Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Pengikatan 6


__ADS_3

“ Maaf, bisa ulangi sekali lagi?.”


“ Pak Sony, jika Byana dibiarkan. Aku takut dia melakukan hal nekad. Terakhir kali dia menyelamatkan keempat karyawanku seorang diri. Meski aku tahu dia mendapatkan pelatihan yang baik, tapi jika menyangkut Daniel bukankah hal yang mudah.”


“ Kau ada benarnya. Aku pun terkejut saat dia melaporkan kejadian terakhir kali.”


“ Byana harus kembali dan bekerja sama denganku.”


“ Pak Aldrik, maafkan aku bertanya mengenai hal ini. Tapi, apa kalian benar benar bertunangan?.”


“ Ya Pak. Saya serius saat melamar Byana.”


 “ Jika begitu baiklah. Aku akan menuruti perkataanmu. Tapi berjanjilah, kalian terus memberiku kabar dalam hal ini karena, Byana secara pribadi akulah yang memberikannya ijin.”


“ Tentu Pak. Aku dan Byana akan selalu memberikan laporan.”


Tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri jika mengenai Byana, Aldrik terpaksa melakukan hal yang tidak ingin dia lakukan. Memohon pada pihak yang hanya akan semakin memberatkan Byana dalam menyelesaikan masalahnya, Aldrik pun tersudut.


Maafkan aku Byana. Aku tidak memiliki pilihan lain. Gumam Aldrik dalam hati, menunggu AKBP Sony menyelesaikan panggilannya pada Byana melalui nomor handphone yang khusus digunakan untuk bekerja.


Mengakui ketidakmampuannya kali ini karena tidak bisa menemukan Byana yang bersembunyi. Seketika mendapat titik cerah akan keberadaan Byana yang saat ini sedang berada disebuah perkampungan yang ternyata menjadi tempat asal daerah mendiang kedua orang tuanya.


Disaat Byana disana, tidak ada lagi sisa keluarga Pranawa yang tersisa. Semenjak kakek dan neneknya menutup usia sejak lama, rumah kediaman keluarga Pranawa yang diberikan pada Tante Lesti pun dijual dengan ikut pindahnya bersama sang suami yaitu om Dhika, untuk keluar pulau asal daerah mereka.


“ Byana, bisa ambilkan keranjang itu kemari?.”


“ Serta Byana, pisahkan buah buah itu karena akan segera diangkut ke kota untuk dijual.”


“ Baik....”


Byana yang baru tiga hari dua malam pun disambut dengan sangat baik oleh masyarakat sekitar yang tentunya menyukai keluarga Pranawa sejak lama. Mengakui bahwa Byana begitu mirip dengan mendiang ibunya ketika masih muda, masyarakat pun tidak perlu meragukan lagi keluarga Pranawa yang begitu berjasa pada masa itu.


Terkesan merendah, kedatangan Byana yang tertutup menimbulkan berbagai pertanyaan bagi para kembang desa diperkampungan itu karena kedatangan Byana yang terkesan aneh. Namun bagi para perjaka, kedatangan Byana seperti anugerah karena melihat sifat dan penampilan Byana yang begitu berbeda dari para kembang desa yang menawan.


“ Byana, apa kau suka makanan ini?. Ini makanan khas daerah sini, dan terbuat dari kentang.” Ucap Kepala desa Pak Darto yang sudah memasuki usia senja.


“ Apa kau tidak lihat dia begitu lahap menyantapnya?! Byana... apa kau tidak punya kekasih?” tanya istri Kepala desa Bu Darmilah yang juga terlihat memasuki usia senja.


“ Ummm... khenhapaa bhu dan bhaphak berthanya ituw?” balas Byana dengan mulut penuhnya.


“ Karena saat seusiamu, mendiang ayah dan ibumu sudah menikah... persahabatan antara empat orang yang indah. Apa kau sudah bertemu dengan kedua sahabat ayah dan ibumu?” tanya Pak Darto sembari menadahkan kopi kedalam sebuah cangkir.


“ Sahabat... kedua orang tuaku?... siapa Pak?” tanya Byana kebingungan.


“ Arie dan Laura... bahkan saat mereka berempat menikah bersama sama, langsung pergi ke kota juga bersamaan keesokan harinya...” Bu Darmilah ikut menjelaskan.


“ Arie... dan, Laura?” Byana mulai merasa curiga setelah mendengar nama itu.


“ Boleh Byana tahu kepanjangan nama mereka?,” lanjut Byana bertanya.


“ Kalau tidak salah... Arie itu... Mahendra. Ya, Arie Mahendra.”


( PRRAANNGGG) Piring yang tiba tiba terlepas dari genggaman Byana, terpecah karena terkena batu dibawahnya.


Bagai grativitasi bumi menghilang. Byana tersungkur terduduk diatas tanah pijakannya dengan tatapan kosong yang begitu terkejut. Tak urung akan Pak Darto dan Bu Darmilah yang kembali menjelaskan kejadian masa lalu, Byana saat ini benar benar seperti terpukul benda keras hingga terpelanting cukup jauh.

__ADS_1


Kenyataan akan ibu kandung Aldrik yang sebenarnya menyukai ayah Byana, berakhir dengan menikahnya masing masing pada kedua orang yang berbeda karena alasan kekayaan. Ibu Aldrik yang berasal dari keluarga berada membuatnya harus memilih antara keluarga atau persahabatan.


Tersadar karena tidak memiliki kemampuan, ayah Byana pun menyerah dan memperkenalkan sahabatnya yaitu Arie Mahendra kepada ibu Aldrik kala itu sedangnya ia pun memperkenalkan sahabatnya pada ayah Byana yang merupakan dari keluarga Pranawa.


Pernikahan keempatnya pun terjadi dengan kesadaran diri masing masing dan berjanji akan membuka lembaran baru dan masih tetap berteman sampai kapan pun.


“ Tidak mungkin... ayah dan... pak Arie... mereka bersahabat?.”


“ Byana... kenapa kau tampak sangat terkejut, Nak?. Haruskah kita menceritakan yang lain saja?” tanya Bu Darmilah merasa khawatir.


Tidak lagi menanggapi pertanyaan dan perkataan Pak Darto dan Bu Darmilah, Byana melangkahkan kakinya entah kemana. Tatapan matanya begitu kosong bahkan ia sendiri pun mempertanyakan akan kemana dirinya akan pergi.


Disatu sisi, Aldrik baru tiba di perkampungan langsung mencuri perhatian dengan penampilan dan kendaraannya yang digunakan. Tidak perlu ditanyakan kembali akan para kembang desa yang mencari perhatian dan perjaka yang memandang sinis, perhatian Aldrik yang mengarah dengan memutari semua jangkauan matanya mencari sosok Byana.


Kedatangan Aldrik pun akhirnya sampai ditelinga Pak Darto dan Bu Darmilah yang kini menghampiri Aldrik dan menyuruhnya memperkenalkan diri serta tujuan kedatangannya. Bagai mendapat kejutan kembali, Pak Darto dan Bu Darmilah pun terkejut saat mendengar nama lengkap Aldrik.


“ Kau... anak dari Arie dan, Laura?” tanya Pak Darto sangat terkejut saat melihat paras wajah Aldrik.


“ Dari mana Bapak tahu siapa ayah dan ibuku?” tanya Aldrik sedikit menatap sinis.


Sedikit tersenyum pada Aldrik, Pak Darto dan Bu Darmilah pun menceritakan kembali pada Aldrik sama persis dengan apa yang mereka katakan pada Byana. Dengan memperlihatkan sebuah album foto usang, Aldrik melihat jelas bahwa para orang tua benar benar melakukan pernikahan meski hati mereka pada orang lain.


Juga sama seperti Byana, Aldrik terduduk dengan wajah pucat pasi akan kenyataan mengejutkan yang baru saja dia dengar. Namun kembali akan kesadarannya, Aldrik pun mempertanyakan Byana serta kemana dia pergi sebelumnya.


Berlari menuju sebuah persawahan, Aldrik akhirnya melihat Byana yang berdiri mematung pada sebuah pohon tua dengan daun lebat yang menjuntai. Tidak diperdulikannya lagi tatapan dari semua orang yang menatapnya saat ini, yang Aldrik inginkan hanyalah melakukan yang begitu sangat ia inginkan saat menemukan Byana.


“ Akhirnya aku menemukanmu... kemana kau mau pergi?.”


Bisikan pertanyaan dengan sebuah pelukan yang erat dilakukan Aldrik dengan Byana yang memberikan respon penuh terkejut akan apa yang terjadi kembali hari ini padanya. Namun, bagi Byana yang merasa sangat kotor dan sudah tidak pantas berada disisi Aldrik saat ini, tentu penolakan pun dilakukan Byana dengan mendorong Aldrik untuk pergi menjauh.


“ TUNGGU!! tunggu... aku mengenalnya. Kumohon jangan lakukan apa pun padanya...” Byana menarik salah satu tangan pria yang mulai menarik jas kemeja yang Aldrik kenakan.


“ Byana, kau mengenalnya?” tanya Pria itu yang seketika menghentikan gerakan, mencoba untuk memukul Aldrik yang sedikit pun tidak melakukan perlawanan.


“ Ya... lihat?. Ini cincin pertunanganku. Dia adalah tunanganku.”


Pernyataan yang akhirnya keluar dari mulut Byana saat ini begitu dinantikan oleh Aldrik sejak lama. Expresi datar dan dingin sebelumnya seketika berubah bagai memakai topeng penyamaran yang dapat dilepas dan dipasang kembali. Byana masih terlihat khawatir pada beberapa pria yang masih saja mengerumuni Aldrik saat ini.


Bersyukur akan kehadiran Pak Darto, Bu Darmilah, dan para orang tua perkampungan yang berdatangan, kesalah pahaman pun selesai dengan Aldrik dan Byana yang memohon maaf karena menimbulkan keributan dikedatangan mereka yang pertama kali ini.


Bukan merasa kesal atau menyudutkan Byana dan Aldrik, bagi para orang tua itu serta Pak Darto dan Bu Darmilah sendiri tertawa lepas hingga membuat mereka kebingungan dan saling menatap satu sama lain, tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


“ Kalian... begitu mirip... dengan orang tua kalian masing masing ketika muda...” Bu Darmilah menjelaskan dengan menahan tawanya.


“ Kalian sangat mirip dengan mereka. Ternyata jodoh itu memang tidak dapat disangka. Kalian tidak saling mengenal, tapi ternyata bertunangan... kapan kalian akan menikah?.”


Mendengar pertanyaan yang diberikan Pak Darto membuat Byana tiba tiba menutup wajahnya karena merasa malu sedangkan Aldrik membuang pandangannya kearah lain hanya untuk menutupi rasa gugupnya saat ini.


Kembali memberikan penyambutan yang baik dan hangat layaknya keluarga, Byana dan Aldrik pun diundang untuk makan malam bersama di aula kampung yang kebetulan sedang diadakan acara kerja bakti dengan makanan dan minuman yang sudah dipersiapkan warga.


Merasa tidak nyaman dengan langsung melahap makanan dan minuman itu, Aldrik melepaskan jam tangan serta jasnya yang mahal, kemudian melipat kemejanya. Sepatu kulit formil yang dia kenakan saat ini pun berganti menjadi boots karet dengan membawa sebuah cangkul dan sekop ditangannya.


Entah apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah aku berniat menjauhinya?. Kenapa saat ini aku justru benar benar menjadi tunangannya?. Gumam Byana dalam hati merasa linglung dengan berdiri memegang jas serta sepatu milik Aldrik.


********

__ADS_1


Malam hari pun tiba namun Byana sama sekali belum bermaksud untuk pulang kembali keibu kota. Pak Darto dan Bu Damilah pun akhirnya terdiam menatap pada Aldrik yang serba salah. Kini mereka cukup mengerti bahwa saat ini terjadi masalah dalam pertunangan Aldrik dan Byana.


“ Tiba tiba ada rapat yang harus aku datangi di pos ronda... Bu, buatkan kopi di termos dan kita kesana sekarang.” Ucap Pak Darto yang seolah memberikan ruang untuk mereka berbicara.


“ Pak, kenapa tiba tiba pergi?” tanya Byana yang tidak ingin ditinggalkan bersama Aldrik berduaan didalam rumah.


“ Sudah, sudah... kau ini sudah dewasa!. Kalian juga sudah bertunangan dan mau menikah... apa kau tidak merindukan pria tampan ini?. Jika Ibu masih muda pasti akan mengincarnya.” Bu Darmilah memukul tangan Byana pelan sembari menatap pada Aldrik yang memalingkan pandangannya.


“ EEHHEEMM!! Bu, kita pergi sekarang.”


Suasana canggung pun begitu kental terasa. Ruangan kecil dengan lampu redup berwarna kuning. Suara air yang mengalir dan jangkrik yang melantunkan bunyi suara khasnya untuk mengisi langit malam, akhirnya menyulut keberanian dalam diri Aldrik untuk memulai percakapan.


“ Byana...” Aldrik melangkah maju mencoba menghampiri Byana.


“ DIAM DITEMPAT. Aku akan berlari keluar jika kau berani mendekatiku.” Byana bersikap histeris bagai Aldrik sebuah virus baginya.


“ Kau seperti ini, karena... kejadian dihotel bukan?” tanya Aldrik dengan lembut.


“ Byana, ada yang ingin kujelaskan. Alex saat itu---“


“ BERHENTI BERBICARA! apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini?!” Byana akhirnya merasa kesal dengan memotong pembicaraan Aldrik.


“ Justru karena aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini aku ingin menyampaikannya. Alex tidak menyentuhmu sama sekali malam itu!.”


“ Aaappaa...?”


“ Dia tidak menyentuhmu... Vlora yang merencanakan ini. Dia membuka bajumu dan menidurkanmu disamping Alex. Dia mau mencoba mengancamku kembali untuk memutuskan pertunangan denganmu. Itu yang terjadi.”


“ Aku... jadi aku... tidak kotor? Aku... tidak tahu. Aldrik, aku bingung....” tatapan Byana tidak menentu kearah mana pun memandangi dengan mulai berlinang air mata.


Tak lagi kuasa menahan perasaan melihat wanita yang dia cintai begitu tersiksa, entah Byana akan memukul atau mengumpat padanya, Aldrik memeluk Byana dengan erat dan membelai kepalanya dengan sangat lembut.


Tangis Byana pecah begitu nyaring dipelukannya. Sangat rapuh bahkan untuk wanita seberani dirinya yang sempat menantang maut, kali ini Byana benar benar tidak memiliki kemampuan yang begitu besar untuk melawan kenyataan pahit ini.


Aldrik semakin memeluk Byana dengan erat dan membiarkannya menangis dengan lepas. Bagi Aldrik saat ini, ketidakmampuannya yang telah berjanji untuk menjaga dan selalu berada disampingnya, begitu meruntuhkan harga dirinya sebagai lelaki dengan martabatnya yang tinggi.


“ Maafkan aku, Byana. Maaf....”


“ Maaf aku datang terlambat.”


Permohonan maaf yang diucapkan Aldrik beberapa kali semakin lantang dia ucapkan dengan kecupan lembut pada sisi wajah kanan Byana. Dekapan hangatnya membelai lembut rambut Byana yang masih belum berhenti menangis yang begitu pilu terdengar oleh siapa pun.


“ Apa yang harus kulakukan?... Byana, katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau kembali seperti biasa dan mau pulang kembali bersamaku.”


“ Aku... masih bisa, berada... disampingmu?” tanya Byana dengan masih terisak tangis.


Aldrik seketika melepaskan pelukannya untuk menatap pada Byana. Mengusap air mata yang menetes membasahi wajahnya, Aldrik tersenyum lembut dengan tampannya mengarahkan semakin dekat wajahnya kearah Byana.


Kecupan manis beberapa detik yang Aldrik berikan dapat membuat Byana menghentikan tangisnya. Merasa Byana sudah mulai tenang, senyuman yang tidak menghilang itu pun kembali memeluk Byana dengan erat seraya berkata,


“ Entah masa lalu apa yang mengikat kita berdua. Yang kutahu, saat ini kau adalah wanita yang kupilih untuk bersamaku. Kau adalah Nona Mahendra, calon istriku. Tidak akan ada yang dapat menggantikannya, apa pun itu alasannya. Ingat itu Byana.”


Perkataan indah yang kembali terdengar darinya. Lagi lagi entah mengapa keraguan yang selalu datang dalam diri Byana ini tidak dapat menghilang. Tembok Aldrik yang diruntuhkan seolah dibangun kembali oleh Byana tanpa alasan yang jelas.


Apa aku benar benar bisa berada disisinya?.

__ADS_1


__ADS_2