Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Stabilitas Keyakinan 10


__ADS_3

“ Dia... masih belum bertanya padamu?.”


“ Ya... kali ini aku memang bertindak keterlaluan.”


“ Akhirnya Byana, kau sadar hal itu juga. Lalu, apa yang akan kau lakukan?, apa akan berlama lama saling mendiamkan satu sama lain?. Kenapa?, kau tidak memiliki nyali untuk memulai pembicaraan?.”


“Hana... menatap wajahnya pun aku tidak berani.”


“ Sudah hampir seminggu kalian seperti ini. Apa kau tahu?, silent treatment bisa menjadi kekerasan melukai emosional bagi pasangan. Kau benar benar harus serius menanggapi hal ini.”


“ Pasangan dari mana?! Kau juga tahu aku dan Aldrik hanya sebatas hubungan kontrak perjanjian!.”


“Oke, tapi kontrak itu masih berjalan sampai sekarang bukan?. Jadi tidak lain kalian adalah pasangan. Apa yang ku katakan salah?.”


Kembali terdiam tidak lagi memiliki alasan untuk membantah perkataannya. Memang kesal sekali jika bisa berkata, karena gara gara hubungan kontrak ini tanggung jawab pun menjadi semakin banyak berbeda halnya jika kau bergerak sendiri.


Menatap pada Hana yang dengan santai meminum segelas kopi setelah berkata pedas seperti itu, Byana pun berkata dalam hatinya. Jika silent treatment ini melukai perasaan pasangan, apa Aldrik juga merasa sakit hati sepertiku?. Apa kemarahan dalam hatinya tidak akan hilang?.


Byana mencoba mengambil handphone dari dalam tasnya dan langsung mencoba menghubungi Gestara. Namun kelicikan Byana kembali dilakukannya disaat panggilan itu sudah terhubung pada Gestara, Byana memberikan pada Hana dan menyuruhnya untuk menggantikan berbicara.


“ Haahalo Gestara... apa kabar?” tanya Hana canggung sembari menatap sinis pada Byana.


“ Baik. Ada apa Hana?, kenapa menghubungiku melalui handphone Byana?” tanya Gestara kebingungan melalui panggilan telephone.


Melihat Byana yang memohon untuk menanyakan kabar Aldrik padanya, terlintas pikiran untuk menjahili mereka berdua karena sikap keras kepala yang dimiliki keduanya begitu tinggi. Tak urung secara tiba tiba bernada sedih, Hana pun membuat Byana bingung dengan tingkah lakunya.


“ Gestara... bagaimana ini... aku sudah tidak sanggup menolong Byana.”


“ Apa?, memang apa yang terjadi?” tanya Gestara begitu khawatir.


“ Byana mengamuk dan emosinya kembali tidak stabil. Bahkan barusan dia memukulku.”


( BEEP ) Suara panggilan yang tiba tiba terputus.


Byana mengambil paksa handphone miliknya dari tangan Hana dengan begitu kesal dan meminta penjelasan. Sedangkan Hana dengan santainya meminum kopinya kembali dengan tidak memperdulikan Byana yang terlihat panik.


Byana kembali mencoba menghubungi Gestara berkali kali, namun tidak ada satu panggilan lagi darinya yang terjawab. Merasa hilang akal, Byana mulai semakin kesal saat Hana dengan ringan membohongi Byana dengan berjanji akan menghubungi Gestara kembali untuk menjelaskan kesalahpahaman jika Byana mau mengambilkan sebuah buku diruang bacanya.


Dasar nenek sihir!. Jika aku tahu akal busuknya dengan mengunciku diruangan ini, sudah aku... Aaarrgh! Bagaimana ini?! apa Gestara memberitahu Aldrik?. Untuk apa Hana mengurungku disini!. Gumam Byana kesal dengan terus mengetuk pintu ruangan, memohon Hana membukakannya.


Tersadar akan dua mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya, Hana pun mempersilahkan Aldrik dan Gestara yang terlihat panik masuk kedalam rumahnya. Terlihat Aldrik begitu sangat meminta penjelasan Hana, namun kembali Hana berbohong juga padanya.


“ Aldirik, setelah memukulku Byana terjatuh dan kepalanya terhantuk meja. Dia ada di sofa ruangan baca lantai atas dan aku menguncinya.” Jelas Hana dengan raut wajah sedih.


“ Apa?, kau menguncinya?! Hana apa kau tidak keterlaluan?!” ucap Gestara kesal.


Aldrik segera berlari menuju ruangan atas, namun Hana berhasil menarik tangan Gestara untuk mencegahnya berlari menyusul Aldrik. Memberikan isyarat bahwa saat ini dirinya berkata bohong, Gestara pun terkejut dengan penjelasan Hana yang sengaja membiarkan mereka untuk berdua dan membicarakan masalah mereka.


( BRRAAAKKK ) Suara pintu yang terbuka paksa oleh Aldrik.


“ ALDRIK?!” ucap Byana terkejut dengan langsung berdiri dari sofa yang didudukinya.


“ Kenapa kau memukul Hana?” tanya Aldrik begitu serius pada Byana.


“ Aku tidak memukulnya... sungguh... aku juga tidak tahu kenapa dia berkata seperti itu.”


 ( CEKREK ) Suara pintu yang terkunci dari luar.


“ Aldrik, Byana sama sekali tidak memukulku dan aku membohongi kalian berdua. Dengar, kalian sudah tua dan bukan anak ABG yang baru pubertas. Bicarakan masalah kalian dan berhenti melakukan silent treatment satu sama lain!. Kalian membuatku kesal!.”

__ADS_1


( BHAAKK BHAKK ) “ Hana! Apa kau akan mengunciku disini?! apa apa ini Hana!.” (BHAAKK BHAAKK) “ Hana, buka pintu ini!.” Ucap Byana sembari menghentak pintu.


 “ Tidak ada gunanya. Dia tidak akan membukakan pintu itu.” Ucap Aldrik sembari melonggarkan dasi yang dikenakannya.


Merasa tidak tahu harus bagaimana, Byana pun langsung bersikap serba salah dengan berdiri dipojokan ruangan dengan kepala yang kembali tertunduk. Melihat reaksi Byana yang seperti itu, semakin membuat Aldrik merasa kesal hingga berjalan menghampiri dan langsung menarik tangannya seraya mengcengkram erat untuk bersandar padanya.


“ Kau sengaja membuatku marah bukan?. Byana apa menurutmu ini lucu?!”


“ Aaappa maksudmu?, kau pikir aku sengaja ingin celaka?! AKU SAJA KETAKUTAN SET---”


( BRRUUKKKK ) “ Uuummhh... Aldrik... tunggu... HUMMPHH.”


Mendorong Byana hingga tersudut pada sebuah dinding, sebuah ciuman pun akhirnya membungkam mulut satu sama lain. Nafas keduanya sudah tidak terkendali dengan rambut Byana yang terlihat berantakan serta dasi Aldrik yang semakin berantakan. Terhenti untuk menarik nafas satu sama lain, kedua pun saling menatap dengan hembusan nafas panas.


“ Apa... kau tidak tahu, betapa aku merasa khawatir?.”


Tatapan matanya terlihat begitu sedih seolah selama beberapa hari ini begitu menyiksanya dengan menahan diri untuk tidak berada disekitar Byana. Tak kuasa menahan perasaannya, Byana pun tanpa sadar menitikkan air mata dan memeluk Aldrik dengan erat.


“ Maaf... maafkan aku.” Ucap Byana begitu lirih memeluk Aldrik.


“ Kumohon, jangan lakukan hal ini lagi. Aku hampir kehilangan akal.” Balas Aldrik yang juga memeluk erat Byana saat ini.


Entah ini hubungan yang hanya sebatas perjanjian kontrak atau tidak, Byana dan Aldrik seperti sudah tidak memperhatikan dan menjaga jarak lagi. Kembali menatap satu sama lain, ciuman kedua kalinya terasa lembut dan hangat seolah dinding pembatas hancur begitu saja.


Mencuri dengar dari balik pintu, baik Hana dan Gestara pun sedikit merasa malu mendengar suara Byana yang tidak wajar. Tertunduk satu sama lain, entah mengapa Gestara tiba tiba membelai lembut kepala Hana dan mendekatkan wajahnya seraya berkata ucapan terima kasih.


Menatap wajahnya dengan jarak begitu dekat, Hana baru menyadari bahwa Gestara terlihat tampan. Entah apa yang merasukinya, seketika membuat Hana tersipu malu dan wajah yang tiba tiba terasa panas merona merah.


“ Hana, Tara. Aku tahu kalian ada diluar. Buka pintu ini dan kita bicara bersama.” Ucap Aldrik.


Terbukanya pintu dengan Hana dan Gestara yang berjalan masuk kedalam ruangan, terlihat Aldrik menggenggam tangan Byana yang masih tertunduk malu. Melihat reaksi Hana yang juga terlihat sama, Aldrik dan Gestara pun hanya tersenyum satu sama lain.


“ Apa dia masuk jebakanmu?” tanya Byana pada Aldrik.


“ Aplikasi ini baru Gestara install tadi malam dan memerlukan proses pengecekan browser. Tapi seharusnya siang ini aplikasi itu sudah mengcopy data langsung mengganti yang asli.”


“ Mkasudmu, karyawanmu dapat dengan mudah mengakses data itu namun semua data itu palsu?” tanya Hana yang masih kebingungan.


“ Ya. Aldrik sengaja membuat aplikasi buram yang dapat mengecoh mereka. Dan saat itu tiba, kami berniat menyelamatkan keempat karyawan kami.” Balas Gestara menjelaskan.


“ Wuaahh... pintar sekali. Tidak salah kau menjadi CEO dan kau General Manager. Lalu?, lalu?, apa rencana kalian untuk menyelamatkan keempat karyawan itu?” tanya Hana begitu antusias.


“ Byana sudah memberitahu sebuah jalan rahasia untukku, jadi aku dan Gestara berniat menyelinap masuk pada dini hari. Dan kau Byana, aku tahu kau pasti ingin ikut bergabung. Tapi kali ini aku memintamu menunggu dimobil dan membawa keempat karyawan itu pergi.” Jelas Aldrik.


“ Tidak tidak. Seingatku pada dini hari mereka bergantian berjaga, justru sebelum tengah malamlah waktu yang tepat karena mereka suka mabuk mabukan.” Byana memberikan pendapatnya.


Senyuman lembut akhirnya dapat terlihat kembali diwajahnya. Dengan masih menggenggam erat tangannya, serasa beban dan kesedihan berkurang dengan sendirinya dan semua penghalang hancur dengan sendirinya.


Kembali menaiki mobil yang sama untuk pulang, genggaman tangan itu pun tidak terlepas seolah berkata jangan lagi melepas genggaman ini. Tersadar akan tatapan orang yang tersipu malu, Pak Gio dan Lia yang tersneyum malu pun memberitahu bahwa makan malam sudah terhidang.


( TING TONG ) Bunyi Bell rumah yang berbunyi.


Menatap satu sama lain merasa tidak akan menerima tamu pada malam hari ini, baik Aldrik dan Byana pun dikejutkan dengan Tante Lesti dan Om Dhika yang datang selepas mendengar kabar Byana dari Hana yang memaksanya untuk menjelaskan. Dengan penuh haru dan khawatir mereka pun melihat kondisi Byana dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


“ Byana, kau baik baik saja Nak?” tanya Tante Lesti begitu khawatir.


“ Baik Tan... Om, maaf membuat kalian begitu khawatir.” Balas Byana dengan memeluk keduanya.


“ Byana mengalami cedera otot pada bagian leher dan pundaknya karena benturan keras. Tapi kini sudah jauh lebih baik.” Ucap Aldrik tersenyum mencoba untuk menjelaskan.

__ADS_1


“ Yaa Nak, yaa... kami dengar kau memanggil terapis datang ke rumah setiap harinya untuk melihat kondisi Byana. Terima kasih... terima kasih.” Ucap Om Dhika saat memeluk Aldrik.


“ Sudah tugasku, Pak.” Balas Aldrik kembali tersenyum saat melepas pelukan Om Dhika.


“ Apa sudah makan malam?. Pak Gio menghidangkan makanan laut yang lezat... Ibu dan Bapak mungkin mau bergabung bersama kami.” Lanjut Aldrik dengan menarik salah satu kursi makan.


Saling tersenyum satu sama lain, Pak Gio dan Lia pun dengan sigap menyiapkan perlengkapan makan serta menu lainnya yang siap terjadi dibantu assisten rumah tangga lainnya. Merasa tidak nyaman karena jarang diperlakukan seperti ini, Om Dhika dan Tante Lesti pun merasa canggung.


“ Pak, Bu... bersikap biasa saja... bahkan Pak Gio lebih senang jika Ibu dan Bapak mau mengomentari masakannya.” Ucap Aldrik bernada sopan.


“ Tentu... Nyonya, Tuan... silahkan beri masukan.” Balas Pak Gio dengan menundukkan tubuhnya, seperti yang biasa dia lakukan.


Kembali merasa tidak nyaman dengan perlakuan Pak Gio yang tidak biasa, Tante Lesti secara tiba tiba meminta Lia untuk duduk disebelahnya. Bahkan Om Dhika pun berdiri serta menarik sebuah kursi yang berada disampingnya dan membuat Pak Gio duduk disebelahnya.


Sontak Pak Gio dan Lia begitu terkejut dengan perlakuan kedua orang tua angkat Byana dan menatap padanya. Namun bukan marah dan merasa tidak pantas akan terduduknya seorang pesuruh yang berada satu meja dengan tuan rumah, Aldrik dan Byana pun hanya tersenyum melihat kelakuan Om Dhika dan Tante Lesti.


“ Makanlah bersama... selamat menikmati hidangan makan malam.” Ucap Aldrik tersenyum mencoba mencairkan suasana yang kaku.


Mendapat ijin dari Aldrik, Pak Gio dan Lia pun mulai menyantap makanan bersama mereka semua dengan penuh canggung, namun berkat kehadiran Om Dhika dan Tante Lesti seketika keadaan berubah menjadi ramai dan penuh kehangatan dan canda tawa.


Aldrik diam diam kembali menggenggam tangan Byana dari bawah meja dan mereka pun saling menggenggam erat satu sama lain tanpa ada yang melihat. Disaat suasana makan malamsemakin hangat, kejadian tak terduga terjadi disaat mereka kembali kedatangan orang yang tidak diundang untuk datang dan masuk secara paksa kedalam acara.


“ Aldrik, apa apaan ini?! kenapa kau membiarkan pesuruh makan satu meja denganmu?.”


“ PAK... BU...” teriak Byana yang terkejut dengan langsung berdiri dari tempat duduknya.


Seketika juga Pak Gio dan Lia bangkit dari tempat duduknya, mencoba mengatur jarak, dan tertunduk begitu rendah. Tak urung akan Tante Lesti dan Om Dhika yang akhirnya ikut berdiri bersama Byana, Aldrik terlihat mulai naik pitam.


“ Apa disini tidak ada norma kesopanan sama sekali?. Dimana etikamu?!” ucap Mutia dengan menunjukkan jarinya pada Lia.


“ Aldrik, kenapa kau menjadi seperti ini?! Aku tidak mendidikmu menjadi anak seperti ini!” ucap Arie dengan sedikit meninggikan suaranya.


Tiba tiba langkah kaki lainnya berjalan tanpa dosa memasuki ruangan makan dengan membawa sebotol anggur merah yang mahal. Menatap seakan bertanya dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya, tatapan Vlora pun menjurus pada Byana yang saat ini menundukkan kepalanya.


Merasa tidak ingin mencari masalah, Om Dhika dan Tante Lesti mencoba untuk berpamitan dan meminta maaf baik kepada mereka semua terlebih Aldrik sebagai tuan rumah jika yang mereka lakukan dianggap tidak pantas untuk dilakukan.


“ Tunggu Bu, Pak. Mau kemana?” tanya Aldrik bernada lembut, berjalan kearah Om Dhika.


“ Aaahh... Nak, sepertinya kau ada acara makan malam lainnya. Kami tidak tahu dan malah dengan polos menerima tawaran ini. Maaf kami tidak ta---”


“ Pak... duduklah kembali bersama Ibu, Byana, serta Pak Gio dan juga Lia.” Ucap Aldrik sembari menurunkan tubuh Om Dhika untuk terduduk kembali pada kursinya.


“ ALDRIK MAHENDRA!.” Teriak Arie begitu lantang hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa takut.


Tatapan Aldrik menjurus pada Byana yang berada diseberangnya masih menundukkan kepalanya dengan jari jemari yang terlihat gelisah. Tatapan Aldrik memutar dan kini sudah tidak dapat dihindari lagi kemarahan dalam dirinya yang tidak memandang status atau jabatan apa pun.


“ Byana, lanjutkan makan malam kalian. Aku ada urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.” Ucap Aldrik tersenyum lirih pada Byana dengan langsung berbalik berjalan memberikan isyarat agar ayah, ibu tiri, dan wanita yang mengaku sebagai tunangan berjalan mengikutinya.


Tertutup pintu ruangan baca, terdengar jelas teriakan Arie dan juga nada bicara Mutia yang tinggi dalam menghina orang. Begitu keberatan dengan kejadian malam ini yang terlihat memalukan dan menjatuhkan nama baik keluarga Mahendra, Aldrik pun semakin tersudutkan dengan perbandingan keluarga Byana dan Vlora yang sangat jauh berbeda.


( PRRAAANNGG ) Suara pecahan yang terdengar begitu keras.


Semua yang berada diruangan makan sangat terdiam karena suasana menjadi senyap dan sunyi. Tidak lagi terdengar nada tinggi terlebih teriakan saat ini, membuat mereka bertanya tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi pada ruangan itu.


“ Byana, apa tidak sebaiknya kau kesana dan me---”


Belum selesai Om Dhika berbicara, Arie terlihat bejalan begitu kesal meninggalkan ruangan dengan Mutia dan Vlora yang terlihat ketakutan berjalan dibelakangnya. Mereka meninggalkan kediaman Aldrik tanpa berkata dan berlalu pergi begitu saja.


“ Maaf atas kekacauan yang tidak menyenangkan. Kita lanjutkan makan malam lagi.”

__ADS_1


Menatap pada salah satu tangan yang sengaja disembunyikannya, terlihat sebuah handuk putih berwarna kemerahan akibat noda darah. Memperlihatkan senyuman begitu tampan agar membuat semua merasa nyaman, Aldrik untuk apa kau sampai melakukan hal ini. Apa karenaku?.


__ADS_2