Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Komitmen 7


__ADS_3

“ Mungkin... sebaiknya... kita cari tempat yang lain.”


“ Tidak Byana, kenapa harus ganti tempat?.”


“ Aldrik... kau yakin akan ikut barisan ini untuk mengantri?.”


“ Ya... kenapa tidak?.”


Saling menatap pada Hana dan Gestara, mereka tidak pernah terbayang akan seorang Aldrik Mahendra, ditengah penampilannya yang mewah dan formal mengantri untuk makan pad sebuah restaurant yang jauh dari pelayanan sempurna, tempat yang berkelas, dan berbintang lima.


Sebuah restaurant bukan di jalan utama tetapi melewati gang-gang belakang, namun tempat yang indah dengan pemandangan menghadap ke kanal sungai dengan sebuah pohon sakura besar yang sedang mekar. Tempat duduk di bar koki adalah pilihan tepat untuk mengagumi keahliannya sambil menikmati suasana dengan 4 set menu makan siang yang berbeda dan penampilan yang cantik.


“ Aku baru tahu kita bisa mendapatkan ice cream bahkan dimusim semi seperti ini...” ucap Hana yang sedikit merasa pegal selepas mengantri.


“ Itu masuk dalam pilihan menu set yang kau pesan. Tentu saja ada.” Balas Gajendra terduduk disebelahnya.


“ Byana, kau puas datang kemari bukan?... yaahh, harus kuakui tempat ini tidak buruk. Kudengar dari sini ada sebuah kuil yang indah bahkan sedang mengadakan suatu acara. Apa kalian ingin melihatnya selepas ini?” tanya Hana selepas mendengar percakapan wanita yang mengantri didepannya.


“ Jika Byana mau, aku akan ikut.” Ucap Aldrik sembari menatap Byana hangat.


Tatapan matanya entah mengapa sejak tadi selalu memandangku, bahkan tangannya pun masih belum melepaskan tanganku. Kenapa aku merasa Aldrik mengkhawatirkanku?, apa jangan jangan dia tahu semalam aku... Gumam Byana dalam hati sembari menatap Aldrik.


Melihat tatapan Byana yang tiba tiba berubah, Aldrik seketika mengerutkan kedua alisnya untuk memberikan isyarat yang mengatakan, tunggu hukuman dariku. Akhirnya Byana menundukkan kepalanya yang membuat Aldrik begitu puas melihatnya.


Makanan dan minuman tersaji dengan beberapa staf muda yang pandai berbahasa inggris sehingga dapat mudah dimengerti akan apa saja menu yang berada dalam set makanan. Tak urung akan Aldrik yang langsung melahap makanan dengan sangat baik, terlihat dia sudah terbiasa mengingat dirinya yang sering bepergian keluar negeri.


( DDRRTTT DDRRTTT DDRRTTT) Handphone Aldrik yang bergetar diatas meja.


“ Angkatlah...” ucap Byana saat Aldrik menatapnya melihat siapa yang melakukan panggilan.


“ Baik.” Ucap Aldrik dengan langsung mengangkat panggilannya.


Memalingkan wajah dapat dengan mudah bagi Byana membaca raut wajah Aldrik yang terlihat kebingungan dan kembali meminta sarannya akan Vlora yang menanyakan keberadaannya dan meminta untuk menyusul untuk bersantap makanan lezat.


Dengan Byana yang langsung meminta pindah tempat duduk, cukup bagi Aldrik yang langsung menghembuskan nafas panjangnya seraya mengijinkan Vlora untuk datang dan menikmati waktu bersamanya.


 “ Aku tidak menyangka, kau akan makan ditemapat seperti ini.” Ucap Vlora dengan merendahkan suaranya menatap sinis begitu menyudutkan.


“ Kau atau Aldrik yang tidak mau makan disini?. Lagipula restaurant hotel sesuai denganmu, untuk apa kemari?!” ucap Gestara dengan sangat ketus menanggapi sikap Vlora.


“ Karena dimana Aldrik berada, maka disana tempatku.” Ucap Vlora sembari menyandarkan kepalanya begitu manja pada pundak Aldrik.


Meski kedatangan Vlora sudah diketahui oleh Byana bahkan dengan Gestara yang juga duduk diantara mereka. Namun begitu mendengar perkataan Vlora, tangan Byana mengepal disaat melihat Vlora memperlakukan Aldrik dengan begitu sangat baik dan bersikap manja padanya.


“ Kau... baik baik saja?” tanya Hana khawatir.


“ Apa kau sudah selesai makan?. Kita pergi dari sini.” Ucap Byana tanpa berbasa basi.


“ Meninggalkan mereka begitu saja?” tanya Hana kebingungan.


“ Tidak... aku punya rencana lain... lihat saja...” ucap Byana senyum meringis jahil.


Sengaja memperlihatkan foto dirinya dan Aldrik yang terlihat mesra saat mengenakan pakaian mewah mengunjungi suatu acara, Byana pun menjelaskan akan adanya wanita yang mencoba merayu suaminya yaitu Vlora.


Tahu akan Vlora yang sangat tidak menyukai makanan pedas, salah satu staf dan koki yang akhirnya terhipnotis oleh sandiwara Byana pun menyetujui usulannya untuk menaruh wasabi begitu banyak hingga membuat Vlora berlari keluar dengan begitu marah.


Sadar akan kelakuan Byana yang jahil, Aldrik mencoba mengendalikan amarah Vlora dengan mencoba marah sepertinya dan menyebutkan akan membereskan masalah itu dengan pelayan restaurant dan koki yang menyiapkan hidangan.


( KRRIINGG KRRIINGG KRINNGG) Handphone Vlora yang berbunyi.

__ADS_1


“ Katakan ada apa.” Ucap Vlora saat mengangkat panggilan itu.


Dengan masih merasa pedas pada mulutnya, Vlora mendengarkan dengan begitu sangat serius pembicaraan orang yang melakukan panggilan padanya. Tatapan hangat Vlora tiba tiba berubah saat menatap Aldrik yang sudah mempersiapkan diri untuk menanggapi reaksi Vlora.


“ Kenapa Vlora?, kau terlihat tegang.” Tanya jahil Gestara dengan mengerutkan alis.


“ Apa yang kalian berdua rencanakan?” tanya Vlora dengan raut wajah kesalnya.


“ Pertanyaan itu seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau rencanakan dengan pria tua itu?. Pikirmu aku tidak tahu?!” balas Aldrik bernada dingin.


Vlora seketika terdiam mengetahui bahwa rencananya gagal total setelah kontrak kerja baru yang ditawarkan oleh Vlora di tolak oleh PT. Kanamizu. Mendengar kabar akan Aldrik yang menipunya untuk bertemu dengan pemilik perusahaan terbesar yang berganti direktur, Vlora sungguh merasa kesal karena Aldrik membodohinya.


“ Dengan apa kau membujuk mereka hingga menyetujui kontrak baru untuk ditandatangani?” tanya Vlora begitu serius pada Aldrik.


“ Byana... keluarlah.” Ucap Aldrik sembari tersenyum bangga.


Vlora akhirnya menyadari akan budaya Jepang yang begitu menghargai tradisi dan adatnya. Dengan Byana yang jago dalam bermain musik dan juga berinteraksi, sungguh merupakan suatu tamparan keras bagi Vlora yang hanya mengerti bisnis tanpa membangun ikatan apa pun pada calon rekan bisnisnya karena terburu ambisi.


Tersadar akan dirinya yang kalah telak disaat Byana dan Hana berjalan menghampiri. Kekesalan Vlora semakin memuncak disaat dirinya merasa Byana mengingkari janjinya untuk memberikan kesempatan pada Vlora dan Aldrik untuk mengenal lebih jauh. Vlora berjalan menghampiri mencoba menampar Byana, namun tiba tiba Aldrik menampis tangannya.


“ Jangan pernah berani melakukan hal ini pada Byana.” Ucap Aldrik dengan wajah menyeramkan.


“ Kau! Aldrik, jelas Byana yang mengingkari janji dalam hal ini!” Vlora meninggikan suaranya mencoba melakukan perlawanan diri.


“ Byana datang kemari sama sekali bukan karena keinginannya. Bahkan aku dan Gestaralah yang menipunya dan memanfaatkannya agar mereka mau menandatangani kontrak kerjasama itu.”


“ Aldrik benar. Jelas kau pergi bersama dengan Aldrik, sedankan aku, Byana, dan Hana datang dengan penerbangan berikutnya sama sekali tidak berniat mengikutimu.” Gestara memperlihatkan tiket pesawat yang sudah dia edit ulang dari dalam handphonenya.


Tatapan Vlora pun menjurus pada Byana seolah memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Aldrik dan Gestara adalah benar. Vlora memikirkan sebuah cara lainnya yang dapat dia jadikan alasan untuk membalas Byana, jika terbukti bersalah dan melanggar perjanjian.


“ Kau... menginap dihotel mana?” tanya Vlora pada Byana.


Tak urung dengan alasan tiket kepulangan yang sama gara gara cuaca buruk, Vlora semakin merasakan amarahnya memuncak mengingat bukan hanya kontrak kerja samanya yang gagal, tapi Aldrik terlihat semakin hangat dan lembut saat menatap pada Byana dan bukan dirinya.


Sial! Aku harus memikirkan sebuah cara agar Aldrik dapat mengalihkan perhatiannya padaku. Gumam Vlora dalam hati dengan tiba tiba membungkukkan badannya.


“ Uuugghh... sakit sekali... kenapa... perutku... sakit sekali...” ucap Vlora dengan memegang perutnya.


“ Jangan berpura pura. Kami tahu kau hanya sandiwara.” Ucap Gestara sinis.


“ Aku... tidak... sedang... bercanda. Aldrik tahu... bahwa aku... tidak bisa... makan makanan... yang pedas.” Ucap Vlora kembali memainkan sandiwaranya.


Entah ada perasaan apa dalam diri Byana, bukan merasa Vlora berbohong justru Byana seolah merasakan sakit yang dirasakan Vlora saat ini mengingat dirinya pun memiliki alergi berat terhadap kacang kacangan. Dengan memberikan uluran tangan Byana, Vlora dalam hati tertawa puas karena sandiwaranya berhasil dengan sempurna.


Meminta Aldrik untuk membawa Vlora ke rumah sakit terdekat, Vlora menolak dengan alasan cukup beristirahat dan kembali ke hotel karena obat pribadinya berada didalam kamarnya. Merasa berat hati dan terpaksa, Byana pun akhirnya meminta Aldrik untuk membawa Vlora berujung pada Aldrik yang menggendong Vlora bagai putri raja kembali menuju hotel.


********


“ Byana, sudah waktunya kita ke bandara...” ucap Hana sembari tersenyum sedih.


“ Apa Gestara akan ikut bersama kita?” tanya Byana mencoba mengalihkan pembicaraan.


“ Aldrik, tidak akan ikut bersama kita dalam penerbangan ini karena Vlora telihat masih begitu kesakitan. Gestara baru memberikan kabar barusan...” ucap Hana yang mengerti maksud dari perkataan Byana.


Byana pun terdiam dengan berdiri dan kembali membereskan barang barang terakhirnya. Berjalan menuju pintu keluar kamarnya, entah mengapa melihat ruangan kamar ini terasa sesak bagi Byana untuk pergi seolah masih ingin menghabiskan waktunya disini.


Melihat Gestara yang sudah menunggu mereka di lobby utama hotel, juga dengan memberikan senyuman sedih pada Byana seperti Hana, ternyata tidak membantu sama sekali untuk menenangkannya. Byana hanya dapat tertunduk lemas mengingat Aldrik berada dalam satu kamar dengan Vlora dan akan menghabiskan waktu berdua dengannya.


“ Ayo Byana...” ucap Hana menyuruhnya masuk kedalam mobil disaat Gestara membuka pintu.

__ADS_1


“ TUNGGU.” Teriak Aldrik yang berlari.


“ Aldrik?... kenapa kau tiba tiba ber---”


Merasa terkejut dihadapan orang banyak dan tatapan mereka, Aldrik seolah tidak mengerti dan tahu kondisi dimana mereka sedang berdiri saat ini. Ciuman lembut beberapa detik pun berakhir dengan belaian lembut tangannya pada kepala Byana saat sedang memeluknya.


Kecemasan Byana tiba tiba menghilang karena kehangatan dan wangi aroma parfum yang melekat pada tubuh Aldrik yang menenangkan. Menikmati dekapan itu, mereka berdua pun terpaksa menjauh mengingat jadwal penerbangan yang harus membuat Byana segera ke bandara.


“ Tunggu aku dirumah.” Bisik Aldrik pada telinga Byana.


“ Kabari aku...” balas Byana dengan menatap lirih.


“ Tentu.”


 Senyuman diwajahnya yang tampan pun semakin membuat kaki Byana terasa sulit untuk bergerak. Tersadar akan Hana yang mendorong tubuhnya dan Gestara yang terburu menancap gas mobil, lambaian tangan pun Aldrik berikan disaat Byana berlalu pergi.


*******


-Sesampainya di kediaman Aldrik-


Byana disambut hangat seperti biasa oleh Pak Gio dan Lia yang terlihat penasaran untuk mendengar apa saja yang terjadi selama di Jepang. Teralihkan oleh sifat Lia yang ceria, Byana pun dengan semangat menceritakan pengalamannya dan membuat Gestara dan Hana sedikit merasa tenang saat melihatnya.


Dengan perbedaan jam yang terjadi, Byana mencoba memperhitungkan saat ini pukul berapa dan sedang apa Aldrik disana. Menunggu kabar darinya, namun sedikit pun Aldrik tidak membalas panggilannya atau pesan darinya.


Tidak benar. Aldrik mengatakan akan pulang secepatnya. Tapi sudah tiga hari, dengan tidak ada kabar seperti ini... apa terjadi sesuatu padanya?. Gumam Byana yang mulai merasa cemas. Terpanggil pada suatu panggilan pada Gestara, Byana pun dikejutkan dengan kabar yang tidak pernah dia sangka sebelumnya akan terjadi.


“ APA?. Aplikasi buram yang dibuat Aldrik diketahui oleh Daniel?... bagaimana bisa?” tanya Byana dengan nada menghentak pada Gestara.


“ Entahlah. Sudah dua hari ini Aldrik bahkan tidak tidur dan terjaga melihat pada layar komputer. Analisis selalu berubah ubah, entah virus apa yang dikirimkan Daniel saat ini.” Balas Gestara.


“ Jadi Aldrik sudah pulang dari dua hari lalu dan langsung menuju perusahaan?” tanya Byana.


“ Ya. Aku pun terpaksa menjemputnya dibandara saat itu. Kondisi perusahaan saat ini sedang sulit. Byana, Aldrik khawatir Daniel menyuruh Alex atau Gerry untuk menghabisi nyawa keempat karyawan kami.” Balas Gestara dengan nada pilu dan kebingungan.


Byana pun terdiam mendengar perkataan Gestara. Berjalan memutari kamarnya, Byana kembali terdiam mengingat sifat Alex dan Gerry yang menganggap nyawa seseorang tidak penting. Byana mencoba menghubungi atasannya yaitu AKBP Sony, mencoba untuk menanyakan kabar terbaru.


Panggilan berakhir dengan masih tidak menemukan titik permasalahan karena pihak kepolisian pun masih memerlukan waktu untuk menyelidiki. Mengingat Byana mata mata yang dipercaya, sebaliknya mereka begitu mengandalkan informasi dari yang Byana berikan.


“ Bagaimana ini... apa yang bisa aku lakukan untuk menolong Aldrik?!” Byana kembali memutari kamarnya dengan sangat gelisah.


Pandangan Byana tertuju pada bingkai foto dimana sang ayah dan ibu yang selalu menjadi penyemangat Byana disaat apa pun. Keberanian dalam diri Byana pun muncul dengan ide tidak masuk akal yang kembali dapat membahayakan dirinya.


“ Halo Hana, apa bisa kau meminjamkanku mobil minibus yang berada digarasimu?” tanya Byana melalui panggilan telephone.


“ Minibus?, untuk apa kau menggunakan mobil itu?” tanya Hana kebingungan.


“ Ada hal yang harus aku lakukan. Bagaimana?, apa aku bisa meminjamnya?” tanya Byana kembali bernada begitu serius.


“ Baiklah... aku akan menyetir dan membawakannya padamu sekarang.”


Menatap pada detik jam, Byana tersadar akan waktu senja menuju malam yang membuat rencananya semakin penuh keyakinan dan merasa percaya diri. Mempersiapkan segala keperluan, Byana pun tampil dengan penampilan yang berbeda.


( BRRAAKK ) “ Nona Byana, ini pesanan Nona yang me---” ucap Lia yang membuka pintu terburu masuk kedalam kamar, terkejut melihat penampilan Byana.


“ Lia... aku mohon jangan membuat keributan apa pun.” Byana memohon dengan menunjukkan telunjuk pada mulutnya seraya menyuruh Lia untuk menutup mulut.


“ Nona... ada apa dengan baju serba hitam ini?... bukankah itu sepatu boot yang khusus digunakan polisi saat dilapangan?... bahkan Nona membawa senjata api. Ada apa ini Nona?” tanya Lia begitu kebingungan bernada khawatir.


Permohonan yang hanya ingin menolong pria terkasih yang saat ini sedang dalam masalah besar. Tidak apa mengorbankan diri sendiri selama masih ada kesanggupan diri. Ya benar, setidaknya itulah yang sedang Byana pikir dan dia teguhkan dalam hari.

__ADS_1


__ADS_2