Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
KERIBUTAN Part 2


__ADS_3

Tubuh Noah mematung seketika. Amarah dalam sekejap menjalari seluruh tubuhnya, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal keras apalagi saat Steven dengan lancangnya memeluk Marcella yang mengangis.


Noah dapat melihat dengan jelas sesekali gadis itu sesegukan berpelukan dengan Steven yang benar-benar membuat darahnya mendidih. Noah yang tidak bisa menahan amarah yang meluap-luap segera masuk ke dalam rumah kaca lalu...


Buughh...


Noah yang menarik jas Steven dari belakang langsung memukuli Steven dengan membabi buta bahkan Steven hampir-hampir tidak bisa mencuri oksigen barang sidikit pun.


"Kak Noah hentikan!" Marcella berteriak histeris saat melihat Noah menghajar habis-habisan Steven.


Buuggghh bugghhh buggghhh...


Suara pukulan Noah yang sudah berada di atas Steven.


"Kak Noah stop! kakak berhenti! hentikan kak!" Marcella yang terus berteriak sambil menangis berusaha melerai keduanya memegangi Noah yang terus menghajar Steven tanpa ampun bahkan pria itu tidak bergerak sama sekali dan membiarkan Noah memukulinya habis-habisan. Marcella yang sempat terjatuh kembali bangkit.


Marcella terus mengangis bahkan sekarang lantai rumah kaca sudah benar-benar kotor oleh darah Steven yang wajahnya sudah hampir tidak beraturan sama sekali. Marcella benar-benar ketakutan, seluruh tubuhnya gemetaran. Marcella takut Noah bisa menghabisi pria yang bahkan memberikan seluruh hidupnya untuk keluarga mereka.


Noah benar-benar sudah dibutakan oleh amarah yang luar biasa. Marcella segera berlari ke arah dapur segera membuka laci mencari sesuatu.


Tanpa diketahui ketiganya kejadian tersebut sudah dilihat langsung oleh seorang pelayan baru yang hendak mengantar piring bersih terakhir ke rumah kaca. Tanpa aba-aba pelayan tersebut segera berlari menuju rumah utama setelah sebelumnya menaruh piring-piring bersih tersebut di atas kursi taman yang dekat dengan rumah kaca. Dengan langkah yang sedikit berlari gadis yang baru berusia 17 tahun tersebut langsung menghamburkan pandang hingga kemudian mendapatkan pria paruh baya tersebut sedang memberikan instruksi pada teman-temannya di halaman rumah utama.


"Ma maaf permisi pak" sapa gadis yang diketahui bernama Lilis tersebut.


"Iya Lis ada apa?" jawab pak Hans yang belum menoleh ke arah gadis itu.


"Eeee an anuu ituuu pak"


"Anu apa Lis, kamu kenapa pucat begitu? jangan bilang kamu pecahkan piring-piringnya" tuduh pak Hans melihat ada yang tidak beres dari wajah Lilis.

__ADS_1


"Astaga tidak pak piringnya ada kok. Itu pak tu tuan mmm muda berkelahi dengan tuan Steven"


"Apa?!"


"Iya pak"


"Astaga Lilis kenapa tidak bicara dari tadi, dimana mereka?" tanya pak Hans yang mulai panik.


"Di rumah kaca pak, disana juga ada nona muda"


"Apa?!" pak Hans hampir terjatuh memegang belakang kepalanya yang tegang. Pak Hans tidak habis pikir dengan gadis yang baru dipekerjakannya dua hari tersebut. Bisa-bisanya dari nada bicaranya terdengar sangat polos saat mengatakan hal yang bisa membuatnya serangan jantung saat itu juga. Lilis pun segera memegang pria paruh baya itu membantunya untuk kembali meraih keseimbangan tubuh.


"Bapak tidak apa-apa?" pak Hans menarik nafas dalam-dalam sebelum menyuruh para pelayan yang lain segera kembali menyelesaikan pekerjaan mereka lalu segera berlari disusul Lilis menuju rumah kaca. Sementara di rumah kaca keadaan semakin memanas.


"Noah William Bright hentikan atau aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga!" Marcella berteriak sambil sesegukan. Noah yang mendengar teriakan adik sepupunya langsung berhenti dan melihat ke arah Marcella.


"Elle apa yang kau lakukan? hentikan!" Noah yang kaget melihat Marcella yang dengan nekat mengarahkan pisau ke dirinya sendiri segera bangkit lalu berlari menghampiri gadis itu berusaha menghentikan aksi nekatnya.


"Elle kubilang hentikan!"


"Jika kau tidak berhenti maka begitu pun aku!"


"Tapi aku sudah berhenti, maka kau hentikanlah sekarang juga!" Marcella yang bagaikan manusia tak bertelinga sama sekali tidak mengindahkan perintah Noah. Noah yang frustasi mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya yang masih ada noda darah bekas perkelahian. Tak lama kemudian pria itu terdiam membelakangi Marcella. Entah mengapa gadis itu merasakan suasana yang sangat sulit ditebak beberapa saat hingga sepasang kaki didepannya melangkah dengan pasti ke arahnya.


Noah melangkah ke arah Marcella dengan langkah lebarnya sedikit lebih cepat hingga berdiri tepat di depan gadis yang masih sesegukan itu lalu dengan kasar mencoba merampas pisau yang digenggam Marcella hingga membuat gadis itu sedikit meronta dan...


Sreek...


"Tu...Tuan...." Steven membatu seketika.

__ADS_1


"Kaa... Kakaaak!" Marcella terbelalak, tangannya yang memegang pisau lemas seketika hingga membuat benda itu jatuh ke lantai.


Darah segar mengalir turun dari tangan Noah menuruni pergelangan hingga membasahi lengan bajunya menghasilkan noda merah yang mengalir tiada henti. Rupanya akibat dari rontaan Marcella membuat pisau yang digenggam Noah terkoyak dan merobek telapak tangannya sangat dalam. Berbeda dengan reaksi Marcella, Noah justru hanya diam mematung di temptnya berdiri sambil menatap mata gadis itu yang penuh dengan kekuatiran hingga menghasilkan senyuman tipis di wajah tampannya yang mulai memucat hingga keadaan disekelilingnya berubah menjadi gelap seutuhnya.


"Kakaaaak! kak Noah hiks hiks" Marcella semakin menangis sambil terduduk masih dengan gaun putihnya yang bersimbah darah. Marcella mengangkat kepala Noah menaruhnya di atas pangkuannya.


Marcella terus menangis kali ini dengan suara yang sangat keras sambil memeluk erat kepala kakaknya. Gadis itu kemudian melonggarkan sedikit pelukannya meraih renda gaun pengantinnya lalu merobeknya dengan kasar menggunakan penggalan itu untuk mengikat luka kakak sepupunya. Sambil sesegukan Marcella terus menangis.


"Tuan muda!" teriakan pak Hans dari arah pintu sontak menghentikan gerak Steven yang berusaha keras untuk bangkit menggapai tuan mudanya itu.


"Pak Haaaans to tolong kkk kakaaak huhuuuuuu" Marcella terus menangis sambil sesekali membenamkan kepala Noah dalam pelukan eratnya.


"Lilis kamu bantu Steven" Lilis yang awalnya juga kaget karena darah yang berceceran di lantai segera melaksanakan perintah pak Hans.


"Ba baik pak... mari tuan saya bantu"


"Tidak lepaskan aku! tuan muda..." Steven menepis kasar tangan Lilis yang berusaha membantunya untuk bangkit kemudian terus berusaha membawa tubuhnya ke arah tuan mudanya.


"Jangan keras kepala Steven! kau juga terluka biarkan Lilis mengantarkanmu ke ruang kesehatan, saya akan segera menghubungi dr. Marten" bentakan keras pak Hans membuat Steven terpaksa mengikuti kemauan pria paruh baya tersebut karena baginya keselamatan Noah adalah yang utama.


"Pak Haaaans cepat pak kakaaak hiks hiks..."


"Iya nona muda anda tenanglah"


"Ha hallo dr. Marten saya mohon segera kesini dok tuan muda terluka"


"Apa?! baiklah pak Hans saya segera ke sana" jawab dr. Marten dari seberang.


Setelah menutup teleponnya pak Hans segera berlari ke luar rumah kaca lalu beberapa saat kembali dengan beberapa pengawal yang membantu mengangkat Noah menuju ruang kesehatan di rumah utama lalu membantu Marcella berdiri menyusul Noah yang dibopong oleh beberapa pengawal.

__ADS_1


Sesampainya di ruang kesehatan dirumah utama, Noah segera di baringkan di atas ranjang tepat di sebelah ranjang Steven yang duduk dengan Lilis yang membantu membersihkan lukanya. Marcella terus saja menangis sambil berjongkok di sudut ruangan. Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang membuat kakak sepupunya itu tidak berdaya. Steven yang mendengar tangisan pilu Marcella juga tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri akibat kejadian yang baru saja terjadi. Dia baru saja melanggar janjinya kepada tuan besar untuk selalu melindungi tuan mudanya.


Steven sama sekali tidak mengeluh sakit saat Lilis membersihkan luka-luka besar di wajahnya. Tak lama kemudian dr. Marten masuk dengan berlari sambil membawa tas yang berisi perlengkapannya langsung menuju ruang kesehatan yang berada di lantai satu rumah utama.


__ADS_2