
"Kau tahu?"
"Hmmm?" Tamara memusatkan kembali pandangannya kepada sang suami saat pria itu kembali memulai pembicaraan.
"Dulu tempat ini adalah salah satu tempat favoritku untuk bersembunyi" kalimat David itu disertai dengan kekehan kecil dari bibirnya sambil menatap istrinya.
"Tempat favorit? yang benar saja sayang" jika melihat dari segi tempat memang tempat ini dapat dikatakan lebih dari cukup dijadikan tempat untuk menenangkan diri namun sejak kapan makam menjadi tempat favorit? untuk bersembunyi pula batin Tamara.
"Hahahah benar sayang aku tidak bohong. Dulu aku sangat takut jika ayah marah karena dia bisa benar-benar menjadi pria yang menyeramkan saat marah, hingga suatu kali saat umurku 13 tahun aku kesal kepada Iron yang selalu mengejekku dengan sebutan anak mama pun melemparkan sepatuku kearahnya hingga lemparanku itu meleset dan membuat salah satu gucci tua peninggalan kakek jatuh dan pecah. Aku yang kaget menjadi ketakutan setengah mati saat mendengar suara mobil ayah. Aku melihat Iron yang tiba-tiba menghilang meninggalkanku. Aku pun berlari ke arah belakang dari ruang tamu tempatku meninggalkan gucci yang sudah hancur berantakan di atas lantai itu. Aku yang bersembunyi di salah satu ruangan pun berlari lewat pintu belakang saat mendengar teriakan amarah ayah dari ruang tamu. Aku yang saat itu ketakutan setengah mati hanya terus berlari bahkan tanpa sadar kakiku tidak memakai alas kaki sama sekali. Aku terus berlari mengikuti jalan setapak ke arah timur hingga sampailah aku disini. Aku yang melihat gerbang makam ini kemudian membukanya lalu segera menangis sejadi jadinya di nisan kakekku" jelas David sambil menunjuk ke arah makam sang kakek yang berada tepat di sebelah kiri makam ayahnya.
"Bagaimana kau membuka gerbang itu sayang?" tanya Tamara. Jujur saja wanita itu penasaran dengan cerita suaminya.
"Apa kau tidak ingat tadi bagaimana aku membukanya saat kita sampai disini?" Tamara mencoba mencerna perkataan suaminya. Benar saja tadi dirinya sama sekali tidak melihat suaminya itu atau pak Hans memegang kunci atau menekan sesuatu seperti tombol agar gerbangnya terbuka.
"Gerbang itu tidak pernah dikunci" jawaban David sedikit membuat sang istri mengerutkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Apa kalian tidak takut jika saja ada orang yang usil terhadap makam ini?" David terkekeh pelan mendengar pertanyaan istrinya.
"Tidak akan ada yang berani sayang. Lagi pula tanah yang membentang saat kita memasuki hutan dari kota untuk menuju rumah ini semuanya adalah milik Bright Group"
"Wow..." Tamara terkagum dengan penjelasan David. Sebenarnya berapa banyak kekayaan keluarga suaminya ini?
"Apa kau baru sadar betapa kayanya aku sayang?" goda David.
"Aaaah kau mulai lagi... sudah ayo lanjutkan ceritamu sayang lagi pula aku lebih kagum dengan tanah kecil tempat rumah sederhana kita berdiri yang kau beli dengan kerja keras serta kasih sayangmu kepadaku dan anak-anak" David yang mendengar perkataan istrinya hanya tertawa dan mengacak rambut indah istrinya.
Apa kau benar-benar sangat kesepian dan ketakutan sayang? batin Tamara saat David mengakhiri ceritanya. Tamara sedih mendengar cerita suaminya namun dirinya juga tidak mau menunjukkan kesedihan itu saat bersamanya. Awalnya Tamara berpikir bahwa orang sepertinya saja yang memiliki hidup menyedihkan, namun setelah mendengar cerita suaminya dirinya pun sadar bahwa orang yang kaya sekalipun tidak selalu hidup bahagia.
"Oh iya, lalu pohon oak itu bagaimana bisa tumbuh disini sayang? bukankah sangat jarang ada pohon oak di iklim seperti ini? bahkan bisa dikatakan ini bukan habitatnya" lanjut Tamara sambil menunjuk ke arah beberapa pohon oak besar.
"Itu ayah membelinya. Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana cara mereka membuat tumbuhan itu hidup disini namun aku rasa kau juga harus sedikit membenarkan satu hal. Bahwa uang dapat membeli apa saja yang kau inginkan" Tamara yang mendengar ucapan suaminya itu hanya menatap sinis ke arah David namun masih tersirat sedikit persetujuan di sana. David pun tertawa melihat ekspresi istrinya sebelum dia berhenti lalu kembali menatap wajah cantik didepannya.
__ADS_1
"Sayang..."
"Hmmm?"
"Terima kasih"
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena telah mencintaiku, terima kasih karena telah menutupi kekosongan dalam diriku, terima kasih karena telah menjadi istri yang sangat baik bagi pria manja ini juga ibu yang hebat bagi anak-anakku... Aku mencintaimu..." Tamara yang melihat kejujuran dimata pria itu segera memalingkan wajahnya ke arah suaminya lalu menangkup wajah tampan dengan rahang tegas itu, menatapnya penuh cinta.
"Aku juga berterima kasih karena sudah mau menerimaku yang penuh kekurangan ini. Wanita miskin sebatang kara yang sangat beruntung mendapatkan cintamu. Terima kasih karena telah mencintaiku dengan sepenuh hatimu dan menjadi ayah yang hebat bagi kedua anakku"
Cup...
Satu kecupan lembut mendarat indah dibibir David. Baru saja istrinya menjauhkan kepalanya David kembali meraih wajah istrinya lalu kembali memberikan ciuman yang berubah menjadi ciuman lembut pada bibir istrinya. Sinar emas dari sang surya menemani dua insan yang saling mencintai, tiupan angin dan kicauan burung pun ikut serta menemani mereka.
__ADS_1