
Suara gaduh yang begitu berisik. Terdengar seperti dirinya yang terus memanggil namaku, sekiranya ada apa dan dimana aku saat ini. Ilusi khayalanku saja atau aku memang mendengar suaranya yang selalu dengan lembut memanggil namaku.
“ Kenapa dia masih belum bangun?.”
“ Sssttt... diam dan pergilah dari sini.”
Percakapan dari dua orang yang tidak asing lagi ditelinga. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, namun saat ini yang terasa olehku adalah hembusan angin yang terasa pada setiap pemukaan kulit ini, bagai tidak menggunakan sehelai kain yang menutupi.
Kedua mata yang akhirnya terbuka, melihat pada atap langit langit kamar yang sangat berbeda. Ini ada dimana?. Gumam Byana dalam hati merasa asing, sembari mengusap wajah dengan tangannya.
Terkejut dengan penampilannya saat ini yang tidak berbusana, Byana mendapat kejutan lainnya saat melihat Alex sedang tertidur pulas disampingnya. Bagai tak berwujud dan nyawa yang melayang, Byana tertegun mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Lintasan kenangan saat melihat pada Vlora terakhir kali disaat dua pria besar menyekap dan membungkamnya, senyuman diwajah Vlora begitu kental terlihat bagai mengutuk untuk segera pergi meninggalkan dunia, enyah dan menghilanglah.
“ Kau... sudah bangun?” pertanyaan polos yang dikatan Alex saat terduduk di samping Byana.
Berbagai perasaan buruk pun menghampiri Byana saat ini. Luluh lantah menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut putih berkain tipis, Byana melihat sekitarnya dimana baju dan celananya berserakan tak menentu diatas lantai.
“ Byana... aku bisa jelaskan. Semalam kau ti—“
“ Hentikan, tutup mulutmu!.”
Byana sudah benar benar merasa muak dengan hidupnya. Kehancuran awal baginya, dengan berusaha melarikan diri segera mungkin dari kamar kotor itu dengan menyisakan luka kenangan yang sama sekali tidak dapat ia ingat atau mengerti.
. . . . . . . . .
-PT. JX Newsign perusahaan milik keluarga Adhitama-
“ Pak Aldrik maaf, Presdir sedang tidak ada ditempat....”
“ Aku menari bukan untuk bertemu dengan Presdir, tapi CEO perusahaan ini. Vlora.”
Merasa dipersulit dengan sepuluh menit yang dihabiskan Aldrik untuk menunggu, kesabarannya pun ada batasnya dengan Gestara yang menghadang semua pegawai Vlora yang mencoba menghentikan Aldrik berjalan menuju ruangannya.
Byana yang entah menghilang hampir empat hari tidak ada kabar sama sekali, bahkan Aldrik sulit menemukannya, tentu membuat akal pikirannya lepas kendali disaat terakhir kali pesan yang dikirimkan Byana padanya hanyalah permintaan untuk berpisah dan tidak perlu bertemu satu sama lain untuk ke depannya.
( BRRAAKKK ) Aldrik menendang pintu ruangan Vlora dengan kesalnya.
“ Aldrik..???” Vlora begitu terkejut saat melihat Aldrik masuk begitu saja disaat dirinya sedang bercakap bersama Alex yang juga ikut terkejut.
“ Apa yang kau lakukan pada Byana?” tanya Aldrik bernada kesal sembari melepas dasi yang mengikat dilehernya dan menggulungnya kesalah satu kepalan tangannya.
“ Aldrik... apa yang kau tanyakan?... aku tidak mengerti...” Vlora pun berjalan mundur menjaga jarak, merasa takut dengan gerak gerik Aldrik saat ini.
“ Aku tanya sekali lagi. Apa yang kau lakukan pada Byana?!”
Alex terdiam tidak sedikit pun mampu membalas pertanyaan Aldrik saat ini. Alex benar benar melupakan pesan sang kakak yang mengatakan jika membuat masalah dengannya, maka Aldrik akan begitu sangat terbuka dan berani untuk bertindak tegas.
Melihat pada Vlora yang semakin berjalan mundur hingga tersudut pada lemari kaca yang berisi buku buku Vlora dibelakangnya, Aldrik memiringkan kepalanya seolah berkata kesabarannya sudah ada pada batasnya.
“ Dimana Byana?! Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Aldrik kembali dengan penuh aura membunuh, menatap dingin pada Vlora yang berpucat pasi.
“ Aku... aku tidak tahu. Taa, tanya Alex. Dia mu,mungkin ta—“
“ BR3NGS3K!! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA TUNANGANKU!!” ( AARRGGGHHH)
__ADS_1
( PRRAANGGG PRAANGGG PRAANGGG)
Lutut yang bergetar sudah tidak dapat lagi mampu untuk menopang dirinya berdiri tegap. Vlora tersungkur terduduk begitu lemas dengan tatapannya yang kosong disaat Aldrik melayangkan pukulan tepat kearah kanan, kiri, atas, kaca lemari bukunya hingga terpecah dengan salah satu tangan yang terlilit dasi miliknya.
Alex memalingkan wajahnya tahu akan nyawanya dalam bahaya saat ini. Aldrik masih mengatur nafasnya yang berderu, begitu mengebu menahan emosi didalam dirinya agar tetap bersikap rasional hingga mendapat penjelasan yang diinginkannya.
“ Aku tahu kalian membawanya ke hotel XX malam itu. Pagi hari rekaman CCTV menunjukkan Byana pergi dengan menangis menutupi wajahnya... katakan padaku selagi aku masih bisa menahan emosi. Apa yang kalian lakukan padanya?.”
“ . . . . . . .” Vlora hanya terdiam tak dapat berbicara, hanya bergetar begitu ketakutan saat Aldrik menundukkan tubuhnya agar sejajar menatapnya kembali.
Kesabaran Aldrik sudah benar benar menghilang saat ini dengan menarik Blazer yang dikenakan Vlora bagai pesuruh hina yang memohon ampun untuk dilepaskan. Aldrik menarik paksa Vlora hingga terduduk tepat disamping Alex saat ini.
Keduanya terlihat begitu gugup hingga untuk menelan silva pun terasa sulit. Gestara langsung menutup rapat ruangan Vlora seolah tahu akan apa yang akan dilakukan Aldrik saat ini mencegah agar tidak ada satu pun orang yang masuk kedalam ruangan.
“ Aaaal,aldrik... kita bicarakan baik baik... oke?,” Alex mengulurkan kedua tangannya.
Betapa terkejutnya mereka disaat melihat sebuah senjata api merk terbaru yang tidak menimbulkan suara bisik saat melepaskan peluru, berada disalah satu tangan Aldrik yang kini mengarahkan tepat kearah Vlora dan Alex.
( DZZIINGG DDZIINGGG ) ( KYYAAAAA) Suara teriakan Vlora saat Aldrik melepaskan empat tembakan, masing masing kearah kanan Vlora dan kiri Alex.
“ Memalukan jika aku menghabisi kalian secara langsung... percayalah, tidak menyenangkan sama sekali jika kalian sempat menyiksa Byana, sedangkan kalian? Hanya memerlukan beberapa detik saja untuk menghilang.” Aldrik tersenyum miring dengan menaruh kembali senjata itu kedalam jasnya.
“ Ruanganmu berada dilantai 12. Jika kau terjatuh, tentu akan cacat karena aku akan sangat berhati hati agar nyawa kalian tidak melayang dan menikmati masa tua dengan lumpuh seumur hidup.”
( KYYAAAA ) ( PRRAANGGG ) Suara teriakan Vlora kembali disaat Aldrik melemparkan laptop Vlora kearah jendela hingga hancur berkeping keping.
“ Akan aku katakan... Aldrik, maafkan aku... akan aku katakan...” ucap Vlora yang kini sudah mulai menangis tak tertahankan.
“ Aku dan Alex membawa Byana ke hotel dan... dan aku, aku... aku membuka semua pakaian Byana. Dengan berbaring disamping Alex saat masih terpengaruh obat bius... aku mengambil foto dan video yang memperlihatkan seolah mereka tidur bersama semalam.”
“ Aldrik, aku tidak menyentuh Byana sama sekali. Sungguh!.”
“ Lalu dimana dia sekarang?.”
“ Aku sungguh tidak tahu. Aldrik, kami tidak tahu sama sekali kemana Byana pergi....”
Memastikan mereka tidak berkata bohong, melihat Vlora yang bergetar sembari menangis serta Alex yang menundukkan kepalanya, Aldrik memutuskan untuk tidak mencari masalah dengan mereka terlebih dahulu dan fokus mencari Byana saat ini.
“ Jangan lupakan peringatan ini. Karena ini terakhir kali aku berbaik hati pada kalian.” Ancaman Aldrik sembari berlalu pergi meninggalkan ruangan Vlora.
“ Bagaimana sekarang?, Byana benar benar bersembunyi.” Gestara berbisik sembari berjalan cepat disamping Aldrik menuju parkiran mobil.
“ Kau kembalilah ke kantor dulu dan laporkan pekerjaan yang tertunda. Aku mau ke Polres.” Balas Aldrik saat berada didalam lift.
“ Apa yang akan kau lakukan disana?, jelas Byana diberikan cuti kehadiran untuk menangani masalah ini oleh komandan atasannya bekerja.” Gestara pun merasa kebingungan.
“ Justru inilah kuncinya. Jika perintah pak Dhika dan Bu Lesti saja sampai Byana acuhkan, maka saat ini kondisinya sedang tidak baik baik saja. Jalan satu satunya adalah meminta atasannya memanggil Byana ke Polres.”
“ Kau, yakin Byana akan datang?” tanya Gestara sembari menyerahkan kunci mobil pada Aldrik.
“ Sangat yakin.”
Disaat Aldrik dan Gestara mencoba mencari keberadaan Byana, kabar akan Alex yang bekerja sama dengan Vlora yang kembali gagal dan menyulut kemarahan pada Aldrik akhirnya terdengar oleh Daniel dan Sarah yang kini merasa semakin kesal dengan prilaku Alex.
Mempercayai perkataan Alex justru membuat Daniel rugi karena saham perusahaan Daniel tiba tiba mengalami penurunan omset yang bahkan Daniel tidak sentuh sama sekali. Tahu akan Aldrik yang berada dibelakang semua ini, Daniel pun kini meminta Alex dan Vlora untuk datang ke kediamannya.
__ADS_1
“ Terakhir kali aku menembakmu. Apa kali ini aku harus kembali menembakmu namun tepat dikepalamu yang kosong itu?” tanya Daniel sembari berlalu lalang mengitari ruangan tengah dengan segelas wine ditangannya.
“ Dan kau, wanita merugikan. Berani sekali kau membawa keluarga Mosse dalam dendam pribadimu! Sudah begini, apa yang akan kau lakukan?,” lanjut Daniel kembali bertanya.
“ Bukankah awalnya kalian juga senang karena rencana ini berhasil?! Semua karena anak buahmu yang terlambat mengambil rekaman CCTV itu!” Vlora mencoba melakukan pembelaan diri.
( PRRANNG) Daniel melempar gelas winenya kelantai.
“ Kau... berani menyalahkan kami?, kau pikir siapa dirimu!” Daniel meninggikan suaranya seraya mengancam Vlora.
“ Jelas kalian berkata padaku untuk fokus menculik Byana, sisanya serahkan pada kalian untuk menghilangkan alat bukti. Kalianlah yang salah dalam hal ini!” Vlora mengucap kesal.
Merasa yang dikatakan Vlora benar karena Gerry datang terlambat saat bertindak akibat kemacetan jalanan ibu kota yang tidak terduga, Daniel akhirnya hanya dapat menerima nasibnya kali ini karena Aldrik mengambil tindakan keras sebagai peringatan.
Acara ulang tahun perusahaannya yang sebentar lagi akan berlangsung dengan melakukan pelayaran terbesar, menjadi wadah alasan bagi Daniel untuk meminta maaf kembali dan mencoba untuk membujuk Aldrik untuk mengembalikan asetnya yang hilang.
Namun, melihat kemarahan dalam diri Aldrik saat ini, Daniel pun mencoba untuk mencari jalan keluar lainnya yang memastikan untuk Aldrik datang keacara ulang tahun perusahaannya dan bersedia meluangkan waktu untuk berlayar bersama.
*******
-Kediaman utama keluarga Mahendra-
Berita akan Aldrik yang mencoba mencari Byana selama beberapa hari akhirnya terdengar oleh sang ayah, dimana Arie tiba tiba merubah perasaannya. Mendapati sebuah rahasia tersembunyi yang akhirnya Arie temukan atas hilangnya kedua orang tua Byana, Arie tidak menyadari bahwa keluarga Mahendra memiliki hutang budi pada keluarga Byana.
( KRIING KRIINGG KRRIINGG) Suara handphone Aldrik yang berbunyi.
“ Apa yang diinginkan pria tua ini?!” ucap Aldrik bergerutu kesal sembari mengangkat panggilan telephone yang terhubung ke mobilnya.
“ Apa kau... berhasil menemukan Byana?” tanya Arie bernada rendah.
“ . . . . . Tunggu, apa kau menanyakan Byana saat ini?,” Aldrik merasa tercengang dengan apa yang ditanyakan ayahnya saat ini.
“ Katakan saja padaku, apa kau berhasil menemukan Byana?” tanya Arie kembali yang kali ini bernada menekan pada Aldrik.
“ Aku tidak tahu apa yang kau sebenarnya rencanakan. Sebaiknya fokus saja mengurus wanita berperut besar itu dan jangan campuri masalah hidupku. Masalah Byana adalah urusanku.”
Aldrik langsung menutup panggilan telephone itu dan kembali melaju kencang menuju Polres kota tengah dimana markas Byana biasa untuk bekerja. Sedangkan Arie langsung berjalan menuju ruangan kerjanya diruangan baca untuk memeriksa sebuah berkas.
“ Lee, apa Byana adalah anakmu?... kenapa aku tidak tahu itu... apa kau menaruh nama keluarga istrimu pada Byana dan bukan namamu?” ucap Arie pilu mengenang sedih menatap pada sebuah bingkai foto yang dia sembunyikan dillaci meja kerjanya.
“ Jika sejak awal aku tahu Byana adalah anakmu, aku tidak akan melakukan dan bertindak hal seperti ini padanya... maafkan aku, Lee... maaf.”
Arie begitu menyesali perbuatannya kepada sahabat terbaiknya. Tersimpan rahasian yang selama ini dia sembunyikan, ternyata Arie adalah kunci dari hilangnya kedua orang tua Byana hingga menyebabkan Byana sampai menjadi yatim piatu dan hidup susah untuk berjuang hidup.
Langkah kaki Arie semakin berat disaat berjalan menuju sofa di tengah ruangan dan terduduk pada sebuah laptop yang sudah menyala. Sebuah flashdisk yang kembali disembunyikan olehnya, berisi tentang keseluruhan data yang membuat Byana merasa bingung hingga harus terlibat dalam kondisi bertaruh nyawa hanya untuk mencari bukti kebenaran.
“ Apa yang harus kulakukan sekarang?... apa sudah, sangat terlambat untukku mengaku dosa?” lanjut Arie kembali dengan tertungkul penuh hinanya.
Arie kembali membuka semua berkas atau apa pun itu yang berada dalam sebuah kotak yang sebelumnya dikirimkan oleh mendiang ayah Byana tepat sehari sebelum mereka diculik dan menghilang bagai ditelan bumi.
Alasan lain yang kuat dimana mendiang orang tua Byana dianggap sebagai pembelot negara karena bekerja sebagai intel, Arie yang berada dibalik semua ini pun kini bagai sulit untuk bernafas terlebih untuk bertahan hidup akan rasa malu dan bersalahnya.
“ Bagaimana bisa aku tidak menemukan Byana selama ini?! Kenapa aku sempat menyerah?... Lee, apa kau membenciku?.”
Pengakuan dosa lainnya yang Arie katakan dengan tetap memegang bingkai foto usang ditangannya. Arie kini menangis menahan suaranya agar tidak terdengar oleh sang istri Mutia, yang tidak mengetahui masalah ini sama sekali.
__ADS_1