pun kembali dikejutkan dengan sebuah kabar akan sebuah penyergapan dan pencurian yang dilakukan beberapa orang.


“ Haris, jadi benar mereka menculik lukisan itu?” tanya Aldrik pada kuasa hukumnya.


“ Sesuai perintahmu, aku mengikuti dua mobil box yang pergi menuju lokasi yang kau pinta. Tiba tiba  dua mobil sedan hitam menghadang mobil box saat menuju kediamanmu dan mengambil lukisan itu.” Balas Haris menjelaskan.


“ APA?!” Gestara begitu terkejut mendengar penjelasan Haris melalui panggilan suara.


“ Baiklah, kerja bagus. Terima kasih.” Ucap Aldrik.


“ Aku sedang mengikuti dua mobil sedan hitam itu. Akan aku kabari selanjutnya.”


“ Haris, kau tahu mereka seperti apa bukan?. Berhati hatilah.” Balas Aldrik.


“ Tentu.”


Dengan tertutup panggilan telephone Haris, terdengar sebuah kendaraan terhenti didepan kediaman om dan tante Lesti. Aldrik segera berdiri dan berjalan menuju pintu keluar dimana terlihat sebuah mobil box yang sedang menurunkan sebuah lukisan didalamnya.


Gestara menatap pada Aldrik penuh rasa tidak percaya dan tidak menyangka akan dirinya yang begitu sangat hati hati kali ini. Kewaspadaan Aldrik yang begitu kental terlihat hanya untuk membantu Byana, membuat Gestara tidak habis pikir padanya.


“ Terima kasih, kerja bagus.” Ucap Aldrik pada kedua supir mobil box.


“ Pak Aldrik, jika anda membutuhkan sesuatu, kabari kami kembali.” Balas seorang supir.


“ Pastikan saja Haris selamat sampai tujuan.” Ucap Aldrik begitu serius.


“ Tenang Pak... bukan hanya sebuah mobil tapi penjaga yang menggunakan motor pun mengikuti pak Haris dari belakang jika saja ada kejadian yang mendesak.”


“ Kerja bagus... kabari aku informasi kelanjutannya.”


“ Baik, Pak Aldrik.”


Kembali masuk kedalam rumah, Gestara pun langsung membuka pembungkus lukisan itu dan dengan segera membereskan atau menyiapkan barang apa saja yang diperlukan oleh mereka untuk mengamati lukisan ini.


Tak urung akan Aldrik yang kembali sibuk menatap layar handphonenya, Gestara pun memberanikan diri untuk bertanya pada Aldrik akan alasannya yang seolah menyembunyikan rencana ini tanpa diketahui oleh Gestara.


“ Apa penjaga itu... anggota polisi?” tanya Gestara.


“ Ya. Haris merujuk mereka padaku. Aku tidak memberitahumu karena aku ingin kau fokus pada keamanan Byana dan Hana. Terlebih dengan meminta awak media dan siaran langsung, kau pasti sudah sangat lelah.” Balas Aldrik dengan terus menatap layar handphonenya.


“ Aku hampir salah paham denganmu... kupikir kau, mulai merasa curiga padaku, karena---”


“ Karena kau sempat berbicara dengan Alex?. Ya, aku memang sempat melihatmu berbicara dengannya saat ditoilet.” Balas Aldrik.


“ Aku... Aldrik, percayalah. Aku tidak bermaksud untuk mencari masalah. Saat itu Alex yang menghampiriku dan dia....”


“ Apa dia menanyakan tentang alasanku datang keacara malam tadi?” tanya Aldrik.


“ Ya... dia sepertinya merasa curiga kenapa kau bersikeras menantangnya untuk membeli lukisan ini.” Balas Gestara dengan mengerutkan alisnya.


Aldrik pun diam dengan tidak lagi membalas perkataan dalam percakapannya bersama Gestara. Dengan mendapat kabar akan Haris yang selamat sampai kediamannya dan mendapatkan bukti akan lukisan yang dibawa menuju klub karaoke kembali, cukup sudah bagi Aldrik untuk melengkungkan senyuman sinis diwajahnya.


Tak sadar akan pagi dimana matahari mulai menyinari, Om Dhika yang tiba tiba terlihat terkejut dengan Aldrik yang masih terduduk begitu serius menatap pada lukisan yang berada dihadapannya, membuat Om Dhika ikut mengamati lukisan itu. Hingga tiba tiba,


“ Tunggu... sepertinya, aku pernah melihat lukisan ini... tapi dimana?,” ucap Om Dhika dengan mencoba untuk mengulang ingatannya.


“ Maksud Bapak... pernah melihat lukisan ini sebelumnya?” tanya Aldrik terkejut.

__ADS_1


“ Ya... kalau tidak salah saat mendiang orang tua Byana masih hidup, aku pernah melihat lukisan ini.”


Tidak menyangka akan kejadian selanjutnya, sedikit demi sedikit semua teka teki pun mulai terjawab. Tidak salah akan firasat yang berkata tegas, sungguh puas diri menerima kenyataan akan bukti yang semakin terlihat jelas.


__ADS_2