
Waktu menunjukkan pukul 9 malam saat Noah memutuskan untuk menyelesaikan lemburnya. Setelah kejadian tadi Noah terus merutuki dirinya. Sungguh kali ini dia sudah melakukan kesalahan besar. Dari segi saudara memang dia bersalah untuk hal ini, tapi jika hal itu dilakukan seorang suami kepada istrinya apakah juga sebuah kesalahan?. Sebenarnya Noah sempat berpikir untuk menginap di hotel saja malam ini, namun dirinya sedikit kuatir juga penasaran dengan sang adik yang setelah menamparnya kemudian berlari keluar ruangan begitu saja dengan air mata yang mengalir dengan deras. Noah sempat mengejar gadis itu sampai di luar ruangannya, namun menyadari akan beberapa pasang mata yang melihat heran, Noah takut jika akan timbul skandal yang tentu saja dapat mempersulit adiknya.
Aaaakkhh... Masa bodoh dengan skandal, seharusnya aku mengejarnya saja tadi. Noah mengusap kasar wajahnya, sungguh dia tidak tahu bagaimana cara mengahadapi Marcella sekarang, apalagi mereka tinggal serumah. Apakah gadis itu akan menghindarinya? Atau mogok bicara dengannya? Atau mungkin... Membencinya?. Noah memperbaiki penampilannya saat mobil tersebut memasuki gerbang rumah utama. Noah sudah memutuskan untuk langsung meminta maaf, tidak nanti atau besok, sekarang juga!.
Supir rumah utama membukakan pintu untuk sang Tuan Muda saat mobil itu berhenti tepat di depan rumah. Hari ini Noah tidak kembali bersama Steven karena ada banyak pekerjaan yang belum selesai sehingga kemungkinan pria itu akan menginap dikantor. Pak Hans mengambil tas Tuan Mudanya, saat Noah melangkah masuk, pria itu sedikit bingung melihat Pak Hans masih berdiri di tempatnya dan belum mengikutinya masuk ke dalam rumah. Noah pun tidak mempedulikannya, karena yang ada dipikiran pria itu sekarang hanyalah langsung ke kamar adiknya lalu minta maaf. Baru saja akan menaiki tangga ke lantai dua tiba-tiba pertanyaan Pak Hans membuatnya mematung seketika.
"Maaf Tuan, apa Nona lembur?" tanpa menjawab pertanyaan Pak Hans, Noah segerah meraih ponsel di saku celananya lalu segera menelfon Damar. Sememtara Pak Hans masih diam sambil menatap Noah heran.
"Hall-"
"Apa perusahaan kita sangat kekurangan karyawan sampai kau harus membuat istriku lembur dihari pertamanya kerja?!" Noah berteriak membentak Damar, bahkan pria itu belum sempat mengucapkan salam.
"Maaf Tuan Muda tap-"
"Jika istriku tidak tiba dalam waktu 30 menit dari sekarang, maka ucapkan selamat tinggal pada pekerjaanmu" 30 menit? gila kali ya, jarak kantor dan kediamannya saja memakan waktu 1 jam lebih 30 menit.
"Tungg-"
"Aku tidak main-main!" Noah kembali berteriak. Pak Hans menatap Noah penuh selidik. Pasti sesuatu telah terjadi batin pria paruh baya tersebut.
"Tuan Muda!" baiklah kali ini yang diseberang mulai membentak.
"Kau... Kau membentakku?"
"Saya minta maaf sebelumnya Tuan, tapi hari ini karyawan cleaning service tidak ada yang lembur sama sekali. Justru tadi setelah mengantar kopi ke ruangan Tuan Muda, saya tidak melihat Nona Muda sampai jam kantor tutup. Saya kira Nona Muda bersama dengan Tuan jad-"
Brukkk...
"Aakkhh... Sialan!" Pak Hans segera mengambil ponsel Noah yang sudah tidak berbentuk lagi dari atas lantai dan segera membersihkannya. Pak Hans menatap punggung Noah yang berlari naik ke lantai dua.
Sesampainya di depan kamar Marcella, Noah langsung masuk. Pria itu memeriksa setiap sudut ruangan itu, siapa tahu Marcella sedang bersembunyi karena masih marah padanya, hingga memaksa Pak Hans untuk berbohong. Setelah mengecek sampai ke kamar mandi tidak juga didapatinya simpanse kecil itu. Noah kembali turun ke lantai satu.
"Elle!" Noah terus meneriaki nama adiknya hingga pria itu keluar rumah. Awalnya Pak Hans berusaha menenangkan pria itu, serta berusaha untuk menahan Noah agar tidak keluar rumah setelah hujan deras yang tiba-tiba saja turun, namun apalah daya bahkan Pak Hans saja sampai jatuh dilantai akibat rontaan Noah. Tak mau tinggal diam, Pak Hans kemudian segera menghubungi Steven untuk bertanya apa yang sedang terjadi, kemana Nona Muda mereka.
"Hallo" jawab pria diseberang.
"Hallo Steven, masih di kantor atau sudah balik ke apartemen?" tanya Pak Hans tidak sabaran.
"Aku masih lembur dikantor, ada apa Pak Hans?" tanya Steven penasaran.
"Tuan Muda marah-marah, dan Nona sampai sekarang belum kembali ke rumah"
__ADS_1
"Apa?!" Steven segera bangkit dari tempat duduknya, meraih kunci mobil lalu segera berlari keluar ruangan.
"Aku mohon tolong cari Nona, biar Tuan Mud-" terdengar sambungan diputuskan. Pak Hans tidak lagi mengiraukan Steven, dia yakin betul sekarang Steven pasti sudah bertidak. Pak Hans memanggil beberapa pengawal dan segera menyuruh mereka untuk membantu Steven mencari Nona Muda mereka. Sementara yang lainnya bersama Pak Hans akan menyusul Noah, entah apa yang akan dilakukan pria itu sekarang.
Noah terus berlari ke arah rumah kaca, dihempaskannya jas kerja sembarangan ke tanah, serta dasi yang ditariknya asal-asalan. tidak dipedulikannya lagi tubuh tegapnya yang sekarang sudah basah kuyup.
"Elle!, Elle!!!" teriakan Noah sontak membuat beberapa pelayan yang berada di rumah kaca ketakutan lalu memilih keluar. Melihat penampilan Tuan Mudanya yang sudah acak-acakan serta wajah yang merah padam, sontak membuat nyali mereka ciut, bahkan hujan deras pun sudah tidak mereka pedulikan yang penting sekarang mereka terbebas dari amarah Tuan Mudanya.
"Elle sialan!!!" Noah berteriak frustasi sambil meninju meja kaca yang menjadi tempat mereka sarapan biasanya. Belum hilang bekas luka minggu lalu, kini malah timbul luka baru akibat meja yang hancur itu. Noah menarik rambutnya frustasi seperti orang gila. Noah belum menyerah, kini masih tinggal satu tempat lagi, bukit. Tidak peduli dengan hujan yang semakin deras serta gelapnya malam, Noah terus mendaki ke atas bukit, menuju tempat favoritnya yang akhir-akhir ini juga menjadi tempat favorit Marcella. Sesampainya di atas bukit, kaki Noah melemas seketika. Tidak ada. Kemana sebenarnya gadis itu sekarang?
"Elle sayang... Ya Tuhan tolong, kumohon hiks hiks" Noah tersungkur di atas tanah sambil menangis. Suara tangisannya terkubur dengan derasnya hujan yang turun.
"Tuan Muda! Ya ampun Tuan bangunlah, mari kita masuk hujan semakin deras Tuan" Pak Hans ditemani beberapa pengawal memegang payung segera mendatangi Noah. Noah sama sekali tidak menghiraukan Pak Hans. Pria itu terus menangis, seolah lupa bahwa dirinya sedari tadi sudah disaksikan semua penghuni rumah.
Entah apa jadinya jika Noah tersadar, pria yang selalu menjunjung tinggi harga diri tersebut pasti akan malu semalu malunya. Namun sekarang lihatlah pria yang menangis ini, sama sekali bukan dirinya pikir Pak Hans.
"Tuan Muda saya mohon Tuan, bangunlah"
"Tinggalkan aku sendiri!" Noah menjawab masih dengan suara bergetar. Hujan yang deras itu disertai petir. Noah benar-benar kuatir akan gadis itu, dia akan kedinginan diluar sana.
"Saya mohon Tuan, anda bisa sakit" Pak Hans terus memohon, bahkan tubuh pria itu dan yang lainnya sudah ikut basah kuyup. Mereka benar-benar tidak tega melihat Noah. Di satu sisi Pak Hans kuatir dengan Noah, namun di sisi lainnya pria itu juga tidak bisa tidak kuatir dengan Nona Mudanya yang entah dimana. Pak Hans sudah menyuruh beberapa pengawal untuk mencari Nona Muda mereka. Ya Tuhan, saya mohon pulanglah Nona.
Marcella terus berlari, gadis itu tidak lagi dapat menahan air mata yang sialnya mengalir semakin deras. Marcella bahkan tidak menghiraukan tatapan aneh semua orang yang dilewatinya, hingga kini gadis itu duduk ditepi kolam kecil sebuah taman yang masih masuk dalam area perusahaan. Disanalah gadis itu menangis tersedu-sedu melepas semua yang membebaninya. Jika mungkin menurut orang lain Marcella bereaksi terlalu berlebihan atas kejadian barusan, namun tidak baagi gadis itu. Selama ini hal itulah yang berusaha dihindarinya. Bagaimanapun entah Noah adalah suaminya namun mereka tetap memiliki hubungan darah, lagi pula sangat jelas alasan dibalik pernikahan mereka.
Marcella sedikit takut, hari ini mungkin Noah baru menciumnya, siapa tahu kapan-kapan pria itu tidak lagi dapat menahan diri dan melakukan hal lebih dari sekedar mencium. Marcella memang sangat sensitif untuk urusan seperti ini.
Marcella menangis sambil mengusap kasar bibirnya. Marcella terus menangis, bahkan baju kerjanya sudah basah akibat air mata juga keringat. Setelah puas menangis yang entah sudah berapa lama, sekarang matahari semakin ke barat. Marcella merasa lebih baikan sekarang, ternyata menangis cukup menguras tenaga namun juga dapat memberikan sedikit kelegaan dalam waktu singkat. Ralat... waktu yang lumayan, melihat matahari telah memancarkan sinar keemasan ini pasti sudah sore pikirnya.
Marcella berencana hendak kembali ke kantor namun diurungkan kembali niatnya karena pasti sekarang sudah lewat jam pulang. Jadi gadis itu memutuskan untuk duduk sambil menikmati surya yang menghilang berganti kegelapan.
"Astaga!"
"Ada apa Nona?" tanya supir taxi itu ketika mendengar suara Marcella sedikit berteriak.
"Emm, saya lupa dompet sama ponsel saya Pak, setelah kita sampai bisakah Bapak menunggu sebentar?" tanya Marcella. Jelas saja ponsel dan dompet ada di dalam tas yang ketinggalan di kantor. Tapi tak apa lah, gadis itu akan meminjam uang Pak Hans saja dulu. Setelah sudah satu jam perjalanan tiba-tiba saja ponsil si supir taxi berbunyi.
"Apa?!" kali ini Marcella yang dibuat hampir tuli dengan suara si supir taxi.
"Ada apa Pak?" tanya Marcella.
"Eee anu itu Nona, istri saya kontraksi mau melahirkan dan tidak ada orang dirumah, ini saja tadi saya hanya dihubungi oleh anak saya yang masih berusia 10 tahun, dia tidak tahu mau menghubungi rumah sakit atau meminta bantuan"
__ADS_1
"Ya ampun Bapak, kenapa tidak bilang dari tadi? Baiklah begini saja, saya turun saja disini tapi saya minta dituliskan nomor handphone Bapak boleh? Ini mengenai pembayarannya" Marcella yang ikut panik langsung mengambil keputusan untuk turun dipinggir jalan.
"Tapi apa tidak apa-apa Nona? Sekarang sudah malam, apalagi kondisi sekarang jalannya di tengah hutan begini"
"Sudah tidak apa-apa Pak, sekarang yang paling penting istri dan bayi Bapak, saya juga tidak mau ada hal yang tidak diinginkan terjadi karena lambatnya penanganan"
"Baiklah kalau Nona memaksa, untuk pembayarannya tidak usah Nona"
"Eh?"
"Tidak apa-apa Nona, Nona sangat baik. Oh iya nama Nona siapa?"
"Marcella Pak" jawab Marcella. Setelah berterima kasih, Marcella turun dari taxi tersebut. Ketika mobil itu tidak lagi terlihat barulah Marcella menarik nafas panjang memandang jalanan sepi yang entah masih berapa jauh di depannya. Marcella berjalan ditemani sinar bulan. Belum berjalan beberapa langkah tiba-tiba sinar bulan mulai meredup. Sesungguhnya gadis itu sedang berperang melawan rasa takutnya sekarang. Namun mau bagaimana lagi, keselamatan istri dari supir taxi itu tetaplah yang terpenting. Gadis itu ingat betul ketikaa dirinya berusia 7 tahun saat sang ibu melahirkan adiknya. Marcella terus menangis mendengar teriakan kesakitan Tamara di ruang bersalin.
"Yaaah..." Marcella merutuki dirinya sendiri ketika hujan lebat tiba-tiba saja turun. Lengkaplah sudah penderitaannya, harus berjalan di kegelapan, tengah hutan, tanpa ponsel dan ditambah lagi ketika gadis itu menyadari bahwa hanya rumah Kakeknya yang berada di hutan ini. Habislah sudah dia tanpa ada kendaraan yang lewat, mengingat pasti sang Kakak sudah berada di rumah. Gadis itu memutuskan untuk terus berjalan, lagi pula akan sama saja jika dia memutuskan untuk berhenti atau lanjut berjalan, toh tidak ada tempat untuk berteduh atau pun kendaraan yang lewat sekarang. Setelah berjalan sekitar 30 menit gadis itu mulai menggigil kedinginan. Suara hujan dan gelapnya hutan semakin membuatnya merasa ketakutan.
Sreekkk...
Marcella berhenti tiba-tiba, lehernya refleks menoleh ke kanan saat mendengar suara dari dalam hutan. Walaupun suara hujan deras sangat mendominasi namun dirinya yakin betul jika suara itu memang berasal dari dalam hutan. Bulu kuduk Marcella merinding membayangkan binatang buas. Baru satu langkah gadis itu kembali berjalan tiba-tiba...
Sreeeekkk sreeekkk...
"Aaaaaaaa!" Marcella berteriak sambil berlari saat melihat sepasang mata menyala di dalam hutan. Gadis itu terus berlari...
Bruukkk... Marcella terjatuh saat dirinya tidak sengaja tersandung batu. Marcella menutup matanya dengan sebelah lengannya sambil menangis.
"Hiks hiks...." gadis itu sungguh sangat ketakutan, perlahan dia mengangkat kakinya hingga melihat darah segar yang mengalir di balik celana yang robek dibagian lutut.
"Hiks hiks... To-long... Hiks hiks" Marcella terus menangis hingga suara yang keluar dari mulutnya tenggelam dalam suara hujan yang semakin deras disertai petir.
Ciiiitttt...
Suara rem dari mobil yang berhenti mendadak membuat Marcella kaget.
"Sialan Elle apa yang kau lakukaan disini?! Kau merajuk atau apa, Kemana saja kau? Apa kau tidak tahu aku kuatir hah?! Sebenarnya ada apa denganmu?!" seorang pria dengan penampilan acak-acakan turun dari mobil. Bahkan baru saja pintu mobil dibuka, emosi pria itu langsung meledak-ledak.
"Ste-ven hiks hiks..." Steven segera merangkul tubuh yang menggigil di depannya. Gadis itu semakin menangis keras saat tubuh pria itu memeluknya erat. Steven menjauhkan tubuh mereka sejenak, berbicara sambil menangkup wajah Marcella dan menatapnya dalam.
"Kemana saja kau? Ya Tuhan..." Marcella bisa melihat kilatan amarah juga rasa kuatir dari tatapan pria itu. Steven kembali memeluk Marcella, kali ini pelukannya sedikit lebih posesif dari sebelumnya.
"Ku mohon jangan lakukan ini lagi hiks hiks... Aku mau mati rasanya"
__ADS_1