Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Pengikatan 7


__ADS_3

Berjalan bersama dengan merasa malu, tidak tahu apa yang harus dikatakan disaat berada dalam satu mobil dengannya yang entah mengapa terasa begitu berbeda.


“ Byana, apa kau lapar?.”


Pertanyaan sederhana tapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Apa aku baru pubertas?! Byana, ada apa sebenarnya denganmu?! Kembali bergumam dalam hatinya dengan tiba tiba merasa malu.


“ Jika bisa, aku ingin melihat keadaan Lia. Pak Gio hanya mengirimkan beberapa foto saja padaku.” Balas Byana pada Aldrik.


“ Tunggu, kau memberi tahu pak Gio no telephonemu tapi tidak padaku?, keterlaluan sekali kau Byana...” Aldrik kemudian mendumel tak jelas dengan terus fokus menyetir.


Sesampainya mereka dirumah sakit, entah kesialan apakah yang harus dihadapi oleh Byana dan Aldrik saat ini hingga harus berpapasan dengan Daniel dan juga Sarah. Tentu kabar mengenai Alex yang mencari masalah dengan Byana pun membuat Daniel salah tingkah namun sebisa mungkin Daniel tidak membuat Aldrik marah padanya.


“ Aldrik, maafkan perlakuan adikku pada Byana.” Ucap Daniel saat menatap pada Aldrik.


Tentu bagi Aldrik saat ini yang merasa kesal, tidak akan mau untuk bertemu atau berbicara dengan mereka. Tapi genggaman tangan Byana yang saat ini berdiri sampingnya, membuat Aldrik meredam emosinya dengan hanya menundukkan kepalanya sedikit kepada Daniel.


“ Akan aku pastikan untuk memberi pelajaran padanya. Kau tenang saja...” Daniel melanjutkan perkataannya.


“ Jika tidak ada yang mau dikatakan lagi, aku dan Byana akan pergi dari sini.” Aldrik akhirnya memberikan tanggapan dengan menarik Byana untuk berjalan.


“ Tunggu dulu... Aldrik sebenarnya ada yang mau aku katakan... begini, lusa adalah ulang tahun perusahaanku dan tentu kau tahu bahwa aku mengadakan pelayaran keluar... jadi, apa kau dan Byana bersedia datang dan ikut pelayaran utama kami?.”


Aldrik terdiam sejenak mencoba untuk mempertimbangkan permintaan Daniel. Tatapannya kini menjurus pada Byana yang memberi isyarat akan dirinya yang ingin hadir dalam pelayaran itu. Aldrik pun kemudian menyetujui dan membuat Daniel senang karenanya.


Namun tanpa memberikan waktu untuk Daniel dan Sarah berbincang kembali padanya, Aldrik dengan cepat menarik Byana yang seolah terlihat tidak sopan. Namun Daniel dan Sarah sama sekali tidak merasa tersinggung akibat tindakan konyol yang dilakukan Alex padanya.


“ Kau yakin ingin ikut dalam pelayaran itu?” tanya Aldrik pada Byana sembari berjalan menuju ruangan Lia yang berada dilorong depan.


“ Apa kau tidak lihat pesan yang dikirimkan olehnya sebelumnya melalu media sosial?. Tujuan mereka ke pulau perhentian...” balas Byana pada Aldrik.


Seketika Aldrik pun terdiam mendengar perkataan Byana yang sempat terlupakan olehnya karena begitu banyak hal yang harus dia kerjakan. Byana yang juga dapat mengerti itu pun hanya dapat tersenyum sembari menggenggam tangan Aldrik untuk berjalan bersama dengannya.


Sesampainya diruangan Lia, terlihat kondisinya jauh lebih baik. Bahkan Lia sudah tidak lagi memerlukan alat bantu pernafasan hingga lebih leluasa baginya untuk berbicara meski masih belum bisa berkata jelas.


“ Bagaimana perkembangannya?” tanya Aldrik pada Pak Gio.


“ Jauh lebih baik Tuan... bahkan Lia sudah mulai bisa menggenggam pensil ditangannya...” balas Pak Gio sembari tersenyum pada Aldrik dan Byana.


“ Syukurlah... Lia, aku sangat merindukanmu... tidak ada yang membelaku jika pria dingin itu memarahiku.” Byana melirik pada Aldrik seraya menyudutkannya.


Aldrik tersenyum membiarkan Byana yang mencoba untuk menghibur Lia saat ini, tak lama Nathan pun datang bertepatan dengan waktu terapi Lia bersama salah satu Dokter syaraf lainnya yang datang untuk membantu Lia.


Byana sengaja menggantikan posisi Pak Gio untuk membantu Lia hingga terlihat senyuman dari wajah Lia yang merasa lega akan Byana terlebih Aldrik yang tidak marah atau membencinya karena menimbulkan masalah besar bagi keduanya.

__ADS_1


Beberapa jam pun berlalu, tiba waktu untuk pulang bagi Byana dan Aldrik untuk kembali ke kediamannya. Namun ditengah jalan tante Lesti melakukan panggilan dan mengatakan bahwa Byana dan Aldrik harus datang saat ini juga ke rumah.


Tanpa bertanya Aldrik pun melaju dengan cepat menuju rumah tante Lesti dan begitu terkejut dengan apa yang mereka lihat saat ini begitu pintu depan terbuka. Sebuah koper kulit yang disempat terlupakan oleh tante Lesti pun akhirnya ditemukan.


“ Apa isi koper ini, Tan?” tanya Byana penuh kebingungan padanya.


“ Bukalah sendiri. Kodenya tanggal lahirmu,” balas Tante Lesti sembari tersenyum.


Byana pun langsung membuka koper kulit tersebut dan mendapati beberapa foto lama didalamnya. Foto kenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata yang membenarkan akan persahabatan yang terjalin diantara orang tua Aldrik dan Byana.


Mereka menatap pada satu persatu foto tersebut, hingga tanpa sadar membuka lembaran yang memperlihatkan sebuah pulau dimana mereka berfoto bersama. Jelas pulau itu adalah tempat dimana mereka akan berlayar kali ini bersama Daniel.


“ Byana, apa kau memikirkan sama dengan apa yang aku pikirkan saat ini?” tanya Aldrik padanya.


“ Apa hubungan Daniel dengan mereka?... Aldrik, apa kita tidak bisa menanyakan hal ini pada---”


“ Tidak. Aku tidak mau kau mendapat perlakuan buruk darinya! Jika dia tahu kau adalah anak dari sahabat baiknya, dapat aku pastikan pasti dia akan merasa malu dan tertekan.”


“ Aldrik, kenapa kau begitu kesal?... bagaimana pun dia adalah ayahmu.”


“ Ayahku atau bukan, bagiku sejak kematian ibuku dan dengan mengirimku keluar negeri, dia sudah bukan lagi ayah dimataku.”


Byana dan Tante Lesti pun saling menatap seolah mengerti namun juga tidak membenarkan perlakuan Aldrik saat ini. Byana mengalihkan dengan kembali melihat tumpukan foto itu dan dokumen itu yang ternyata berisi sebuah kepemilikan sebuah kediaman ditanah tersebut.


Byana dan Aldrik tentu kembali dikejutkan disaat mengetahui bahwa tanah tersebut merupakan tempat panti sosial yang dimiliki oleh Daniel. Pikiran Aldrik pun melayang mengingat perkataan keempat anak buahnya yang mengatakan bahwa tempat itu dijadikan tempat bertujuan buruk.


*******


“ Kau mau ke Polres?” tanya Aldrik pada Byana yang turun saat sarapan menggunakan seragam kerjanya.


“ Ya... AKBP Sony berkata ingin bertemu denganku. Apa kau mau mengantarku?” tanya Byana pada Aldrik sembari memakan sepotong roti bakar berselai strawberry.


Aldrik mengangguk seraya mengiyakan. Mereka pun kembali pergi bersama dengan Aldrik yang berjanji akan menjemput Byana kembali jika sudah selesai bekerja. Memberikan kecupan pada kening Byana, Aldrik pun berlalu pergi menuju perusahaannya.


( TOOKK TOKK TOOKK) “ Pak, ijin menghadap saya Byana,” ucapnya saat mengetuk pintu masuk.


“ Masuklah.”


AKBP Sony pun langsung menyerahkan secarik kertas pada Byana. Tentu Byana sangat tertegun akan kertas bertulis apa yang diberikan padanya, dan tanpa berbasa basi Byana langsung membaca isi dari kertas tersebut. “ Ini... apa maksudnya Pak?” tanya Byana selepas membaca.


Mengetahui akan status pangkat Byana yang rendah di kepolisian, dalam surat pernyataan itu kini Byana berstatus dua pangkat lebih tinggi dari sebelumnya karena dianggap berjasa dengan bukti bukti yang dikumpulkannya seorang diri.


“ Tunanganmu, pak Aldrik datang kemari untuk berbicara denganku kemarin lusa. Dia berjanji akan melanjutkan kerja sama lebih baik dengan kepolisian setempat. Lalu kudengar, bahwa kau dan dia akan berlayar kesebuah pulau. Apa benar?,” tanya AKBP Sony dengan suara pelan.

__ADS_1


“ Benar Pak. Bukti terakhir mengarah kesana dan jika misi ini berhasil, semua tindakan Daniel dan anak buahnya bisa terungkap.” Balas Byana dengan sedikit menundukkan kepalanya.


“ Kalian hanya berdua kesana?, apa tidak memerlukan bantuanku?” tanyanya kembali.


“ Tentu kami memerlukan bantuan Bapak. Tapi, mengingat Daniel begitu yang begitu hati-hati serta kuartalnya yang menyebar luas, sepertinya untuk saat ini akan lebih baik jika saya dan Aldrik yang maju lebih dulu agar tidak menimbulkan kecurigaan.”


Mendengar perkataan Byana, AKBP Sony pun terdiam mencoba untuk mempertimbangkan. Semua yang dikatakan oleh Byana saat ini benar dan sesuai dengan fakta, namun entah mengapa AKBP Sony merasa berat untuk menyetujui saran dari Byana.


“ Boleh saya bertanya satu hal Pak?, kenapa anda menaikkan jabatan saya?” tanya Byana dengan penuh kebimbangan.


“ Ini bukan aku saja yang memutuskan. Tapi semua mengatakan bahwa kau layak berada dipangkat ini. Bekerjalah dengan benar, aku sangat yakin dengan kemampuanmu....”


Byana seketika menundukkan kepalanya mencoba menahan haru yang tidak dapat disembunyikan. Namun mengingat Byana yang saat ini dalam sebuah misi, terpaksa pengangkatan Byana dilakukan secara tertutup dan hanya disaksikan oleh beberapa anggota polisi internal saja.


Dilain sisi, Aldrik yang tiba diperusahaan dikejutkan dengan kedatangan Presdir perusahaan yang tidak lain adalah Ayahnya, Arie. Namun Aldrik tidak begitu menanggapi kehadirannya karena jauh dilubuk hatinya saat ini, dia sudah begitu merasa muak terikat ikatan darah dengannya.


“ Aku tahu kau membenciku. Tapi, Aldrik... aku bukanlah pria tak berperasaan yang membunuh ibumu.” Arie berjalan menghampiri Aldrik ketika sedang menggantung jasnya.


“ Baru sekarang?, untuk apa tiba tiba membahas hal ini?” tanya Aldrik dengan langsung menatap sinis kepada Ayahnya.


“ Dengarkan aku terlebih dahulu, baru ambilah keputusan.”


Arie menaruh bingkai foto usang diatas meja kerja Aldrik yang memperlihatkan persahabatannya dengan mendiang orang tua Byana. Seketika Aldrik pun akhirnya terdiam mencoba membiarkan Arie untuk berbicara dan menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi karena saksi hidup hanyalah tinggal dia seorang.


Berbagai masalah yang diceritakan pak Darto kala berkunjung kekampung halaman kala itu benar. Arie pun menjelaskan tepat seperti apa yang diceritakannya, namun ada satu hal yang berbeda yaitu sebuah rahasia yang ternyata mereka sembunyikan.


“ Ibumu histeris ketika mendengar mendiang ayah dan ibu Byana meninggal... keadaan semakin memburuk disaat ibumu tahu alasan kematian mereka yang ternyata disebabkan karenaku dan ibumu.” Ucap Arie dengan penuh kesedihan.


“ Apa maksudnya?... mendiang ayah dan ibu Byana, meninggal karena?” tanya Aldrik tercengang.


“ Aku dan ibumu kala itu ingin mencoba berinvestasi dibidang pariwisata dan menemukkan pulau perhentian tersebut. Disana kami bertemu investor asal luar yang ternyata menipu kami... ayah dan ibu Byanalah menutupi kesalahan akan kebodohan aku dan ibumu.”


“ APA?!”


Arie menjelaskan akan ambisi yang dimilikinya bersama sang istri dalam mencari keuntungan, hingga keduanya tanpa sadar terjebak investasi palsu dimana dalam wilayah itu masuk kedalam wilayah negara lain. Tersadar akan uangnya yang dibawa lari, Arie pun tidak terima.


Dia dan istrinya mencoba mencari investor itu namun karena bertindak gegabah, mereka tidak tahu bahwa saat ini berurusan dengan gerombolan mafia yang berbahaya. Mendengar hal itu, sontak mendiang ibu dan ayah Byana karena seorang polisi pun langsung melindungi dan membantu Arie serta Laura yang mencoba melarikan diri.


“ Jadi, mereka menyemar sebagai kau dan ibu?... itu sebabnya mereka dianggap sebagai pembelot?” tanya Aldrik yang kini begitu sangat terkejut.


“ Ya. Aku dan Laura dapat kembali dengan selamat namun mereka menjadi incaran para mafia itu. Ibumu menjadi histeris saat mendengar mereka diculik dan berdebat denganku meminta dikirimkan polisi sebanyak mungkin untuk mencari mereka.”


“ Namun saat mendengar mereka terbunuh dan mayat mereka tidak ditemukan, ibumu semakin histeris hingga kecelakaan yang kau lihat itu terjadi... aku pun panik saat itu. Aldrik, maafkan aku karena mengirimmu keluar negeri, karena kupikir kau akan aman disana jika para mafia itu tiba tiba mengejarku....”

__ADS_1


Aldrik terduduk lemas tidak menyangka bahwa seperti inilah kenyataan sebenarnya yang tersembunyi dan menjadi pertanyaan besar selama ini. Menatap pada sang Ayah yang kini hanya bisa menundukkan kepalanya, berbagai perasaan pun menerpa Aldrik saat ini.


Apa yang harus kukatakan pada Byana?, bagaimana bisa aku menghadapinya sekarang disaat kedua orang tuakulah yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya hingga ia harus hidup menderita.


__ADS_2