
“Byana... atur nafasmu... lihat aku dan fokus dengar suaraku... Byana....”
Hanya memejamkan kedua matanya, terlihat jelas Byana sendiri pun kesulitan untuk mengatur nafasnya. *Sesak...*kanapa sesak sekali dada ini dan kenapa semua berputar putar?! aakkhh... seharusnya tidak berakhir seperti ini karena aku berniat membantu Aldrik malam ini. Gumam Byana dalam hatinya.
“ Al..drik... keluarlah dari... mobil... ini. Please.” Ucap Byana dengan masih tersenggah nafas.
“ Apa?.”
“ Keluarlah dulu dan lihat kondisi di luar, biar aku yang mengurus Byana.” Ucap Hana dengan mulai melepas ikatan gaun belakang Byana agar dapat membuatnya lebih leluasa bernafas.
“ Panggil aku jika butuh sesuatu.”
Bukan hanya lima belas menit, setengah jam pun berlalu. Terlihat dari pantulan kaca, Byana masih kesulitan bicara dan begitu berkeringat. Gaun yang dikenakan pun sudah tidak berbentuk, membuat Aldrik memalingkan pandangannya.
“ Gestara tolong ambilkan kotak obat milikku di mobilmu.” Ucap Hana tergesah saat membuka jendela kacanya.
“ Bagaimana kondisinya?, kenapa tidak ada perubahan?” tanya Aldrik khawatir.
“ Byana demam, aku akan memberikan obat agar membuatnya tenang dan kita periksa kembali begitu sampai di kediamanmu.” Ucap Hana begitu serius pada Aldrik.
“ Ini kotak obatmu.” Ucap Gestara dengan nafas tersenggah.
Hana kembali menaikkan jendela kaca dan langsung menyiapkan sebuah jarum suntik yang sudah berisi cairan obat. Menyuntikkan pada salah satu tangan Byana, Hana kembali memegang nadi seraya menghitung irama detakannya. Detik berlalu dan sedikit demi sedikit Byana pun mulai terlihat tenang namun menjadi demam dan nafas yang berat.
Hana segera keluar dari mobil membiarkan Aldrik mengambil alih kursi kemudi dan mereka pun langsung melaju menuju kediamannya. Byana bertahanlah. Kau akan baik baik saja. Gumam Aldrik dalam hati sembari sesekali menggenggam tangan Byana.
(DDRRTTT DDRRTT DDRRTT ) Suara handphone Aldrik yang bergetar di tempat penyimpanan dashboar mobilnya.
Tidak menyadari akan sebuah pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab yang dilakukan pak Gio pada Aldrik untuk memberitahukan suatu kondisi, kondisi malam menjadi lebuh buruk disaat sang ayah serta ibu tirinya secara diam datang berkunjung dan sedang menunggunya.
Penuh gelisah namun tersikap profesional, Pak Gio yang sudah tahu akan kejadian apa yang akan terjadi selalu mengambil kesempatan untuk terus dan terus menghubungi Aldrik bahkan Gestara. Namuan semua itu terhenti disaat suara mobil mereka terhenti didepan kediaman.
Pak Gio penuh khawatir seolah ingin memberitahu Aldrik akan siapa yang akan dia temui ketika masuk ke dalam kediamannya. Namun seketika terlupa ketika melihat Aldrik yang menggendong Byana sudah hampir tidak sadarkan diri dan wajahnya yang memerah.
“ Tuan, apa yang terjadi pada Nona?” tanya Pak Gio penuh terkejut.
“ Pak, siapkan segala keperluan diruang tidur Byana, lalu beritahu Lia untuk me---”
Aldrik pun langsung terdiam saat menatap sang Ayah berdiri tegap dihadapannya. Dengan Mutia yang juga sedang berdiri dibelakangnya, bahkan Gestara pun sampai memalingkan wajahnya seolah merasa kesal karena tahu apa saja yang akan terjadi malam ini.
Merasa Hana tidak wajib terlibat, Gestara menarik tangannya untuk bersembunyi dibalik tubuhnya yang jauh lebih besar dan tinggi seraya menutupi penampilannya dengan gaun yang terbuka seperti wanita yang tidak berpendidikan dihadapan mereka berdua.
“ Dari mana saja kalian sampai tengah malam begini?” tanya Arie pada Aldrik dan Gestara, dengan raut wajah begitu serius menatap pada mereka.
“ Kami kemana atau apa yang kami lakukan, sejak kapan harus melaporkannya padamu?. Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kalian berdua malam malam datang ke kediamanku ini?!” balas Aldrik dengan raut wajah yang sama menatap sang Ayah.
“ KAU! Dimana sopan santunmu?. TURUNKAN WANITA ITU!.” Teriak Arie dengan menunjukkan jarinya kearah Byana yang saat ini berada dalam gendongan Aldrik.
“ Dia kekasihku. Jadi terserah aku mau seperti apa memperlakukannya.”
“ KAU! APA TIDAK MALU MELIHAT PENAMPILANNYA?! BAJU APA YANG DIKENAKAN WANITA ITU!.”
“ Untuk apa berteriak malam malam?, pergilah jika tidak ada urusan lain.” Ucap Aldrik dengan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu masuk dengan menaiki lima buah anak tangga.
“ Aldrik, bagaimana jika ada media yang melihat penampilannya?, bahkan temannya jauh lebih parah! Gestara, untuk apa kau menyembunyikan wanita itu dibelakangmu?, sepertinya kau tarik kain yang mengikat dilehernya, gaun itu akan langsung lepas... atau apa itu tujuanmu?” ucap Mutia dengan senyum menyeringai merendahkan kepada Gestara dan Hana.
“ Tante, wanita ini urusanku. Jika ada masalah tujukan saja padaku dan jangan menyudutkan dia.” Ucap Gestara tegas dengan masih melindungi Hana dibelakangnya.
Melihat Gestara dan Hana yang mulai terlihat kesal dan tidak nyaman, Aldrik dengan sigap menghadang pendangan Mutia yang tertuju pada Hana. Penuh amarah dengan masih menggendong Byana, tatapan Aldrik pun mengatakan cepat pergi dari sini selagi aku masih bersikap sopan.
__ADS_1
Namun bagi Mutia yang berada memiliki kedudukan tertinggi dikeluarga Mahendra, terlebih karena merasa dirinya benar saat ini dengan Arie sang suami yang mendukungnya, sedikit pun ia tidak merasa takut dan berbalik dengan kembali menghina Byana.
“ Apa yang aku katakan salah?. Di tempat seperti apa kalian menemukan kedua wanita murahan ini?. Jelas kalian pria terpandang dan berstatus sosial tinggi, apa kalian tidak malu melihat penampilan memalukan dari kedua wanita ini?, terlebih wanita yang tidak memiliki harga diri dengan membiarkan dirinya digendong begitu saja oleh pria lain.”
“ D I A M.”
Teriakan Aldrik yang akhirnya membuat suasana menjadi sunyi dan semakin menegangkan. Tak kuasa menahan emosinya yang terpendam, Byana yang masih menyisakan sedikit kesadarannya terbangun dan mencoba untuk berdiri tegap meski sesekali terhuyung kehilangan keseimbangan.
Mencoba merapikan penampilannya sendiri dengan tubuh demam dan nafas yang tersenggah terasa panas dan sesak, Byana menundukkan tubuhnya seraya memberi hormat dengan sopan. Menatap sayu pada Arie dan Mutia, Byana tersenyum sangat manis.
“ Maafkan saya... karena ada sedikit urusan yang harus saya selesaikan bersama teman, tanpa sadar kami terlalu banyak minum dan membuat Aldrik serta Gestara khawatir hingga menjemput kami.” Ucap Byana dengan menundukkan kepalanya pada mereka berdua.
“ Kau, mabuk mabukan?” tanya Arie begitu terkejut pada Byana.
“ Maaf Pak... saya tidak bermaksud untuk membuat malu ke---”
( PLLAAKKKK) Suara tamparan keras Arie pada wajah Byana.
“ BERANI SEKALI WANITA MURAHAN DAN TIDAK TERPELAJAR SEPERTIMU MAU MENJADI NONA MUDA KELUARGA INI?! PIKIRMU KAU SIAPA?!.”
Lengkungan senyum menyeringai penuh kepuasan terpancar dari wajah Mutia saat ini. Namun jika memalingkan pandangan pada seorang pria yang tiba tiba terlihat seperti kehilangan akal pikirannya, sudah dia tidak hiraukan lagi ikatan darah atau siapa pun yang sedang dihadapinya saat ini.
Menatap dengan aura membunuh, baik Arie dan Mutia pun kini tiba tiba meraut wajah masam dengan kedua alisnya yang berkerut. Melihat Aldrik yang tiba tiba melepaskan dasinya dan menggulung disalah satu tangannya, langkah itu pun mencoba mengambil jarak aman.
“ Pikirmu... punya hak apa, hingga berani melayangkan tanganmu itu pada wanitaku?.”
“ Aldrik!” ucap Gestara dengan sedikit menarik tubuh Aldrik kebelakang seraya menahannya.
“ Aldrik, ayahmu hanya khawatir akan masa depanmu! Wanita seperti apa pilihanmu itu?, kami tidak salah?!” ucap Mutia yang mencoba melakukan pembelaan diri.
“ Kau... masih berani bicara disini?,” Aldrik menatap semakin menusuk pada Mutia.
“ Aldrik, cukup... kendalikan dirimu.” Ucap Gestara yang kali ini menghadang didepannya.
“ ALDRIK!” teriak Arie pada Aldrik.
“ Masih berani berteriak padaku?. HAAH!!!” Aldrik mendorong Gestara dan mulai berlari kearah Arie dan Mutia dengan penuh amarah.
“ ALDRIK KENDALIKAN DIRIMU!” Gestara berlari mengejar dengan kembali menghadang Aldrik dari depan dan terus mendorongnya ke belakang sekuat tenaga.
“ LEPASKAN AKU!. GESTARA LEPASKAN AKU!.” Aldrik melakukan perlawanan keras.
“ PAK GIO BANTU AKU MENAHAN ALDRIK!.” Ucap Gestara yang mulai kewalahan melawan tenaga Aldrik yang kuat.
Hana yang saat ini tertegun penuh terkejut membantu Byana yang semakin terlihat lemas. Terkulai terduduk dilantai, sudah lagi tidak Byana perlihatkan sopan santunnya kepada Arie dan Mutia yang saat ini sedang berlari menuju mobilnya seolah mencoba menyelamatkan diri.
Bukan hanya Pak Gio dan Gestara, seorang satpam bertubuh besar pun menarik Aldrik yang mencoba melakukan perlawanan untuk memberi perhitungan besar pada mereka yang menyakiti harga diri Byana kembali terlebih berani memainkan tangannya.
Gerbang garasi yang akhirnya tertutup dengan mobil yang melaju kencang meninggalkan kediamannya, sungguh membuat siapa pun yang melihat kondisi Aldrik saat ini benar benar kehilangan kendali. Sudah tidak lagi memperdulikan apa pun, matanya pun akhirnya kembali tertuju pada Byana yang terkulai lemas.
“ Aldrik, tenanglah dan lihat Byana! Dia membutuhkanmu!” ucap Gestara yang mulai melepaskan cengkramannya pada tubuh Aldrik.
“ Tuan, kita bawa Nona Byana kelantai atas untuk segera diperiksa...” ucap Pak Gio dengan nada menenangkan dan penuh sopan.
“ Aldrik, Byana semakin demam!” ucap Hana sedikit meninggikan suaranya, menadah tubuh Byana yang lemas semakin terkulai diatas lantai.
Benar benar mencoba mengendalikan emosinya, Aldrik melepas jas yang dikenakannya dan langsung berlari menuju Byana untuk menggendongnya kembali menuju ruangan kamarnya. Terbaring dengan Lia yang juga sudah mempersiapkan setelan baju piyama tidur milik Byana, Aldrik pun membalikkan tubuhnya membiarkan Lia dan Hana yang menggantikannya.
“ Sudah selesai?” tanya Aldrik kepada Hana dan Lia dari balik setengah tirai tempat tidur yang tertutup.
__ADS_1
“ Ya sudah...” balas Hana sembari membersihkan sisa riasan wajah Byana menggunakan kapas.
“ Maaf, apa perlu saya membawa kompresan?, Nona Byana begitu demam...” ucap Lia bernada khawatir dan wajah yang linglung.
“ Terima kasih, Lia... itu akan sangat membantu.” Ucap Aldrik sedikit tersenyum.
Langsung berlari meninggalkan kamar dengan pintu yang terbuka, akhirnya Gestara pun masuk kedalam dengan Pak Gio yang berbalik mencoba membantu Lia untuk mempersiapkan keperluan yang diperlukan. Melihat Aldrik yang membelai lembut wajah Byana dan terduduk disampingnya, Gestara pun melayangkan pandangannya pada Hana.
Mempersiapkan obat kembali untuk Byana, lekukan tubuhnya yang masih terbuka membuat Gestara kehilangan fokus hingga memalingkan wajahnya. Seolah tidak ingin membuat Hana semakin memperlihatkan auranya, Gestara pun melepaskan Jas yang dikenakannya dan menyerahkan pada Hana.
“ Terima kasih...” ucap Hana tersenyum manis sembari memakai dan melipat bagian lengan Jas Gestara yang kebesaran.
“ Dia pucat sekali... pipinya, begitu merah.” Ucap Aldrik bernada sedih menatap pada Byana dan mengusap lembut wajahnya.
“ Tamparan itu pasti sakit sekali. Sebenarnya untuk apa om datang kemari malam malam?” tanya Gestara dengan sedikit merasa kesal.
" Apa lagi kalau bukan masalah perjodohanku dengan Vlora. Kau jelas tahu mereka berniat mendirikan sebuah Mall dilahan tanah yang masih bersengketa dengan warga sekitar. Jika keluarga Mahendra dan Adhitama bersatu, bisa kau bayangkan pria tua itu akan langsung melakukan apa."
" Tiba tiba membayangkannya saja aku sudah merinding. Ayahmu itu seperti hilang akal jika sudah menyangkut soal keuntungan kekayaan atau status sosial!."
“ Apa, Byana sering mendapat perlakuan seperti ini dari keluargamu?” tanya Hana polos dengan menyuntikkan lagi sebuah obat pada tangan Byana.
“ Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyudutkan siapa pun disini.” Lanjut Hana kembali.
Aldrik terdiam dengan hanya menunduk sedikit mengarahkan kepalanya kesamping seraya membenarkan perkataan Hana. Merasa mengerti dan serba salah, Hana tidak mengungkit pembicaraan lagi dengan kembali memeriksa kondisi Byana.
“ Aldrik. Berbicara soal rencana malam ini, apa kalian mendapatkan sesuatu?” tanya Gestara pada Aldrik begitu serius.
“ Ya... melihat kondisi Byana yang kembali seperti ini, dia pasti begitu memaksakan dirinya tadi. Jadi tidak mungkin kalian berdua tidak menemukan sesuatu bukan?.”
Perkataan Hana pun tidak terjawab oleh Aldrik. Menghembuskan sedikit nafasnya, Aldrik mengambil handphone dari balik saku celananya dan menyerahkan kepada Hana serta Gestara. Memutar sebuah rekaman video, sudah tidak perlu dibayangkan lagi expresi Gestara saat ini.
Kekesalan dan amarah pun terlihat sangat jelas dengan Hana yang menepuk pundak Gestara mencoba menenangkannya. Tak urung akan Aldrik yang akhirnya berdiri dan berjalan mendekati Gestara, hanya untuk mengatur nada pembicaraan mereka agar tidak mengganggu Byana yang saat ini sudah mulai tenang dan tertidur.
“ Kurang ajar sekali mereka! apa mereka semua manusia?! Bagaimana bisa merantai dan mengikat seperti binatang!” ucap Gestara kesal melihat keempat karyawan yang menghilang ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan.
“ Kita harus segera menolong mereka. Byana memberitahuku sebuah jalan rahasia menuju lantai atas yang tidak ada penjaga sama sekali. Karena itu, Byana memaksakan diri dan emosinya kembali tidak stabil.” Aldrik merasa menyesal dengan menundukkan kepalanya.
“ Mau bagaimana lagi... tanpa kita berucap, kita memang membutuhkan bantuan Byana. Jika dia tidak ikut malam ini, apa kau akan menemukan bukti ini?,” Gestara berbicara dengan nada bertanya sembari mengembalikan handphone kepada Aldrik.
“ Dia... sudah banyak sekali berkorban untukku.” Aldrik menatap lirih pada Byana.
“ Sepertinya kau tidak tahu justru Byanalah yang berkata sebaliknya padaku mengenaimu.” Ucap Hana tersenyum pada Aldrik dan Gestara.
“ Maksudmu?” tanya Aldrik kebingungan.
“ Byana memaksakan dirinya selama ini dan menerima semua ini karena kau amat berjasa baginya. Bagi Byana, kehadiranmu dihidupnya begitu sangat berarti. Aldrik, dimata Byana... kau sosok penting yang pantas dia perjuangkan. Setidaknya itulah yang dia katakan padaku.”
Tatapan mata Hana dan Gestara yang memandang Byana sungguh dalam seolah terenyuh dalam keadaan suasana malam ini. Namun justru berbanding terbalik dengan Aldrik yang memalingkan pandangannya seolah tidak sanggup untuk menatap Byana.
Gestara dan Hana pun akhirnya tersadar untuk memberikan waktu pada mereka berdua. Dengan kembali memeriksa kondisi Byana yang mulai membaik, Gestara pun membawa Hana keluar untuk mengantarkannya pulang.
“ Tuan, apa kompresan ini mau ditaruh diatas meja ini saja?” tanya Lia saat masuk kedalam ruangan.
“ Ya... terima kasih.” Balas Aldrik menghampiri memeriksa suhu air didalam baskom kompres.
“ Apa Tuan Aldrik, malam ini akan....”
“ Ya. Serahkan padaku dan kau istirahatlah. Kau bantu aku besok hari untuk menjaganya kembali.”
__ADS_1
Senyuman lembut yang jarang atau tidak pernah pernah terlihat oleh Lia dan juga Pak Gio. Merasa pribadi Aldrik yang jauh lebih hidup seolah robot berhati dingin yang berlapis baja sedikit demi sedikit menghilang, rasa haru tertutup pun mereka berikan dengan menunduk sopan dan berlalu meninggalkan ruangan kamar tidur Byana.
Terduduk disampingnya dengan mengompres pipi Byana yang memerah, rasa penyesalan semakin merusak sukma Aldrik yang merasa tidak sempurna karena tidak bisa membaca keadaan. Seandainya aku tahu pria tua itu akan menamparmu, maka... Byana, maafkan aku.