
" Byana, sudah kubilang tidak apa apa.”
“ Diam atau kusiram semua cairan antiseptik ini langsung ke tanganmu!.”
“ Nak, kenapa kau sampai melakukan hal ini....”
Menatap pada raut wajah khawatir penuh rasa bersalah. Hati pun tidak tenang karena sudah membuat keributan yang tidak diinginkan. Tapi, apa ada pilihan lain untuk membuat keputusan disaat keras hati dan saifat egois menguasai diri yang terlupakan oleh dunia semata.
Tertunduk penuh rasa bersalah, Aldrik merasa malu melihat Om Dhika dan Tante Lesti begitu mengkhawatirkan dirinya. Terduduk pada kursi meja makan dimana sajian lezat sudah mendingin, Pak Gio dan Lia pun membawa kembali ke dapur sekedar untuk menghangatkan atau mengganti dengan menu yang baru.
“ Sudah cukup. Terima kasih...” Aldrik menarik tangannya begitu Byana selesai membalutkan perban.
“ Nak, pecahan kaca yang mengenai kulit jangan dianggap ringan. Bagaimana jika kita periksakan ke dokter?” tanya Tante Lesti bernada khawatir.
“ Ya, lukamu sepertinya cukup dalam tadi.” Ucap Om Dhika yang ikut berkomentar.
Tatapan keduanya pun semakin menjurus pada Aldrik bagai tatapan bayi tanpa dosa, tiba tiba saja membuat wajah Aldrik memerah dan tertunduk merasa malu. Merasa belum pernah baginya mendapat perhatian seperti ini, dan bingung harus melakukan apa pada keduanya.
“ Sudah Om, Tante... dia tidak apa apa. Tubuhnya terbuat dari baja. Lihat saja, apa dari tadi raut wajahnya berubah meski merasa perih dan sakit?, tidak kan...” Byana mencoba mengerti keadaan Aldrik, sembari membereskan kotak obat.
“ Saya baik baik saja Pak... Bu.” Ucap Aldrik bernada parau.
Entah mengapa, kejadian malam ini membuat Byana melengkungkan senyumannya. Tak kuasa pada tatapan Aldrik yang langsung menusuk karena menyindirnya, Byana langsung menggigit bibirnya untuk menghentikan tawa seraya memalingkan pandangannya.
“ Tuan, Nona... makanan sudah siap kembali. Apa saya sajikan sekarang?” tanya Pak Gio kembali menundukkan kepalanya penuh sopan.
“ Sepertinya... kami pulang saja dan membiarkan kalian untuk me---”
“ PAK, BU. Saya mohon. Jangan pulang dan tinggallah untuk makan malam kembali disini.” Aldrik tiba tiba berdiri dari kursinya, menatap dengan penuh memohon.
“ Tante... Om... ayo, kita lanjutkan makan malam lagi bersama.” Ucap Byana tersenyum manis dengan menarik kursi kembali disebelahnya agar Tante Lesti duduk disebelahnya.
Saling menatap, Tante Lesti dan Om Dhika yang bimbang pun akhirnya luluh dengan permintaan tulus akan permohonan kedua anaknya. Tak urung akan Aldrik yang kembali mempersilahkan Pak Gio dan Lia untuk duduk bersama.
Kecanggungan dan rasa tidak nyaman pun sedikit demi sedikit menghilang dengan Om Dhika yang selalu memberikan candaan atau cerita lucu, sehingga mereka pun dapat kembali tertawa bersama menikmati hidangan makan malam.
*********
*-Ke***diaman besar keluarga Mahendra-
Kembali dengan perasaan kesal, akan harga diri yang menjunjung tinggi status kedudukan dan norma etika. Tersadar akan perubahan besar yang terjadi Aldrik, sungguh diluar pemikiran bagi mereka yang sebelumnya memiliki visi misi yang sama.
Tak juga menatap pada Vlora yang begitu merasa terhina karena perlakuan Aldrik yang secara tidak berperasaan mendorongnya sembari memecahkan botol minuman mahal yang dimaksudkan untuk mereka habiskan sembari berbicara bersama, seperti yang sebelumnya pernah mereka lakukan.
“ Vlora, kau baik baik saja?... maafkan, sungguh kami kehilangan muka.” Ucap Arie dengan tidak berani memandang wajah Vlora.
“ Tidak apa apa, Om.” Balas Vlora berbohong menutupi kekesalannya.
“ Sayang, bagaimana ini?. Aldrik sudah begitu terbawa pengaruh wanita itu. Apa kau tidak menlihat penampilan keluarga Byana yang lusuh itu?. Bahkan mereka membiarkan pesuruh untuk duduk bersama menyantap makanan dan minuman.” Ucap Mutia kesal sembari mengusap perut besarnya.
“ Om, Tante. Maafkan kelancanganku, tapi... jika seperti ini sepertinya aku harus bertindak tegas pada Aldrik untuk membuatnya sadar akan pentingnya kehadiranku atau keluarga Adhitama.” Balas Vlora dengan begitu meyakinkan.
“ Apa, maksudmu?. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Arie kebingungan.
“ Om dan Tante tenang saja. Akan aku buat Aldrik jatuh ketanganku sebelum acara ulang tahun perusahaan.” Vlora berjalan memutari sofa dengan raut wajah menyeringai.
Tersadar akan mereka yang tidak mampu menangani Aldrik, alhasil keputusan akan mereka yang memberikan Vlora keputusan untuk mengambil alih keadaan pun disetujui dengan tanpa memerlukan waktu lama bagi Vlora untuk berpikir apa saja yang harus dia lakukan.
__ADS_1
Keesokan harinya, disaat Byana dan Aldrik sedang sarapan pagi kembali bersama sama. Kabar tidak menyenangkan hadir pada mereka dimana perumahan yang didiami Tante Lesti dan Om Dhika selama beberapa tahun akan diambil alih oleh suatu perusahaan.
“ Apa?, Gestara kau yakin?” tanya Aldrik begitu terkejut saat Gestara yang tiba tiba datang ke kediamannya.
“ Aku mendapat notifikasi perbankan. PT. Linux mengeluarkan uang sebesar 20% dari anggaran biaya pembangunan tersebut. Kudengar area perumahan itu akan dijadikan pusat perbelanjaan.” Balas Gestara sembari memperlihatkan tablet laporan pada Aldrik.
“ Tidak mungkin. Kenapa aku sampai melewatkan hal ini?!” Aldrik begitu kesal, menghentak tablet keatas meja dan melonggarkan dasinya.
“ Sepertinya semalam... Om, menyetujui suatu perjanjian baru yang tidak kau ketahui.” Balas Gestara dengan sedikit menyepitkan kedua matanya menatap pada Aldrik.
Pikiran Aldrik seketika melayang mengingat kejadian semalam yang pasti begitu menyinggung mereka. Merasa kesal pada dirinya sendiri karena kembali tidak dapat membaca keadaan, Aldrik menghampiri Byana seraya menggagap dan menggenggam tangannya.
“ Byana, percayalah. Aku tidak sedikit pun terlibat dalam hal ini. Aku memang tahu mereka berniat mendirikan pusat perbelanjaan disana, tapi dari awal aku sudah menolak usulan itu.” Aldrik menatap Byana begitu khawatir akan pandangan Byana pada dirinya.
Tidak lagi merasa canggung, Byana mendekatkan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya pada pundak Aldrik seraya memeluknya. Dengan nada berbisik Byana kembali mencoba menekan di dalam dirinya sembari berkata,
“ Aku percaya padamu. Tapi Aldrik, maukah kau membantu Om dan Tante?. Rumah itu sangat berharga bagi mereka. Banyak kenangan yang pasti membuat mereka tidak akan setuju untuk menjual rumah itu. Aku khawatir mereka mungkin bisa terluka.”
“ Aku mengerti. Aku sangat mengerti. Kau tenang saja, aku akan berusaha membereskan masalah ini.” Ucap Aldrik dengan membalas pelukan Byana dengan erat.
Membiarkan beberapa detik untuk membiarkan Byana bersandar padanya, kecupan lembut pada kening Byana pun akhirnya dapat membuat senyuman manis melingkar indah pada bibirnya yang tipis dan merona merah. Seolah terlupa akan kehadiran Gestara yang merasa malu memalingkan wajahnya, Byana pun segera mengatur jarak dari Aldrik.
Dengan cepat Aldrik menghubungi kuasa hukumnya dan meminta mereka untuk datang ke lokasi kejadian bersama dengannya dan Gestara. Tak urung akan membawa beberapa penjaga yang ikut bersama mereka, Byana tiba tiba menarik tangan Aldrik kembali untuk berkata,
“ ijinkan aku ikut bersama kalian. Please... aku tidak akan merasa tenang jika harus diam dan tidak menemani tante dan om Dhika...”
“ Baiklah. Tapi ingat, jangan sampai melakukan apa pun dan biarkan aku yang menangani masalah ini. Byana, kau mengerti?” tanya Aldrik dengan menggapai wajah Byana lembut dengan kedua tangannya.
“ Aku mengerti... aku hanya ingin menemani tante Lesti.”
Ketikan tangan yang cepat dengan raut wajah serius membuat Byana semakin merasa khawatir akan masalah serius yang akan mereka hadapi. Rasa gugup semakin terasa disaat mereka sampai dilokasi dengan tertutupnya akses jalan serta terlihat beberapa polisi yang sudah berjaga.
“ Byana, apa kau ada mengenal salah satu dari mereka?” tanya Aldrik.
“ Akan aku coba tanya.” Byana mengambil handphone dari balik tasnya mencoba untuk menghubungi Kalina.
Mendapat laporan akan Vlora yang lebih dahulu meminta pengamanan pada polisi, Aldrik pun masuk menerobos polisi dengan penjaga bertubuh besar yang membantunya. Mulai terjadi pertikaian, tiba tiba AKBP Sony hadir diwaktu yang tepat.
“ Byana?, apa yang kau lakukan disini?” tanya AKBP Sony kebingungan.
“ Siap Pak. Perumahan ini adalah kediaman orang tua angkatku. Pasti ada kesalahan dengan beberapa warga yang menjual rumah mereka, karena sebelumnya menentang keras.”
“ Benarkah?. Tapi dari laporan yang kudengar ketua RT dan RW disinilah yang meminta pengamanan dan mereka juga yang memberikan bukti bahwa warga bersedia menjual rumah mereka pada salah satu perusahaan.” Balas AKBP Sony.
“ APA?! tidak Pak. Pasti ada kesalahan disini.”
Melihat reaksi Byana yang begitu serius, AKBP Sony pun mencoba bersikap netral dan membiarkan mereka untuk masuk untuk melakukan proses mediasi pada para pihak. Aldrik yang sudah lebih dulu sampai, akhirnya menemukan sosok utama dalam masalah ini.
“ Vlora... itu kau?” tanya Byana begitu terkejut dengan mengangkat kedua alisnya.
Tanpa menanggapi Byana seolah merasa puas dengan expresi yang Byana berikan saat ini, Vlora memperlihatkan beberapa lembar kertas dimana didalamnya terlihat banyak tanda tangan serta persetujuan yang melibatkan perlimbahan aset dan biaya ganti rugi.
Tak urung akan Aldrik yang mulai merasa kesal, kuasa hukum Aldrik pun langsung memeriksa berkas kertas itu dan segera menemukan kejanggalan dalam kasus yang seolah mereka sengaja tutupi dengan alasan pemilik saham terbesar kedua di perusahaan.
“ Kau gila?. Kau menyianyiakan sumber daya, Vlora!.” Ucap Aldrik kesal sembari melempar lembaran kertas itu keatas tanah dibawah kakinya.
“ Sumber daya masih bisa kita dapatkan jika kau mau menikah denganku. Justru hal kecil seperti ini kenapa sangat mengganggumu?” tanya Vlora merasa tidak bersalah sedikit pun.
__ADS_1
“ Jelas sejak awal aku menolak usulan ini. Kau tidak lihat berapa banyak kepala keluarga yang menjadi korban karena ambisimu itu?!” balas Aldrik dengan kesal.
“ Aldrik... apa kau lupa?. Kita ini pembisnis. Tentu saja aku melakukan hal layaknya seorang pembisnis dimana titik keberuntungan akan menghampiriku begitu berlimpah. Lagi pula, bukankah mereka sudah menandatangani setuju untuk menjual aset dan rumah mereka padaku?!”
“ TIDAK. KAMI TIDAK PERNAH SETUJU!. ITU HANYALAH AKAL BUSUK KALIAN!.”
“ KAU SENGAJA MENYUAP KEPALA RT DAN RW KAMI!. KEMANA MEREKA SEKARANG?, BAWA MEREKA KEMARI!.”
“ YA BENAR!. KALIAN LINTAH DARAT!. APA KALIAN TIDAK PUNYA HATI NURANI?.”
Teriakan yang begitu memilukan dari para beberapa warga yang sudah sangat kecewa dan sudah tidak percaya dengan perwakilan rakyat. Merasa terbodohi dengan membohongi mereka akan fasilitas umum yang akan mereka dapatkan tanpa perlu menjual harta milik mereka.
Dengan polos akan ketidaktahuan akan pendidikan politik dan ekonomi, sungguh memalukan bagi mereka yang akhirnya terperdaya dengan mudah begitu saja. Ketidaksanggupan untuk meminta pertolongan, tangisan pun menderai seolah mencekik siapa pun yang mendengarnya.
“ Hentikan pembangunan ini.” Ucap Aldrik menatap serius pada Vlora.
“ Aldrik, kau hanya sebagai CEO dan ayahmu, Om Arie adalah vice presiden PT. Linux. Jadi untuk apa mendengarkanmu?,” Vlora memalingkan tubuhnya berjalan meninggalkan Aldrik.
“ Kau jelas tahu apa yang bisa aku lakukan. Mau mencoba menguji batas kesabaranku?.”
Perkataan Aldrik dengan nada dingin dan kembali memberikan tatapan aura pembunuh. Yaa, inilah Aldrik yang kukenal. Ya Aldrik, kau harus seperti ini dan kembalilah seperti dulu. Gumam Vlora dalam hati saat memandang Aldrik.
Melihat Aldrik seperti itu, Byana datang menghampiri dengan lembut menggenggam tangan Aldrik dan menatapnya dengan senyuman. Seketika raut wajah Aldrik berubah bagai gunung es yang mencari. Melihat Byana yang begitu menyebalkankan baginya, Vlora berjalan dengan setengah berlari padanya dan melakukan hal yang konyol pada Byana.
( BRRUUKKKK) ( AAKKKHH) Vlora mendorong Byana dengan keras hingga menubruk sebuah tiang penyangga sebuah warung dibelakangnya.
“ KAU!. HAMA PENGGANGGU!. WANITA RENDAHAN YANG TIDAK TAHU DIRI!.” teriak Vlora.
“ Aku?... hmm lucu sekali. Jelas kau yang tidak bisa mengendalikan diri, tapi masih berani mengatakanku wanita rendahan?. Bukankah sebagai wanita terpelajar akan norma etika dan lainnya, justru prilakumu ini yang terlihat rendah?.”
“ Aaapppaa, kau bilang?!” Vlora semakin merasa kesal melihat Aldrik yang dengan sigap membantu Byana berdiri tegap kembali.
“ Vlora... bagaimana jika kau berbicara denganku sebentar.”
Merasa kebingungan, baik Aldri, Gestara, Tante Lesti dan Om Dhika yang menatap dari kejauhan pun tidak mengerti akan apa yang Byana coba lakukan saat ini. Terlepas dari AKBP Sony yang akhirnya mengerti dan mulai menarik anak buahnya, mereka pun kembali ke Polres setelah memberikan konfirmasi lanjutan pada Aldrik selaku CEO PT. Linux yang memegang kuasa penuh.
Vlora pun menjadi semakin geram akan rencananya yang gagal kali ini. Tak urung akan tindakan korupsi dan nepotisme yang seolah terjadi, sebelum pergi AKBP Sony pun memberi peringatan awal atas perintah kehadiran ketua RT dan RW untuk datang ke kantor kepolisian yang saat ini sengaja disembunyikan oelh Vlora untuk memberikan keterangan.
“ Kau kesal bukan?. Vlora, apa kau mau berbicara denganku?” tanya Byana kembali.
“ Byana, apa yang kau lakukan?” tanya Aldrik kebingungan.
“ Ada hal yang harus aku bicarakan dengannya... tenang saja tidak akan memakan waktu lama...” Balas Byana dengan tersenyum pada Aldrik.
“ Kita ke rumah tante dan Om ku. Lalu kita bicara disana.” Lanjut Byana kembali pada Vlora.
Berjalan bersama dibelakang Byana melewati kerumunan orang orang yang saat ini begitu geram seolah ingin membunuhnya, dengan sigap Byana meminta kunci rumah dan Tante Lesti pun memberikannya. Dengan Aldrik dan semua yang menunggu diluar rumah, mereka pun membiarkan Byana dan Vlora untuk berbicara berdua didalam rumah.
“ Katakan. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?!” ucap Vlora dengan ketus.
“ Jaga sikapmu. Apa kau tidak lihat diluar?... mereka mungkin siap menghabisimu jika aku tidak menarikmu kemari. Jika aku membuka pintu ini dan membiarkan warga itu masuk, pikirmu apa yang akan terjadi padamu?” tanya Byana dengan terduduk begitu anggun diseberang Vlora.
“ Kau mengancamku?!” balas Vlora kembali dengan amarah.
“ Jelas aku mengancammu. Kau bahkan mungkin akan langsung menangis jika kemarahan Aldrik tidak aku hentikan. Kau tahu dia, pria seperti apa bukan?.”
Menatap dengan penuh banyak pertanyaan. Entah membela atau mencoba mengancam, sulit menentukan bentuk tindakannya saat ini. Jadi Byana, apa sebenarnya yang kau inginkan dan katakan padaku?.
__ADS_1