
“ Byana, apa kau merasa lebih baik?.”
“ Ya Hana, terima kasih banyak... untung ada kau.”
“ Byana, Gestara semalaman terjaga. Kau jelas tahu dia merasa kesal bukan?.”
“ Ya... bisa aku bayangkan jika Aldrik sampai tahu hal ini.”
“ Kalau begitu berbicaralah dengannya sebentar... meski kesal, dia juga sangat mengkhawatirkanmu.”
Untuk sesaat mengalami kejadian yang sangat tidak ingin terulang kembali. Merasa nyawa seakan melayang, sifat keras kepala ini benar benar menyusahkan orang orang yang berada disekitarku. Tak urung akan hadirnya seorang pria yang menganggap sebagai kakak, kekhawatiran saat menatap begitu terlihat ditutupi rasa kesal yang semakin menjadi.
Mengambil handphone yang berada diatas meja seraya berjalan menuju pintu keluar, Gestara pun bermaksud untuk meninggalkan ruangan pada dini hari menghindari kecuriagaan Aldrik jika sampai mengetahui kejadian semalam yang begitu berbahaya.
“ Ges...” Byana memanggil lirih untuk menghentikan langkah kakinya.
“ Kini aku mengerti kemarahan Aldrik saat kau mengalami kecelakaan mobil saat itu. Byana, kau benar benar tidak bisa dimengerti.” Gestara berbicara tanpa menatap pada Byana.
“ Tara, Byana benar benar tidak bermaksud mencari masalah... sepertinya salah satu pramusaji itu lupa menaruh dimana namagashi yang mengandung kacang atau buah karena mangkuk saji itu bermotif sama.” Hana membantu Byana menjelaskan.
“ Jika begitu kau tinggal menolak untuk memakannya. Apa kau pikir Aldrik akan merasa senang jika mengetahui hal ini?. Memang kami sangat membutuhkan persetujuan Fumihiro dan Hideki dalam kontrak perjanjian baru ini, tapi bukan berarti kau harus berkorban nyawa!.” Balas Gestara kesal.
“ Maafkan aku...”
“ MAAF?! Byana, apa yang ada dipikiranmu itu?” tanya Gestara yang akhirnya menatap dengan penuh emosi pada Byana.
“ Tara... kendalikan emosimu...” Hana melerai mendorong tubuh Gestara yang tegap.
Memang ini salahku. Aku seharusnya memang pantas menerima kemarahan ini. Tapi kenapa aku tetap merasa sakit hati?. Byana, ini baru Gestara yang marah, jika Aldrik maka kau pasti... Gumam Byana dalam hati tertunduk penuh malu dan bersalah.
Menatap pada Byana saat ini serta mengingat ruam merah serta suhu tubuhnya semalam, Gestara akhirnya mencoba mengendalikan emosinya. Tak ingin lagi mencari masalah panjang dengan harus segera pergi, Gestara meninggalkan ruangan dengan kemarahan saat menutup pintu ruangan dengan sedikit menghentaknya.
Kembali hanya dapat terdiam, pelukan Hana adalah obat penyemangat lainnya untuk Byana. Bersyukur membawa Hana kemari, kembali merasa merepotkannya Byana tanpa sadar menitikkan airmata sebelum Hana menyuruhnya untuk kembali beristirahat kembali.
“ Tara, kenapa kau tidak membalas pesanku?” tanya Aldrik saat bertemu dengan Gestara di lobby hotel.
“ Maaf, semalam aku ketiduran setelah memastikan semua baik baik saja.” Ucap Gestara dengan expresi gugupnya.
“ Memastikan apa?... Gestara, memang kau kemana semalam?” tanya Vlora yang tiba tiba hadir dari balik punggung Aldrik.
“ Tidak ada. AL, penerbangan hari ini tertunda sampai sore hari karena masalah cuaca. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Gestara dengan posisi siap menerima perintah.
“ Apa lagi?, tentu saja dia akan menemaniku berbelanja. Tenang kau tidak perlu menunggu kami karena akan langsung ke bandara nanti selepas berbelanja...” balas Vlora dengan manja merangkul erat lengan kiri Aldrik.
Menatap pada Aldrik yang berusaha menahan dirinya, bagi Gestara yang memberikan isyarat pun akhirnya mengerti akan maksud kata hati Aldrik. Dengan membiarkan Aldrik berjalan menuju mobil bersama Vlora, Gestara mulai melancarkan rencana baru.
Dengan memberitahu supir untuk berbohong mengatakan adanya penggalangan dana yang wajib dikunjungi Aldrik, Vlora yang menganggap itu tidak menarik memilih untuk ke pusat perbelanjaan dan mereka pun berpisah saat Aldrik selesai mengantarkan Vlora menuju salah satu mall.
Menyikapi kontrak kerja sama baru yang akhirnya sudah tanda tangani dan dikirimkan melalui mesin fax pada konsultan hukumnya, Aldrik pun mendapat laporan bahwa secara tiba tiba beberapa dewan direksi perusahaan melakukan rapat secara mendadak dimana Gestara pun langsung mengambil alih sebelum Aldrik kembali ke hotel kembali.
“ Gestara, bagaimana bisa kalian merubah kontrak kerja sama dengan pelimpahan saham kepemilikian sebesar dua puluh persen itu yang harus melalui proses mediasi dengan konsultan hukum kalian?. Omong kosong apa ini!.”
“ Ya benar. Sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti ini! apa kau dan Aldrik merencanakan sesuatu dibelakang kami?. Konyol sekali kalian ini.”
__ADS_1
“ Katakan saja jika ingin mengambil keuntungan untuk kepentingan pribadi. Apa tidak cukup dengan investasi yang kami berikan pada PT.Linux ini?. Ternyata anak muda seperti kalian lebih tidak bertanggung jawab.”
Gestara pun terdiam mendengar para dewan direksi yang melakukan protes dengan sangat hebat diruangan meeting. Tak urung pada mereka yang juga membawa salah satu konsultan hukumnya, sungguh tidak terpikirkan bagaimana Aldrik yang terbiasa berbicara dengan mereka semua.
Menyingkapi satu persatu, Gestara justru mendapatkan kecaman keras bahkan ancaman yang sempat membuat bulu kuduk berdiri. Meminta dirinya untuk menyerahkan surat pengunduran diri, Gestara hanya diam tak lagi menanggapi para dewan direksi itu.
( BRRAAKKK ) “ Selamat pagi menuju siang. Ada apa ini?... kenapa begitu tegang sekali?” tanya Aldrik membuka pintu dan berdiri tegap dibelakang Gestara yang saat ini tersambung melalu panggilan video dari laptopnya.
“ Kami ingin Gestara menyerahkan surat pengunduran dirinya!. Dia tidak bisa bekerja! Tidak berguna sama sekali.”
“ Ya, sebagai assisten pribadimu terlebih Manager perusahaan ini seharusnya dia mengerti aturan kerja. Bagaimana bisa mengubah kontrak ini begitu mudah?, apa dia pikir 20% saham itu jumlah yang sedikit!.”
Tidak langsung menanggapi secara langsung melawan perkataan para dewan direksi itu, Aldrik justru tersenyum dengan terduduk di depan laptop dan memainkan jarinya, kemudian mengirimkan suatu file kepada para dewan direksi itu.
Penuh kebingungan dengan menerima dan membaca file yang dikirimkan Aldrik mengenai penyalahgunaan data keuangan perusahaan, mereka terlihat begitu terkejut dan mulai mengeluarkan keringat dinginnya.
“ Maafkan aku, dengan Gestara yang memberikan laporan pengeluaran ini padaku, ijinkan aku bertanya pada anda semua. Apa nama dan laporan pengeluaran itu sesuai?. Pikirkan dengan baik baik sebelum menjawab karena kalian tahu dampaknya jika berbohong padaku.”
Nyali menciut dengan kepala yang kini mulai tertunduk. Terlihat mereka menatap satu sama lain seolah mencoba menyalahkan. Tak urung akan Aldrik yang kembali tersenyum menyeringai, rasa kesal Aldrik pun muncul diwaktu yang tepat.
Kembali memainkan jemarinya pada laptop, terkirim sebuah data kembali tentang penyalahgunaan dana yang selalu diberikan PT.Linux untuk membangun sarana fasilitas umum yang diberikan kepada pihak ketiga. Tentunya dengan beberapa dewan direksi yang melakukan korupsi, Aldrik akhirnya memiliki alasan kuat untuk membalas mereka semua.
“ Dana tersebut masuk kedalam akun pribadi kalian, tapi masih menyalahkan assisten terbaikku disini?. Ayolah, bisa kita lihat disini siapa yang tidak bisa bekerja dan tidak berguna sama sekali.” Aldrik berkata tegas dengan jemari yang saling menyilang menutupi mulutnya.
“ Aldrik... itu kami... sebenarnya...” ucap gugup salah satu pemegang saham.
“ Masih ingin saham 20%?, yang benar saja. Tunjukan padaku kinerja kalian jika ingin mendapatkan bagian ini. Jangan kira dengan jabatan kalian saat ini, aku merasa takut atau goyah. Aku bahkan bisa mengganti posisi kalian dan mendapatkan investor yang jauh amat jauh lebih kaya dari kalian.”
Gestara yang merasa puas dan kini tersenyum menundukkan kepalanya saat berdiri tegap dibelakang Aldrik, merasa kagum akan pembelaan yang diberikan sahabatnya itu karena tidak ada satu pun laporan itu dikerjakan olehnya, melainkan Aldrik yang mencari tahu sendiri.
“ Pertemuan selesai. Aku harap tidak ada masalah kedepannya. Serta... jangan lupa, Gestara bukan Manager tapi dia adalah General Manager.” Ucap Aldrik dengan tersenyum tampan.
Tawa lepas yang sudah tidak tertahan dalam diri Gestara sungguh sungguh membuat Aldrik meliriknya seraya merasa konyol sudah membela pria polos yang tidak dapat menyelesaikan orang orang berisik dengan otak kosong selepas lama bekerja dengannya.
Tertutup panggilan video, Gestara pun menghentikan tertawanya melihat Aldrik yang langsung berdiri tegap dihadapannya dengan kedua tangannya yang melipat penuh angguh. Terlihat kesal namun juga dapat mengerti akan sifat sahabatnya itu, Aldrik pun akhirnya menggelengkan kepalanya seraya ikut tersenyum bersama Gestara.
“ Seharusnya aku dengarkan perkataan mereka, dan mengganti Assisten serta General Manager yang baru.” Ucap Aldrik dengan nada menyindir.
“ Kau tidak bisa tanpaku... siapa yang bisa menangani sifat keras kepala, dingin bagai robot tak berperasaan, serta keinginanmu yang diluar batas?! Bukankah aku sudah cukup me---”
“ Cukup apa?. Lanjutkan saja.” Aldrik menatap begitu sinis dan mengerutkan alisnya.
Merasa cukup bercanda dengan Aldrik, Gestara pun merubah senyumannya dengan raut wajah serius yang tiba tiba membuat Aldrik penasaran. Terduduk pada sebuah sofa dan memberikan segelas kopi untuknya, Gestara pun mulai menceritakan apa yang mengganjal dalam hatinya.
Tertuju pada Byana yang tertidur lemas dengan ruam kulit merah yang masih terlihat, Gestara pun menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Byana semalam. Aldrik sontak terkejut namun Gestara memintanya untuk menahan diri dan mendengarkan penjelasan lebih lanjut.
“ Wanita itu!. Aku harus bagaimana menghadapinya.” Ucap Aldrik kesal dengan langsung melepas dasi yang dikenakannya.
“ Aku dan Hana sudah cukup memarahinya. Byana juga terlihat cukup terpukul dan menyesal...” balas Gestara mencoba untuk memohon pengertian.
“ Dia sudah berapa kali seperti ini?! aku benar benar bisa kehilangan akal karenanya!” balas Aldrik kembali dengan penuh kesal.
“ Temuilah dan berpura pura kau tidak tahu hal ini... jika Vlora datang, biar aku yang mengurusnya.” Ucap Gestara dengan menepuk pundak Aldrik pelan.
__ADS_1
Dengan tidak perlu berkata lagi, Aldrik pun meninggalkan ruangannya untuk segera menuju kamar Byana. Namun sialnya begitu membuka pintu, Vlora tiba tiba sudah berdiri dengan membawa beberapa tas belanja. Dengan tidak tahu malu, Vlora masuk dan meletakkan tas belanjaan itu diatas meja.
Aldrik menatap penuh kebingungan pada Vlora, bahkan Gestara pun ikut terkejut dengan waktu yang begitu singkat untuk Vlora habiskan berbelanja. Dengan memberikan kembali sebuah kartu pada Aldrik, Vlora dengan polos membuka satu demi satu bungkusan itu dan menceritakan kemana dan apa saja yang terjadi selama berbelanja.
“ Apa kau bilang?” tanya Aldik dengan nada kesal.
“ Begitu aku bilang kesini bersamamu dan melihat data kartu itu, mereka mengira aku adalah nona muda keluarga Mahendra. Layanan mereka begitu memuaskan dengan langsung memasuki ruangan VVIP, aku bisa memilih barang apa pun melalui sebuah tablet canggih dan mereka yang membawakan langsung padaku tanpa perlu berjalan... Aldrik kau sangat pengertian sekali.”
Gestara pun menatap dengan sinis melihat Aldrik yang sangat jarang melakukan hal bodoh. Tentu saja dengan kau memberikan kartu hitam pribadi milikmu pada Vlora, dia akan mendapat pelayanan VVIP dimana pun dia pergi. Aldrik, sejak kapan kau menjadi sangat bodoh?.
Tahu akan maksud tatapan yang diberikan Gestara saat ini, Aldrik hanya dapat menghembuskan nafas panjang sembari menyalahkan dirinya sendiri. Gestara yang berjalan melewati Aldrik menuju pantry bersih pun kini hanya dapat membatalkan niat hati Aldrik yang ingin melihat kondisi Byana.
Disisi lain, Byana yang sudah cukup beristirahat pun akhirnya merasa lapar saat mendekati jam makan siang. Tak urung ingin memesan layanan kamar setelah mendengar kabar penerbangan yang tertunda karena cuaca dari Gestara, Byana pun meminta Hana untuk membawanya keluar.
“ Kau serius?,ruam merah kulitmu masih belum hilang...” ucap Hana sembari memegang leher dan tangan Byana.
“ Karena itu pinjamkan aku sweater panjang milikmu yang menutup leher itu.. yaayaaya... please...” Byana memberikan tatapan bayi dengan kedua tangannya yang memohon.
“ Baiklah, baiklah... aku dengar ada toko ramen didekat sini yang enak. Mau mencobanya?” tanya Hana dengan berjalan keluar kamar Byana untuk mengambil Sweater.
“ Hmm.. dari pada itu, aku ingin makan nasi. Kemarin aku berbicara dengan mereka, dan mereka bilang menu nasi Donburi dengan tendon atau gyudon terdengar enak. Atau yang daging ayam, Donburi oyako. Aku ingin mencobanya...”
“ Baiklah, baiklah tuan puteri... kita cari sekalian jalan jalan hari terakhir di sini. Oke?” tanya Hana dengan memakaikan sweater pada Byana.
“ Kita pergi sekarang... aku lapar... eheheehe...”
Dengan berjalan bersama baik Byana dan Hana pun benar benar sepertri seorang kakak dan adik. Melihat Byana yang keras kepala tidak ingin memakai syal atau topi, membuat Hana marah dan mengancam akan membatalkan pergi jika Byana tidak mau memakainya.
Dengan bahasa dan logat yang berbeda, bagi pegawai hotel atau tamu lainnya yang terheran heran melihat adu debat keduanya, hanya dapat tersenyum karena Hana selalu terlihat mejitak kepala Byana pelan seraya memukulnya karena merasa kesal.
“ Mereka... mau kemana?” tanya Aldrik saat tidak sengaja melihat Byana di lobby utama, berjalan keluar hotel bersama Hana.
“ Hana bilang akan keluar mencari makan. Byana tidak ingin makanan hotel yang mahal dan ingin makan... apa dia bilang?... bur... buri?,” ucap Gestara mencoba mengingat perkataan Hana.
“ Donburi.” Balas Aldrik spontan.
“ Yaa... yaa... itu.”
Mengingat Vlora yang sedang beristirahat dikamarnya selepas berbelanja dan juga memamerkan barang yang dia beli pada media sosial, Aldrik dengan cepat mengikuti Byana dari belakang dengan Gestara yang entah mengapa tiba tiba juga ikut berjalan bersamanya.
Dari belakang meski tertutup rambut panjangnya, saat hembusan angin berhembus kencang mengibas rambut Byana, Aldrik masih dapat melihat jelas ruam merah kulit pada tengkuk leher Byana. Seketika perasaan Aldrik memberontak yang segera ingin menghampiri untuk berada didekatnya.
“ Mau kemana?” tanya Aldrik bernada lembut saat tiba tiba menggandeng tangan kanan Byana.
“ Aldrik?... seesedang apa kau...” ucap Byana gugup.
“ Aku dan Gestara merasa lapar. Kebetulan melihatmu berjalan keluar. Sepertinya kalian berniat menyantap makanan lezat tanpa kami.” Balas Aldrik saat menghentikan langkahnya menatap pada Byana.
“ Kau serius ingin makan bersama kami?. Karena, tempat makan yang kami tuju itu sedikit....”
“ Tidak apa. Kita makan bersama.” Balas Aldrik tersenyum semakin menggenggam erat tangan Byana.
Langkah kaki yang berjalan berdampingan, kini aku pun dapat melingkarkan tangan ini pada salah satu lengannya seperti yang wanita itu lakukan. Namun expresi wajahnya terlihat sangat berbeda saat aku yang merangkulnya. Aldrik, apa senyuman tampan itu untukku?.
__ADS_1