Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
DRAMA


__ADS_3

Pesta hampir selesai, namun tidak dengan Marcella yang masih sibuk menarik-narik gaun panjangnya mengekori Noah diikuti Steven yang sibuk meladeni seluruh pembicaraan membosankan dari para rekan bisnisnya. Beberapa dari mereka bahkan memuji Marcella yang nampak sangat cantik dengan balutan gaun pengantinnya. Semua pujian itu hanya diladeni dengan senyum sumringah milik Noah yang sekali-kali juga memutar bola matanya mendengar semua pujan yang menurutnya berlebihan.


Noah memang tahu jika adik sepupunya itu cantik namun beberapa kata tambahan dari sang pemuji sangatlah berlebihan seperti contohnya tuan Tan dari Tan & Kim Coorporation mengatakan bahwa Noah sangat beruntung karena bisa mempersunting wanita dengan wajah yang cantik, berperilaku sopan, perhatian, baik hati, lembut dan bla bla bla.


Cih lembut apanya bahkan belum terbenam matahari dia sudah membuat kedua kakiku lebam gerutu Noah dalam hatinya.


Berbeda dengan Noah, Marcella justru semakin melebarkan senyum manisnya semanis air tebu di ladang yang malah membuat Noah seperti terkena diabetes parah saking muaknya. Bahkan Marcella sesekali meliriknya dengan tatapan bangga dengan semua pujian-pujian tersebut.


Setelah selesai dengan acara mengekori Noah, Marcella kembali menarik-narik gaunnya ke arah salah satu meja tamu dan sejenak bersandar di meja tersebut untuk mengurangi rasa lelahnya. Peluh mulai berjatuhan jatuh di pipi cantiknya.


Marcella menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Terlihat olehnya Noah yang sedang berbincang dengan pak Hans serta ayah dan ibunya yang sibuk berbincang sambil sesekali terdengar suara tawa mereka karena paman Iron yang sedari tadi mendapat cubitan dari bibi Lusi, disebelah kanan terlihat Sita dan Natan yang saling melempar pandangan tajam satu sama lain, disisi yang lain masih ada beberapa tamu yang berbincang serta beberapa sepupu jauhnya yang sibuk mengarahkan kamera bergantian untuk mengambil gambar.


Marcella menunduk dan kembali menghembuskan nafasnya kasar dia benar-benar kelelahan saat ini, kedua kakinya terasa nyeri akibat sepasang sepatu keramat itu.


"Duduklah" Marcella langsung menengadah ke arah suara tersebut. Perlahan sepasang tangan kekar itu membantunya untuk duduk di salah satu kursi tamu, Marcella menurut saja karena dia sudah sangat-sangat kelelahan.


Steven langsung jongkok didepan gadis itu lalu menyibakkan sedikit gaun panjang Marcella.


"Eeeh apa yang kau lakukan!" Marcella berkata dengan nada sedikit membentak, kaget karena Steven dengan lancangnya menyibakkan gaunnya. Bentakan Marcella hanya disambut dengan sedikit senyum di wajah Steven.


"Sesuai dugaanku" jawaban Steven membuat Marcella mengerutkan kedua alisnya.


"Aaw aduh!" Marcella mengaduh kesakitan saat Steven berusaha melepaskan kedua sepatu dari kakinya, dan memang benar sesuai dugaan Steven dari cara jalan Marcella yang sudah kelihatan tidak nyaman pasti kakinya sudah belas akibat memakai sepatu tersebut sudah lebih dari tiga jam bahkan mata kaki dan juga belakang kakinya mulai terkelupas dan mengeluarkan sedikit cairan merah.


"Ti tidak apa-apa aku bisa mengobatinya sendiri" Marcella terbata-bata menahan sakit saat Steven mengangkat kaki Marcella di atas pangkuannya. Steven sama sekali tidak menghiraukan Marcella hingga kini kaki kanan Marcella sudah bertengger manis di atas pangkuan Steven.


"Diam saja sebentar nona saya juga tidak akan lama" jawaban datar Steven sukses membuat Marcella diam. Setelah tidak ada lagi pemberontakan dari Marcella, Steven langsung meraih dua buah benda kecil dari saku jasnya.


Benda pertama dibukanya dan langsung di ditempelkannya di mata kaki Marcella sambil sesekali ditiupnya untuk membantu mengurangi rasa sakitnya. Setelah selesai dengan kaki kanan Marcella, Steven kembali meraih kaki kiri Marcella di pangkuannya dan kembali menempelkan benda kedua di belakang kaki sambil kembali meniup lembut untuk mengurangi rasa sakitnya. Tanpa mereka ketahui sepasang mata David sedari tadi memperhatikan semua yang telah dilakukan Steven terhadap putrinya.


Sebuah senyum terbetuk sempurna di bibir David.


Pilihanmu selalu tepat kak Anton batin David berterima kasih kepada sang kakak yang dulu telah mengenalkan pemuda itu untuk membantunya menjaga putrinya.

__ADS_1


Tap...


"Kau, apa yang kau lakukan?!" tiba-tiba suara bariton itu mengejutkan Steven dan Marcella yang sontak menatap ke arah suara secara bersamaan. Steven yang ditegur pun langsung bangkit dari posisinya.


"Saya hanya membantu nona tuan muda. Kaki nona belas akibat memakai sepatu terlalu lama jadi saya menempelkan plester luka di kaki nona" jelas Steven sambil menatap ke arah Marcella.


Tatapan pria itu seolah-olah meminta pertolongan kepada Marcella. Marcella yang mengerti arti tatapan itu langsung tersenyum ke arah Noah.


Aaah dia berlebihan sekali batin Marcella sambil menatap sinis ke arah Noah.


"Benar kak, Steven tadi membantuku kar..."


"Ayolah sayang, kenapa masih memanggilku dengan sebutan itu? bukankah semalam kau sudah berjanji jika kita sudah menikah kau akan memanggilku dengan sebutan... SUAMIKU?" pernyataan Noah dengan kata Suamiku yang agak ditekan membuat Steven seketika menatap takjub ke arah Marcella.


Kesepakatan? wah fitnah macam apa lagi ini? semalam saja dia masuk mengendap-endap ke dalam kamarku saat aku sedang tidur batin Marcella berteriak atas tuduhan yang sangat menjatuhkan harga dirinya itu.


Wah mata Marcella benar-benar sukses membulat, jika bukan ditempat umum mungkin dia sudah melayangkan sebuah tinju diwajah Noah. Tunggu dulu tempat umum?. Marcella segera melayangkan pandangannya ke arah beberapa tamu yang ternyata memperhatikan mereka bertiga.


Marcella yang menatap Noah dengan tatapan membunuh mengerutkan kedua alisnya ketika melihat kedua alis Noah yang naik turun berirama seperti meminta persetujuan.


"Ahhh iya iya suamiku maafkan aku ya sayang akibat terlalu lelah aku jadi lupa janjiku semalam hehehe" Marcella sepakat karena tersadar bahwa mereka sekarang sedang diperhatikan orang lain.


"Iya tapi lain kali jangan lupa ya sayang, nanti kadar cintaku bisa berkurang loh" habislah kau hahahahah batin Noah merasa menang. Wajah Marcella sekarang sudah seperti buah tomat matang menahan kekesalannya.


"Iya suamiku, aku tidak akan mengulanginya lagi maafkan aku..." maafkan aku karena setelah ini akan kutonjok mulut kotormu itu batin Marcella sambil tersenyum terpaksa ke arah Noah sambil meremas gaunnya.


Steven yang sedari tadi berada di antara keduanya berusaha keras untuk menahan tawanya sampai-sampai matanya berair. Beberapa tamu yang sedari tadi melihat kearah mereka pun mengangguk senyum ke arah Noah lalu segera mengalihkan perhatiannya ketika sang pria membalas senyuman mereka.


Setelah melihat keadaan disekitar telah aman Noah mulai angkat bicara sambil menatap Steven dan Marcella secara bergantian.


"Apa kalian harus kuberitahu lagi agar jangan terlalu dekat ditempat umum?!" tanya Noah dengan nada kesal.


Wah drama apa lagi ini? batin Marcella. Mata wanita itu menatap dalam-dalam kedua bola mata Noah namun nihil tidak ada sama sekali terpancar kebohongan di mata pria itu.

__ADS_1


"Maaf, lagi pula Steven tadi hanya merasa simpati saja kepadaku. Aku juga heran kenapa justru Steven yang lebih peka dibanding SUAMIKU sendiri" penekanan pada kata Suamiku dari kalimat Marcella barusan membuat Steven merasa was-was mungkin sekarang benar-benar akan terjadi pertumpahan darah antara keduanya mengingat sebelumnya Noah juga menekankan kata yang sama.


"Kau!" alih-alih menggubris Marcella, Noah bahkan kembali menunjuk serta membentak Steven. Steven pun mulai gelagapan saudara-saudara.


"Apa kau juga harus kuperingatkan lagi heh?ini di tempat umum setidaknya kau bisa menahan diri sebentar dan mengontrol sifat super heromu itu"


"Dan kalau kau juga menyadari ini tempat umum maka kontrol sifat tukang ikut campurmu itu jika kau tidak mau kita sekarang jadi tontonan orang banyak" balas Marcella dengan wajah yang berusaha meredam amarahnya. Steven yang berada di tegah-tengan mereka berusaha untuk tetap tenang dengan menahan nafas berharap ini hanya mimpi.


Mimpi apanya nyata-nyata mereka sudah seperti berada di arena tinju saja, bahkan wajah tampanku mulai basah akibat serangan air liur mereka batin Steven berteriak.


"Ada apa ini ribut-ribut?" pertanyaan David seolah memberikan ruang bernafas bagi Steven, bahkan Steven hampir memeluk David saking bersyukurnya pria itu.


"Ah eh... eh ti tidak ada apa-apa paman"


"Tidak ada apa-apa apanya!" Marcella yang tidak terima perilaku Noah semangat menimpali perkataan pria tampan tersebut.


Eh sebentar Noah memang tampan namun Marcella tidak mau mengakuinya walau terkadang matanya tak berkedip menatap wajah dengan rahang tegas tersebut.


"Ada apa sebenarnya nak, kalian bertiga dari tadi ribut-ribut malu sama tamu lain". Baiklah kalimat David barusan sedikit menyinggung Steven, pasalnya pria tersebut hanya terjebak di antara pertengkaran suami istri.


"Ada apa sebenarnya nak Steven?" Akhirnya David bertanya kepada pria yang setia berdiri dibelakang tubuhnya setelah lama menunggu jawaban Noah dan Marcella yang tak kunjung keluar dari mulut mereka berdua.


Hahahahaha ini kesempatanku untuk mengadu karena disini aku juga hanyalah korban batin Steven sesaat memikirkan rencananya tidak memperdulikan tatapan memelas dari Noah dan Marcella yang menyuruh untuk tutup mulut saja.


"Jadi begini tuan..." kini tatapan memelas tersebut mendadak menjadi tatapan penuh ancam seolah mengisyaratkan 'jika kau buka mulut maka saat ini juga adalah hari terakhirmu bekerja'.


"Hhhhh..." Steven menghela nafasnya panjang.


"Tidak ada apa-apa tuan" Steven pasrah terurai senyum penuh kekalahan di bibirnya.


"Ya sudah kalau begitu, Noah dan Elle sebaiknya kalian berdua pergilah kembali menyapa beberapa tamu sepertinya mereka sudah akan pamit" lanjut David tak mau lagi berlama-lama. Perintah David tersebut dibalas anggukan oleh Noah dan Marcella. Sementara Steven dengan gerakan cepatnya hilang entah kemana.


David tersenyum lucu dengan perilaku tiga anak muda tersebut. Sebenarnya David tahu persis apa yang terjadi apalagi tadi saat Steven angkat bicara terlihat dengan jelas tatapan menusuk dari putri dan menantunya.

__ADS_1


__ADS_2