
Hari itu kebahagian Marcella jelas nampak diwajah cantiknya yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum bahagia atas kedatangan kedua orang tuanya. Para pelayan yang melihat nona muda mereka yang bahagia sambil menggandeng tangan sang ibu untuk diajak melihat-lihat rumah pun sudah mulai tertular dengan aura positif tersebut. Para pelayan juga merasa sangat bahagia tak terkecuali pak Hans yang sedari tadi berdiri berhadapan dengan David melepas rindu menitikkan air mata sambil sesekali kembali menghujani David dengan pelukan hangatnya.
Pak Hans benar-benar tidak menyangka hari ini tiba juga, hari yang selalu dirindukan mendiang ketua dan istrinya yang setiap pagi berdiri menatap ke luar berharap anak laki-laki yang sangat dirindukannya akan muncul dari kejauhan kembali pulang.
"Dia akan pulang" perkataan terakhir ketua sebelum beliau wafat masih melekat dengan baik diingatan pria paruh baya tersebut.
Apa bibirnya tidak pegal apa? batin Noah yang mulai risih dengan Marcella yang sedari tadi menarik ujung bibirnya tersenyum kepada siapa saja yang dilewatinya bahkan Winter dan Ronan (anjing peliharaan Noah) yang dibawa para pelayan keluar kandang untuk jalan-jalan ke taman pun tidak luput dari senyum manisnya, hanya Noah sendiri yang luput. Bahkan semenjak kedatangan paman dan bibinya Noah seperti tidak dianggap ada oleh Marcella.
"Ibu kenapa tidak mengabariku kalau akan datang? kan aku bisa menjemput ibu dibandara dan juga mana beruang kecilku? dia tidak datang?" tanya Marcella sambil cemberut ke arah sang ibu di salah satu kursi taman.
"Tidak apa-apa sayang, lagi pula ibu dan ayah kan memang mau memberimu kejutan dan adikmu ibu menitipkannya ke bibimu dia tidak bisa datang karena sekarang kan memang bukan hari libur. Kau tahu kan ayahmu sangat mengutamakan pendidikan untuk masa depan kalian yang lebih baik" jawab Tamara sambil mengusap lembut kepala putrinya. Marcella menghela nafas panjang. Ayahnya memang seperti itu, dulu saja ketika Marcella ketahuan bolos dengan teman-temannya sang ayah menghukumnya dengan tidak diberi uang saku selama tiga bulan penuh.
"Lalu tadi siapa yang menjemput ayah dan ibu di bandara? apa naik taxi?" tanya Marcella kembali.
"Tentu saja tidak sayang, kakak sepupumu menyuruh nak Steven menjemput ayah dan ibu di bandara" jelas Tamara sambil terus mengusap kepala putrinya.
Dasar biang kerok, tega sekali kakak tidak memberitahu kedatangan ayah dan ibu padahal dia tahu aku sering menangis karena menahan rindu batin Marcella kesal dengan perilaku Noah. Saat sibuk dengan kekesalannya pada Noah Marcella teringat akan sesuatu yang sedari dulu sangat ingin ditanyakan kepada kedua orang tuanya.
"Ibu" panggil Marcella lembut.
"Ya sayang" jawab Tamara sambil menatap ke arah putrinya
"Apakah ibu dan ayah tahu soal itu? aku akan menikah dengan kak Noah" tanya Marcella.
"Menurutmu untuk apa ibu dan ayah datang kemari?" Tamara balik bertanya.
__ADS_1
...
Setelah menerima telefon dari Iron, David pun kembali tertidur.
Saat matahari bersinar dengan indah di pagi hari David terbangun dan sudah tidak mendapati Tamara disebelahnya. David segera bangun dari tidurnya kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan diri David keluar dari kamar mandi dan mendapatkan Tamara yang sedang mempersiapkan baju kerjanya.
"Sayang, aku mau bicara sebentar" panggil David yang masih berbalutkan handuk di pinggangnya. Tamara yang melihat keseriusan di wajah suaminya tersebut menyusul David duduk di sofa kamar mereka. David menggenggam kedua tangan Tamara mereka duduk berhadapan.
"Sayang semalam kak Iron menelfon, acara peringatan ayah akan dilaksanakan sebentar lagi" kata David hati-hati sambil terus menatap lekat wajah Tamara.
"Aku..."
"Hentikan" jawab Tamara datar.
"Sayang..."
"Apa kau akan membiarkan putriku pergi? hiks... hiks... apa kau akan memisahkanku dengannya hah" Tamara terus menangis.
"Sayang lihat aku" panggil David sambil mencoba meraih dagu Tamara.
"Lihat aku!" teriak David seketika yang langsung membuat wajah cantik itu menatapnya.
"Apa Elle hanya putrimu? apa menurutmu ini tidak berat juga bagiku? aku menyayangi putri kita sama seperti kau meyayanginya, menyayanginya lebih dari diri kita sendiri" Tamara pun sejenak menghentikan isakannya.
"Maafkan aku sayang, tapi aku tidak punya pilihan lain aku telah berjanji pada kak Anton untuk memberikan putri kita sebagai istri anak semata wayangnya Noah. Pernikahan ini juga untuk menyelamatkan perusahaan keluarga. Sayang aku mohon untuk sekarang relakanlah putri kita" kata David dengan mata memerah menahan tangisnya. Tamara yang juga melihat cinta yang besar dari mata suaminya untuk putri mereka pun berusaha untuk mengerti dengan situasi tersebut.
__ADS_1
"Hanya setahun kan? berjanjilah..." tanya Tamara sambil menatap sendu wajah suaminya.
"Iya sayang, aku berjanji hanya setahun. Setelah itu putri kita akan kembali dan seterusnya dia berhak untuk menentukan kebahagiannya sendiri" jawab David sambil menggenggam erat kedua tangan istrinya. Tamara akhirnya mengangguk setuju anggukan Tamara di balas pelukan hangat suaminya.
Pagi itu setelah Mercella berangkat kerja Tamara masuk kedalam kamar putrinya sambil menangis memeluk baju Marcella, kejadian itu terus berulang setiap hari setelah kepergian Marcella dari rumah. David yang mulai tidak tega melihat istrinya tiap hari menangis di kamar putrinya pun berusaha untuk menghubungi seseorang.
"Halo selamat malam tuan" sapa pria diseberang telefon.
"Halo selamat malam apakah aku mengganggu waktu istirahatmu?" tanya David.
"Tentu saja tidak tuan, ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pria itu ramah.
"Aku memiliki permintaan bisakah kau membantuku?" kembali David bertanya.
"Tentu saja tuan, anda majikan saya permintaan anda adalah perintah bagi saya" jawab pria tersebut sambil bangkit dari kursi ruang kerja di apartemennya.
"Baiklah, aku dan istriku ingin menghadiri pernikahan putri kami apa kau bisa membantuku dengan itu?" David menyampaikan permintaanya. Permintaan David tersebut di sambut dengan senyuman dari pria diseberang telefon yang tidak lain adalah Steven. Steven merasa senang karena akhirnya majikannya yang sangat dirindukan dirumah utama tersebut akan segera pulang.
"Tentu saja tuan, saya justru sangat senang membantu anda untuk hal ini dan tentu saja nona Marcella dan tuan Noah akan sangat senang mendengarnya" jawab Steven bersemangat.
"Aku mohon kau boleh memberitahu Noah tapi jangan dulu beritahu Marcella perihal kedatangan kami, karena aku ingin memberinya kejutan selain itu aku juga akan memberikan kejutan untuk pria itu" pinta David.
"Baiklah kalau begitu tuan. Saya juga akan menjemput tuan dan nyonya di bandara" lanjut Steven.
"Baiklah, oh iya satu lagi saat dibandara perkenalkanlah dirimu secara resmi pada aku dan istriku seolah-olah kita baru saling mengenal. Aku tidak ingin Tamara mengetahui bahwa sebenarnya selama ini aku selalu menghubungimu menanyakan kabar Marcella aku tidak ingin dia salah paham" permintaan terakhir David itu debalas dengan persetujuan dari Steven dan setelah berbincang-bincang sambungan telefon pun diputuskan.
__ADS_1
Steven yang sangat senang mendengar perihal kedatangan majikannya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil melihat langit-langit kamarnya. Memang selama ini tanpa pengetahuan Noah, Steven yang beberapa tahun lalu memang diutus langsung oleh Anton dan David untuk melindungi Marcella. Steven juga adalah salah satu orang yang mendampingi tuan Anton saat menemui adiknya untuk mengadakan beberapa perjanjian.