
Kemarahan tak beralasan. Apa perlu kita tujukan pada seseorang atau masih bisa terpendam dalam hati. Mencoba bersikap bijaksana ternyata tidak semudah yang dikatakan saat logika berkata lain dan meminta pertanggung jawaban dari pihak yang sudah berjanji.
( BRRAAAKKK ) “ Apa kau bilang?! Vlora, apa yang kau pikirkan?.”
“ Sayang tenang... Vlora pasti punya alasan yang kuat kenapa sampai melakukan hal ini... benar begitu bukan?.”
“ Om, Tante... maaf tidak memberi kabar sebelumnya. Tapi saya memang sudah merencanakan sesuatu dan pasti, akan ada kabar pertunanganku dengan Aldrik saat ulang tahun perusahaan nanti.”
Terdiam mendengar hal yang belum dapat dipastikan, bagi Arie yang selalu bertindak sesuai fakta dan kenyataan yang mendasar, kepercayaan pada Vlora pun sangat sulit untuk didapatkan. Namun kembali, terlepas baik atau buruk selalu ada Mutia yang dapat memprovokasi keadaan.
Mutia yang mengambi alih untuk berbicara pun menjelaskan akan rencana Vlora untuk mengalah lebih dulu pada Aldrik. Lalu, selepas pertunangan dan penikahan akan berlangsung, dengan Aldrik yang sudah terjerat, mudah bagi mereka untuk kembali menlancarkan rencananya kembali.
“ Kau yakin?. Karena Aldrik sangat sulit untuk dihadapi.” Arie menatap dengan sangat serius.
“ Om... bahkan Aldrik sendirilah yang berkata dan berjanji akan ada kabar pertunangan saat acara ulang tahun perusahaan nanti.” Ucap Vlora dengan menganggukkan kepalanya.
“ Vlora, jelas kau tahu bukan hanya para rekan bisnis, tapi beberapa pejabat negara pun akan hadir dalam acara itu. Jadi kau sudah harus sangat memperhatikan hal ini.” Balas Mutia.
“ Tentu Tante. Kali ini akan saya pastikan rencana ini tidak akan gagal. Jika tidak, aku sudah membuat perhitungan dengan Byana yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.”
“ Kau, membuat perjanjian dengan wanita itu?” tanya Mutia terkejut.
“ Ya Tan... tentu aku harus memiliki jaminan. Bukan begitu?.”
Senyuman licik menyeringai akhirnya muncul terlihat dari wajah Mutia yang saat ini berdiri dibelakang Arie. Meski Arie masih mencoba mempertimbangkan dan masih merasa berat untuk mengambil keputusan, puas bagi Mutia tertawa dalam hati melihat Vlora yang berdiri dipihaknya.
Tak urung akan Vlora yang juga merasa bangga akan kemampuan dirinya dalam menanggapi masalah, Vlora berharap sang ayah calon mertua semakin mempercayai dan menyukainya. Mencoba mengambil hati dengan cara apa pun, bagi ambisi Vlora semua ini tak memiliki nilai apa pun.
Berbeda cerita dengan sisi lainnya yang berlawanan arah, bagi Aldrik dan Gestara yang kembali bekerja lembur selama beberapa hari untuk membereskan masalah dan menyelesaikan dengan cepat, memaksa mereka untuk semakin berusaha mengingat Byana yang sudah membantunya.
“ Aldrik, bisa kau lihat?, sepertinya ada masalah pada program ini.” Uca Gestara sembari memberikan tampilan layar dari balik komputer digitalnya.
“ Tidak, justru itu sudah berjalan baik. Dengan tertutupnya bagian ini, maka Daniel akan lebih mudah masuk kedalam aplikasi yang kita buat sebelumnya.” Balas Aldrik menatap serius pada layar komputer.
“ Coba kau susun kembali datanya dan berikan padaku untuk kuperiksa.” Lanjut Aldrik berjalan kembali menuju meja kerja komputernya.
Tiga hari sudah mereka habiskan untuk memastikan bahwa Daniel terjebak dan masuk perangkapnya. Dengan Aldrik yang juga sengaja memalsukan lembaran dokumen perusahaan miliknya, Daniel mulai masuk perangkap dengan membawa dua data investor perusahaannya.
Saling menatap, dengan puas Aldrik dan Gestara tersenyum bersama. Tersadar akan rencana yang mulai berjalan sempurna, mereka pun membiarkan Daniel dengan mengamati apa saja yang sebenarnya dia inginkan dan dia dapatkan.
Kembali menuju ruangan kerjanya, Aldrik yang begitu kelelahan karena terjaga selama beberapa hari dan hanya tertidur dalam waktu singkat, membuat kantung matanya begitu terlihat dan sedikit terlihat pucat. Mencoba menyandarkan diri di sofa, Aldrik pun memejamkan matanya.
( TOOKK TOOKK TOOKK ) “ Pak, makan siang dan minuman sudah datang. Perlu saya siapkan sekarang atau nanti?” tanya sekertaris Aldrik dari luar ruangan.
“ Masuk dan bawa saja sekarang, biar aku yang menghidangkan nanti.” Balas Gestara sembari membereskan tumpukan dokumen untuk diperiksa Aldrik diatas meja.
Menatap pada Aldrik yang terlihat begitu kekelahan, Gestara pun membiarkan Aldrik untuk beristirahat sejenak. Kembali mengambil handphone dari balik jasnya, sebuah pesan media dari Hana terkirim yang berisi,
# Apa Aldrik baik baik saja?\, jika memungkinkan aku ingin mengajak Byana ke suatu acara. Menurutmu\, apa lebih baik tetap membawa Byana pergi atau mengantarkannya saja pulang kembali ke rumah?.#
Gestara pun sempat tertegun sementara waktu mencoba untuk berpikir kemungkinan apa yang akan terjadi akan keputusan yang diambil. Belum membalas pesan Hana, seketika masuk sebuah pesan pada Handphone Aldrik berupa rincian tiket pesawat dan akomodasi hotel berbintang yang sudah terpesan untuk beberapa hari.
__ADS_1
“ AL!. Drik... Aldrik bangun!.” Ucap Gestara dengan nada panik menggoyang goyangkan Aldrik yang sedang tertidur.
“ Ada apa?” tanya Aldrik dengan langsung terduduk, terbangun dari mimpinya.
“ Kau... benar benar akan pergi liburan bersama Vlora?!” Gestara bernada kesal, memperlihatkan pesan notifikasi dan memberikan handphone Aldrik.
Aldrik mengambil handphoneya dan langsung terlihat kesal setelah membaca pesan notifikasi yang dikirimkan Vlora padanya. Jepang?, Vlora jangan anggap aku tidak tahu niat dan rencanamu dengan memilih liburan disana. Gumam Aldrik merasa kesal dalam hati.
Melihat expresi Aldrik yang sudah terlihat bingung dan kesal, tak tanggung Gestara memperlihatkan pesan media yang dikirimkan Hana padanya mengenai Byana yang juga sudah tidak pulang selama dua hari. Menundukkan kepalanya mencoba mengambil nafas, Aldrik kembali berpikir secara serius.
“ Jepang?. Aldrik, jelas kau tahu disana ada klien penting kita pak Fumihiro dan Hideki yang baru saja menjalin hubungan bisnis. Apa yang diinginkan Vlora?!” ucap Gestara kesal.
“ Apa lagi selain mencoba mengikatku. Dengan Fumihiro dan Hideki selaku perusahaan Kanamizu, saham sebesar 10% tentu saja bisa jatuh ketangannya. Aku yakin saat di Jepang nanti, pasti Vlora memintaku untuk menemui mereka.” Ucap Aldrik tersungut kesal.
“ Tentu... ayahmu dibalik semua ini bukan?. Dia yang mendukung Vlora. Sial!. Licik sekali wanita itu.” Ucap Gestara begitu kesal.
“ Saat kejadian terakhir kali Byana mengalami kecelakaan mobil, ada selembar foto yang Byana bawa dari apartemennya. Meski belum begitu yakin, sepertinya dibalik foto itu aku melihat sebuah titik kordinat entah suatu tempat atau yang lain.”
“ Kau benar, aku hampr terlupa... lalu pulau perhentian itu bagaimana?. Itu di Malaysia bukan?” tanya Gestara begitu penasaran.
“ Aku awalnya ingin menyelediki kasus ini terlebih dahulu. Tapi Vlora justru memberikan masalah baru padaku!. Aku yakin pria tua itu ingin balik modal pengeluaran yang sudah dia keluarkan untuk batalnya proyek pembangunan pusat perbelanjaan.” Jelas Aldrik masih merasa kesal.
“ Aaahh... jadi karena kau baru mendapat keuntungan dari PT. Kanamizu di jepang, ayahmu ingin mengambilnya?. Wuuaahh, Aldrik. Keluargamu menyeramkan sekali.”
“ Lalu, apa yang akan kau rencanakan?. Aldrik, kita sudah sangat berusaha menarik perhatian Fumihiro dan Hideki, tidak mungkin melepaskan begitu saja.” Lanjut Gestara kesal.
Aldrik terdiam dan mencoba memikirkan suatu cara. Berdiri dengan memutari meja kerjanya, Aldrik berjalan menuju rak bukunya dan mengambil sebuah buku untuk dibacanya sekilas. Seperti mendapat wawasan baru, Aldrik segera mengambil handphonenya dan menghubungi kuasa hukumnya.
Gestara yang merasa kebingungan dengan apa yang sedang Aldrik lakukan saat ini, hanya memandangnya terdiam terduduk dengan tenang. Menunggu perintah darinya, Gestara pun menantikan apa yang akan Aldrik katakan padanya dan berusaha kembali membantunya.
“ Aldrik, apa maksudmu?” tanya Gestara kebingungan.
“ Suruh Byana pulang sekarang dan juga berkemas. Lalu kau dan Hana juga. Pesan tiket penerbangan pesawat yang sama denganku, dengan kalian bertiga yang juga menginap di hotel yang sama denganku.” Jelas Aldrik dengan penuh semangat.
“ AL, aku masih belum mengerti. Apa kau gila meninggalkan perusahaan dengan kondisi seperti ini, terlebih pergi berlibur?” tanya Gestara kembali begitu tercengang.
“ Kerjakan saja yang kuperintahkan. Serta tolong pulang bawakan koper milikku yang sudah dipersiapkan Pak Gio dan juga menjemput Byana. Kita bertemu di bandara nanti malam.” Balas Aldrik seolah tergesah meninggalkan ruangannya.
“ APA?. ALDRIK KAU MAU KEMANA?! HEYYY...!” teriak Gestara pada Aldrik yang berlari.
Tidak mengerti dengan apa yang terjadi, namun Gestara segera melakukan perintah Aldrik dengan memesan tiket dan hotel, serta menyiapkan segala keperluan lainnya dibantu dengan salah satu anak buahnya hingga dapat selesai tanpa memerlukan waktu yang lama.
Menghubungi Hana dan Byana memberitahukan kabar yang diperintahkan Aldrik padanya, juga merasa kebingungan bagi Byana terlebih Hana yang tidak memiliki hubungan sama sekali dalam hal ini. Sempat melakukan penolakan yang berujung pada Gestara yang tiba tiba sudah berada didepan pintu rumahnya pun menjadi percuma.
Hana yang benar benar tidak habis pikir pun terpaksa membereskan barang barangnya dan terpaksa ikut bersama Gestara dan juga Byana untuk kembali ke kediaman Aldrik. Tidak mengira dengan Pak Gio dan juga Lia yang masing masing sudah membawa sebuah koper, Byana pun menghampiri dengan penuh kebingungan.
“ Nona, ini koper tuan dan ini koper milik Nona. Silahkan dibawa dan segeralah pergi ke bandara.” Ucap Pak Gio penuh sopan.
“ Tapi... bajuku... Lia, kau yang menyiapkannya?” tanya Byana merasa curiga melihat Lia yang sejak tadi seolah tersenyum jahil.
“ Sudah Nona, sudah... perlengkapan mandi, make up serta lainnya sudah saya siapkan...” balas Lia.
__ADS_1
“ Byana, kita bisa ketinggalan pesawat. Ayo cepat!” ucap Gestara sembari membuka bagasi belakang mobil.
Sepanjang perjalanan Byana pun terdiam dengan Gestara yang memberikan kartu Visa serta passportnya yang bahkan bagi Byana sendiri pun merasa terkejut entah kapan dia mengurus semua hal ini. Tak urung pada Hana yang juga diberikan kartu Visa untuk dia gunakan, Hana menatap sembari berbisik pada Byana yang terduduk disampingnya.
“ Byana, apa sebenarnya yang kekasihmu rencanakan?,” bisik Hana.
“ Aku juga tidak tahu. Aldrik tidak memberitahu apa pun padaku.” Balas Byana juga berbisik.
Kembali terduduk tegap, Byana mencoba menghubungi Aldrik untuk bertanya akan maksud dari yang Gestara lakukan saat ini. Namun malangnya panggilan Byana tidak tersahut hingga beban pikiran pun kembali datang menyambar bagai petir.
Begitu pun sesampainya di bandara, Gestara memberikan tiket pesawat kelas bisnis yang juga tidak dimengerti mereka dengan alasan untuk pergi ke Jepang selama beberapa hari. Alasan pun menjadi semakin masuk akal disaat melihat dan menatap penuh pilu pada sosok pria yang datang dengan seorang wanita yang bersandar padanya.
“ Byana, jangan sampai Vlora melihat kita.” Ucap Gestara dengan langsung menutupi Byana dengan tubuhnya.
“ Apa?... kenapa?. Gestara, bukankah aku sudah berjanji jika memang Aldrik yang me---”
“ Percayalah, Aldrik pun terpaksa melakukan ini. Sekarang kumohon menurutlah dahulu dan akan aku jelaskan nanti begitu sampai di hotel.” Balas Gestara bernada tegas namun tatapan memohon.
“ Baiklah, kau mau menunggu dimana?... aku dan Hana akan mengikutimu dari belakang.” Balas Byana dengan menundukkan kepalanya merasa kecewa.
Berjalan memutar ternyata tidak melepas pandangan Aldrik padanya. Menatap pada Byana yang terlihat begitu menahan diri dan perasaannya, Aldrik pun terpaksa melakukan hal yang sama disaat Vlora merangkulkan tangannya pada salah satu lengan Aldrik untuk berjalan bersama.
Terduduk pada bangku kelas berbeda, sungguh agung sekali melihat mereka yang diperlakukan berbeda saat kau duduk dibangku pesawat first class. Alur jalan yang berbeda kanan dan kiri, kembali seolah jarak tembok tinggi membentang diantara mereka begitu terasa.
“ Byana, kau tidak apa apa?” tanya Hana begitu khawatir.
“ Aku tidak apa apa... ingat ini adalah salah satu keputusan yang aku buat. Jadi, siap atau tidak siap, tentu akulah yang harus menerima resikonya.” Balas Byana tersenyum.
“ Ini, coba coklat ini... rasanya enak sekali. Minuman apa ini?, kenapa enak?” tanya Hana mencoba mengalihkan perhatian dan pikiran Byana, saat pramugari lewat membawa trolly cemilan.
“ Kau ini!! kakak, berapa umurmu?. Ini khusus buat anak anak. Apa kau tidak bisa membedakannya?! dari bentuk dan warna saja sudah terlihat.” Balas Byana sembari menggelengkan kepalanya melihat seorang pramugari yang tersenyum malu melihat tingkah Hana.
Gestara yang sengaja duduk dibangku kursi belakang mereka pun memberikan laporan pada Aldrik. Merasa tenang dengan adanya Hana saat ini, keputusan Aldrik yang membawa Hana pun menjadi suatu keputusan terbaik yang dia lakukan saat ini.
Menatap pada Vlora yang sungguh berbeda dengan Byana, entah mengapa Aldrik begitu merasa tidak nyaman dan risih melihat perilaku Vlora yang begitu ingin diperlakukan layaknya putri raja. Meski ia pun terbiasa diperlakukan seperti raja, bagi Aldrik yang sudah terbiasa dengan sifat dan kebiasaan Byana, sifat rendah diri pun muncul tanpa dia sadari.
“ Aldrik, ada apa denganmu?! Suruh mereka menggantung jaketmu!. Kenapa harus kau yang berdiri?!” ucap Vlora seolah merasa malu dan kesal.
“ Aku masih bisa sendiri. Lagi pula apa kau tidak lihat pramugari sedang sibuk mengurus pria tua itu.” Balas Aldrik dengan nada menyudutkan.
“ Baiklah, baiklah... lakukan sesukamu saja... aku ingin meminta layanan extra di penerbangan ini.” Balas Vlora dengan menurunkan bangku sandarannya ke bawah.
Melepaskan dasi yang dikenakannya seolah merasa kesal, Aldrik berjalan menuju belakang belakang dimana seorang pramugari dengan sigap mengambil jaket mantel milik Aldrik. Menatap pada Vlora dari kejauhan yang sedang asik dengan dunianya, Aldrik meminta pramugari untuk memberitahu Vlora jika bertanya untuk pergi ke toilet alih alih berjalan menuju bangku kursi Byana.
Melihat Byana dan Hana yang sedang sibuk memperebutkan sebuah cemilan snack, Aldrik pun akhirnya dapat tersenyum dengan Gestara yang menghampirinya. Menatap dengan kesibukan orang orang yang sedang membereskan barang barangnya, Hana dengan sigap memberikan kursinya pada Aldrik dan duduk disebelah Gestara.
“ Hey... bagaimana cemilannya?, enak?” tanya Aldrik dengan wajah lembut.
“ Hana salah mengambil cemilan anak dan memaksaku menghabiskannya... dasar kakak tua itu menyebalkan sekali.” Balas Byana dengan mengerutkan alisnya.
“ Byana, bisa lihat padaku sebentar?” tanya Aldik dengan nada berbisik.
__ADS_1
Byana menatap pada Aldrik dengan salah satu tangannya yang tiba tiba menyentuh lembut wajah Byana dan mendaratkan sebuah ciuman manis di bibirnya. Terhitung detik, Aldrik menutup kesan dengan kembali mengecup kening Byana dan kembali berlalu pergi meninggalkan Byana berjalan menuju bangku kursi penerbangannya.
Tahu akan dirinya yang mencoba mencari kesempatan disaat Vlora tidak tahu, wajah Byana pun memerah begitu panas dengan terus menyentuh bibirnya yang terasa seperti Aldrik meninggalkan jejak yang tidak bisa dilupakan selama penerbangan ini.