
Pagi ini ketika matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, Marcella sudah bangun dan segera membersihkan dirinya. Hari ini adalah hari pertama Marcella masuk kerja. Sesungguhnya gadis itu sedang sangat bersemangat sekarang, setidaknya dirinya tidak akan bosan lagi dirumah besar itu tanpa melakukan apa-apa. Gadis itu ingat betul seminggu yang lalu setelah mengantar ayah dan ibunya di bandara, Noah berkata bahwa Marcella akan bekerja bersamanya di perusahaan keluarga mereka.
Tepat pukul 7 pagi Noah turun dari tangga menuju ruang makan, disana dia dapat melihat sarapannya sudah tertata rapi di meja makan.
"Apa Elle belum turun sarapan Pak Hans?"
"Kakak kenapa lama sekali!" Noah mengusap telinganya saat Marcella berteriak di belakangnya. Noah memperhatikan dengan seksama penampilan Marcella. Awalnya Noah ingin tertawa sekeras mungkin sampai terjungkal-jungkal, bagaimana tidak, adiknya itu memakai setelan kantor lengkap dengan dandanan yang sangat formal. Noah berusaha keras menahan tawanya, sejujurnya saat ini dia membayangkan ketika adiknya itu tahu dimana dia akan ditempatkan. Mungkin saja Marcella akan meneriakinya setelah tahu, namun bukankah membuat Marcella kesal sudah seperti candu baginya?
"Kakak kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salah?"
"Selamat pagi tuan mud..." Steven sontak berhenti dan hampir saja tertawa terbahak-bahak dengan pemandangan heboh didepannya. Steven kemudian mengendalikan diri saat Noah memberikan isyarat untuk diam. Marcella sedikit merasa curiga dengan gerak-gerik Steven dan Noah yang seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kau sudah sarapan?" tanya Noah.
"Sudah satu jam yang lalu" jawab Marcella ketus.
__ADS_1
"Semangat sekali kau. Oh iya, Steven mari sarapan bersamaku" Noah dan Steven pun sarapan bersama pagi itu. Marcella yang mulai bosan menunggu kemudian duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Setelah semuanya siap, mereka segera berangkat.
Di depan rumah mereka bertiga diantar oleh Pak Hans dan beberapa pelayan, ketika Marcella sudah masuk, Noah bertanya pada Pak Hans apakah adiknya sangat semangat saat sarapan pagi ini.
"Benar tuan muda" jawab Pak Hans, Noah masih diam.
"Nona juga sesekali bersiul dan menari saat menuruni tangga" Noah belum beranjak.
"Tadi juga saya sempat bertanya apakah nona akan makan bersama tuan muda, namun nona menjawab jika dia menunggu yang mulia bangun maka akan terlambat, belum lagi katanya tuan muda kalau mandi seperti perempuan pengidap kanker stadium akhir, sangaaaaaaat lama" Pak Hans sedikit menirukan cara bicara Marcella ketika menekankan dua kata terakhir. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi yang dapat disembunyikan Pak Hans, Noah segera masuk dan duduk disebelah Marcella. Cik, berani sekali dia mengihina cara mandiku, jika bukan karena ulahnya mana mungkin aku betah berlama-lama di kamar mandi.
"Hei kau mau disitu sampai kiamat?" teriak Noah yang sudah berjalan didepannya.
"Wow cik cik cik"
"Semuanya" Marcella bingung dengan perkataan Noah barusan.
__ADS_1
"Semua lantai di gedung ini adalah perusahaan keluarga kita" lanjut Noah, kali ini Marcella melotot bahkan bola matanya hampir terjatuh dari tempatnya. Marcella kembali berjalan mengekori Noah.
Sesampainya mereka di loby perusahaan, semua karyawan bahkan para petugas kebersihan menyambut mereka, bahkan Marcella yang sudah dari tadi mengekori Noah belum melihat tanda-tanda barisan karyawan akan berakhir. Setelah keluar dari lift khusus direktur, mereka bertiga masuk ke ruangan Noah. Marcella masih terkagum-kagum dengan design ruangan kakaknya yang sangat luar biasa, bahkan dilengkapi dengan mini bar.
"Wooooooow... Aku kerja di bagian apa Kak?" mata Marcella berbinar menunggu jawaban Noah. Bagaimana tidak? bayangkan saja ruangan Noah yang luar biasa, belum lagi gedung pencakar langit ini sangat megah. Marcella bahkan rela di tempatkan dimana saja yang penting kerjanya di Bright Group
"Hallo, Damar kamu ke ruangan saya sekarang!" Damar? Siapa dia? apa dia sekretaris baru Marcella?. Banyak pertanyaan siapa gerangan Damar yang baru saja di telefon Noah. Setelah menunggu beberapa menit, dari balik pintu muncul pria yang lumayan tampan dan rupanya masih muda. Pria itu tersenyum ramah saat memasuki ruangan Noah, bahkan sekarang percaya atau tidak Marcella seolah tersihir dengan senyum manisnya.
"Bapak mencari saya?" baru saja Noah ingin menjawab tiba-tiba...
"Iya" sontak semua dalam ruangan itu menatap ke arah Marcella yang tersenyum setelah menjawab pertanyaan yang ditujukan pada Noah.
"Maaf?" Damar menatap Marcella heran.
"Iya, Tuan Muda cari Masnya" Marcella kembali berbicara sambil cengengesan.
__ADS_1
"Mas?" teriak Noah dan Steven bersamaan, sementara Damar bungkam seribu kata. Jujur saja pria itu bingung dengan suasana yang sedang terjadi sekarang. Rahang Noah mengeras menahan amarah. Tunggu dulu, kenapa dia harus marah? Apakah karena bawaan keluarga? Atau karena dia adalah suami dari seorang gadis yang baru saja terang-terangan tertarik dengan seorang pria di depannya? Aaahhh tentu saja karena bawaan keluarga tidak mungkin kan bawaan suami... Aaakkkhhh sudahlah, Noah pun pusing untuk menggambarkan alasan perasaannya saat ini.