Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Stabilitas Keyakinan 1


__ADS_3

 Byana, kau masih belum memberikan jawaban padaku. Apa kau mau merubah hubungan kontrak ini?.”


Disaat pelukannya terasa begitu hangat mendekap erat. Hembusan nafasnya dengan berbicara berbisik lembut, tidak ada alasan untuk melakukan penolakan. Namun itu bisa terjadi jika kau berada dalam satu garis lurus dengannya dan berwarna sama menjulur bagai tali temali yang terikat erat.


Bagiku?, bukan hanya karena ketidaksanggupan diri. Tapi kenyataan akan semua hal yang begitu berbeda baik aku dan dirinya, sudah tidak dapt lagi ungkapkan. Namun kenapa masih saja pria ini menanyakan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya?.


( BRAAAKKK ) “ Kami pulang...” ucap Tante Lesti saat membuka pintu masuk.


Tersadar akan posisinya dan Aldrik yang akan menimbulkan sifat canggung, tanpa sadar Byana bergerak tanpa dia sadari hingga membuat siapa pun kebingungan melihatnya.


( BHHUKKK ) ( UUGGHHH!) Byana menyikut perut Aldrik dengan keras hingga terduduk diatas lantai anak tangga.


“ BYANA ADA APA DENGANMU?!... Nak Aldrik, kau tidak apa apa?.”


“ Anak ini! Byana, kenapa kau menyikutnya!.”


Ucapan kesal diikuti rasa khawtir yang datang dari Tante Lesti dan Om Dhika dengan langsung berlari menghampiri Aldrik saat meringis sakit memegang perutnya. Menatap pada Byana yang masih berdiri dengan polos, tatapan mereka pun semakin menyudutkan Byana.


“ Aldrik sakit?. Maaf tangan ini, suka refleks secara tiba tiba...” ucap Byana sembari memukul tangannya sendiri.


“ Aku baik baik saja... Bu, Pak. Salahku tadi mencoba mengejutkan Byana dari belakang.” Aldrik kembali berdiri, sedikit tersenyum dengan masih memegang perutnya.


“ Dasar kau ini... selalu saja... Byana, minta maaf pada Aldrik!” Tante Lesti yang kesal menjewer telinga Byana seraya mendekatkannya pada Aldrik.


“ OouUWw... OuUWww... sakit Tan! Barusan kan Byana sudah minta maaf... OoUUww.. Oke, oke... Aldrik maafkan aku...” ucap Byana sembari mengerutkan alisnya, meringis menahan sakit.


“ Sudah Bu... tidak apa apa. Jangan lakukan itu lagi.” Aldrik langsung melepaskan tangan Tante Lesti dari Byana dan mengusap telinga Byana yang terlihat memerah.


Saling tersenyum menatap satu sama lain, baik Tante Lesti dan Om Dhika pun akhirnya terduduk di sofa ruangan tengah dengan Aldrik yang mengikuti mereka dan juga terduduk bersama. Berbeda dengan Byana yang masih berdiri, kedua alisnya pun terangkat seraya bertanya,


“ Aldrik sedang apa disini?, bukankah ini sudah sangat larut?."


“ Ya memang sudah larut malam. Lalu?,” Aldrik kembali memalingkan wajahnya terduduk santai.


“ Bukankah besok kerja?, kau harus pulang bukan?” tanya Byana kembali bernada parau.


“ Hmm.. tadi aku kemari diantarkan Gestara. Kebetulan aku juga sudah membawa beberapa stel baju dan juga pakaian kerja. Aku akan menginap disini. Ibu dan Bapak juga sudah mengijinkanku.”


“ APA?! tunggu... sejak kapan Om dan Tante me---”


“ Jangan menatap seperti itu pada Ibu dan Bapak. Aku yang memaksa mereka.”


Yaa, tentu saja kau pasti memaksa mereka! Namun yang menjadi pertanyaanku adalah, apa yang kau katakan pada mereka hingga mengijinkanmu, disaat dengan tegas aku meminta mereka untuk  menolak jika kau datang kesini terlebih berduaan denganmu dirumah ini seperti tadi. Gumam Byana dalam hatinya.


Menatap kepada Om dan Tantenya yang hanya menundukkan wajah atau memalingkan pandangannya agar tidak bertatap pandang dengan Byana, mereka tahu akan kewajiban menjelaskan alasan yang sangat amat ditunggu oleh Byana saat ini.


Dengan mereka, ternyata Aldrik mencoba bekerja sama setelah mendapat penjelasan dari dokter Hana prihal terapi emosi yang wajib dilakukan. Mengingat kondisi emosi Byana yang masih labil, penting baginya untuk tidak menahan diri dan meluapkan emosinya dari pada terpendam meninggalkan jejak di hati dan pikirannya yang hanya akan memperburuk kondisinya.


“ Seharian ini kemana saja?, kau terlihat begitu lelah.” Tanya Aldrik dengan tidak menatap kepada Byana.


“ Untuk apa aku mengatakannya padamu?!” ucap Byana mulai merasa kesal.


“ Jadi maksudmu, sekarang aku tidak boleh mengetahui kemana atau dengan siapa kau pergi?,” Aldrik bangkit dari tempat duduknya menatap pada Byana dengan meninggikan suaranya.


Tante Lesti dan Om Gibran yang sebenarnya mengetahui akan niat baik dan maksud hati Aldrik, merasa perlu menengahi mereka mengingat temperamen Byana yang suka meledak. Tak urung akan Aldrik yang juga sudah tahu sifat Byana, ia hanya memberikan expresi biasa tanpa terbawa emosi hanya penekanan pada suaranya yang terdengar marah dan kesal.


“ Aku bukan burung dalam sangkar. Aku juga tidak pernah menanyakan kemana atau dengan siapa kau pergi! Bahkan dengan wanita yang berbaju seksi setiap kau mengadakan meeting kunjungan pada rekan kerja bisnismu!.”


“ APA?, Byana kau membandingkan begitu jauh... kasus itu beda! aku sedang bekerja!” Aldrik berdiri mulai menatap Byana merasa tidak masuk akal.


“ Kalau begitu anggap saja aku juga sedang bekerja. Gampan kan?, sudah malam aku mau istirahat.”

__ADS_1


Tidak lagi membalas perkataanya, Aldrik membiarkan Byana menaiki anak tangga untuk masuk kedalam kamarnya. Menatap pada Tante Lesti dan Om Dhika yang hanya dapat memandang penuh iba, mereka pun tersenyum satu sama lain.


Apa dia bilang?, merubah hubungan kontrak?! Apa dia sadar apa yang dikatakannya saat ini padaku untuk kedua kali?. Gumam Byana dalam hati masih sedikit kesal membuka jendela kamarnya mencoba untuk bernafas menenangkan diri menatap langit malam.


Pikiran Byana pun mengambang. Tersadar akan kondisinya yang saat ini sedang labil, kesadaran akan Aldrik yang mungkin sudah berbincang banyak dengan Tante Lesti atau mungkin dokter Hana pun sengaja dia lakukan untuk membantu dan mempercepat Byana menjalani sesi terapinya.


(TOOKK TOOKK TOKK ) “ Byana aku tahu kau belum tidur. Aku hanya ingin bilang, kalau aku akan menginap disini selama beberapa hari. Ibu dan Bapak sudah me---”


( BRRAAKKK ) “ PULANGLAH!.” Ucap Byana kesal saat membuka pintu kamarnya.


“ Aku akan pulang jika kau ikut bersamaku.” Balas Aldrik dengan memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.


“ Aku akan kembali ke kediamanmu... hanya berikan aku waktu selama beberapa hari un---”


“ Ya sudah jika begitu, tidak ada masalah bukan?. Ibu dan Bapak pun sudah mengijinkanku.”


“ UURGGHH! Lakukan saja sesukamu!.” ( BRRAAKKK ) ( CEKREK ) ucap Byana kesal sembari membanting pintu kamarnya dan langsung menguncinya.


“ Haaah.. OKE BAIKLAH!.” ( BRRAAKKK ) Aldrik yang juga membalas membanting pintu kamarnya.


Dasar pria menyebalkan! Apa dia tidak bisa mengerti perasaan wanita?. Aku melakukan ini untuknya, tapi kenapa dia malah mempersulitku?! Gumam Byana dalam hati sembari memukul bantal dan gulingnya diatas ranjang.


Dasar wanita keras kepala! Sudah seenaknya mengambil keputusan tanpa berdiskusi denganku, masih saja keras hati dan merasa paling benar!. Gumam Aldrik dalam hati yang akhirnya terbawa kesal melihat Byana yang terus bersikap tidak senang akan kehadirannya.


********


-Keesokan harinya pada pagi hari-


Tertegun menatap, pandangan Tante Lesti dan Om Dhika yang begitu terkesima atas pesona Aldrik yang sudah rapi mengenakan jas dan dasi mewahnya. Kemeja putih gading terbalut jas suit berwarna biru tua dengan warna dasi senada, sungguh membuat mata tak berhenti untuk memandang.


Apa hanya aku yang merasa penampilan Aldrik saat ini biasa saja, atau memang karena sudah terbiasa melihatnya berpenampilan seperti ini?. Gumam Byana dalam hati dengan kembali melahap makananannya.


“ Aaahh Nak Aldrik... duduk, duduk... kita sarapan bersama.” Balas Om Dhika yang akhirnya tersadar dari pesona Aldrik.


“ Nak, apa setiap pergi kerja, penampilanmu seperti ini?... apa tidak sesak dengan dasi yang terikat dan jas yang ketat itu?” tanya Tante Lesti berwajah polos.


Tak kuasa menahan diri, tengil tawa Byana pun terdengar dengan mulut dipenuh makanan. Tentu saja tatapan Aldrik pun langsung menjurus padanya seolah berkata, kau jelas tahu penampilanku setiap hari seperti ini tapi ikut meledekku.


Merasa bersalah, Byana pun memberikan ruang pada kursi kosong disebelahnya untuk Aldrik terduduk. Dengan masih mengacuhkan Aldrik, terlihat sifat acuh Byana mengatakan jangan lupa, aku masih merasa kesal padamu.


Hembusan nafas panjang yang dilakukan Aldrik pun cukup membuat dirinya tenang, dan mereka pun sarapan bersama dengan Byana yang hanya terdiam menghabiskan makanannya.


“ Baiklah, aku pergi kerja dulu... Tan, mungkin Byana akan pulang sedikit larut malam.” Ucap Byana sembari melepaskan celemek selepas mencuci piring dan gelas.


“ Kau akan ke polres?” tanya Tante Lesti sembari membereskan meja makan.


“ Ya, Byana sudah lama tidak datang. Meski diberi tugas dan ijin, tetap merasa tidak nyaman. Ingin memberikan sedikit laporan atau memeriksa keadaan saja.” Balas Byana.


“ Aku akan mengantarmu.” Ucap Aldrik bangkit dari kursinya sembari membereskan kembali jasnya.


“ Bukankah, semalam kau berkata tidak bawa mobil?!” Byana menyudutkan dengan mengerutkan alisnya pada Aldrik.


“ EHEEMM... Gestara sudah hampir sampai untuk menjemputku. Arah ke perusahaan juga sejalan denganmu. Aku akan mengantarmu.”


Dengan berpamitan kepada Tante Lesti dan Om Dhika, Aldrik pun berjalan bersama dengan Byana menuju Gestara yang sudah membukakan pintu mobil. Menatap seraya menyudutkannya, Gestara dibuat serba salah atas tatapan yang diberikan Byana saat ini.


Sepanjang perjalanan Byana hanya terdiam dan memandang ke arah keluar jendela. Memberikan kode pada Aldrik dari balik spion mobil tengah untuk memulai percakapan, Aldrik pun mulai berpikir topik pembicaraan apa mengingat kemacetan jalan ibu kota di pagi hari.


“ Hari itu, saat aku dan Gestara menemukanmu. Kami sedang me---”


“ Aku tahu. Karena jujur... aku sebenarnya tidak bermaksud pergi kesana hari itu.” Balas Byana dengan menundukkan kepalanya, mulai memainkan jemari tangan.

__ADS_1


“ Apa?. Lalu, kau mau kemana hari itu?” tanya Aldrik dengan mengangkat kedua alisnya.


“ Sebenarnya... itu... Alex mengajakku makam malam. Lalu ditengah ja---”


“ ALEX? MAKAN MALAM?.”


Nada tinggi Aldrik pun melengking tinggi dengan raut wajah yang sudah tidak lagi perlu dijelaskan. Gestara yang akhirnya hanya dapat memejamkan kedua matanya sesaat berpikir, habislah sudah. Kau salah memilih topik pembicaraan, Aldrik! Malah jadi senjata makan tuan.


Bergumam dalam hatinya dengan kembali menatap dari balik kaca spion kembali, terlihat Byana pun mulai menjelaskan kembali dengan nada lembut dan alasannya setuju menerima tawaran Alex. Namun tetap merasa tidak masuk akal, bagi Aldrik kekesalan masih saja ada.


“ Byana, kau tahu bahaya bukan?. Kami tahu kau polisi, tapi biar bagaimana pun kau wanita dan seorang diri seperti itu dengan fakta kau sangat mengetahui dan bukan hanya seminggu baru mengenal mereka.” Ucap Gestara menggantikan Aldrik yang masih terdiam kesal.


“ Aku tahu, aku salah. Maaf...” balas Byana yang menerima salah dengan tertunduk malu.


“ Apa yang Alex katakan padamu saat itu?” tanya Aldrik dengan tidak memandang Byana karena masih merasa kesal.


“ Tidak ada. Dia hanya bilang saat ditengah jalan dihubungi dan karena masalah penting, mengharuskannya datang ke sana, lalu memintaku menunggunya. Hanya itu....”


“ Aldrik, berarti dugaanmu benar. Sepertinya kita harus segera membuat program itu.” Ucap Gestara bernada serius.


“ Ya. Byana, apa bisa untuk seminggu kedepan kau kembali menghubungi Sarah untuk meminta ijin tidak mengajar Sandra bermain piano?” tanya Aldrik berwajah serius.


“ Tentu. Tapi kenapa?” tanya Byana kebingungan, meminta penjelasan.


“ Nanti malam akan aku jelaskan padamu.”


Terdiam dengan hanya menatap pada Aldrik yang terlihat begitu serius, Byana memalingkan pandangannya kembali menatap kearah luar jendela, hingga akhirnya sampai ditempat tujuan Byana, melakukan perpisahan kecil, dan Aldrik pun segera berlalu pergi.


Seharian Byana bertemu dengan AKBP Sony dan melaporkan semua kejadian atau bukti yang Byana temukan selama beberapa hari. Tak urung akan AKBP Sony yang kembali begitu serius menanggapi laporan Byana, dirinya pun membuat suatu keputusan.


“ Aku akan berunding lebih dulu dengan yang lain. Jika diijinkan, maka aku akan mengirim beberapa orang untuk menyamar masuk ke dalam klub karaoke tersebut.”


“ Tapi Pak, perlu anda tahu ada banyak sekali ruangan di sana. Bahkan ada ruangan tersembunyi yang begitu sangat dijaga ketat oleh beberapa penjaga. Akses masuk pun hanya bisa dilalui oleh anggota dari klub itu sendiri.” Balas Byana begitu serius.


“ Byana, kau... dari mana tahu hal ini?.”


Celaka, celaka... kenapa aku begitu polos memberitahu hal ini padanya?! Byana, apa kau sudah gila! Jangan sampai rekan kerjamu tahu tentang masa lalumu itu!. Gumam Byana dalam hati, mencoba memikirkan suatu alasan yang tidak menimbulkan kecurigaan.


“ Saya tahu dari Aldrik. Seperti yang saya laporkan sebelumnya, dia pun sedang menyelidiki kasus empat anak buahnya yang diculik oleh mereka.”


“ Hmm... sepertinya kau bekerja sama cukup baik dengan CEO muda itu. Tapi tidak heran mengingat kau adalah kekasihnya.” Ucap AKBP Sony dengan menutup sebuah berkas dihadapannya.


“ Ku...kurang lebih Pak. Kami berusaha sebaik mungkin.” Balas Byana sedikit gugup.


“ Baiklah, terus laporkan padaku dan aku juga akan memberikan kabar selanjutnya padamu.”


“ BAIK PAK.”


Berjalan meninggalkan ruangan atasannya, Byana pun melangkah menuju ruang kerjanya dimana Kalina dan beberapa rekan kerja lainnya terlihat sibuk mengurus berkas berkas yang terlihat menumpuk. Kehadiran Byana pun bagai malaikat yang memberikan tenaga tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan itu.


Kembali lambaian tangan pada hari kerja yang berakhir pada rekan kerjanya, Byana kembali mengerutkan alisnya mendapati Gestara yang menjemput untuk mengantarnya, tentu dengan tidak adanya Aldrik didalam mobil. Namun mencoba untuk bersikap biasa, Byana pun tidak mau ambil pusing.


Kemana dia?! Sudah jam 1 malam tapi masih belum pulang! Bukankah dia bilang malam ini akan memberikan penjelasan padaku?... atau jangan jangan dia pulang ke kediamannya?. Gumam Byana dalam hati dengan langsung mengambil handphone mencoba menghubungi Pak Gio.


“ Tidak Nona... bukankah saat ini tuan Aldrik sedang menginap bersama anda?” tanya Pak Gio dengan nada kebingungan.


“ Jadi, dia tidak pulang ke sana?.”


“ Tidak Nona....”


Tertutup panggilan, pikiran Byana pun melayang kembali. Tidak mungkin. Aldrik jika sudah berjanji, pasti sebisa mungkin dia tepati. Apa terjadi sesuatu diperusahaan?.

__ADS_1


__ADS_2