
Sinar matahari pagi tak selalu bersinar cerah. Seperti pagi pada hari ini dimana awan mendung keabuan menutupi langit, menandakan hujan penuh seharian ini. Merasa dingin, tersadar akan sebuah pelukan yang memberikan ijin untuk bersandar pada salah satu lengannya.
Seluruh tubuh yang masih terasa letih dan juga sakit pun menatap pada raut wajah lelah yang semalaman berjaga tak tertidur pulas. Tahu akan baru terlelap pada dini hari, bangun dengan perlahan pun menjadi andalan agar kedua mata itu tetap tertidur pulas.
“ Sepertinya aku akan menemui masalah besar ke depannya.” Ucap Byana saat menatap dirinya dari pantulan cermin kamar mandi, memandang pipi wajahnya yang masih memerah.
Masih terasa sakit akan tamparan keras dari orang tua yang mengkhawatirkan anak dan keturunannya. Merasa tidak begitu menyalahi tindakan ayah kandung Aldrik, Byana merasa Arie sang ayah hanya berusaha agar Aldrik tidak salah memilih wanita yang secara tidak langsung akan mewarisi semua hal mengenai keluarga Mahendra.
Jika aku tahu akan sesulit ini, mungkin sebaiknya aku menolak usul Aldrik saat itu. Tapi, jika aku menolaknya, mungkin aku tidak bisa mengenal Aldrik seperti ini. Tunggu, apa aku merasa menyesal sekarang?. Gumam Byana dalam hati sembari mengompres pipinya.
Merasa sudah terlalu lama membersihkan dirinya, Byana tiba tiba menyadari sebuah obat yang berada diatas mejanya. Tertulis pesan tangan dari Hana, Byana pun membawa obat itu untuk turun kebawah menuju ruangan makan dan terduduk tanpa sebab pada salah satu kursi dengan tatapan kosong yang melayang entah kemana.
“ Nona Byana, apa menu sarapan mau terhidang sekarang?” tanya Pak Gio kembali penuh sopan menundukkan kepalanya.
“ Pak... apa saja yang terjadi semalam?” tanya Byana dengan masih terlihat menatap kosong kearah depannya.
“ Mungkin Nona sebaiknya menanyakan itu kepada tuan...” balas Pak Gio kembali penuh sopan.
“ Aku tahu. Hanya saja, terkadang kalau bertanya pada Aldrik, expresi wajahnya akan terlihat sedih dan pasti menyalahkan dirinya sendiri... karena itu aku terkadang memilih diam.” Balas Byana dengan tersenyum.
“ Nona sungguh murah hati dan berlapang dada....”
“ Bukan Pak. Mungkin lebih tepatnya... terpaksa. Keadaan yang memaksaku seperti ini. Aku, tidak begitu baik seperti yang Pak Gio katakan.”
“ Nona terlalu berpikir lebih. Bagi kami semua disini, kehadiran Nona Byana---”
“ Kau sudah bangun?.”
“ ALDRIK.” Ucap Byana dengan langsung berdiri dari kursinya saat melihat Aldrik berjalan menuju ruangan makan menghampirinya.
“ Bagaimana kondisimu?, kenapa tidak membangunkanku?” tanya Aldrik dengan menarik tubuh Byana seraya memeluk dan memeriksa suhu tubuhnya.
“ Aku sudah tidak demam, dan tiba tiba merasa lapar...” balas Byana tersipu malu.
Aldrik tidak melanjutkan pertanyaan, hanya menatap Byana dengan raut wajah sedih. Tangannya yang hangat kembali membelai lembut pipi Byana yang masih terlihat memerah karena tamparan Arie sang ayah, terlihat begitu masih meninggalkan bekas.
Lihat, tatapan inilah yang aku tidak ingin lihat darinya. Entah kenapa membuat aku merasa menjadi memiliki hutang budi dan perasaan ini semakin campur aduk saat melihatnya seperti ini. Gumam Byana sembari menyentuh tangan Aldrik yang menyentuh wajahnya.
“ Hentikan, aku tidak apa apa....”
“ Byana maaf. Aku tidak me---”
“ Apa hari ini pergi kerja jam berapa?, bisa antarkan aku ke Polres?” tanya Byana mencoba mengalihkan pembicaraan.
“ Polres?. Kau... mau bekerja?” tanya Aldrik tercengang.
“ Aku harus melaporkan langsung bukti apa yang kutemukan. Aku juga tahu kondisiku seperti apa semalam. Hana pun sudah berkali kali memperingatkanku. Tapi, aku tidak ingin ini menjadi penghambat bagiku. Seperti perjanjian kita diawal, aku ingin masalah ini cepat selesai dan memberikan hasil yang baik bagi kita berdua.”
Aldrik terdiam mendengar perkataan Byana. Tangannya pun sudah tidak lagi membelai wajahnya dan hanya menatap Byana dengan tatapan yang bertanya tanya. Hasil seperti apa yang kau harapkan?. Kenapa kau selalu saja mengungkit soal kontrak perjanjian?. Gumam Aldrik dalam hatinya yang merasa sedih seakan kecewa menyesali perbuatannya.
Byana membalas tatapan itu dengan masih menunggu respon yang diberikan oleh Aldrik. Tak urung akan ijinnya yang saat ini menjadi sandaran utama dalam hidupnya, Byana tidak ingin membuat masalah baru jika Aldrik tidak setuju dengan pendapatnya.
“ Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi, bagaimana kau pulang nanti?” tanya Aldrik.
“ Kan masih ada kendaraan online... kepalaku masih agak pusing karena demam semalam, makanya aku memintamu mengantarku...” balas Byana tersenyum manja.
“ Kalau begitu aku akan mengosongkan jadwalku sampai tengah hari. Apa kira kira kau sudah selesai pada jam itu?” balas Aldrik dengan langsung mengambil handphonenya dari dalam saku celana mencoba menghubungi Gestara.
__ADS_1
“ Tunggu... apa kau harus sampai ijin kerja hanya untuk mengantarku?. Aku jadi merasa tidak nyaman...” balas Byana sedikit terkejut.
“ Aku hanya akan bertemu klien penting pada sore ke malam hari bersama Gestara. Pekerjaanku juga sudah kuselesaikan sebelumnya.” Balas Aldrik berlalu pergi berjalan menuju tangga lantai atas dan langsung menghubungi Gestara.
“ Kenapa aku merasa jadi seperti benalu ya?... Pak Gio, bagaimana menurutmu?” tanya Byana dengan polos.
“ Nona Byana... terlalu berlebihan...” balas Pak Gio tersenyum dan langsung memalingkan wajahnya.
“ Pak Gio, aku melihatmu tersenyum... tunggu Pak Gio... Pak Gio...” Byana yang akhirnya ikut tersenyum mengikuti Pak Gio menuju dapur.
Disisi lainnya, Arie terlihat gugup dengan berdiri di depan kolam renang dihalaman belakang rumahnya. Dengan menghirup sebatang rokok, terlihat dirinya mencoba menahan gelisah hati atas kejadian semalam, merasa hal yang tidak perlu dilakukan terjadi diluar kesadarannya.
Mutia yang menatap itu pun segera berjalan menghampirinya, merasa harus meyakinkannya bahwa yang dilakukan Arie semalam adalah tindakan yang tepat. Merasa akan sangat merugikannya jika Arie sedikit melunak pada Arie terlebih Byana, Mutia pun takut bahwa rencananya akan gagal dan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.
“ Ada apa suamiku terlihat murung seperti ini?, ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Mutia bernada manja dengan membawa segelas kopi kesukaan Arie.
“ Hati hati licin, kau sudah hamil besar sekarang...” balas Arie dengan menggapai tangan Mutia dan mendudukkannya pada sebuah bangku khusus berjemur di pinggir kolam renang.
Senyuman Mutia pun menyeringai sempurna melihat perhatian dan tindakan Arie yang sudah berada didalam tangannya. Tak kuasa akan rasa puas, Mutia ingin mendapatkan lebih banyak perhatian serta ingin semua keinginannya terpenuhi.
“ Sayang... apa kau tahu tas yang dipakai oleh Bu Winda limited edition?... kudengar hanya ada 3 tas yang diproduksi. Tapi harganya sangat mahal, dan---”
“ Belilah. Minta Ana untuk menemanimu berbelanja.” Balas Arie tersenyum.
“ Terima kasih sayang... lalu apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Mutia kembali bernada manja.
“ Aldrik. Anak itu, benar benar tidak habis pikir... apa yang ada dipikirannya!.” Balas Arie bernada kesal dengan mematikan rokok yang ada ditangannya pada sebuah asbak.
“ Sayang... yang kau lakukan sangat benar. Coba kau pikirkan, bagaimana jika Byana benar benar jadi menantu kita?. Apa gunanya Byana?, bekerja mendukung pekerjaan Aldrik seperti Vlora saja dia tidak bisa, sekarang malah menghabiskan uang Aldrik untuk bermain dengan penampilan yang memalukan!. Dia tidak memiliki norma etika kesopanan...” balas Mutia.
“ Sayang, sudah jangan dipikirkan... bagaimana jika serahkan saya urusan ini padaku. Aku berniat mengadakan pesta pertunangan Aldrik dan Vlora secara diam diam, supaya Aldrik tidak dapat mengelak lagi.”
“ Apa maksudmu?” tanya Arie sedikit bingung pada Mutia.
Mutia mendekatkan dirinya pada Arie dan merangkul pada pundaknya, dengan manja memberikan expresi menggoda yang meyakinkan, karena merasa Arie akan sangat mudah menyutujui perkataannya, pasti kali ini pun akan setuju kembali atas usulannya.
“ Sayang, bukankah seminggu lagi ulang tahun perusahaan?. Kita umumkan saja pertunangan mereka berdua disana, dan aku yakin saat itu Aldrik pasti datang bersama Byana. Jadi, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, bukan?.”
“ Baiklah. Aku setuju dengan pendapatmu. Lakukan yang memang perlu dilakukan.” Balas Arie tegas.
Memeluk Arie dengan erat, terlihat jelas Mutia sangat merasa bahagia akan semua yang terjadi dalam hidupnya berjalan begitu sesuai keinginanya. Melengkung senyuman licik dibelakangnya, Arie tidak menyadari siapa Mutia sebenarnya dan apa yang dia inginkan.
********
-Polres tengah kota-
Kembali menarik perhatian karena penampilannya, Byana masih belum terbiasa jika membawa Aldrik ke lingkungan kerjanya. Bahkan dengan hanya mengenakan kemeja dan celana jeans, dia tidak terlalu mewah seperti biasanya... tapi kenapa mereka selalu menatapnya!. Gumam kesal Byana pada rekan kerja wanitanya yang mencuri pandang.
Merasa tidak terima dan sedikit kecemburuan, Byana membawa Aldrik menuju ruangannya dimana Kalina yang terkejut, menyambutnya dengan hangat. Menyadari akan kehadiran Aldrik yang kembali akan berada di ruang tunggu, Kalina pun mengerti akan maksud Byana kali ini.
“ Tenang saja... tidak akan aku biarkan mereka mendekati Aldrik.” Ucap Kalina berbisik mengedipkan salah satu matanya.
“ Terima kasih...” balas Byana berbisik dengan tersenyum jahil.
Byana pun keluar ruangan, dengan memberikan tatapan sedikit sinis kepada rekan kerja wanitanya dimana membuat Aldrik tersenyum malu melihat kelakuannya saat ini. Merasa kekanakan, namun ternyata Aldrik begitu menyukai sifat cemburu yang Byana perlihatkan padanya.
Langkah kaki Byana pun dengan tegap melangkah masuk menuju ruangan atasannya dimana AKBP Sony selalu siap menemuinya kapan pun. Kembali terduduk bersama, Byana pun langsung menceritakan bukti apa yang dimilikinya serta memperlihatkan rekaman video yang sempat Aldrik rekam sebelumnya.
__ADS_1
“ Jadi, ini menjadi tempat prostitusi?. Bagaimana bisa terlewat!.” Balas AKBP Sony terlihat kesal.
“ Maksud bapak, apa sebelumnya bapak tahu tempat ini seperti apa?” tanya Byana dengan mengangkat kedua alisnya.
“ Sebelumnya kau menceritakan soal Klub karaoke itu, aku mencoba menyelidikinya. Pajak, keamanan, dan lainnya mereka tidak ada masalah sama sekali sehingga tidak ada rekam hitam sedikit pun yang terlihat. Karena itu, bagaimana hal ini bisa sampai terlewat olehku?.”
Byana terdiam, mengingat organisasi rahasia Daniel dibelakangnyalah yang mendukung itu semua. Merasa informasi yang didapatnya masih kurang, Byana pun tidak berani melaporkannya sebelum bukti yang ditemukan kuat dan dapat ditunjukkan.
“ Lalu, apa CEO itu memberitahumu akan rencana selanjutnya?,” lanjut AKBP Sony bertanya.
“ Aldrik tentu berencana untuk menyelamatkan keempat anak buahnya. Tapi, saat ini dia masih belum memiliki rencana pasti akan melakukan apa.” Balas Byana.
“ Apa perlu bantuan kepolisian?.”
“ Akan saya kabari lagi selanjutnya jika memang memerlukan.” Balas Byana tegas.
“ Baiklah. Ingat selalu kabari aku kabar apa pun mengenai hal ini. Aku pun akan mencoba mencari tahu tentang apa saja yang terjadi di klub karaoke itu.”
“ BAIK PAK.”
Menunjukkan hormat dengan kembali berjalan keluar ruangan. Byana tiba tiba terhenti saat memikirkan dua file yang ditinggalkan kedua orang tuanya. File bernama island dan wood House, yang selalu menjadi pertanyaan terbesar Byana hingga saat ini.
Tersadar mungkin terkait dengan klub karaoke, Byana dengan berlari kembali menuju ruangannya dan menghampiri Aldrik yang sedang duduk ditemani dengan Kalina yang memainkan jemari tangannya kembali pada sebuah Laptop.
“ Maafkan aku Byana, tapi data laporan ini berantakan dan aku tidak tahu cara menyusunnya...” ucap Kalina dengan tersenyum jahil.
“ Lin, apa kira kira kau pernah mendengar file kasus berjudul Island atau Wood house?” tanya Byana pada Kalina dengan terduduk terpat dihadapannya.
Tangan Aldrik yang sedang bermain indah pada keyboard laptop pun tiba tiba terhenti dan langsung menatap Byana dengan serius. Byana pun kembali menatap Aldrik seolah memberikan isyarat akan kemungkinan bukti baru yang dia temukan.
“ Island... atau Wood house?. Hhmm... tunggu sebentar... aku lupa kapan tapi waktu itu aku menerima berkas file dari sebuah akun email salah satu atasan kita dan memintaku untuk mengarsipkannya. Kalau tidak salah nama file itu, ini....”
Kalina mengambil laptonya dari tangan Aldrik dan mencari berkas File itu. Ditemukan dengan nama judul berbeda, namun di dalam berkas itu terdapat dua file lainnya dengan folder yang berbeda. Dua folder berjudul sama seperti yang Byana tanyakan, pikirannya dan Aldrik pun mencoba melayang memikirkan akan apa arti dibalik nama berkas File utamanya.
“ Perhentian?. Byana, apa kau tahu?” tanya Aldrik pada Byana.
Di file papa jelas file utamanya berjudul Daniel Moses karena itu aku dapat langsung tahu. Tapi, perhentian?... apa itu?. Gumam Byana dalam hati sembari menggelengkan kepalanya kepada Aldrik seolah memberitahu bahwa dirinya pun merasa bingung.
Merasa tidak menemukan jalan keluar, Byana dan Aldrik pun segera berpamitan dengan Kalina dan meninggalkan Polres kembali. Sepanjang perjalan baik Byana dan Aldrik pun diam sambil berpikir akan apa arti dari berkas berjudul perhentian tersebut.
“ Byana maaf, apa dulu ayahmu atau ibumu pernah pergi atau apa pun yang terlihat mencurigakan?” tanya Aldrik sembari mengemudikan mobilnya.
“ Terakhir kali sebelum kejadian hilangnya kedua orang tuaku, mereka membawa dua koper kulit yang sama persis dengan yang dibawa anak buah Baron saat itu. Aku tidak begitu ingat karena masih kecil, tapi kalau tidak salah mereka berkata...” Byana yang tiba tiba terdiam.
“ Apa Byana?, apa yang kedua orang tuamu katakan?.”
“ Aldrik, apa aku bisa ikut bersamamu menuju perusahaan?.”
Tidak lagi bertanya, Aldrik langsung menancap gasnya menuju perusahaan. Penampilan Aldrik yang terlihat tidak formal saat memasuki lobby masuk dengan menggandeng tangan Byana pun mencuri perhatian semua karyawan namun Aldrik sama sekali tidak memperdulikannya.
( BRRAAKKK ) Suara pintu ruangan Aldrik yang kembali tertutup.
“ Aldrik? Byana juga?... ada apa ini?. Kau bilang tidak akan datang ke perusahaan?” tanya Gestara yang terkejut saat sedang menaruh sebuah laporan di meja Aldrik.
“ Byana, bisa kau jelaskan?” tanya Aldrik kepada Byana yang juga terlihat bingung.
Kedua mata yang menatap tajam. Keyakinan akan menemukan suatu bukti baru yang hanya dapat ditemukan jika menggunakan teknologi yang modern dan canggih, tentu perusahaan Aldriklah yang memiliki persayaratan itu semua. Baiklah, kita mulai kembali permainan ini.
__ADS_1