
Niat hati sering kali disalah artikan ketika kau merasa tersudutkan. Semua tindakan akan kehilangan arti bagai tak memiliki nilai sama sekali. Semua terlihat gelap, entah karena alasan apa suasana hati berubah begitu saja dengan cepatnya.
“ Aku harus pergi.”
“ Byana, jelas ini rencana mereka! kau bilang tidak ingin masuk kedalam perangkap mereka, tapi kenapa kau nekat mau bertemu dengan Vlora!.”
“ Siapa lagi yang bisa melakukan ini kalau bukan dia!.”
“ Aku tahu, aku tahu. Tenangkan dirimu, dan tunggu Aldrik kembali... Oke?.”
Kembali tersebarnya berita akan perselingkuhan yang dilakukan Byana disebuat apartement kecil ditengah kota, foto Alex yang masuk kedalam saat Byana mempersilahkannya masuk pun tersebar luas di media sosial.
Tak urung akan Aldrik yang juga sudah melihat berita tersebut sebelum sampai ke tanah air, kemarahan diliput api cemburu pun membara begitu kesalnya saat dirinya menghubungi Haris, kuasa hukumnya untuk menyelesaikan masalah ini.
Gestara yang begitu cekatan pun langsung bertindak cepat dengan memblokir foto foto yang tersebar luas dengan isi berita yang dilebih lebihkan. Mendengar tanggapan negative dari para pengguna sosial, saat ini Byana benar benar tidak dapat keluar kemana pun.
* * * * * * *
-Kediaman keluarga Daniel Mosse-
Kabar akan Byana yang masuk kedalam perangkap yang sudah dipersiapkan oleh Vlora dan Alex, akhirnya membuat Daniel merasa puas dan bangga atas berjalan lancar rencana yang dapat mengalihkan perhatian Aldrik yang menaruh curiga padanya.
“ Akhirnya adikku ini berguna juga.” Ucap Daniel penuh bangga pada Alex.
“ Aku dan Vlora masih ada satu rencana lainnya yang dapat dipastikan bahwa Aldrik akan merasa sangat kacau saat Byana memutuskan meninggalkannya.” Balas Alex.
“ Benarkah?, rencana apa itu?” tanya Daniel penuh rasa penasaran.
“ Maafkan aku, karena aku dan Vlora mengikat janji, aku tidak bisa memberitahukan rencana ini padamu.”
“ AHAHAHAAA... Tak apa, asalkan rencana itu berjalan lancar seperti saat ini.”
“ Kau tenang saja Kak. Akan aku pastikan rencana ini akan berjalan sangat lancar....”
Senyuman penuh kelicikan kembali tersirat pada wajah masing masing yang merasa bangga telah menyakiti hati seseorang yang sangat dia benci, terlupa akan kekuasaan yang dimiliki musuhnya, Aldrik bukanlah lawan yang mudah untuk dihadapi.
“ Cari siapa yang menyebarkan berita ini dan kabari aku.”
Tentunya perintah Aldrik saat ini harus dilaksanakan secepatnya entah itu dalam keadaan apa pun. Semua bergerak tanpa memerlukan perintah lagi dengan begitu sangat hati hati melangkah agar tidak menimbulkan masalah baru.
“ Aku menemukannya Pak. Media sosial dengan ID Kreasi hitam. Namun ID ini palsu, data ini dibuat disebuah hotel tengah kota oleh seseorang.” Ucap salah satu pegawai kepada Haris.
“ Baiklah, kita menuju hotel itu sekarang.” Haris pergi membawa 2 karyawan Aldrik untuk pergi bersamanya.
Mengendarai dengan kecepatan tinggi, Haris pun semakin mempercepat langkahnya saat bertemu dengan Manager hotel yang tak lain adalah kawan sepermainannya. Mencoba berkomunikasi, sang Manager yang juga mengenal sosok Aldrik Mahendra pun tanpa berbasa basi bersedia menolong dengan langsung memeriksa data pengunjung dan rekaman CCTV dihari kejadian.
“ Ini pria itu?” tanya Haris pada karyawan Aldrik yang sudah memperjelas rekaman CCTV.
“ Ya Pak. Sejauh yang kutahu pria ini sempat bekerja di PT. VLC namun diberhentikan secara tidak hormat karena menjual barang perusahaan secara diam diam dalam jumlah banyak.”
“ Baik, kerja bagus. Kabari kembali jika kalian menemukan sesuatu.”
Mengirimkan laporan kepada Gestara saat Haris selesai menghubungi salah satu rekannya dikepolisian, akhrinya membuahkan hasil dengan mendapat sebuah alamat disebuah kost kostan tanpa memerlukan waktu yang lama.
Penerbangan kali ini berjalan lancar hingga pada pukul 9 pagi, Aldrik sudah kembali ke ibukota tentunya dengan Haris yang sudah menunggunya. Tak menunggu waktu lama dengan mobil pribadi yang sudah terparkir, Aldrik segera melaju menuju lokasi dimana pria itu berada.
( BRRAAKKK ) Suara pintu yang terbanting akibat dari sebuah tendangan.
“ ANGKAT TANGANMU DAN BERLUTUTLAH DILANTAI!!” teriak salah satu rekan Haris dikepolisian.
__ADS_1
“ Apa salahku?!” balas pria itu mencoba melakukan pembelaan.
Tidak memberikan waktu untuk menjelaskan, Aldrik yang begitu sudah terbawa emosi melangkahkan kakinya dan dengan tepat meninju bagian perut dari pria itu dengan cukup keras hingga membuat pria itu terkulai lemas diatas lantai.
Melihat pria itu masih dapat bergerak mencoba untuk bangun dan berlari, Aldrik melepas ikatan dasinya dan dengan cepat mengayunkan hingga tepat berada dileher pria itu yang terlihat kesulitan bernafas saat Aldrik menarik dasinya dengan sangat kuat.
“ Siapa yang menyuruhmu?” tanya Aldrik berbisik mencoba untuk menahan emosinya.
“ Aku... tidak bisa... memberitahumu...” ( HEEUUKKK ) pria itu tersentak saat Aldrik semakin menarik dasinya hingga semakin sulit baginya untuk bernafas.
“ Katakan atau, kau tidak akan melihat sinar matahari besok pagi.”
“ Aldrik apa yang kau lakukan?! Lepaskan dia!” Gestara mencoba melonggarkan ikatan dasi yang justru semakin ditarik begitu kuat oleh Aldrik.
“ Baa, baiklah. Akan, aku katakan!.”
Aldrik pun melepaskan ikatan dasi itu dan membiarkan pria itu untuk bernafas sejenak. Menunggu beberapa detik, Aldrik yang sudah tidak sabar akhirnya menarik kerah baju pria itu sembari menatap tajam dengan penuh aura gelap yang mencekam.
“ Katakan sekarang juga. Siapa yang menyuruhmu?” tanya Aldrik kembali dengan masih menatap dingin pada pria itu.
“ Aku tidak tahu namanya karena kami bertemu sekali dan itu pada malam hari.” Balas pria itu.
Aldrik melepaskan cengkramannya kembali dan langsung mengambil handphone dari balik saku jasnya. Dengan memperlihatkan beberapa foto yang memperlihatkan sebuah mobil dan gambar orang, pria itu pun akhirnya mengaku bahwa wanita dan pria yang Aldrik tunjukkan saat ini adalah orang yang membayar dan menyuruhnya melakukan hal itu.
“ Katakan padaku, dimana kau menyimpan rekaman video itu dan kumpulan foto foto itu?” tanya Aldrik kembali dengan sangat tegas.
Berjalan dengan sedikit merangkak, pria itu pun mengarah menuju sebuah meja dimana sebuah flashdisk yang berisi rekaman video dan gambar foto original berada didalamnya. Bermaksud untuk mengirimkan pada orang yang menyuruhnya, Aldrik dengan sigap mengambil dan memeriksa laptop pria itu dengan sangat hati hati.
“ Jika aku menemukan file tersembunyi di laptopmu yang berisi file ini untuk mengancamku kelak, aku akan menghabisimu tidak perduli dengan ada atau tidaknya polisi diruangan ini.”
Gestara dan Haris yang sudah mengetahui tabiat sifat Aldrik pun membiarkannya mengambil alih keadaan dengan alih alat bukti penangkapan yang gagal untuk didapatkan. Memeriksa dengan begitu teliti, akhirnya laptop itu pun bersih tidak ada lagi file berisi Byana yang tersimpan.
“ Apa mereka menyuruhmu melakukan lagi sesuatu yang lain?” tanya Aldrik kembali kepada pria itu.
“ Tiii, tidak ada. Sungguh, aku hanya disuruh mengikuti dan mengambil rekaman video dan foto kemudian aku edit dan dikirimkan ke media sosial...” balas pria itu ketakutan.
“ Jika sampai aku melihatmu melakukan hal ini lagi, jangan harap kau bisa bernafas!.”
( BHHAAAKKK ) Bunyi meja yang terlempar akibat tendangan Aldrik yang keras.
Tersebarnya bukti baru akan klarifikasi kejadian dimedia sosial yang memperlihatkan kejadian sebenarnya akan Byana dan Alex yang menimbulkan kesalahpahaman dikalangan masyarakat, akhirnya sampai kepada Vlora dan Alex yang kini merasa geram.
Tahu akan rencana mereka yang kembali gagal, Vlora yang semakin dimakan api cemburu dan benci menyulut sifat hitam didalam dirinya yang kini sudah tidak lagi mempertimbangkan apakah yang dilakukannya berbahaya atau tidak.
“ Kau yakin?” tanya Alex sedikit ragu dengan terduduk santai pada sebuah sofa di bar.
“ Tentu saja. Aku sudah muak pada kedua pasangan itu! Kenapa Aldrik begitu melindungi Byana?!” Vlora menghempas tas kecilnya keatas sofa dengan begitu kesal.
“ Jika kau melancarkan rencana itu, pastikan aku seolah tidak tahu apa pun.” Alex memberikan isyarat ada Vlora.
“ Kau tenang saja. Aku akan sangat berhati hati dalam hal ini.”
Melancarkan rencana selanjutnya, Vlora yang sudah gelap mata pergi menemui Byana ditemani beberapa anak buahnya yang bertubuh besar. Menunggu waktu yang tepat saat Hana keluar membeli sesuatu, Vlora pun hadir dengan wajah tidak tahu malu dihadapan Byana.
“ Aku terkejut dengan kedatanganmu hari ini secara terang terangan.” Ucap Byana saat membukakan pintu apartemennya.
“ Aku ingin mengakui kesalahanku padamu...” balas Vlora dengan tatapan memohon iba.
“ Mengaku---“ ( HEEMMPP ) ( UUMMMHH!!!) ------
__ADS_1
Menyergap dengan langsung membungkam mulut Byana dengan sebuah sarung tangan yang sudah berisi obat bius, penculikan Byana semakin berjalan lancar disaat anak buah Vlora yang bertubuh besar itu dapat dengan mudah mengangkat dan menggendong Byana.
Mengambil sebuah selimut tipis yang berada diruangan tengah milik Byana, Vlora membungkus Byana dengan sangat baik bahkan tidak ada yang menyadari bahwa didalam selimut itu bukan sebuah karpet melainkan tubuh Byana yang terbungkus sempurna.
“ Bersiaplah. Aku menuju hotel sekarang.”
Kembali berbicara dengan Alex dari panggilan telephone, Alex dengan sangat puas menunggu kedatangan Byana dengan senyuman diwajahnya mengingat rencana dengan sedikit aroma intim akan mereka lakukan.
Tak urung pada sisi lainnya saat Aldrik yang datang terlambat, melihat pintu apartement Byana yang masih terbuka dengan handphonenya yang terjatuh diatas lantai, kepanikan pun seketika menyambar dirinya yang terlihat mulai kehilangan akal.
“ BYANA! BYANA! KAU DIMANA!” teriak Aldrik sembari memutari seisi ruangan apartemen Byana.
“ Apa yang terjadi?” tanya Gestara melihat pintu apartement Byana yang terbuka lebar dengan Aldrik yang berlarian kesana kemari.
“ Byana tidak ada.” Balas Aldrik sembari memperlihatkan handphone milik Byana ditangannya kepada Gestara dan Hana yang akhirnya kembali ke apartement selepas berbelanja.
“ APA?!” hentak Gestara dan Hana secara bersamaan.
“ Aku hanya keluar tidak lebih dari 10 menit ke mini market dilantai dasar untuk membeli kecap ini... bagaimana bisa...” Hana benar benar terlihat kebingungan.
Aldrik langsung berlari menuju ruangan keamanan yang terletak dilantai bawah ditemani Hana dan Gestara dibelakangnya. Dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran, Aldrik menyerahkan semua bukti kepada pihak keamanan bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga Byana.
Tahu dan juga mengerti penjelasan Aldrik yang saat ini sebagai tunangan Byana, petugas keamanan pun mempersilahkan mereka untuk memeriksa rekaman CCTV baik dari parkiran mobil, lift, sampai pada pintu apartement.
“ Vlora. Dia membawa anak buahnya pukul 19.00 tadi.” Ucap Gestara dengan serius memperhatikan rekaman CCTV pada bagian parkiran mobil.
“ Mereka masuk lift tepat pukul 19.12. Mereka terlihat sedang mempersiapkan sesuatu saat berada didalam lift.” Ucap Hana yang ikut memperhatikan dengan teliti dari balik layar monitor kedua.
Tidak perlu dijelaskan lagi akan Aldrik yang memantau layar monitor ketiga dimana tepat berada didepan pintu apartement Byana, terlihat dirinya dan Vlora melakukan percakapan kecil sebelum Vlora dan anak buahnya menculik Byana dengan mudahnya.
( BHAAKKKK) “ SIAL!!” teriak Aldrik dengan menghentak kesal pada meja dihadapannya.
“ Apa yang harus kita lakukan?... kemana wanita itu mau membawa Byana?” tanya Hana dengan nada lirih dan tak sadar menitikkan airmatanya.
Gestara pun mencoba menangkan Hana dengan memeluk dan membelai kepalanya dengan lembut. Menatap pada Aldrik yang terlihat sedang berpikir keras, Gestara pun terdiam dengan posisi selalu siap siaga menerima perintahnya.
Tidak berkata sama sekali, Aldrik justru sibuk menghubungi seseorang dari balik handphonenya. Terlihat jelas saat ini kepanikan dalam dirinya mengingat Vlora yang kini bekerja sama dengan Alex untuk memenuhi keinginannya yang tidak masuk akal.
Merasa hanya membuang waktu dengan Vlora yang pastinya tidak akan menjawab panggilannya, Aldrik berterima kasih kepada petugas keamanan itu dengan cepatnya langsung berlari kembali masuk kedalam lift menuju apartement milik Byana. Meminjam laptop milik Byana, Aldrik pun mulai meretas jaringan satelit untuk menemukan kondisi Byana saat ini.
********
- Hotel XX ditengah kota-
“ Kita mulai sekarang?” tanya Alex dengan senyum menyeringai penuh kepuasan menatap pada Byana yang tidak sadarkan diri diatas tempat tidur.
“ Tentu saja. Kau tidak lihat handphoneku?! Aldrik sudah tahu bahwa akulah yang menculik Byana!” balas Vlora yang langsung mematikan kembali handphonenya agar tidak bisa dilacak oleh Aldrik.
“ Baiklah, dengan senang hati aku akan melakukannya.” Alex mulai melepas kancing kemejanya satu persatu dan juga melepas ikat pinggangnya.
“ Ingat! Jangan berlebihan! Kau hanya berpura pura...” Vlora tiba tiba menarik tangan Alex dengan tatapan penuh keseriusan.
“ Ayolah... dimana titik kesenangannya?,” sahut Alex dengan wajah menyeleneh.
“ ALEX! Aku ingatkan padamu jika rencana ini mau berhasil, ikuti perkataanku. Kau juga tentu ingat bukan perkataan kakakmu yang mengingatkan dengan tegas untuk tidak terlibat dan mengganggu sesuatu yang berhubungan dengan Aldrik?!”
“ Menyebalkan sekali!.”
Rencana licik dengan bau menyengat. Terlupa akan kekuasaan seperti apa yang dimiliki musuhnya, bersiaplah kalian menerima resiko yang tidak terduga.
__ADS_1