
“ Kau sudah mempermalukan keluarga ini. Kau bukan seorang Mahendra! Apa yang harus aku jelaskan pada paman dan bibimu?!”
“ Sejak awal aku tidak berniat menjaga nama baik keluarga ini. Kaulah yang berharap lebih.”
“ Kurang ajar sekali anak ini! APA YANG KAU INGINKAN SEBENARNYA!.”
“ Jangan mengganggu kehidupan pribadiku dengan begitu kau hanya perlu menikmati hasil saja karena aku berjanji akan memberikan keuntungan bagimu.”
“ Tapi biar bagaimana pun darahmu mengalir keluarga ini. Dengan kau yang sembarang memilih wanita, pikirmu aku akan diam saja melihat wanita itu hamil anakmu kelak?!”
“ Byana bukan wanita sembarangan. Pikirmu aku mudah menerima wanita murahan untuk berada disampingku, terlebih sebagai calon istriku?.”
Tidak lagi dapat berkata, semua hanya terdiam mendengar perkataan dari pria yang sejak tadi menggenggam erat tangan seorang wanita yang benar benar dia cintai. Menyadari perasaan dengan sedikit terlambat, bagi Aldrik kehilangan Byana adalah suatu kegagalan dan penyesalan yang terus menjuruskannya kedalam jurang.
Lain halnya dengan Byana yang hanya dapat mendengar dengan tatapannya yang kosong, hinaan dan cacian yang diberikan keluarga Aldrik membuatnya sudah muak seakan tidak sanggup lagi untuk menahannya, merasa harga diri yang dibanggakan terinjak injak.
Bukan hanya memerlukan sedikit keberanian namun seperti uji nyali, Byana melepaskan genggaman tangan Aldrik dan mendorong kursi roda dengan tangannya sendiri untuk mendekati Arie, Mutia, dan juga Vlora yang masih memandang rendah dirinya.
“ Bagaimana jika... aku dan Vlora bersaing.” Ucap Byana begitu serius.
“ BYANA!.” Teriak Aldrik mencoba menghentikannya.
“ Aku memang bukan rekan bisnis Aldrik yang sudah sejak lama berjuang disisinya seperti yang dilakukan Vlora. Namun aku memiliki kepercayaan diri untuk membantu Aldrik kedepannya.”
“ Wanita sepertimu?... HAH! Lucu sekali. Bahkan saat ini kau berada diatas kursi roda!” balas Mutia dengan tatapan merendahkan.
“ Apa anda tahu alasan atau kejadian apa yang membuatku berada diatas kursi roda ini?.”
Seketika terdiam Mutia pun tidak dapat membalas perkataan Byana. Yang ada dalam benaknya hanyalah rasa kesal akan wanita kampung yang berlagak angkuh bagai nona besar yang begitu berpengaruh. Dengan Aldrik yang saat ini juga sedang menatapnya, Mutia melangkah mundur mencari jarak aman.
Tak urung akan Vlora yang tanpa ragu maju semakin dekat kearah Byana, dengan kembali menghina Byana, Vlora pun sedikit menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Byana sembari berkata,
“ Apa kau tahu bagaimana reaksi media jika tahu kejadian ini?. Kau akan sangat amat menyesal nantinya.” Bisik Vlora dengan senyum melengkung penuh kelicikan.
“ Kau bisa menipu media pada awalnya. Tapi percayalah, kebenaran akan selalu terungkap diakhir cerita.” Balas Byana dengan balas berbisik.
“ Baiklah, baiklah Nona muda... kita lihat seperti apa kau dapat bertahan karena sudah berani menantangku seperti ini.” Bisik Vlora kembali sembari berdiri tegak berjalan menuju Mutia.
“ Om.. Tante... bagaimana jika pulang sekarang?. Tidak ada gunanya kita meladeni mereka. Hanya sekumpulan orang sampah yang mencoba mencari muka.” Ucap Vlora kembali tersenyum licik.
“ KAU! JAGA MULUTMU!” teriak Hana merasa kesal.
“ Kau seorang Dokter bukan?. Bisa bisanya kau terlibat dengan pesuruh seperti mereka?! Jika aku jadi kau, aku akan memilih pergaulanku mengingat posisimu dirumah sakit.” Balas Vlora.
“ Aku merasa bangga bisa bersama mereka semua. Dibanding dengan sekumpulan orang konyol yang memakai topeng ” Balas Hana spontan.
Tidak ingin meladeni Hana semakin panjang, Vlora pun berjalan menuju pintu keluar dengan Arie dan Mutia yang akhirnya mengikuti dari belakang. Tak urung akan mereka yang masih merasa kesal, Vlora pun mulai melancarkan rencananya.
Menghubungi orang bayaran kepercayaannya, Vlora pun memberi perintah untuk menyebarkan berita di media sosial yang menyudutkan Byana. Tak sedikit pun melibatkan keluarga Mahendra, orang bayaran itu pun langsung bertindak tanpa memerlukan waktu yang lama.
“ Om, Tante tenang saja... kali ini akan aku pastikan Aldrik benar benar akan melamarku saat ulang tahun perusahaan nanti.” Ucap Vlora dengan penuh keyakinan diri.
“ Baiklah, kita lihat bagaimana hasil pekerjaanmu kali ini.” Balas Arie sembari mengerutkan alisnya merasa pesimis mengingat kegagalan Vlora sebelumnya.
__ADS_1
Kepulangan mereka bertiga juga membuat Aldrik menjadi semakin waspada dan juga bertindak cepat. Tak urung langsung menghubungi Haris sebagai kuasa hukumnya, Aldrik pun menghubungi beberapa anak buahnya yang merasa akan terjadi masalah serius kedepannya.
“ Maksud anda apa, Pak?. Kenapa Bapak meminta kami untuk menutup akun pribadi milik kekasih anda?” tanya salah satu karyawan yang bekerja pada bagian Public relation.
“ Lakukan saja dan lakukan pemantauan selama 24 jam kedepan. Aku memiliki firasat buruk.” Balas Aldrik dengan begitu serius.
“ Baiklah jika itu yang Pak Aldrik inginkan, akan kami lakukan.” Balas karyawan itu.
Semua mulai bekerja sesuai dengan tugasnya masing masing. Namun tanpa disadari Vlora sudah bisa menilai apa saja yang akan Aldrrik lakukan untuk menahannya, ia pun memiliki ide lain dengan sengaja menyebarkan berita melalui surat kabar harian (koran).
Kabar itu pun sampai pada Aldik dikeesokan harinya dimana sudah begitu terlambat bagi Aldrik untuk menarik semua surat kabar yang sudah terbeli atau tersebar. Kemarahan pun kini merajai dirinya yang begitu kesal hingga tak memikirkan hal ini.
“ BAGAIMANA HAL INI SAMPAI TERLEWAT OLEH KALIAN SEMUA!.” Bentakan yang dilakukan Aldrik pada anak buahnya sungguh membuat siapa pun yang mendengarnya merasa takut mengingat kuasa ditangannya.
“ Aku tidak mau tahu, segera temukan siapa yang memberikan berita itu kepada surat kabar harian kota. Berikan informasi kurang dari 3 jam!.” Lanjut Aldrik dengan langsung meninggalkan ruangan.
Tersebarnya berita ini pun memunculkan konflik lainnya dimana Daniel, Alex, dan Gerry pun akhirnya mendapatkan kabar yang begitu mengejutkan mereka. Tersadar akan Sarah yang memberikan informasi secara berbeda sebelumnya, Daniel pun memastikan berita mana yang saat ini benar terjadi.
Terungkap fakta imajinasi akan berita nona muda keluarga Mahendra yang memperlakukan assisten rumah tangganya dengan sangat buruk, hingga mendapatkan operasi pada bagian kepalanya.
Kabar akan Byana yang selalu keluar bagai kupu kupu malam, tanpa sadar terlibat masalah dengan berandalan hingga terlibat penembakan. Menggunakan fasilitas yang diberikan Aldrik padanya, mobil sedan hitam milik Aldrik pun akhirnya terkuak.
“ Apa berita ini benar?, kau sudah menghubungi kantor surat kabar yang menyebarkan berita ini?” tanya Daniel pada Alex dan Gerry.
“ Ya. Mereka berkata mendapatkan bukti foto foto itu secara langsung dengan dikirimkan melalui seorang kurir. Namun sampai saat ini kudengar keluarga Mahendra sedang mencari siapa kurir tersebut.” Balas Alex mencoba menjelaskan.
“ Jika berita ini benar, apa mungkin Byanalah yang membuat kita kesulitan?” tanya Daniel kembali seolah tidak percaya.
“ Sayang... jelas Aldrik berkata sedang membawa Byana berlibur ke Jepang. Kau juga sudah lihat foto mereka. Mungkin berita ini hanya ingin mencari sensasi. Siapa yang tidak ingin menjatuhkan keluarga Mahendra untuk mendapatkan kekuasaannya.” Ucap Sarah dengan santai.
“ Sayang... bukankah kau yang bilang sendiri agar tidak menggunakan kata SEPERTI, jika menyangkut Aldrik?. Lagipula gadis difoto itu botak, apa yang membuat mereka mirip?.”
“ Atau mungkin Byana sebenarnya memang wanita seperti itu. Kita saja yang dibodohi dengan kesopanan dan senyumnya.” Lanjut Sarah kembali dengan santai.
Mendengar perkataan dan tanggapan istrinya yang juga masuk diakal, seketika Daniel terdiam untuk berpikir. Benar yang dikatakan Sarah, lebih baik membuktikan dulu sebelum menyerang Aldrik. Gumam Daniel dalam hatinya.
Melihat sang kakak yang begitu mudah percaya dengan apa yang dikatakan istrinya, bagi Alex yang menyukai Byana hingga saat ini walau hanya beberapa kali pertemuan singkat, Alex menyadari bahwa Byana bukan wanita seperti yang diberitakan.
Byana begitu hangat dan terbuka. Untuk melukai orang, akan sangat berat baginya jika bukan karena orang itu yang melukainya lebih dulu. Jadi Byana, apa benar kau yang menyelinap masuk ke klub malam itu?. Gumam Alex dalam hatinya.
“ Sudahlah kalian semua jangan begitu memikirkan berita konyol ini. Aku yakin ini dilakukan oleh keluarganya sendiri atau ada yang mengincar keluarga Mahendra.” Ucap Sarah kembali dengan berlalu meninggalkan ruangan.
“ Boss... apa kita harus menye---”
“ Tidak Gerry. Benar yang dikatakan istriku. Jika benar berita ini hanya perang yang terjadi didalam keluarga Mahendra, akan sangat berbahaya jika kita turun tangan. Lebih baik kita lihat dulu tanggapan Aldrik dalam hal ini.”
“ Baik Boss.”
Tidak merasa puas dengan apa yang dikatakan sang kakak, Alex memutuskan untuk pergi seorang diri ke rumah sakit tengah kota seperti yang diberitakan. Tidak menyadari akan banyaknya awak media yang sudah berada dilobby utama rumah sakit, Alex berjalan dengan sangat hati hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Beruntungnya akan Gestara yang tanpa sengaja melihat Alex yang berjalan melewatinya saat berbicara dengan Nathan, terhubung pada sebuah panggilan telephone pada Aldrik, ia pun dengan sigap mengubah skenario yang terjadi.
Alex terlihat mengitari ruangan VVIP mencoba untuk memastikan apakah yang diberitakan itu benar atau tidak. Terlalu fokus mencari ruangan, Alex tidak menyadari bahwa Aldrik dan Byana tiba tiba sudah berdiri dibelakangnya dengan penampilan yang berbeda.
__ADS_1
“ Apa yang kau lakukan disini?” tanya Aldrik pada Alex.
“ Aldrik?... Byana?... baabagaimana bisa?... itu kalian...” ucap Alex begitu terkejut dengan terbata bata menatap pada Aldrik dan Byana.
“ Alex?, sedang apa disini?” tanya Byana dengan pura pura tersenyum manis.
Suatu pukulan keras bagi Alex saat ini saat mengetahui bahwa berita yang beredar itu hanya angin semata. Sandiwara pun terpaksa Aldrik dan Byana lakukan untuk menghilangkan kecurigaan Alex yang sudah diprediksi oleh Aldrik sebelumnya.
Berpenampilan layaknya sepasang kekasih yang baru selesai berlibur, dengan Aldrik yang kembali berpakaian formal atas balutan jas dan dasinya, Byana pun merias wajahnya agar tidak terlihat pucat dan mengenakan gaun panjang yang indah.
Memperlihatkan seperti mereka baru saja selesai menjenguk assisten pribadi Byana yang diberitakan terluka dengan memegang bukti rekam medis serta kwitansi ditangan Byana, terlihat berita akan Byana yang menyiksa itu pun tertampik dengan sangat sempurna.
“ Itu aku... salah satu temanku datang ke kemari dan... dan kudengar terjadi kecelakaan padanya, jadi aku berniat menjenguknya.” Balas Alex mencoba menekan rasa gugupnya.
“ Kebetulan sekali... kami baru saja selesai menjenguk assisten pribadi kami yang sedang sakit.” Ucap Byana dengan masih tersenyum palsu.
“ Beebenarkah?... baiklah jika begitu... aku, duluan.” Alex langsung berpaling dan melangkah pergi.
“ TUNGGU ALEX!.” Teriak Aldrik yang membuat Alex kembali menatapnya.
“ Semoga, temanmu itu lekas sembuh.” Lanjut Aldrik sedikit melengkung senyum.
Menundukkan sedikit kepalanya memberi tanda akan ucapan terima kasih, Alex dengan segera kembali ke parkiran mobilnya dengan begitu gugup dan cemas. Alex langsung menancapkan gasnya untuk segera pergi dari rumah sakit dan kembali ke kediaman Daniel.
Tidak terbayangkan oleh Alex sebelumnya ditengah perjalanan pulang, Aldrik dengan sengaja mengirim sebuah foto sosok Alex yang berjalan dari belakang kepada Daniel dan meninggalkan sebuah pesan yang berbunyi,
# Teman adikmu kecelakaan tepat disamping ruangan assisten pribadiku yang juga sedang melakukan perawatan. Suatu kebetulan yang tak terduga. Haruskah aku menyapa? #
Tidak perlu dibayangkan kembali bagaimana reaksi kemarahan Daniel saat ini kepada adiknya yang melanggar perintahnya dan seolah membahayakannya. Tak lupa akan rencana sebelumnya yang sudah tersusun sempurna, akibat kelakuan Alex hari ini semua menjadi berantakan mengingat Aldrik yang memberikan peringatan keras pada Daniel.
“ Beritahu anak sial itu untuk datang keruanganku begitu sampai disini.” Ucap Daniel bernada dingin dengan membawa sebuah senapan ditangannya.
“ Boss... apa perlu bertindak seperti ini pa---” ( DOORR DOORR ) Suara tembakan yang dilepaskan Daniel melewati telinga Gerry pada sebuah tembok.
“ Jika kau berani berkata lagi. Maka peluru selanjutnya akan berada didalam otakmu dan bukan dinding itu.” Ucap Daniel begitu emosi mengarahkan senjatanya pada wajah Gerry.
Sarah yang sudah tidak dapat berkomentar pun akhirnya hanya bisa terdiam mengingat kemarahan suaminya saat ini. Tak memerlukan waktu lama, suara tembakan pun kembali terdengar nyaring disertai teriakan pilu kesakitan saat sebutir peluru menembus tangannya.
“ Alex. Jadikan ini pelajaran untukmu agar tidak bermain main denganku. Jangan pernah lagi berurusan dengan Aldrik tanpa sepengetahuanku.” Daniel berlalu dengan wajah dingin menuju lantai atas.
“ Tunggu apa?... hubungi dokter Josh dan surut kemari. Tidak mungkin membawanya kerumah sakit dengan peluru ditangannya itu.” Sarah tersenyum sinis dengan berjalan mengikuti suaminya berjalan menuju lantai atas.
********
-Kediaman besar keluarga Mahendra-
Disis lainnya, Arie pun kini semakin terbawa emosi melihat harian berita yang memberikan kabar buruk mengenai keluarganya. Terlihat jelas bahwa Byana yang bersalah dalam hal ini, Arie yang terbawa emosi pun kembali berkendara menuju rumah sakit.
Tak urung akan Byana yang kembali terduduk dikursi roda dengan selang infus ditangannya, riasan wajah yang terhapus pun kembali memperlihatkan wajah pucatnya. Dengan Hana yang mendorongnya kembali menuju ruangannya selepas berganti pakaian diruangan Lia, mereka pun terhenti disaat Arie berdiri begitu gagah dihadapan mereka.
( BHHAAKK BRUUUKK) ( HEEEUUK) Arie mendorong kursi roda Byana dengan langsung mencekiknya.
“ Apa yang anda lakukan?! Lepaskan Byana!. ALDRIK KEMARI!... ALDRIK!” teriak Hana sembari menarik tangan Arie dari leher Byana yang mencengkram erat agar melepaskannya.
__ADS_1
Tatapan penuh kebencian pun begitu menusuk. Sudah tidak terlihat lagi pengampunan dalam dirinya, sekiranya dosa yang kulakukan ini sangat amat memalukan. Apakah memang harus berakhir seperti ini?.