
“ Bagaimana perkembangan?.”
“ Baik Pak. Sejauh ini masih belum ada pergerakan. Namun ijinkan saya bertanya, atas alasan apa Pak Aldrik tak ingin mengusut tuntas kasus ini?.”
“ Aku sangat ingin. Namun belum saatnya.”
Penuh pertanyaan membingungkan akan permohonan perlindungan diri dari pihak kepolisian. Dapat terlihat jelas keempat karyawannya mengalami kejadian dan trauma mendalam, namun mengapa seorang Aldrik Mahendra tetap terlihat tenang mengingat sifatnya yang tegas dan keras.
Tidak ada yang mengetahui maksud Aldrik saat ini, yang ingin membalas Byana selepas dengan sangat berani mengorbankan dirinya sendiri menyelesaikan masalah Aldrik yang pelik. Cukup bagi Aldrik yang kini berhutang budi untuk menemani Byana dengan mendukung penuh untuk mencari tahu tentang hilangnya kedua orang tua yang sangat dia cintai.
“ Jadi, cukup seperti ini saja Pak?” tanya salah satu kuasa hukum kembali kepada Aldrik mencoba untuk memastikan.
“ Ya. Aku ingin perlindungan penuh pada keempat karyawanku sampai aku selesai dengan urusanku yang lain. Setelah itu, baru aku akan menghubungi kalian kembali untuk menuntaskan kasus ini.” Balas Aldrik serius sembari menandatangani sebuah dokumen.
“ Baiklah jika begitu, kami permisi Pak. Selamat pagi.”
“ Pagi.”
Terjaga semalaman penuh sudah biasa untuk Aldrik meski daya tahan tubuhnya sudah mulai menurun mengingat beberapa ini selalu terbangun pada malam hari dan hanya beristirahat hanya beberapa waktu singkat di perusahaan.
Tak urung akan Gestara yang juga mendengar hasil keputusan Aldrik yang sebenarnya tidak terdengar bijak, namun bagi pihak yang mengetahui masalah dan apa yang terjadi seperti Gestara dan Hana, cukup bagi mereka mengerti akan maksud Aldrik yang ingin membantu menuntaskan kasus Byana terlebih dahulu.
Melihat gerak gerik Hana dan Gestara yang terlihat aneh, Byana pun menghampiri dan memaksa mereka untuk berbicara. Dengan terpaksa Gestara menceritakan keputusan Aldrik yang membuat Byana merasa tidak nyaman dan bersalah, meski Byana sendiri pun tahu akan maksud dari alasan Aldrik sampai melakukannya.
“ Keras kepala kami berdua ternyata begitu... sama.” Byana menundukkan kepalanya dengan menghembuskan nafas panjangnya.
“ Byana, jangan mempersulit Aldrik... dia melakukan hal ini untukmu.” Hana mencoba memberikan persepsinya pada Byana yang seolah menyudutkan.
“ Dengan tidak adil pada keempat karyawan itu?. Kau bisa lihat luka luka pada tubuh mereka dan aku yakin, Aldrik pasti meminta bantuanmu untuk menghilangkan pasca trauma pada mereka semua. Tapi, dia lebih memilih pilihan seperti ini?. Konyol.” Ucap Byana sembari memerantakkan rambutnya merasa kesal dan semakin bersalah.
“ Byana, kau sudah mempertaruhkan hidupmu disini. Bisakah setidaknya, kau mempertimbangkan harga diri Aldrik dan perasaannya yang tulus kepadamu?” tanya Gestara dengan raut wajah sedih.
Menatap pada Gestara yang begitu sedih dan terlihat kelelahan, Byana cukup mengerti seharusnya lebih baik menutup mulutnya terlebih dahulu untuk saat ini. Merasa terpojokkan dengan reaksi Hana dan Gestara, Byana memalingkan tubuhnya kembali dengan berdiri didepan ruangan operasi dimana Pak Gio selalu memohon pada Byana untuk terduduk menunggu.
Tak bisa mendengar perkataan siapa pun, Byana yang sengaja menutup hati dan telinganya begitu keras kepala dengan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Muka pucat pasi dengan balutan luka dan noda darah yang masih menempel, Byana sekali lagi bagai patung tak bernyawa menunggu Lia keluar dari ruangan operasi.
“ Sudah 4 jam tapi operasi masih belum selesai...” ucap Gestara dengan berbisik pada Hana.
“ Kau juga tahu bagian kepala itu sentral. Harus melakukan penanganan tepat jika tidak ingin sesuatu mengerikan terjadi.” Balas Hana dengan sangat tegas.
“ Apa ada yang bisa kita lakukan untuk membuat Byana tidak seperti itu?” tanya Gestara kembali merasa serba salah dan kebingungan.
“ Menyalahkan dirinya sendiri. Byana saat ini tidak akan mendengar siapa pun. Jadi, biarkan saja.” Balas Hana kembali pada Gestara.
“ Kau tidak lihat dia sudah begitu pucat?! Apa kita juga harus menunggu Byana terjatuh tidak sadarkan diri disamping Lia nanti?,” Gestara berucap kesal.
Tidak dapat lagi membantah perkataan Gestara, Hana yang juga mengerti akan sifat Byana, sudah terlanjur baginya untuk masuk kedalam gua yang pekat hitam. Bagi Hana yang juga melihat Byana kembali menekan emosinya, memaksakan trauma dalam dirinya menghilang dengan menyuntikkan sebuah obat sebelumnya, cukup bagi Hana untuk diam dan tidak menyinggung Byana.
Berbagai perasaan sulit hadir diantara mereka saat ini, karena benar dan salah hadir diantara mereka sehingga tidak ada yang bisa untuk memuji atau untuk menyalahkan. Yang bisa mereka lakukan hanya berdoa, menunggu kabar baik akan keberuntungan yang hadir ditengah kegelisahan ini.
*******
-Tiga jam kemudian-
__ADS_1
( SHHUUTT ) Pintu ruangan operasi yang terbuka.
“ Nathan... bagaimana?. Lia... apa dia...” Byana berlari menghampiri Nathan yang menjadi Dokter bedah utama Lia selama operasi.
“ Lia, memiliki luka tembak tembus dimana luka masuk dan luka keluar. Peluru mengenai bagian depan kepala dan tembus ke kepala bagian kanan belakang.” Jelas Nathan saat melepas masker yang dikenakannya.
“ Aaapppa?,” Pak Gio langsung lemas tak mampu berdiri tegap.
“ Kita pantau Lia secara intensif dan kalian hanya bisa melihatnya dari balik kaca terlebih dahulu. Jika perkembangan Lia membaik, kami akan pindahkan dia keruangan rawat.” Balas Nathan kembali.
“ Lalu, bagaimana dengan pengobatan selanjutnya setelah Lia sadar?” tanya Hana.
“ Anak atau remaja yang mengalami traumatic brain injury (TBI) dapat meninggalkan sekuele (gejala sisa) defisit neurologis yang mempengaruhi kemampuannya untuk berfungsi normal. Dengan Rehabilitasi dini dan pemantauan berkala, biasanya menunjukkan hasil baik.” Balas Nathan.
“ Maksudmu... Lia, dia... masih bisa untuk...” Byana gagap untuk berbicara.
“ Saat sadar nanti, dukungan orang sekitar akan sangat berpengaruh baginya. Namun saat ini, berdoalah dan yakin Lia berjuang untuk hidup.”
Mendengar perkataan Nathan, mereka semua pun terdiam namun sedikit merasa tenang melihat Lia berhasil diselamatkan. Dari kejauhan, Byana menatap lirih pada rambut hitam yang biasanyamenjuntai indah kini hilang dengan hanya dipenuh balutan perban.
Tangis Byana seketika pecah kembali dengan menahan suaranya tertunduk lemas. Lagi lagi tidak ada satu pun yang berani untuk mendekati atau menenangkannya, kedatangan Aldrik pada saat ini begitu meringankan beban Byana dengan kembali memeluknya begitu erat.
“ Berhenti menangis. Sudah kukatakan Lia akan baik baik saja.” Ucap Aldrik berbisik saat memeluk Byana begitu erat.
“ Banyak sekali... selang yang... menempel pada tubuhnya... Lia pasti merasa... sangat sakit saat ini...” balas Byana dengan menahan isak tangisnya
“ Aku tidak akan membiarkan Lia semakin merasa sakit. Byana, Nathan dokter bedah terbaik. Aku juga sudah mendatangkan beberapa dokter lainnya untuk membantu Nathan dalam hal ini. Jadi, tenanglah, oke?” tanya Aldrik dengan mengusap lembut air mata Byana yang menitik.
Kembali mendapat kecupan lembut pada keningnya, perasaan Byana semakin tercampur aduk tak menentu. Tersadari akan perasaannya namun juga batasan hubungan yang jelas, Byana terdiam mencoba untuk berpikir dan terus berpikir.
Tak urung akan Nathan yang juga kembali memeriksa luka Byana, meski ia memerintahkan Byana untuk beristirahat sungguh percuma dengan melihat Byana yang langsung berdiri dan berjalan keluar ruangan menuju Lia.
“ Pastikan saja dia makan dan minum dengan baik. Tekanan darahnya rendah.” Ucap Nathan pada Aldrik sembari memberikan obat untuk Byana minum.
“ Akan aku ingat.” Balas Aldrik tersenyum.
“ Kau juga jaga kondisi. Byana mengkhawatirkanmu sejak tadi dengan terus memintaku untuk memeriksa kondisimu juga. Namun aku menolak permintaannya dengan alasan kau sekuat badak.” Nathan mencoba berkomentar dengan jahilnya.
“ Terima kasih...” balas Aldrik kembali tersenyum.
“ Apa yang akan kau lakukan setelah ini?. Masalahmu sudah selesai, perusahaan mendapat investor baru dengan memanfaatkan Byana sedangkan orang tuamu masih tidak merestui hubungan kalian. Masalah Lia ini, aku yakin akan berdampak besar nantinya.” Nathan bertanya dengan begitu serius.
“ Aku tahu.” Balas Aldrik spontan.
“ Kau... siap?. Apa kau akan terus mendukung atau, melepaskan Byana?.”
Pertanyaan penuh kebingungan yang ditujukan Nathan saat ini menyadarkan Aldrik akan sikap Byana yang sejak tadi seolah menjaga jarak dengannya. Tak terpikirkan akan hubungan kontrak mereka yang terjalin karena masalah ini, apa Byana kini mulai mempertanyakan hal ini?.
Untuk memastikannya Aldrik pun menghampiri Byana yang ternyata sedang tertidur dengan bersandar pada dinding jendela didepan ruangan Lia. Tak urung akan Pak Gio yang juga menjaganya, Hana dan Gestara pun akhirnya meminta Aldrik untuk berbicara dengan mereka.
Berjalan menuju parkiran mobil di depan lobby rumah sakit, Hana dan Gestara pun terduduk pada sebuah kursi bangku taman dimana Aldrik membawakan mereka minuman dingin dari mesin penjual otomatis yang berada dihadapan mereka untuk berbincang sejenak.
“ Byana tiba tiba... menghubungiku malam itu dengan memintaku untuk membawa mobil van yang biasa kugunakan untuk keperluan medis. Aku tidak tahu niat hatinya. Seharusnya aku peka saat Byana memintaku untuk menunggu diluar kediamanmu, bukan didalam.” Ucap Hana menjelaskan.
__ADS_1
“ Kau melihat Lia masuk kedalam mobilmu?” tanya Aldrik pada Hana.
“ Tidak. Saat sebelum Byana memintaku untuk menunggu diluar, aku ke kamar kecil diruangan tengah. Sepertinya saat itu Lia diam diam masuk kedalam mobil...” balas Hana.
“ Bagaimana kondisi saat itu?” tanya Aldrik kembali dengan penuh serius pada Hana.
Hana kembali menceritakan akan alat penghubung walkie talkie yang diberikan Byana padanya sehingga dapat dengan jelas Hana mendengar apa saja yang terjadi. Mulai dari derap nafas langkah lari Byana, serta rasa gugupnya saat berhasil melepaskan ikatan keempat anak buah Aldrik, Hana pun tidak lupa akan Byana yang meminta Hana untuk menyuntikkan sebuah obat padanya.
“ Obat apa yang kau berikan padanya?” tanya Aldrik menundukkan kepala bernada berat seolah merasa kesal.
“ Obat penenang saraf dalam dosis kecil. Kau tahu Byana masih takut untuk masuk kedalam klub itu bukan?. Tapi dengan obat itu, Byana dapat tenang masuk kedalam.” Balas Hana dengan ragu dan merasa bersalah.
“ Aldrik, Hana pun terpaksa melakukannya. Kau jelas tahu sifat keras kepala Byana seperti apa bukan?!” ucap Gestara memberikan perlindungan untuk Hana.
“ Kenapa kau tidak menghubungiku?” tanya Aldrik pada Hana.
“ Percayalah aku mencoba menghubungi berkali kali... meski... hanya pada Gestara...” Hana langsung menundukkan kepalanya semakin merasa bersalah.
“ Apa penembakan itu begitu brutal?. Apa kau melihat Byana melawan berapa orang?” tanya Aldrik.
“ Byana memberikan tabung asap bius pada Daniel, jadi sepertinya hanya anak buahnya saja sekitar empat orang karena Alex dan Gerry pun tidak terlihat olehku.” Balas Hana.
Aldrik menghembuskan nafas panjangnya mengingat keberuntungan lain yang dimiliki Byana. Mengingat Alex dan Gerry yang begitu pandai memainkan senjata, dengan hanya Byana yang menangani mereka seorang diri maka suatu keberuntungan bagi Byana jika sampai mereka berdua hadir dalam baku tembak itu, maka Aldrik tidak dapat membayangkan hal apa yang terjadi.
Kini Hana dan Gestara pun terdiam melihat Aldrik yang sedang berpikir begitu serius. Bagi mereka yang juga mengerti akan posisi Byana dan juga Aldrik, memberikan komentar lainnya akan sangat percuma dan hanya akan memberikan masalah lain yang tidak perlu.
“ Kita masuk kedalam.” Ucap Aldrik dengan mulai berdiri dan melangkah pergi.
“ AL... apa yang akan kau lakukan selanjutnya?. Aku merasa akan ada masalah selepas kejadian ini.” Ucap Gestara dari kejauhan dengan nada khawatir.
Tidak membalas atau menatap pada Gestara, Aldrik hanya berjalan maju kedepan menuju lobby rumah sakit untuk menghampiri Byana yang ternyata masih tertidur pulas. Pak Gio berdiri dengan menunduk sopan seperti biasa kepada Aldrik yang memintanya untuk tidak bersikap formal dan ia pun terduduk disamping Byana dengan memindahkan kepala Byana untuk bersandar padanya.
Merasa tidak perlu ada disana, Pak Gio pun meminta ijin untuk keluar dengan beralasan merasa lapar dan pergi mengisi perutnya. Meninggalkan Aldrik dan Byana berdua, percakapan penting pun akhirnya mereka lakukan dengan berbisik dan saling menatap dalam.
“ Apa yang ingin kau katakan?. Sepertinya dari tadi kau menahannya.” Ucap Aldrik saat Byana menatapnya begitu serius.
“ Haruskah... hubungan kontrak ini diteruskan?” tanya Byana.
“ Apa?,” balas Aldrik begitu terkejut.
“ Hubungan kontrak ini sejak awal terjadi karena masalahmu dengan Daniel yang secara kebetulan berhubungan denganku... kini masalahmu sudah selesai, dan untuk masalahku biar aku yang menyelesaikannya sendiri.”
“ Byana, apa yang kau katakan ini?! jangan membuatku me---”
“ Aldrik, kita hentikan saja hubungan kontrak ini dan kembali ke kehidupan masing masing. Sepertinya jauh lebih untuk kita dan orang orang disekitar kita.” Ucap Byana dengan terus memandang Aldrik begitu serius.
“ Itu... pendapatmu?. Bagaimana dengan pendapatku?,” balas Aldrik dengan mulai terlihat kesal.
Byana terdiam sejenak dan tidak lagi melanjutkan pembicaraannya mengingat orang yang berlalu lalang penuh kesibukan lainnya. Tak urung Aldrik yang menahan emosi pun langsung menundukkan dirinya dengan kedua tangannya yang mengepal akibat kemarahan.
“ Jika kau mau memutus hubungan kontrak ini, baiklah aku akan memenuhi permintaanmu. Namun dengan 1 syarat yang harus kau lakukan.” Ucap Aldrik begitu serius.
“ Satu, syarat?... apa itu?” tanya Byana kebingungan.
__ADS_1
“ Menikahlah denganku.”
Tatapan kedua mata itu kembali menatap dengan penuh menusuk akan keseriusan yang menunggu tanggapan hati. Tidak menyangka dengan apa yang akan dikatakannya saat ini, Aldrik apa kau sadar arti dari dua kata yang kau berikan padaku itu?.