Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
KERIBUTAN Part 1


__ADS_3

Beberapa waktu sebelumnya…


"Aaahhh lelahnya" Noah yang keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk dipinggang kemudian merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal setelah seharian berdiri dan tertawa paksa kepada seluruh tamu undangan. Tetesan air jatuh dari rambut lalu turun melalui leher hingga membasahi dadanya. Siapa pun yang melihatnya sekarang pasti hanya memiliki satu kata yang bisa keluar dari pikiran maupun perkataan mereka...


Seksi...


Aaahh tapi entahlah, karena yang terakhir kali mengeluarkan kata itu bahkan dapat terlihat dengan jelas dari tatapannya hanyalah dari wanita gila yang terobsesi dengan dirinya itu. Bahkan hanya untuk melintasi pikirannya saja Noah sudah memutar kedua bola matanya kesal.


Noah segera mengganti pakaian dengan kaos rumahan abu-abu miliknya dan memakai celana santai hitam selutut. Noah sejenak berbaring di kasur empuknya guna mengecek email dan pekerjaan yang tertunda dari ponselnya.


"Cih, Steven ini bisa kerja atau tidak? yang ini kan bisa segera dia selesaikan tanpa menungguku lagi" gerutu Noah saat melihat ada beberapa pekerjaan yang tergolong tanpa harus ikut campur tangan pasti sudah selesai dikerjakan Steven.


Noah kemudian bangkit dari tidurnya lalu melangkah keluar untuk mencari Steven yang menurut perkiraannya pasti pekerjaan diluar untuk berberes bekas pestanya sudah selesai. Noah ingin memarahi Steven dan menyuruhnya untuk segera menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum dirinya menyadari ada yang kurang, entahlah seperti ada yang hilang.


Aaahh Elle, iya benar sekali. Kemana perginya simpanse kecilku itu batin Noah sambil mengedarkan pandangannya.


Setelah melewati beberapa waktu dengan Marcella Noah memang memberikan julukan yang hanya dia sendiri yang tahu. Menurutnya Marcella sama seperti seekor simpanse kecil yang banyak makan, suka marah-marah, sering menghilang bahkan selalu bangun terlambat. Walaupun dirinya sendiri terkadang bingung perilaku Marcella itu benar-benar mirip simpanse atau tidak, namun dirinya segera menepis pikirannya. Tidak perduli dan masa bodoh intinya dia hanya ingin menjuluki Marcella dengan julukan yang itu saja.


"Apalagi kalau bukan seekor simpanse hahahahahah..."

__ADS_1


Tawa Noah menggelegar di seluruh ruangan sehingga membuat pak Hans dan beberapa pelayan kaget dengan perilaku tuan mudanya barusan. Ada kehangatan dalam hati pria paruh baya tersebut yang dengan tepat menebak Noah yang sedang memikirkan tentang Marcella. Nona mudanya itu benar-benar 'SESUATU'.


Noah yang sedari tadi mencari keberadaan Marcella pun sampai di taman belakang yang tampak tinggal beberapa pelayan dan juga Lusi serta Tamara yang bercengkrama ria. Beberapa pelayan yang sadar akan keberadaan tuan mudanya kembali menunduk lalu dengan sigap menjaga jarak dengan para nyonya.


"Sudah tidak apa-apa, selagi kalian masih bersikap manis yang melayani kedua bibiku yang cantik ini dengan sangat baik aku tidak keberatan" kata Noah sambil menggandeng tangan kedua bibinya itu dengan sangat manja. Noah menyadari kehadirannya sedikit membuat perbedaan suasana dari para pelayan. Lusi yang sudah terbiasa dengan perilaku manja keponakannya pun mencubit pipi Noah gemas, sementara Tamara yang baru saja menyadari perilaku Noah yang manja hanya tertawa kecil.


"Aduh keponakan bibi kayaknya manjanya lagi mode on nih, malu tahu sama mertua" goda Lusi.


"Tidak apa-apa kak, justru aku sangat suka dengan perilaku menantuku ini. Dia sangat manisbtidak seperti Elle yang terkadang galak dan suka marah-marah" jelas Tamara.


"Hah memangnya simpans... eh maksudku Elle seperti itu bi?" tanya Noah pura-pura tidak tahu hanya agar dirinya bisa sedikit dekat dengan Tamara.


"Iya seperti itulah istrimu, dia akan sangat kesal dengan hal-hal yang menurutnya terlalu berlebihan"


"Itu bukanlah hal yang sulit bi" tentu saja bukan hal yang sulit kan ada Steven hahahaha batin Noah yang kembali akan mengandalkan Steven untuk secepat mungkin akan mencari lebih banyak informasi tentang Marcella.


"Hahahaha ya sudah baiklah Noah yang semangat ya" Tamara menyemangati Noah.


"Oh iya bi, aku sebenarnya sedang mencari Elle apa bibi tahu dia dimana? dia tadi ada lewat disini tidak ya?" tanya Noah kepada Tamara.

__ADS_1


"Hmmm sepertinya ada yang sudah tidak sabar nih" Lusi kembali menggoda Noah sambil memainkan tatapan genitnya. Tamara yang melihat Noah sedikit salah tingkah kembali menertawakan keponakan sekaligus menantunya tersebut.


"Elle tadi katanya mau mencari udara segar di tempat favoritnya, tapi bibi tidak tahu dimana tempatnya" jawab Tamara.


Tempat favorit? bukit atau rumah kaca? batin Noah bertanya.


"Tadi kemana arahnya bi?"


"Sepertinya ke arah sana" tunjuk Tamara.


Ah rumah kaca, baiklah mari kita lihat sedang apa simpanseku batin Noah.


"Baiklah aku akan menyusulnya dulu, terima kasih bi"


"Iya sama-sama sayang"


Noah yang telah berpamitan dengan Lusi dan Tamara segera melangkahkan kakinya ke arah rumah kaca sambil bersiul ria. Akhir-akhir ini Noah sangat suka menggoda Marcella dan menjadi hobi terbarunya. Marcella yang kelihatan marah seperti candu baginya. Baginya Elle terlihat sangat-sangat menggemaskan jika sedang marah. Noah kadang heran dengan sikap anehnya itu, mungkin karena pengaruh hubungan darah jadinya dia seperti seorang kakak yang sering membuat adiknya menangis dengan merampas permen milik sang adik. Ya seperti hubungan kakak beradik pada umumnya yang jauh dari kata akur. Namun Noah juga bersyukur karena sejak kedatangan Elle Noah merasa lebih hidup.


Sejak kematian sang ayah dan kakek, Noah sangat-sangat kesepian hingga membuatnya sangat gila akan pekerjaan untuk mengisi waktu. Noah juga tidak jarang bermalam di kantornya hanya untuk menyelesaikan pekerjaan. Lalu Steven? jangan bertanya, tentu saja Noah tidak pernah memaksakan Steven untuk mengikuti tabiat gilanya dalam bekerja. Bagaimanapun Noah tidak bisa seenaknya pada Steven walau kadang pria tersebut sama keras kepalanya dengan dirinya.

__ADS_1


Sepertinya sepi, kemana perginya anak itu?batin Noah saat sudah mendekati rumah kaca. Noah tidak melihat tanda-tanda pelayan sama sekali. Ahhh tentu saja mereka masih berberes. Baru akan melangkah maju Noah melihat pintu rumah kaca terbuka, Noah pun maju beberapa langkah namun saat akan masuk langkahnya terhenti. Seketika seluruh senyum dan rasa bahagianya luntur dibawa hembusan angin.


Deg...


__ADS_2