Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
BENAR-BENAR CIUMAN


__ADS_3

Kriiiing... Kriiiing... Krii-


"Hallo" terdengar suara cengengesan diseberang. Noah memijat pelipisnya frustasi, ini sudah kesekian kalinya Marcella menelfon untuk bertanya dihari pertama gadis itu bekerja.


"Kak, aku disuruh membuatkan Miss Sinta kopi, Apa kakak tahu berapa sendok kopi yang biasa sesuai selera beliau?"


"Heee?" Noah terheran-heran dengan pertanyaan Marcella.


"Apa kau pikir aku tahu semua selera kopi karyawan di kantor ini? Kau ini ada-ada saja, sudah kau masukan saja 5 sendok kopinya!"


"Hah? 5 send-" tut tut tut. Marcella memandang sinis telepon di genggamannya. Beraninya pria itu menutup panggilannya, lagi pula dia kan bertanya karena takut salah.


"Hallo, maaf mengganggu" Marcella tidak punya pilihan lain lagi selain menelfon Steven. Sejujurnya gadis itu masih menyesal atas kejadian minggu lalu, namun mau bagaimana lagi, yang mengaku mau bertanggung jawab malah sembarangan menjawab.


"Iya Nona tidak apa-"


"Eeh?" Marcella kaget dengan pernyataan barusan. Tunggu apa-apaan ini? Steven bahkan mengetahui itu dirinya, lebih cepat dibandingkan si Noah yang nyata-nyatanya sudah muak mendengar suara cemprengnya yang hampir tiap hari mengomel. Tadi saja ketika pertama kali Marcella menelfon untuk bertanya, pria itu masih bertanya "Dengan siapa saya bicara?".


"Ada apa Nona?" pertanyaan Steven sontak membuat Marcella tersadar.


"Eh itu... Hmmm apa Kau tahu selera kopi Miss Sinta?" Marcella bersiap untuk reaksi Steven yang mungkin saja akan lebih parah dari reaksi Noah barusan.


"Miss Sinta? Hmmm baiklah, sebaiknya Nona membuatkan dengan takaran 1 sendok kopi dan 1 setengah sendok gula. Miss Sinta terkenal penyuka makanan manis, jadi saya rasa hal tersebut berlaku juga untuk selera minumannya". Marcella menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak. Maaf sudah mengganggu waktu kerjamu"

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa Nona" setelah gagang telefon diturunkan, Marcella masih saja menyunggingkan senyumnya sambil dengan cekatan membuat kopi sesuai resep Steven. Setelahnya Marcella segera menuju ruangan Manager Marketing itu untuk mengantarkan kopi pesanannya.


"Permisi Miss, saya Marcella karyawan baru. Saya dimintai Pak Damar untuk membuatkan Miss kopi" Marcella berbicara sambil tersenyum ramah. Seorang wanita paruh baya dengan gaya fashionnya yaang terbilang wow itu sejenak mendokakkan kepalanya seraya menatap gadis berseragam biru itu.


"Apa kau akan diam disitu sampai besok?" satu kalimat penyambutan yang lumayan meyesakkan.


"Ah i iya, maafkan saya Miss" Marcella segera bergerak maju dari tempatnya, menuju meja dengan berkas yang terhambur dimana-mana. Marcella kemudian menaruh kopi itu perlahan lalu segera mengucapkan pamit yang hanya dianggap angin lalu oleh sang pendengar. Sesampainya di depan pintu, Marcella menarik nafas panjang. Sungguh aura ruangan itu seperti kuburan. Sesekali bergidik ngeri, Marcella segera melarikan diri kembali ke dapur perusahaan yang dikelola oleh divisi tempatnya bekerja.


"Kau karyawan baru?" seorang wanita berwajah beringas langsung melontarkan pertanyaan saat gadis itu baru saja masuk didapur.


"I eh i ituuu..."


"Kalau ditanya itu jawab yang benar!" teriak seorang lagi dengan postur tubuh yang tak kalah beringas dari teman disebelahnya. Marcella kaget, hampir saja nampan yang dipegangnya jatuh begitu saja.


"Cih" kali ini Marcella kembali terlonjak kaget dengan sesosok wanita kurus dengan rambut... Gimbal?. Sebenarnya orang-orang seperti apa yang dipekerjakan Kakaknya?.


"Oh iya, kalau dilihat-lihat bukannya kau yang berjalan dibelakang Tuan Muda?" belum sempat gadis itu menjawab langsung saja di potong oleh temannya yang gendut bak pegulat sumo.


"Ah iya... Apa kau budaknya yang baru? Tapi sepertinya tadi kau mengenakan pakaian mahal" baiklah, kini nada mereka sedikit penuh selidik. Marcella menelan ludah gugup. Jika dia berkata bahwa dia adiknya Noah, maka tentu saja akan ditertawakan. Lagi pula siapa juga yang tega mempekerjakan adik mereka pada posisi tukang bersih-bersih seperti sekarang kecuali Noah? Dan jika dia mengaku sebagai istrinya yang ada masalah akan tambah lebih besar. Bukan hanya akan ditertawakan, melainkan mungkin Marcella akan langsung dilempar keluar dengan tubuh mungilnya menembus kaca gedung pencakar langit tersebut.


"Eeeeeh i ituu-" belum sempat menjawab tiba-tiba suara telefon bergema di ruangan itu. Marcella yang memang sedari tadi mencari celah untuk menghindar pun segera berlari mengangkat telefon tersebut.


Kriiiing... Kriiiing... Kri-


"Ha hallo, i iya baik Tuan Muda" tut tut tut. Noah mengerutkan keningnya heran, belum sepatah kata keluar dari mulutnya Marcella malah mengatakan "Baik Tuan Muda"

__ADS_1


"Baik apanya?" Noah bertanya pada gagang telefon di genggamannya.


Beberapa saat kemudian.


"Permisi Tuan Muda Hehehe" kepala Marcella masuk dari balik pintu ruangan kakaknya.


"Heheheh hehehe apanya? Dasar kau ini sunggu tidak ada sopan santun. Aku tadi mau dibuatkan ko-eh?" Noah terheran menatap Marcella yang barusan masuk dengan nampan berisi gelas dengan aroma kopi yang sangat kuat menusuk indra penciumannya.


"Silahkan" Marcella segera menaruh gelas berisi kopi itu di atas meja kerja Noah, setelahnya gadis itu segera berlari ke arah sofa dan membanting dirinya disana. Noah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh adiknya. Baru saja Noah mengangkat gelas berisi kopi panas itu untuk mengecapnya tiba-tiba...


"Aaaarrrggghhhh!"


"Aawww!" Noah berteriak saat bibir seksinya serasa disengat lebah akibat kopi panas yang langsung tertuang saat Marcella berteriak frustasi. Sebenarnya anak ini kenapa sih?.


"Astaga... Melepuh? Cik, kenapa Kakak seperti anak kecil sih? Minum kopi saja bisa tumpah begini di meja. Belepotan tau, huuufft kerjaan lagi nih" Marcella segera berlari menuju meja kerja Noah, terus nyerocos sambil melap bibir Noah dengan tisu di meja kerjanya. Tak selesai sampai disitu, Marcella terus mengomel sambil membersihkan kopi yang tumpah di meja kerja Noah. Marcella terus mengomel tanpa memperhatikan kalau yang di marah malah menatapnya tanpa berkedip. Oh no... kenapa kalau marah-marah sambil kuatir begini dia kelihatan berkali-kali... Menggemaskan?. Baiklah sudah cukup kau permainkan aku 4 kali karena kali ini aku akan benar-benar...


"Kakak itu ya... Iiiih untung saja tadi tidak kena celana, kalau kena kan repot tuh harus mandi sama ganti pakaian lagi. Memang dasar ya kayak apa saja tau ya-"


Cup


Satu kecupan mendarat manis di bibir gadis itu. Marcella diam, ditatapnya mata Noah yang sekarang berdiri di depannya setelah dengan gerakan cepat bangkit dari kursi kerjanya dan mengecupnya?.


"E Elle i itu aku-" Noah seketika tersadar dengan tingkahnya barusan, saat melihat wajah Marcella yang memerah. Bukan karena tersipu seperti biasanya tapi amarah dengan jelas terpampang disana, bahkan sekarang mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


Plakk...

__ADS_1


__ADS_2