
Penjelasan yang tertunda, apa itu arti dari kepercayaan disaat keraguan semakin mencuat keluar bagai bom atom yang tiba tiba meledak. Mencoba memberi perhatian yang tak kunjung berguna, sebenarnya untuk apa aku berdiri disini hari ini?.
“ Maaf, apa bisa menitipkan ini untuk pak Aldrik?.”
“ Maaf Bu, boleh saya tahu apa isi dari bungkusan dan kotak ini?.”
“ Hanya berisi makanan yang aku masak, dan kopi kesukaannya.”
Menutup kembali sebuah tutup perlengkapan makan yang satu set dengan garpu dan juga sendok. Sebuah termos cup khusus kopi untuk menjaga suhu didalamnya untuk tetap panas, ternyata berujung pada tatapan dingin menyudutkan dari seorang pegawai resepsionis perusahaannya.
Sudah kukatakan bahwa dunia dan jarak kalian begitu jauh berbeda... Byana apa yang kau harapkan dengan Vlora yang sudah berada disisinya saat ini?. Untuk bertukar pikiran saja kau tidak bisa, apa lagi membantunya?! Sadarkan dirimu.
Melangkah keluar menuju pintu lobby perusahaannya, ternyata begitu menyesakkan. Mempercayai perkataannya yang sudah tertunda selama dua hari dan tak kunjung datang, sungguh konyol mengharapkan penjelasan dimana aku dengan bodoh melakukan hal yang dia perintahkan.
“ Pak Gestara, tunggu pak...” ucap pegawai itu dengan mengejar Gestara saat ingin menaiki lift.
“ Ada apa?” tanyanya pada pegawai itu.
“ Itu, barusan ada seorang wanita datang kemari dan memintaku untuk menyerahkan ini untuk pak CEO.” Balas pegawai itu sembari memberikan tas bungkusan dari Byana.
“ Wanita?, apa isi dari tas ini?” tanya Gestara dengan mengangkat kedua alisnya.
“ Hmm wanita itu memperlihatkan makanan yang dia masak dan kopi kesukaan pak CEO katanya... coba Bapak periksa, takutnya ada sesuatu didalamnya...” balas pegawai itu dengan sedikit berbisik.
Tanpa perlu berkata lagi, Gestara pun menaruh tas bungkusan itu dan memeriksa apa isi didalamnya. Raut wajah Gestara pun seketika berubah melihat thermos kopi serta tempat bekal yang selalu dibawakan Byana untuk Aldrik.
“ Kau dalam masalah besar jika Aldrik sampai tahu, bersiaplah...” balas Gestara dengan menggelengkan kepalanya pada pegawai itu menutup kembali tas bungkusan.
“ Ada apa, Pak?... memang siapa wanita itu?” tanya pegawai itu kebingungan.
“ Bagaimana bisa kau tidak mengenali nona muda keluarga Mahendra?!”
“ Aaapppaaa?, maamaksud Bapak, waniti tadi itu....”
Gestara pun menundukkan kepalanya mencoba menerka akan kesalahpahaman lainnya pada diri Byana saat ini. Segera menuju ruangan Aldrik dengan membawa tas bungkusan itu, Gestara pun mendapati Vlora duduk disamping Aldrik dengan sangat mesra.
“ Apa yang kalian lakukan?” tanya Gestara berjalan masuk dan menaruh tas bungkusan Byana diatas meja depan Aldrik.
“ Aaahh, karena tangan Aldrik terluka aku mencoba memakaikannya dasi ini...” balas Vlora bernada manja dan raut wajah polos yang membosankan.
“ Aldrik, apa kau tidak sadar siapa yang sebelumnya datang kemari?” tanya Gestara berwajah serius dan menekan.
“ Tidak. Aku sengaja membiarkan pintu itu terbuka agar siapa pun mudah masuk kedalam.” Balas Aldrik dengan langsung berdiri memakai jasnya.
“ Coba kau lihat isi dari tas bungkusan ini.”
Dengan dibantu Gestara karena tangan Aldrik yang ternyata sedang terluka, expresi wajahnya seketika berubah bahkan begitu terlihat kesal. Aldrik semakin membuka bekal makanan itu dan menaruhnya diatas meja kerjanya.
“ Bau apa ini?! iihh bau sekali... seisi ruangan dipenuhi bau makanan itu! Gestara apa yang kau bawa untuk Aldrik?!” ucap Vlora dengan langsung berjalan membawa semprotan pewangi ruangan.
“ Dimana dia sekarang?” tanya Aldrik begitu tegas pada Gestara masih menatap pada bekal makanan yang Byana bawakan.
“ Terlambat. Dia sepertinya sudah naik bus kota pulang ke rumah.” Balas Gestara.
__ADS_1
“ Aldrik, makanan apa ini?! Buang saja!” Vlora mengambil paksa tempat bekal makanan itu untuk membuangnya ke tempat sampah.
“ Jika kau berani membuangnya, jangan harap kau dapat menginjakkan kaki di perusahaanku lagi.” Aldrik menatap begitu dingin pada Vlora.
“ Aaappa?,” jawab Vlora terkejut merasa terintimidasi tatapan Aldrik yang menusuk.
“ Berikan makanan itu padaku. Lagipula, apa kau tidak tahu bahwa makanan yang kau sebut bau itu adalah makanan kesukaanku?. Jelas kau meminta menikah denganku, tapi hal seperti ini kau tidak tahu?! Pergi dari ruanganku sekarang juga.”
Aldrik mengambil kotak makanan itu dari tangan Vlora yang terlihat bergetar. Dengan takut dan linglung, Vlora pun meninggalkan ruangan dengan sedikit berlari mencoba untuk menghindari masalah. Menaruh kembali kotak makanan Byana diatas meja dan juga thermos berisi kopi kesukaannya, Aldrik pun mencoba untuk melahapnya.
“ Bau dari mana?! Harusnya kau mencoba sambel terasi dan semur jengkol buatan Byana yang terbaik! Aldrik, apa kau mau memakan daging sebanyak itu?. Rujak kangkung dan nasi yang dibawa Byana juga cukup banyak, bagaimana jika aku mi---”
“ Singkarkan tanganmu dan belikan aku cairan pencuci bau mulut. Stok di toilet kantor sudah habis.” Ucap Aldrik dengan langsung melahap makanan buatan Byana.
“ HAH! Beli saja sendiri!.” Balas Gestara berjalan kesal keluar ruangan Aldrik.
Melahap penuh menghabiskan makanan yang dibawa Byana, Aldrik pun melayangkan pikirannya pada Byana yang saat ini pasti sedang salah paham dengannya. Pekerjaan selanjutnya yang menanti pasti jauh lebih sulit dari pada pekerjaan kantor. Gumam Aldrik dalam hati sembari melamun membayangkan Byana saat sedang marah.
Sisi lain, Vlora yang begitu marah akan harga dirinya yang terinjak injak. Dirinya pun semakin terbawa api cemburu melihat Aldrik yang sudah sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Merasa tidak mengenalnya, Vlora pun semakin ingin membalas Byana.
“ HALO! APA KAU MASIH TIDAK MENDAPATKAN APA PUN!” Vlora begitu kesal saat menghubungi seseorang melalui panggilan telephone.
“ Nona, aku kesulitan karena waktu itu tuan Aldrik datang dan menginap di rumah Byana. Terlebih dia sendiri yang juga mengantarkannya entah kemana. Seperti perkataan Nona, tuan Aldrik begitu peka jadi aku juga harus menjaga jarak dengannya...” balas pria itu menjelaskan.
“ AKU TIDAK MAU TAHU! SEKARANG JUGA BERIKAN LAPORAN MENGENAI BYANA! AKU MAU MEMPERMALUKAN WANITA RENDAHAN ITU SECEPAT MUNGKIN!.”
Tertutup panggilan dengan menghentakkan keras handphonenya diatas meja, Vlora semakin emosi mendengar laporan yang diberikan pria itu atas informasi mengenai Aldrik yang mengunjungi dan menginap di rumah Byana dan keluarganya.
Tunggu dulu, tunggu dulu... Aldrik menginap dirumah Byana?... Hmm, sepertinya aku memiliki ide dalam hal ini. Ternyata pria itu berguna juga. Gumam Vlora dalam hati mencoba menghubungi pria itu kembali untuk menanyakan alamat rumah keluarga Byana.
“ Maamaaf, anda siapa?” tanya Tante Lesti yang kebingungan melihat dua orang yang begitu berkelas berdiri di depan pintu rumahnya.
“ Jadi disini rumah Byana?” ucap Mutia dengan nada merendahkan dan menutup hidungnya seolah aroma menyengat menusuk hidungnya.
“ Apa kalian mencari Byana?, saat ini dia belum pulang, sepertinya masih dijalan... Jika berkenan masuklah dan tunggu Byana didalam rumah...” Balas Tante Lesti penuh sopan sembari tersenyum.
Vlora dan Mutia pun masuk dengan begitu elegant. Sepatu kotor mereka yang menginjak tanah pun seolah tidak memperdulikan adat budaya yang sopan saat memasuki rumah seseorang dengan melepas sepatu yang mereka kenakan. Namun sedikit pun Tante Lesti tidak merasa keberatan dan menyuguhkan minuman kepada mereka.
Kembali berdiri dengan penuh harga diri hanya karena sebuah selimut lusuh berada diatas sofa kursi tamu yang biasa digunakan Byana sebagai selimut sejak dia kecil, Tante Lesti yang mengerti pun langsung membawa selimut itu dan akhirnya mereka pun mau terduduk penuh congkak.
“ Maaf, kursi sofanya mungkin tidak sesuai dengan yang biasa kalian gunakan.. maaf jika merasa tidak nyaman...” ucap Tante Lesti dengan masih bersikap sopan.
“ Tidak perlu di ucapkan, karena kami cukup mengerti kondisi kalian saat ini.” Ucap Mutia dengan nada dan tatapan yang merendahkan.
Kecanggungan semakin terasa tak kala gelas yang disuguhkan sedikit terlihat retak pada pegangan tangannya. Sungguh memalukan bagi Tante Lesti yang juga tidak memiliki banyak perabot mewah dirumahnya. Hanya dapat menundukkan wajahnya, baik Vlora dan Mutia pun menaruh kembali gelas itu keatas meja dengan tidak sopannya.
( BRRAAAKKK ) Suara pintu masuk rumah yang dibuka paksa oleh Byana.
“ Byana... Nak kau sudah pulang?. Lihat siapa yang datang...” ucap Tante Lesti dengan masih tersenyum hangat dan sopan menatap pada Mutia dan Vlora.
Byana yang berlari luntang lantung dari arah belokan persimpangan saat menyadari mobil keagungan keluarga Mahendra tiba tiba terparkir didepan rumahnya. Dengan beberapa penjaga yang mencuri perhatian, Byana sudah tidak lagi memperhatikan penampilannya karena yang dia pikirkan saat ini hanyalah kondisi dan harga diri Tante dan Om nya.
Mencoba mengatur nafas dengan menatap kepada Vlora dan Mutia yang begitu anggun dan berkelas, Byana dapat menyadari akan maksud kedatangan mereka saat ini kerumah. Namun tidak ingin terintimidasi oleh mereka, Byana mencoba untuk bersikap tenang.
__ADS_1
“ Selamat siang dan selamat datang di rumah saya, Bu...” ucap Byana penuh sopan dan terduduk anggun di sebelah Tante Lesti, penuh dengan tata krama yang diajarkan pak Gio dan Lia padanya.
“ Bu?... kau belum punya hak untuk memanggilku dengan sebutan itu!” balas Mutia dengan nada menekan seolah marah.
Senyuman diwajah Vlora pun semakin kental terlihat disaat expresi wajah Tante Lesti yang berubah. Terlihat begitu terkejut dengan apa yang dia bayangkan ternyata begitu berbanding terbalik melihat perlakuan apa yang Byana terima dari keluarga Mahendra.
Byana mencoba menggenggam tangan Tante Lesti erat yang saat ini hanya dapat menundukkan kepalanya, seraya tersenyum mengatakan aku tidak apa apa dan serahkan saja mereka padaku.
Tante Lesti pun sedikit mengangguk tak berdaya dan membiarkan Byana mencoba mengambil alih situasi ini, agar tidak menimbulkan masalah bagi Byana dan Aldrik kedepannya. Tangan Tante Lesti mulai terasa dingin akan rasa gugup, membuat Byana harus melakukan sesuatu yang membuat mereka segera meninggalkan rumah mereka.
“ Maaf, apa ada yang ingin disampaikan dengan kedatangan kemari hari ini?” tanya Byana dengan masih bernada lembut bagai orang terpelajar.
“ Aku membawa barang barang ini. Aku dengar anakku menginap di sini. Dia tidak terbiasa menggunakan barang barang murah. Serta, jika sudah tidak digunakan Aldrik, kalian bisa menggunakannya karena sepertinya kalian juga membutuhkannya.”
Kepalan tangan Byana begitu erat tanpa sadar saat menggenggam erat tangan Tante Lesti. Menyadari akan kemarahan didalam hatinya, Tante Lesti pun memberanikan diri mengambil alih pembicaraan saat ini menggantikan Byana.
“ Terima kasih atas perhatiannya... akan kami terima semua barang ini.” Ucap Tante Lesti dengan masih tersenyum.
“ Baiklah, sepertinya cukup untuk hari ini karena kami tidak berniat berlama lama disini. Aaahh maaf, lupa memperkenalkan. Wanita cantik disampingku ini adalah calon tunangan Aldrik. Sepertinya aku tidak perlu berkata lebih lagi, permisi.”
Melihat mereka berlalu pergi, tatapan Tante Lesti pun langsung menjurus pada Byana yang hanya dapat terdiam tak dapat berkata. Tak kuasa menahan airmatanya saat menutup pintu rumahnya, Byana pun memeluk erat Tante Lesti dari belakang seraya menenangkan tangisannya yang begitu pilu akan harga diri yang hancur berantakan bagai sampah kotor.
Menjelang sore, kabar akan Vlora dan Mutia yang datang ke rumah Byana pun sampai ditelinga Gestara. Dengan kembali merasa panik, Gestara berlari menuju ruangan Aldrik untuk memberitahukan kabar yang buruk ini.
“ Apa kau bilang?, katakan lagi.” Ucap Aldrik dengan wajah begitu serius.
“ Vlora membawa ibu tirimu berkunjung ke rumah Byana siang tadi... kudengar mereka bahkan sampai membawa barang barang dan juga beberapa penjaga.”
Tidak lagi dapat berkata, Aldrik langsung berlari menuju basement parkiran mobilnya dan melaju begitu cepat menuju kediaman Byana. Terhenti tepat di halaman depan rumahnya, terlihat beberapa barang mewah masih berada didepan rumah Byana dan seolah menjadi tontonan bagi warga sekitar.
Penampilan Aldrik yang juga terlihat mencolok pun semakin membuat warga berbicara dengan tidak mengeluarkan suara, berbisik dengan tatapan mata mereka yang seolah menusuk. Aldrik berjalan mengeluarkan handpnonenya dan mencoba untuk membereskan masalah satu demi satu.
“ Tara, tolong kirim orang untuk membawa barang barang ini pergi dari rumah Byana.” Ucap Aldrik dengan membuka pintu pagar dan berjalan masuk.
“ Baik.” Balas Gestara dengan langsung menutup panggilan telephone dari Aldrik.
Aldrik menghembuskan nafas panjang dengan menggelengkan kepalanya kesamping seraya mencoba mempersiapkan dirinya akan kemungkinan apa yang akan menimpa dirinya. Membayangkan Tante Lesti yang marah, atau Om Dhika yang langsung memukulnya pun akan Aldrik terima mengingat harga diri keluarga mereka yang dipermalukan.
( TING TONG ) Bunyi bel rumah yang berbunyi saat Aldrik menekannya.
Terbuka pintu rumah, posisi Aldrik pun langsung menyiapkan diri seolah siap untuk menerima pukulan. Memejamkan kedua matanya beberapa saat dengan tidak mendapat reaksi apa pun, Aldrik terkejut melihat Om Dhika yang hanya berdiri mematung menatap pada Aldrik saat ini.
“ Masuklah, kita bicara didalam.”
Dengan tidak berkata dan menuruti perintah Om Dhika, Aldrik pun masuk dan melihat Tante Lesti yang terisak tangis terduduk lemas pada sofa ruangan tengah. Mata Aldrik mencoba mengelilingi rumah mencoba mencari sosok yang begitu penting baginya. Namun,
“ Byana aku suruh masuk kedalam kamarnya. Kau duduklah disini dan bicara dengan kami.” Ucap Om Dhika bernada tegas dengan raut wajah serius.
Aldrik duduk tepat diseberang mereka bagai seorang terdakwa di sidang pengadilan. Tak mampu untuk duduk tegap, Aldrik yang menyadari akan penghinaan besar pun hanya mampu menundukkan kepalany dan tidak mampu menatap pada Om dan Tante Lesti.
“ Aldrik... kami minta, kau... putuskan hubunganmu dengan Byana saat ini juga.”
“ Apa?... maaf Pak, saya masih belum bisa me---”
__ADS_1
“ Putuskan hubunganmu dan Byana saat ini juga.”
Akhirnya sebuah keputusan pun keluar dari mulut orang terkasih. Baginya yang terkejut, hal ini akan sangat biasa untuk dipahami. Tak tahu akan bagaimana ini akan berakhir, Aldrik apa kau akan melepaskan genggaman tanganmu?.