
Malam itu angin bertiup kencang menembus tubuh indah yang sedari tadi berdiri termenung di balkon. Pepohonan pinus yang nampak hitam dikegelapan malam pun menimbulkan suara akibat tiupan angin malam. Tak terasa air mata pun mengalir di pipi cantik itu.
Marcella benar-benar bingung sekarang bagaimana caranya memberitahukan kedua orang tuanya mengenai segala yang terjadi. Bahkan sekarang dia tinggal serumah dengan sepupu yang akan menjadi suaminya. Walaupun mereka tadinya sudah sepakat unutk menjadi sekutu demi mempertahankan perusahaan keluarga tapi tetap saja hal itu mengganggu Marcella. Marcella berpikir bagaimana dengan pekerjaannya, ayah ibunya, bahkan pandangan orang tentangnya nanti yang menikahi sepupunya sendiri sementara hal tersebut sangat melanggar peraturan untuk sebagian orang.
Yah bagaimana mungkin orang-orang akan menganggapku wanita baik-baik jika aku menikahi sepupuku ini kan sama saja seperti pernikahan sedarah, gumam Marcella.
Dikamar lain yang bersebelahan dengan Marcella sepasang mata yang sedari tadi berusaha untuk tertidur pun kembali bangun tubuh bidangnya berbalik ke kanan dan ke kiri entah apa yang sedang dipikirkan Noah saat itu. Noah pun bangun lalu duduk dipinggir ranjang dan melangkah keluar menuju balkon untuk mencari udara segar. Sesampainya di balkon dia memejamkan matanya sambil memenangkan pikiran lalu menarik nafas panjang.
Setelah merasa cukup tenang dia pun membuka matanya dan hendak berbalik menuju kamar. Langkah kakinya pun terhenti saat melihat wanita cantik yang hanya berbalutkan kameja putih sampai bawah pinggang termenung memejamkan mata yang sembab sambil mengeluarkan air mata.
"Elle!" panggil Noah yang sekejap membangunkan Marcella dari lamunannya.
"Eh kakak, kak Noah belum tidur?" jawab Marcella yang dengan sigap langsung mengusap air mata yang jatuh dipipinya.
"Belum, kau sendiri apa yang kau lakukan malam-malam begini sendirian di balkon?" tanya Noah.
"Tidak kak, aku hanya mencari udara segar" jawab Marcella yang mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Noah pun memanjat pemisah balkon antara kamar tamu dan kamarnya yang sekarang di tempati Marcella.
"Kakak apa yang kau lakukan?" tanya Marcella kaget melihat tingkah kakak sepupunya itu.
Noah yang tidak menghiraukan pertanyaan Marcella pun berdiri di atas pembatas balkon lalu melompat ke balkon tempat Marcella berdiri. Noah yang sengaja mau menggoda adik sepupunya tersebut pun mendekatkan wajahnya ke wajah Marcella dengan tatapan penuh penasaran. Marcella yang kaget pun berusaha menunduk dan memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri agar Noah tidak melihat matanya yang sembap. Noah yang dari tadi tidak menghentikan tingkah bodohnya pun membuat Marcella berjalan mundur untuk menghindari kakak sepupunya tersebut. Sampai akhirnya tubuhnya tersandar di pembatas balkon, Noah pun melanjutkan aksinya mencari-cari wajah Marcella.
"Kakak!" Marcella pun berteriak sambil memukul bahu bidang Noah agar menghentikan aksinya tersebut. Noah pun mencengkram tangan Marcella dan dalam sekejap tatapan mereka pun bertemu. Wajah Marcella yang seketika memerah melihat wajah tampan itu pun berusaha kabur dari Noah. Noah berjalan mengikuti Marcella lalu melingkarkan tangannya di pinggang Marcella dan menarik paksa Marcella kebelakang sampai tubuh gadis itu menempel di tubuh bidangnya. Marcella yang kaget dengan perlakuan kakak sepupunya itu memberontak sambil memukul tangan Noah agar melepaskannya.
Apa kebiasaanya memang memberontak ya? Apa perlu kutampar lagi agar dia bisa tenang batin Noah.
"Tidak bisakah kau tenang walau sebentar? Apa kau tidak tahu sedang bersandar dimana sekarang?" teriak Noah. Marcella yang merasakan sesuatu menjanggal dibalik tubuhnya tersebut langsung memerah, tubuhnya gemetar.
Ya dewa apakah aku membangunkannya? Aku harus segera melarikan diri jika tidak dia bisa saja macam-macam denganku batin Marcella.
Belum sempat Marcella melarikan diri, Noah langsung memegang pinggang Marcella memutarnya dengan paksa kini mereka saling berhadapan.
"Hahahahh..." Noah tertawa terbahak-bahak melihat wajah adiknya yang sudah seperti udang goreng.
"Kakak!" teriak Marcella malu sambil memukul dada bidang Noah.
"Hahahah hei hei hentikan jangan memukulku terus apa menurutmu dadaku ini bantal yang seenaknya kau pukul!" kata Noah sambil mencubit pipi adik sepupunya tersebut.
"Kenapa kau menangis?" tanya Noah serius setelah menghentikan tawanya.
"Siapa yang menangis? Mataku hanya berair karna udara diluar sangat dingin" kata Marcella sambil menunduk.
"Kau mau menipuku ya? Memangnya aku ini bodoh sampai tidak menyadari hal kecil seperti itu!" kata Noah. Marcella yang tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya pun mulai menangis. Noah memeluk adik sepupunya tersebut.
"Sudah sudah, kalau kau memang keberatan dengan pernikahan ini aku tidak akan memaksamu" kata Noah sambil mengelus-elus rambut Marcella.
Rambutnya harum gumam Noah sambil tersenyum.
"Apa menurut kakak aku ini pengecut yang lari dari tanggung jawab? Kalau aku sudah berjanji maka aku akan melakukannya. Lagi pula ini untuk keluarga kita" kata Marcella dengan nada tinggi.
"Whoa dari mana datangnya keberanian itu hah? Bahkan suaramu dapat didengar sampai kamar pelayan dibelakang" tanya Noah yang kaget mendengar Marcella berteriak.
"Berani apanya?" tanya Marcella sambil mengusap air matanya.
"Berani meneriakiku. Asal kau tahu saja orang-orang diluar sana tidak ada yang berani meneriakiku karna aku akan langsung memakan habis mereka!" kata Noah sambil memasang wajah penuh ancaman.
"Memakan? Memangnya kakak canibal?" tanya Marcella heran.
Ya ampun apa dia tidak pernah paham kata godaan apa gumam Noah
"Ya! Kalau aku tidak dapat menahan nafsuku maka aku akan memakan orang yang berteriak padaku!" kata Noah. Marcella yang mendengar perkataan kakaknya tersebut langsung melepaskan pelukan Noah lalu berlari kedalam kamar sambil berteriak.
"Dasar pria mesum!" teriak Marcella.
"Hei kau mau kemana aku ingin memakanmu sekarang!" teriak Noah sambil tertawa melihat tingkah menggemaskan adiknya itu.
__ADS_1
...
Keesokan harinya
Waktu menunjukkan pukul 05.30 pagi saat Noah terbangun dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat selesai mandi Noah pun kembali ke kamar ganti dengan hanya berlilitkan handuk sebatas pinggang menutupi tubuh gagahnya dan tiba-tiba Noah teringat bahwa pakaiannya baru akan dipindahkan pagi ini oleh para pelayan. Akhirnya dia kembali harus ke kamarnya yang ditempati Marcella untuk mengambil baju ganti. Noah langsung masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan seketika wajahnya memerah melihat tubuh indah yang tertidur pulas diatas tempat tidur.
Marcella adalah tipe orang yang tidak terlalu nyaman menggunakan selumut saat tidur alhasil sekarang dia hanya menggunakan kameja Noah yang sudah berantakan karena posisi tidurnya yang kacau dan memperlihatkan paha mulusnya karena hanya menggunakan celana dalam berwarna hitam.
Noah yang seketika panas melihat pemandangan didepannya berusaha untuk mengendalikan diri sambil menuju kamar ganti dan mengambil sepasang baju olahraga miliknya.
Jika dia seperti ini terus maka aku tidak dapat berjanji untuk dapat menahan nafsu gumam Noah sambil memegang dahinya dan mencoba mengendalikan gairahnya.
Hari ini adalah akhir pekan. Noah jarang menghabiskan waktunya diluar untuk mengisi hari liburnya dia lebih memilih untuk lari pagi dan bersantai dirumah memenangkan pikiran.
"Apakah ini barang nona?" tanya salah seorang pelayan.
"Iya tadi tuan muda berpesan untuk memindahkan barang tuan muda ke kamar tamu dan memasukan barang nona ke kamar tuan muda" kata pelayan lainnya sambil menyerahkan koper Marcella.
"Oh iya tuan juga berpesan untuk melakukannya dengan hati-hati agar tidak membangunkan nona" sambungnya.
"Baiklah" jawab pelayan tersebut sambil mengangkat koper Marcella.
Marcella baru terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul 07.11 pagi, tubuh indahnya menggeliat kesana kemari untuk mengumpulkan kesadaran. Marcella bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu ke kamar ganti.
"Eh? Ini kan bajuku syukurlah jadi aku tidak perlu memakai baju raksasa ini lagi" Marcella tersenyum senang saat melihat lemari dipenuhi dengan bajunya dan beberapa tambahan baju baru lainnya jadi dia tidak perlu lagi menggunakan kameja Noah yang sangat besar untuk ukuran tubuhnya. Setelah berganti pakaian Marcella turun ke bawah dan mendapati beberapa pelayan yang mondar-mandir melakukan aktivitasnya.
"Selamat pagi Nona" sapa beberapa pelayan kepada calon nyonya rumah.
"Selamat pagi, oh iya dapurnya dimana ya? Aku dari tadi tidak menemukannya ternyata rumah ini benar-benar besar" tanya Marcella yang tersenyum walaupun sudah ngos-ngosan karna dari tadi berkeliling mencari dapur.
"Ada yang bisa kami bantu nona? Jika membutuhkan sesuatu katakan saja maka kami akan mengambilkannya nona" jawab seorang pelayan.
"Ahhaha tidak apa-apa cukup katakan saja padaku dimana letaknya" jawab Marcella sambil tertawa malu karena diperlakukan berlebihan menurutnya.
"Ah baiklah disana nona" sambil menunjukkan rumah kaca yang letaknya menurut pengamatan Mercella lumayan jauh dari rumah utama.
Apa kakek tidak mempertimbangkan para pelayan sebelum membangun rumah ini? Ini kan sangat jauh dari rumah utama gumam Marcella yang membayangkan betapa lelahnya para pelayan yang harus membawa makanan ke rumah utama setiap hari.
"Astaga calon nyonya rumah cantik juga ya kulitnya mulus dan wajahnya benar-benar manis saat tersenyum pantas saja tuan muda memilihnya" bisik beberapa pelayan kagum dengan penampilan tubuh tinggi ramping yang dibalut kameja berwarna kuning, celana ketat hitam sebetis dan sepatu kets berwarna putih ditambah rambut yang dikumpulkan sembarang dan diikat tinggi menambah kecantikan Marcella. Cantik, sederhana dan sopan itulah yang berada di pikiran para pelayan saat ini.
Saat memasuki dapur Marcella melihat pria paruh baya yang menyambut kepulangannya dan Noah semalam sedang mengontrol para koki dan pelayan di dapur mempersiapkan sarapan pagi.
Dia pasti kepala pelayan gumam Marcella sambil mendekati pria paruh baya tersebut.
"Permisi pak apakah saya bisa meminta air minum?" tanya Mercella sopan sambil mengembangkan senyumnya. Sontak kepala pelayan kaget dengan pertanyaan Marcella tersebut lalu segera mengambilakannya air minum. Tak perlu lama-lama Marcella langsung meneguk air tersebut lalu mengucapkan terima kasih. Beberapa pelayan sangat kaget sekaligus kagum dengan sopan santun Marcella yang sangat berbeda dengan beberapa wanita tuan muda yang pernah datang ke rumah.
"Nona lain kali jika anda membutuhkan sesuatu cukup memintanya kepada pelayan di rumah utama maka mereka akan melayani nona dengan baik jadi nona tidak perlu untuk buang-buang tenaga menuju dapur jika tuan muda sampai tahu maka dia akan sangat marah" jawab kepala pelayan dengan sangat ramah dan sopan kepada Marcella.
"Hehehe tidak apa-apa pak, lagi pula aku bosan di rumah utama jadi sekalian mencari udara segar" jawab Marcela sopan sambil menepuk halus pundak kepala pelayan. Para pelayan kembali dibuat ternganga dengan tingkah Marcella.
"Oh iya pak, apa ada yang bisa kubantu?" tanya Marcella yang sontak membuat seluruh pelayan kaget.
"Tidak tidak perlu nona anda duduk saja kami akan membuat sarapan" jawab kepala pelayan yang tak kalah kaget dengan pertanyaan Marcella dan membayangkan bagaimana marahnya Noah jika tahu calon istrinya bekerja di dapur.
"Ah tidak apa-apa, dirumah juga aku selalu membantu ibuku membuat sarapan bisakah aku meminjam celemek?" tanya Marcella. Kepala pelayan yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya memberikan isyarat kepada para koki dan pelayan untuk meninggalkan dapur. Mereka pun meninggalkan dapur dan hanya tersisa Marcella dan kepala pelayan.
"Nona apakah anda yakin akan melakukannya? Tuan muda akan sangat marah jika mengetahui semua ini" kepala pelayan pun memohon kepada Marcella.
"Tenang saja kakaku tidak akan marah dia orang yang baik tau" kata Marcella sambil tersenyum.
Noah yang baru saja selesai lari pagi langsung menuju rumah. Saat melewati kamar Marcella dia melihat pintu terbuka, hanya ada beberapa pelayan yang membersihkan kamar. Kemudian dia kembali menuruni tangga ke ruang utama untuk mencari adiknya yang menggemaskan itu. Setelah seluruh ruangan di rumah utama dimasukinya dan yang dicari pun tidak kunjung muncul batang hidungnya Noah tambah panik entah apa yang dirasakannya. Dadanya terasa sakit tiba-tiba perasaan tidak ingin kehilangan menyeruak didadanya. Noah pun kembali ke ruang utama aura wajahnya benar-benar dingin sekarang. Beberapa pelayan yang dari tadi kebingungan melihat Noah mondar-mandir pun ikutan panik ketakutan. Bagaimana tidak, terakhir kali mereka melihat pemandangan seperti ini saat wanita terakhir yang dibawa tuan muda meninggalkan rumah. Noah benar-benar sudah kehilangan akal saat itu.
Kurang ajar kemana wanita itu? Baru kemarin dia membuatku tersenyum dan sekarang apa dia pergi meninggalkanku? gumam Noah.
"Dimana Elle?!" teriak Noah kepada beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruang utama. Para pelayan yang kaget pun hanya bisa menunduk karena ketakutan.
"Anu tuan..." jawab seorang pelayan terbata-bata.
__ADS_1
"Bicara cepat jika kau masih ingin memiliki lidah!" teriak Noah, suaranya menggema di ruangan utama. Pelayan yang ketakutan setengah mati itu pun berusaha melanjutkan kalimatnya.
"Tadi nona berjalan menuju arah rumah kaca tuan" tak butuh waktu yang lama Noah pun langsung keluar dari rumah utama setelah mendengar jawaban dari pelayan tersebut.
"Oh iya pak, apakah anda tahu bahwa sebenarnya saya dan kak Noah adalah saudara sepupu?" tanya Marcella sambil terus melanjutkan kegiatan memasaknya. Marcella memberanikan diri bertanya karena menurutnya pria paruh baya disebelahnya tersebut dapat dipercaya.
"Tau nona" jawab pria paruh baya tersebut sambil mengeluarkan daging dari kulkas dan membantu Marcella memotongnya menjadi beberapa bagian.
"Lalu menurut bapak bagaimana? Hmmm... maksudku pendapat bapak mengenai pernikahan ini" Marcella lanjut bertanya.
"Saya sangat mengenal ketua dengan baik nona. Saya sangat yakin ketua memiliki alasan yang tepat dibalik wasiatnya tersebut" jawab kepala pelayan. Pak Hans dari usianya yang masih muda memang sudah bekerja dengan kakek Marcella, Pak Hans tau betul bagaimana majikannya. Marcella yang mendengarnya pun mengangguk.
"Oh iya kakek dan nenekku seperti apa mereka?" tanya Marcella.
"Ketua dan nyonya adalah orang yang sangat baik. Ketua sangat menghargai para pelayan seperti keluarganya sendiri" jawab Pak Hans.
"Tapi pak, kalau memang kakek ku sangat menghargai para pelayan kenapa membuat dapur dengan jarak yang lumayan dari rumah utama? Bukankah para pelayan akan sangat kelelahan mondar-mandir mengantarkan makanan ke rumah utama?" tanya Marcella heran.
"Oh itu karena nyonya sangat meyukai ketenangan dan keindahan alam. Ketua sengaja membuat dapur disini sesuai permintaan nyonya. Nyonya dan ketua sering sarapan disini sambil menikmati pemandangan hutan, bahkan tuan muda juga sering sarapan disini" jelas Pak Hans sambil terus membantu Marcella memasak.
"Rupanya mereka memang orang yang sangat baik" jawab Marcella dengan nada yang sangat sedih. Marcella sedih karena tidak dapat mengenal kakek dan neneknya tersebut. Dia hanya mencoba membayangkan seperti apa mereka dari cerita pak Hans.
"Mereka orang yang sangat baik nona, bahkan saya bisa melihat hal itu juga dari anda" hibur Pak Hans yang melihat Marcella sedih.
Marcella hanya tersenyum mendengar perkataan pria paruh baya tersebut.
"Baiklah makanannya sudah siap!" teriak Marcella senang.
"Bantu aku menatanya pak, dimana nampannya? " lanjut Marcella. Baru saja Pak Hans akan menunduk mengambil nampan di rak bawah meja Marcella langsung menghentikannya dan kemudian jongkok untuk memilih nampan yang besar.
"Apakah saya perlu memanggilkan pelayan untuk mengantar makanan nona?" tanya Pak Hans.
"Tidak perlu, bantu aku menatanya di meja kakek dan nenek saja. Bukannya bapak bilang kak Noah juga sering makan disini? Dia pasti tidak keberatan jika sarapan disini lagi" jawab Marcella.
"Oh iya dimana kak Noah pak?" lanjut Marcella setelah sadar bahwa sedari tadi dia tidak melihat kakaknya tersebut sambil terus memilih nampan yang menurutnya muat untuk membawa makanan yang dimasaknya sekali jalan ke meja.
Brukkk...
Belum sempat pria paruh baya itu menjawab pertanyaan Marcella, Pak Hans pun sangat kaget mendengar pintu yang ditendang dengan suara teriakan dari luar.
"Elle!" teriak Noah panik
"Pak Hans dimana Elle?" tanya Noah ketika melihat isi rumah kaca tersebut hanya berdiri pak Hans sorang. Marcella yang mendengar keributan pun langsung mengangkat nampan yang dipegangnya.
"Disini Kak!" Marcella langsung berdiri dan tanpa melihat Noah dia pun menaruh nampan dimeja dan mengomel karna Noah teriak-teriak. Pak Hans yang jelas melihat amarah Noah dari mata dan wajahnya yang merah karena menahan emosi pun hanya diam.
"Kakak kenapa teriak-teriak? Suara kakak mungkin bisa terdengar sampai rumah utama" celoteh Marcella yang masih sibuk melap nampan yang dipegangnya.
Kumohon nona berhentilah bicara dan tataplah wajah dengan tatapan membunuh ini, jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada anda gumam Pak hans yang gelisah.
"Kakak kan bisa memanggilku bai..."
Plakkk...
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Marcella. Marcella yang kaget pun menatap Noah sambil memegangi pipinya yang sakit, tak terasa air matanya pun menetes dengan derasnya Marcella tak sangka Noah bisa setega itu padanya. Ini kedua kalinya Noah menampar Marcella. Suara tangisan Marcella pun pecah seketika. Noah yang melihat air mata di wajah Marcella pun semakin kesal karena tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.
"Sial!" kata Noah sambil meninju dinding dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Noah pun berjalan mendekati Marcella yang berdiri mematung sambil sesegukan menangis. Saat Noah mendekati Marcella gadis itu pun refleks memukul dada Noah. Noah memeluk Marcella erat. Marcella semakin kuat menangis sambil terus memberontak dan memukul dada bidang laki-laki tersebut. Namun kekuatan Noah justru lebih besar dari Marcella yang membuat pria tersebut tidak menghiraukan pukulan demi pukulan yang dia terima malah semakin erat memeluk Marcella.
"Kakak ja hat huuuuu huuuuu..." kata Marcella sambil memukul dada Noah dan sesegukan terus menangis di dada bidang Noah. Pak Hans pun meninggalkan ruangan saat Noah mengisyaratkan untuk meninggalkannya berdua dengan Marcella.
Noah semakin erat memeluk Marcella entah kenapa dia sangat menyesal akan perbuatannya sendiri.
"Maafkan aku, aku hanya takut kau meninggalkanku" kata Noah penuh penyesalan. Noah pun melonggarkan pelukannya tangan kanannya tetap memeluk pinggang gadis itu, sementara tangan kirinya mengusap pipi kanan Marcella yang merah akibat perbuatannya. Noah menyandarkan keningnya ke kening Marcella.
"Maafkan aku..." kalimat itu terus diucapkan Noah. Noah ikut menangis menyesali perbuatannya. Marcella yang melihat wajah tampan dengan tatapan penuh penyesalan itu pun luluh. Entah mengapa dia begitu cepat luluh. Marcella merasakan sakit di dadanya ketika melihat kakaknya menangis menyesali perbuatannya. Marcella dengan refleks menyeka air mata kakaknya lalu membalas pelukan Noah.
Pak Hans yang sedari tadi diluar rumah kaca melihat perbuatan mereka kemudian tersenyum.
__ADS_1
Begitulah kalian meskipun bertengkar hebat tapi darah yang mengalir ditubuh kalian tidak akan membohongi satu sama lain untuk saling memaafkan gumam Pak Hans. Pria paruh baya itu melangkah pergi sambil menarik nafas panjang lalu tertawa kecil dengan tingkah kedua saudara sepupu tersebut.