
Kesekian kalinya, selang oksigen ini mengeluarkan hembusan uap sejuk yang begitu dingin terasa. Begitu segar sampai sampai tak ingin melepasnya. Selang infus yang menjuntai, terasa sedikit cubitan di salah satu tangan yang terasa sakit. Tak urung akan dinding putih serta tirainya, dapat sudah dipastikan dimana dan sedang apa berada disini.
Genggaman tangan orang terkasih yang entah sejak kapan terduduk lemas menatap. Mereka begitu merasa khawatir dengan rasa kekesalan yang tersenyum didalam batinnya mengingat sifat keras kepala yang begitu bebal untuk diberikan masukan.
“ Byana sadar... ALDRIK, BYANA SADAR!.”
“ Nak... kau tidak apa apa?, bagaimana keadaanmu?.”
“ Byana, kau tidak apa apa?, panggil dokter jaga kemari!.”
Aaahh, lagi lagi aku menyusahkan mereka. Kenapa aku jadi begitu menyusahkan mereka semua. Sungguh tidak berguna sama sekali. Gumam Byana dalam hati dengan masih terpejam lemas.
Datangnya dokter dan perawat yang langsung memeriksa kondisi Byana, akhirnya mendatangkan kabar baik pada mereka semua. Dengan tetap harus beristirahat, dokter itu pun mengatakan agar Byana tidak memaksakan dirinya begitu keras.
Mencoba untuk mengembalikan kesadarannya dalam beberapa saat, Byana yang akhirnya dapat membuka mata dan mulai terduduk menatap pada sebuah jam dinding yang berada tepat di seberangnya. Menyadari akan berapa lama dia tertidur, Byana mulai merasa cemas mengingat kondisi Lia serta janjinya pada Pak Gio.
“ Apa? 4 hari?... aku tertidur selama 4 hari?” tanya Byana begitu terkejut dengan masih merasa lemas, saat perawat melepas selang oksigennya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan.
“ Nak... kau sempat demam kemarin... suhu tubuhmy begitu tinggi bahkan sampai mengigau...” ucap Tante Lesti begitu lirih terdengar.
“ Tante dan Om... apa kalian menjagaku selama 4 hari ini?” tanya Byana khawatir dengan menggenggam tangan Tante Lesti dan Om Dhika.
“ Tidak, Nak... Aldriklah yang menjagamu. Kami hanya menjengukmu pada jam besuk seperti ini... anak itu tidak mengijinkan kami bermalam untuk menjagamu.” Balas Om Dhika seraya menatap Aldrik dengan mengerutkan alisnya.
Tatapan Byana pun kini teralih pada Aldrik yang berdiri dengan bersandar lemas pada dinding kamar. Terlihat lemas dan rasa lega didalam dirinya saat melihat Byana terbangun, tidak lagi terlihat seperti mayat hidup yang selama beberapa hari ini dia jaga.
Banyak sekali hal yang terlewatkan Byana selama 4 hari ini, dimana semua pun mulai menceritakan satu demi satu apa saja yang terjadi. Tak lupa diakhir dan pada akhirnya, Hana dan Gestara yang juga meluapkan amarah mereka pada sifat keras kepala Byana, membuat Byana memohon maaf merasa begitu sangat bersalah pada mereka berdua.
“ Kau! Permintaan maafmu pada Aldrik harus jauh lebih baik dari pada ke kami... tidak lihatkah kau bagaimana penampilan Aldrik saat ini?” tanya Hana berbisik kesal dengan mengarahkan pandangannya pada Aldrik.
“ Toko sempat kemalingan kemarin dan entah dari mana Aldrik tahu. Bahkan Om dan Tante yang diam saja, semua Aldrik yang mengurusnya.” Lanjut Hana kembali dengan berbisik disaat Tante dan Om Dhika berbicara dengan Aldrik disofa tengah.
“ Kecurian?, bagaimana bisa?” tanya Byana kebingungan dengan balas berbisik pada Hana.
“ Panjang ceritanya. Dan juga lihat handphonemu, Aldrik memberi kabar pada Sarah yang menanyakan kapan kau mulai mengajar Sandra kembali. Dia berbohong dengan alasan mengajakmu pergi berlibur.” Balas Hana kembali dengan masih berbisik.
Sempat terlupa akan penyamarannya, serta Daniel yang pasti merasa murka, Byana bergegas mengambil handphone yang berada diatas meja untuk memeriksa apakah yang dikatakan Hana benar. Tersadar akan sebuah foto saat dirinya dan Aldrik saat di Jepang kemarin, cukup membuat kecurigaan Sarah menghilang.
Byana menatap pada penampilan Aldrik yang terlihat tidak seperti biasanya. Penampilannya yang formal, elegan, serta rapi, berganti dengan dirinya yang kini hanya memakai kaos dengan jaket bomber dan sepatu sneakers yang jarang dilihatnya. Juga dengan bentuk rambutnya yang berbeda, Byana semakin terpikat akan aura yang dimiliki Aldrik saat ini.
Pria seperti itu memintaku untuk menikahinya?. Jelas otaknya bermasalah. Dia bisa menemukan wanita yang jauh lebih dari padaku. Sadarlah Byana dan kendalikan perasaanmu. Gumam Byana dalam hati memalingkan pandangannya dari Aldrik.
“ Byana, kau tidak apa apa Nak?” tanya Tante Lesti dari sofa tengah.
“ Byana baik baik saja, Tan. Wajahnya tiba tiba memerah karena membayangkan hal yang tidak tidak...” ucap Hana dengan nada dan senyum yang jahil.
“ Dasar nenek sihir. Aku baru siuman dan masih merasa lemas, kau sudah---”
“ Apa kau demam?” tanya Aldrik yang tiba tiba terduduk disamping Byana dan memeriksa suhu tubuhnya dengan menempelkan tangan pada keningnya.
Untuk apa dia kesini?, wajahnya dekat sekali... tidak kendalikan dirimu! Byana, sadarlah dan... aaakkhh! Kau sudah hilang akal!. Gumam Byana kembali dalam hati, semakin terlihat memerah dan tiba tiba terlihat gugup.
“ Byana, telingamu ikut memerah... kau kenapa?. Apa karena luka di kepa---”
__ADS_1
“ Aku tidak apa apa. Tenanglah...” Byana langsung menepis tangan Aldrik dan memalingkan wajahnya kearah samping.
“ Kenapa kau... tiba tiba marah padaku?” tanya Aldrik kebingungan selepas Byana menangkis tangannya.
“ Aku tidak marah... hanya... hanya....”
Menatap pada Hana yang menahan tawanya, lengkap sudah rasa malu Byana dengan Aldrik yang masih terlihat kebingungan akan reaksi yang diberikan Byana padanya. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi, Gestara yang juga sejak tadi melihat mereka, akhirnya menarik Aldrik untuk duduk kembali di sofa tengah berbincang dengan Om dan Tante Lesti.
Hana kembali terduduk disebelah Byana dengan dirinya yang langsung memukul dan mencubit Hana meski masih sangat lemas. Tersenyum bersama Hana, setidaknya untuk kali ini Aldrik merasa lega dapat melihat senyuman diwajah Byana yang selalu saja bersedih.
*******
-Kediaman Daniel-
Ketidakhadiran Byana selama beberapa hari tentu membuat Alex merasa curiga. Tak urung akan Sarah sang kakak ipar yang akhirnya memberikan kabar akan mereka yang pergi berlibur dengan memperlihatkan sebuah foto, cukup bagi Daniel yang tidak merasa curiga namun tidak bagi Alex.
Dengan masih menyimpan rasa terpendam pada Byana, sampai saat ini Alex yang masih berusaha merebut Byana dari Aldrik. Dengan sang kakak yang juga semakin menyemburkan api panas akan dendam pada Aldrik, suatu keuntungan besar bagi Alex.
“ Ka... sampai kapan kau akan menahan diri seperti ini?. Apa harga dirimu tidak terluka karena pria itu?” tanya Alex mencoba mengadu domba dengan menyulut panas hati Daniel.
“ Jangan pernah berkata seperti itu padaku! Aku hanya sedang memikirkan suatu cara yang dapat menyingkirkannya dengan mudah. Bagaimana denganmu?, sudah mendapatkan informasi tentang gadis yang terekam CCTV itu?” tanya Daniel kesal sembari meminum segelas wine.
“ Sepertinya gadis itu ada hubungannya dengan Aldrik, karena kami sedikit kesulitan untuk menemukan informasi dari gadis itu.”
( PRRAAANNGGG) “ Sepertinya?. Sepertinya kau bilang?!” ( BHHUUKK ) “ ARE YOU FU*KING KIDDING ME?! Sudah kukatakan berapa kali bahwa jangan pernah menganggap remeh Aldrik!” Daniel melempar gelas winenya dengan langsung memukul sang adik penuh kesal.
“ Aldrik lebih menyukai bergerak secara terbuka dan terang terangan dari pada seperti ayahnya yang bermain licik sepertiku. Jangan pernah mencari masalah dengannya jika kau tidak bisa membuktikan apa pun secara tepat.” Lanjut Daniel kembali dengan semakin merasa kesal.
“ Maafkan aku. Aku hanya mencoba untuk me---”
“ Yaaa Kak. Aku mengerti.” Balas Alex ketakutan.
( BHAAKKK TRANGG ) “ SIAL!.” Daniel berteriak dengan menendang meja dengan begitu kesal.
Terbukanya pintu ruangan tengah dengan Sarah yang berjalan masuk dengan senyum merendahkan melihat Alex yang tersungkur serta Gerry yang hanya terdiam tak berkata menundukkan kepalanya, Sarah memiliki suatu ide lain yang sepertinya dapat menyenangkan hati sang suami.
Dengan ide sebuah pelayaran menggunakan kapal pesiar untuk ulang tahun perusahaannya yang akan berlangsung pada bulan ketiga, Sarah mengusulkan untuk menjebak Aldrik menghadiri penggalangan dana dimana semua rekan bisnis dan para pejabat hadir.
Tak urung akan saran yang menyudutkan Aldrik agar terlihat sebagai suatu kecelakaan semata dimata semua orang, expresi Daniel seketika berubah dan dengan mesranya mencium sang istri dengan penuh api gelora.
“ Bagaimana bisa aku hidup tanpamu?. Sungguh beruntung sekali memiliki istri sepertimu.” Ucap Daniel tersenyum bangga dengan rayu memeluk Sarah.
“ Tentu aku belajar darimu... Sayang, rencana kita harus berhasil karena dengan itu kekuasaan akan jatuh ketanganmu bahkan semua pejabat itu akan tertunduk hormat.” Balas Sarah dengan sangat manja, merangkul sang suami.
“ Segera siapkan semua keperluan. Cari kapal pesiar terbesar dan apa pun yang diperlukan. Aku tidak mau ada kesalahan sedikit apa pun saat acara itu.” Ucap Daniel tegas.
“ BAIK BOSS.” Teriak Gerry dengan langsung berlalu, diikuti Alex dibelakangnya.
Disaat Daniel dan Sarah mulai merencanakan rencana yang baru, disatu sisi lainnya ayah Aldrik yaitu Arie Mahendra juga tidak lepas dari rasa kesal akibat Vlora yang menimbulkannya banyak mengalami kerugian.
Dengan bantuan keluarga Vlora, pengikatan pada Adhitama semakin membuat Arie merasa tersudutkan mengingat Aldrik yang masih tidak ingin melangsungkan pertunangan terlebih pernikahan dengan Vlora.
“ Ini adalah bukti penyesalanku karena gagal memenangkan penawaran. Mohon maafkan...” ucap Vlora tertunduk malu didepan Arie dan Mutia, sembari menyerahkan sebuah dokumen.
__ADS_1
“ Cantikku... kenapa kau harus sampai melakukan hal ini?” tanya Mutia merasa tidak nyaman.
“ Didalamnya berisi sebuah pulau yang dapat dijadikan sebagai area pariwisata. Mohon Om dan Tante bersedia menerimanya.” Balas Vlora kembali dengan terus menunduk merasa malu.
Tatapan Arie pun menjuru pada Pak Adhitama yang saat ini juga memalingkan wajahnya karena merasa malu akan kelakukan putri semata wayangnya. Berani membuat keputusan tanpa seijinnya, bagi keluarga Adhitama kesalahan yang dilakukan Vlora saat ini sangat fatal.
Saling menatap antara Arie dan Mutia yang dipenuhi jabatan dan status sosial semata, tanpa ragu dengan berpura pura merasa sudah tersakiti dan dipermalukan, Mutia menerima dokumen itu dengan Arie yang juga langsung menandatangani persetujuan kepemilikan pulau tersebut.
“ Melihat ini, dapatkah saya berpendapat anda memaafkan kesalahan anak kami?” tanya Pak Adhitama pada Arie.
“ Tentu saja... Vlora hanya melakukan kesalahan kecil tidak perlu dibesar besarkan...” balas Arie.
“ Maaf mengganggu, Tuan ada laporan bahwa mobil hitam sedan milik tuan Aldrik yang sudah lama tidak digunakan, terdengar mengalami kerusakan.” Ucap salah satu Assisten pribadi Arie.
“ Apa kau bilang?” tanya Arie begitu terkejut.
“ Hasil laporan bahkan seperti terdapat beberapa tembakan peluru.”
“ APA?!”
Terdengar kabar lainnya yang tidak disangka. Entah benar merasa khawatir atau hanya kebohongan semata, tidak cukup membuat penilaian terhadap seseorang berubah dengan begitu cepat. Lalu, untuk apa terus bersandiwara?.
Mencoba melakukan panggilan yang tentu tidak akan terjawab, Arie merasa semakin gelisah saat mendengar pewaris satu satunya keluarga Mahendra yang terluka terbaring pada salah satu kamar VVIP dirumah sakit rekanan perusahaan.
“ Kita kerumah sakit sekarang.” Ucap Arie pada istrinya.
Tentunya dengan Vlora yang ikut bersama dengan mereka, secepat mungkin mereka berlalu menuju rumah sakit tersebut. Namun betapa terkejutnya mereka saat mendapati bahwa orang yang berada dalam perawatan itu adalah seorang pesuruh dimana Pak Gio terlihat begitu tertunduk takut.
“ Apa yang terjadi?. Bagaimana bisa dia berada diruangan ini?!” ucap Arie sedikit kesal pada Pak Gio.
“ Tuan... saya---”
“ BAGAIMANA BISA PESURUH SEPERTIMU MENDAPAT FASILITAS YANG KHUSUS DIMILIKI HANYA UNTUK KELUARGA MAHENDRA!” teriak Arie dengan sangat kesal mengacungkan jarinya pada Pak Gio yang tertunduk penuh ketakutan.
Gestara yang tidak sengaja pergi keluar untuk membeli minuman dingin melihat ayah dan ibu angkat Aldrik yang memasuki ruangan Pak Gio dan mendengar pembicaraan mereka langsung berlari menuju ruangan Byana dan memberitahukan kepada Aldrik. Dengan langsung berlari, Aldrik pun segera menuju ruangan VVIP tempat Lia dirawat.
( PRAANGGG ) Suara pecahan yang terdengar dari luar ruangan.
( BRRAAKKK ) “ Ada apa ini?! kenapa pak... Gio...” Aldrik langsung terdiam saat membuka pintu, menatap pada Pak Gio.
“ Aldrik ada apa denganmu! Mereka hanya pesuruh dan kau menempatkan mereka dikelas VVIP?!”
Tidak mendengar perkataan sang ayah dengan hanya menatap pada Pak Gio yang kini bersimpuh didepannya dengan tubuh basah tersiram vas berisi air dan bunga, terlihat begitu ketakutan hingga tidak berani untuk menadahkan atau berkata satu kata pun.
Aldrik berjalan melewati sang ayah serta ibu angkatnya dengan langsung menarik tangan serta membantu Pak Gio untuk berdiri tegap dan melindunginya dari balik tubuh Aldrik yang tinggi.
“ Aku memberikan fasilitas ini dari uang pribadi milikku sendiri. Tidak ada dampak apa pun akan siapa yang berada didalam ruangan ini, meski itu hanya seorang pesuruh.” Ucap Aldrik begitu serius dengan nada mengancam menatap pada ayahnya.
“ ADA ALDRIK!. Rumah sakit ini bekerja sama dengan perusahaan kita yang dapat tersebar kabar dengan mudah! Memalukan saat tersebar kabar pesuruh keluarga menempati fasilitas untuk keluarga inti Mahendra!” balas sang ayah dengan menunjuk hina pada Pak Gio.
“ Memalukan?. Tunggu... keluarga inti?. Maafkan aku, keluarga siapa yang anda maksudkan itu?” tanya Aldrik dengan raut wajah yang dingin.
Disaat seperti ini, Byana tiba tiba muncul menggunakan kursi roda dengan selang infus yang masih menempel pada tangannya. Arie, Mutia, dan Vlora semakin terkejut disaat melihat kehadiran Byana yang begitu dekil dan pucat berada disamping Aldrik sangat jauh berbeda bagai bumi dan langit.
__ADS_1
Tatapan mereka yang menyudutkan dan menghina, tidak sedikit pun membuat Aldrik ingin melepaskan genggaman tangannya pada Byana. Aldrik, harus seperti apa sebenarnya?. Aku harus melakukan apa?.