Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
3 KALI


__ADS_3

Terang muncul perlahan meninggalkan gelap menyisakan udara segar dipagi hari.


Noah menguap beberapa kali sambil mengejapkan matanya sekedar untuk mengumpulkan kesadaran. Kedua matanya menyapu seluruh ruangan hingga mendapati seorang gadis dengan wajah teduhnya masih tertidur dengan lelap di atas sofa. Pria itu ingat betul bagaimana keras kepala Marcella saat Noah memaksanya untuk tidur kembali dikamarnya, bahkan gadis itu menolak selimut pemberian Noah. Alhasil Noah susah payah menelan salivanya melihat lekuk indah yang terbaring anggun di depannya bahkan pria itu kesulitan mengatur suhu tubuh dan deru nafasnya. Bagaimana tidak, Marcella yang tidur menyamping menghadap ranjang malah menimbulkan imajinasi liar Noah akibat kaos yang dipakai sepupunya itu hanya menutupi sampai pertengahan paha saja semakin memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Kalau diingat-ingat ini ketiga kalinya Marcella membuat Noah lagi-lagi harus berusaha mengandalikan jiwa laki-lakinya yang memberontak.


"Sialan" umpat Noah sambil tubuhnya menyamping menatap Marcella yang masih enggan untuk membuka mata padahal diluar sudah terang. Beraninya dia tidur senyenyak itu setelah membuatku kepanasan sepanjang malam. Noah menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Baru satu malam Marcella menjadi istrinya namun jiwa laki-lakinya sudah memberontak semalaman.


Tok tok tok


Ketukan pintu dari luar kamar disusul pak Hans yang membuka puntu perlahan. Noah yang menyadari pak Hans langsung memberi isyarat untuk diam dengan jari telunjuk yang diangkat didepan bibirnya. Pak Hans kemudian mengangguk setelah melihat nona muda yang terbaring di atas sofa lalu kembali mundur disusul Noah yang mengendap-ngendap bak pencuri keluar kamar.


"Selamat pagi tuan muda" sapa pak Hans.


"Selamat pagi, ada apa pak Hans?"


"Saya mau mengingatkan bahwa tuan David dan nyonya Tamara akan kembali hari ini"

__ADS_1


"Aah iya aku hampir lupa untung saja kau mengingatkanku pak Hans"


"Saya juga mau minta izin untuk mengantarkan tuan dan nyonya ke makam ketua"


"Kenapa pak Hans? memangnya Steven kemana?" tanya Noah penasaran.


"Tuan Steven tadi menghubungi saya tuan, dia sedang demam jadi kemungkinan tidak masuk kerja hari ini" jelas pak Hans.


"Lalu kenapa dia tidak menghubungiku malah menghubungimu?, cih dia itu ya apa dia malu karena tidak kelihatan hebat seperti biasa saat sedang sakit?" gerutu Noah.


"Hmmm benarkah? aaah itu... biarkan saja nanti aku akan menghubunginya" pak Hans hanya tersenyum melihat tingkah tuan mudanya sebelum dirinya pamit untuk segera berangkat bersama David dan Tamara ke makam keluarga. Sebenarnya Noah masih marah dan ya, dia masih menunggu penjelasan kejadian kemarin kepada pria itu. Sejujurnya dia masih belum puas dengan penjelasan Marcella semalam yang berkata bahwa Steven memeluknya hanya untuk menenangkannya saja, namun Noah tetap saja bersikeras harus mendengar semua penjelasan dari mulut Steven langsung mengingat pria itu tidak mungkin berbohong, walau sesalah apapun dirinya akan tetap mengaku. Itulah salah satu kelebihan Steven yang membuatnya mempertahankan pria itu bekerja padanya. Bahkan boleh dikatakan keluarga Steven sudah berbakti sekian lama semenjak ayah Steven menjadi orang kepercayaan kakek diikuti ayahnya dan kemudian pria yang dipercaya itu memberikan anak semata wayangnya untuk melanjutkan tugasnya saat pria itu meregang nyawa akibat kecelakaan hingga membuat Steven yang masih berusia sangat muda tidak memiliki pilihan lain selain memenuhi permintaan ayahnya.


Noah yang sedari tadi masih berdiri di depan puntu pun kembali masuk ke dalam kamar lalu mengambil benda pipih yang semalam disimpan Marcella di atas nakas. Benda pipih itu ditemukannya di ruang kesehatan kemarin. Noah membuka kunci layarnya dan benar saja Noah melihat ada pesan dari Steven yang meminta izin untuk tidak bekerja hari ini. Noah akhirnya memutuskan untuk menelfon Steven.


"Hallo selamat pagi tuan muda"

__ADS_1


"Hallo apa kau sakit?" tanya Noah to the point.


"Maafkan saya tuan muda saya..." belum selesai Noah langsung menyambar.


"Bersiaplah akan kusuruh orang menjemputmu, bisa berbahaya kau sakit sendirian di apartemenmu"


"Tidak perlu tuan muda saya tidak apa-ap..."


"Kau mau membantah heh? sejak kapan kau jadi mengabaikan perintahku hah?"


"Aku..." disambar lagi saudara-saudara.


"Ini perintah!" tut tut tut


Steven yang masih menggigil akibat demam hanya bisa menarik nafas dalam setelah bunyi panggilan terputus. Steven memaksakan diri bangkit dari ranjang lalu melihat jam didinding yang menunjukkan pukul 09.00 pagi.

__ADS_1


Steven bangkit untuk bersiap-siap mengingat kondisinya sekarang yang tidak memungkinkan untuk mandi pria itu kemudian masuk ke kamar mandi sekedar untuk cuci muka dan sikat gigi. Terlihat jelas wajahnya yang masih membiru pada pantulan kaca akibat kejadian kemarin yang juga membuatnya frustasi hingga hampir tidak tidur semalaman. Setelah selesai dengan ritualnya Steven masih setia memandangi dirinya di pantulan kaca. Steven mengepalkan tangannya berusaha untuk menahan gejolak dalam dirinya yang kapan saja bisa meledak, namun di satu sisi Steven juga harus tahu batasannya seperti yang telah dinasehatkan oleh pak Hans. Kepalan tangan Steven perlahan melemas saat dirinya membayangkan wajah yang sangat dirindukannya, wajah seseorang yang menjadi satu-satunya alasan untuk membiarkan waktu bergulir lebih lama lagi hingga membawa seseorang itu kepelukannya.


__ADS_2