Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Komitmen 2


__ADS_3

“ Jelas kau hanya ingin mengancamku kan?.”


“ Vlora, aku tidak sepicik yang kau kira. Pikirmu aku berada di posisi ini mudah?. Tentu kau juga bisa membayangkan apa saja yang terjadi dan yang sudah aku alami, bukan begitu?.”


Lain halnya dengan terbiasa dari kecil hidup dengan kemewahan, ada belahan lain yang bersebrangan dengannya berjuang hidup dengan begitu keras. Lalu, untuk apa kali ini merasa takut dan ragu untuk terjatuh, jika kau bisa bangun dengan begitu tegar.


Tahu akan sifat pendiam Byana namun pintar dan dengan penuh keanggunan dapat beradaptasi, cukup menjadi ancaman berat bagi Vlora saat ini. Bahkan dengan tegas dengan kedua bola matanya, memandang Vlora begitu tajam menegaskan apa maksud hati yang dia inginkan.


“ Jadi, maksudmu adalah... jika aku setuju untuk membatalkan pembangunan pusat perbelanjaan, kau bersedia mundur secara perlahan meninggalkan Aldrik?” tanya Vlora dengan menyilangkan kedua tangannya terduduk penuh keangkuhan.


“ Tidak sepenuhnya setuju. Aku bilang, jika memang Aldrik akhirnya memilihmu, maka aku akan mundur secara perlahan meninggalkannya. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk mendekatinya. Tentunya, dengan batasan yang bisa kumengerti.” Balas Byana tegas.


“ Sebagai pemegang saham kedua terbanyak di perusahaannya, bukankah sangat mudah bagiku jika ingin mendekatinya tanpa harus meminta ijin darimu!.”


“ Benarkah?, lalu kenapa kau selalu gagal?. Apa cara pendekatanmu yang salah?.”


Terdiam dan tertegun memandang pada Byana saat ini, Vlora benar benar sudah kehilangan pandangannya tidak bisa mengerti akan maksud dari pikiran Byana saat ini. Entah dia menyudutkan atau memang memberikan kesempatan baginya untuk mendekati Aldrik kembali.


Pikiran Vlora sejenak melayang mengingat janjinya pada Arie, ayah kandung Aldrik untuk mendapatkan ijin dan segera melakukan pembangungan pusat perbelanjaan. Merasa tersudutkan, Byana akhirnya sedikit tersenyum tahu akan jebakan yang dia lancarkan berhasil membuat Vlora masuk kedalam perangkapnya.


“ Lalu, kenapa kau mengatakan bahwa sebagai pemegang saham terbesar aku tidak bisa meminta Aldrik daftar para pemegang saham atau laporan lainnya?. Bukankah pantas jika aku meminta itu semua pada Aldrik?” tanya Vlora kebingungan.


“ Jujur aku tidak begitu mengerti soal bisnis, tapi... sejauh dari yang aku lihat dari Aldrik, jika kau ingin mendapatkan keuntungan besar, lebih baik fokus pada apa yang ada di depanmu dan meninggalkan yang tidak pasti. Apa aku benar?.”


“ Kau benar.”


Kembali melihat Vlora yang kembali masuk kedalam rencananya, Byana sengaja mencoba mengalihkan perhatian dan pengertian Vlora dalam hal ini. Mengingat saat ini sedang membuat aplikasi buram untuk mengalihkan perhatian Daniel, akan sangat berbahaya jika Vlora turun tangan dan membuka aplikasi asli di situs website online.


Aku tidak bisa membiarkan Vlora memeriksa laporan perusahaan jika proyek pembangungan pusat perbelanjaan ini tidak berhasil. Daniel akan menyadari dengan adanya dua aplikasi sama yang terdapat dalam browser dan akan sangat berbahaya.


Gumam Byana dalam hati sembari mengalihkan pandangannya dari Vlora. Dengan meminum segelas air yang sudah disuguhkan olehnya, Vlora menatap dengan serius kembali pada Byana yang bersikap natural dengan rencana pengalihannya.


“ Baiklah. Aku akan menghentikan proyek pembangunan ini dan aku akan membuat om Arie tidak memperdulikan laporan data keuangan perusahaan. Tapi, kau harus menepati janjimu.”


“ Tentu. Selama Aldrik memang menginginkannya, maka aku akan berusaha menepati janjiku.” Balas Byana kembali dengan tegas menatap begitu serius pada Vlora.


“ Jika kau tidak menepati janjimu, ingatlah Byana... aku akan sangat amat menghancurkanmu bahkan keluargamu tanpa ampun. Bahkan Aldrik pun akan sangat terlambat jika dia berusaha untuk menolongmu nantinya. Setuju?,” Vlora mengulurkan salah satu tangannya pada Byana.


“ Setuju.” Balas Byana dengan menggapai dan bersalaman dengan Vlora sebagai bukti persetujuan.


Dengan segera Vlora mengambil handphone yang berada didalam tasnya untuk menyingkirkan para petugas kontraktor dan juga para penjaga yang berjaga. Dengan mendapat laporan akan penyerahan diri ketua RT dan RW yang mengaku kesalahannya, kini permasalahan pun selesai begitu saja.


Namun tidak bagi Byana yang kembali harus mengorbankan perasaannya. Dengan perjanjian yang terpaksa dia lakukan, dirinya kembali mencoba menahan emosi diri disaat Vlora yang tanpa malu berlari kearah Aldrik dan memeluknya dengan erat dihadapan semua orang.

__ADS_1


“ Vlora, apa yang kau lakukan?!” ucap Aldrik bernada kesal.


“ Byana menyerahkanmu padaku. Dia memberikan aku kesempatan untuk berada disisimu...” balas Vlora dengan tersenyum manja.


“ APA?!” Aldrik yang kesal menatap pada Byana yang menundukkan kepalanya.


“ Jadi Aldrik, menurutlah dan ikut denganku kesuatu tempat. Jika kali ini kau masih menolak, Byana... kau ingat pembicaraan kita barusan bukan?” tanya Vlora dengan memalingkan pandangannya pada Byana.


“ Aku ingat. Kau bisa pergi dengan Aldrik kemana pun kau mau dan aku tidak akan menghalangi kalian.” Balas Byana yang akhirnya menadahkan kepalanya tegak membalas tatapan Vlora yang sedang tersenyum puas.


“ Apa?. Byana apa terjadi padamu?, kenapa tiba tiba kau me---”


“ Eeeiitss... Aldrik kau mau kemana?, kau harus ikut denganku kesuatu tempat dan ada hal serius yang ingin kubicarakan denganmu.” Vlora menarik Aldrik seraya menghentikan langkahnya untuk menghampiri Byana.


“ Bicarakan disini.” Balas Aldrik.


“ Tidak bisa... ayolah, aku sudah malu menjadi bahan tontonan. Ikut denganku atau, kau ingin melihat apa yang terjadi pada Byana jika kau tidak menurut padaku.”


Aldrik menatap begitu kesal pada Vlora saat ini, merasa salah dengan memberikan ijin pada Byana untuk berbicara dengannya. Aldrik merasa serba salah dengan apa yang harus dia lakukan. Melihat pada Byana yang seolah acuh menatapnya, Aldrik memutuskan untuk menuruti permintaan Vlora dan meminta Gestara untuk mengantarkan Byana pulang.


“ Byana, apa sebenarnya yang terjadi?, kenapa kau lakukan ini?” tanya Gestara pada Byana saat melihat Aldrik masuk kedalam mobil Vlora dan berlalu pergi.


“ Hal yang seharusnya terpaksa aku lakukan.” Balas Byana bernada lirih.


“ Sudahlah... bisa bantu aku membersihkan pekarangan ini?. Setelah melihat om dan tante kembali tenang, kau bisa mengantarku pulang...” Balas Byana memukul pelan tangan Gestara, tersenyum manis menahan luka.


Tanpa berkata lagi Gestara pun segera membantu Byana membereskan pekarangan teras depan yang berantakan. Dengan Tante Lesti dan Om Dhika yang juga ikut membantu, mereka pun memilih untuk menutup mulutnya membiarkan keadaan berlalu begitu saja tanpa bertanya pada Byana.


*********


-PT. Linux, ruangan Aldrik-


Vlora meminta untuk menuju perusahaan dimana salah satu assistennya sudah menyiapkan sebuah dokumen yang sudah Vlora minta untuk dipersiapkan sebelumnya. Menatap penuh kecurigaan, Aldrik pun hanya dapat terduduk diruangannya, mengerutkan kedua alisnya.


“ Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Aldrik bernada curiga.


“ Tidak banyak, kau baca saja dulu apa yang ada didalam dokumen itu. Jika sudah, mungkin kau bisa langsung menandatanginya seraya setuju.”


Aldrik diberikan sebuah map dokumen yang diberikan assisten Vlora. Membuka dan membaca dengan sangat serius point yang ditujukan dalam dokumen itu, Aldrik akhirnya menyadari akan maksud dari tindakan yang dilakukan Byana saat ini.


Pengalihan aset yang menjadi milikku. Setidaknya dengan ini, pria tua itu tidak bisa membuka aplikasi laporan data perusahaan yang akan membahayakan rencanaku pada Daniel. Byana, kenapa lagi lagi kau bertindak seorang diri tanpa berbicara denganku?.


Gumam Aldrik dalam hati merasa kecewa. Merasa tidak mampu berbuat hal lain selain menyutujui usulan Byana, Aldrik merasa semakin bersalah karena harus memenuhi permintaan Vlora padanya.

__ADS_1


“ Aku ingin kau mengabulkan lima keinginanku.” Ucap Vlora yang terduduk disamping Aldrik.


“ Jangan konyol. Aku memberikan satu kesempatan saja sudah cukup baik untukmu.” Balas Aldrik bernada ketus.


“ Dua. Kalau begitu kabulkan dua permintaanku.” Ucap Vlora kembali.


“ Apa itu?” tanya Aldrik kembali bernada masam.


“ Pertama, aku memintamu untuk pergi berlibur denganku selama 3 hari 2 malam. Dengan begitu aku akan meyakinkan ayahmu untuk membatalkan proyek pembangunan itu.” Ucap Vlora dengan mengacungkan salah satu jarinya.


“ Kedua, aku ingin kau mengumumkan pertunangan denganku saat ulang tahun perusahaan nanti. Dengan begitu asetku akan kuberikan padamu, dan laporan keuangan perusahaan tidak akan kupermasalahkan.” Lanjut Vlora dengan mengacungkan dua jarinya.


“ Pertunangan?, saat ulang tahun perusahaan?” tanya Aldrik dengan mengangkat kedua alisnya.


“ Ya. Aku ingin ada berita pertunangan besar dan menggemparkan, dimana media serta pejabat lainnya hadir saat itu.” Balas Vlora mencoba membayangkan dan mempraktekkan bahagia.


“ Baiklah jika itu maumu. Akan ada acara pertunangan saat ulang tahun perusahaan nanti. Serta, aku setuju untuk berlibur denganmu.”


Entah karena alasan apa senyuman Aldrik pun melengkung sempurna diwajahnya yang tampan. Vlora yang begitu terkesima akan suara dan tatapan yang tanpa disadari terdapat sebuah rencana pun terbawa suasana haru akan rencananya yang dianggap berhasil.


Dengan meninggalkan ruangan Aldrik, Vlora keluar dengan bahagia dan dengan segera mencoba untuk mencari tempat liburan terbaik untuk mereka. Melihat Vlora yang sudah berlalu pergi, dengan dokumen pelimpahan aset yang sudah ditanda tangani oleh Vlora, Aldrik langsung mencoba menghubungi Gestara untuk berbicara dengannya.


“ Tara, apa kau sudah mengantarkan Byana?” tanya Aldrik melalui panggilan telephone.


“ Sudah, tapi Byana tiba tiba memutuskan untuk menemui Hana dan sepertinya mereka berencana ingin pergi kesuatu tempat.” Balas Gestara.


“ Baiklah. Kalau begitu segera kembali ke perusahaan karena ada hal yang harus kita kerjakan.” Aldrik mengubah nada bicaranya menjadi begitu serius.


“ Baiklah. Aku akan segera menuju perusahaan.” Balas Gestara sembari mematikan panggilan telephone.


Disisi lainnya, Byana yang tersadar akan posisi dirinya yang melakukan kesalahan lainnya merasa begitu tertekan hingga perlu untuk mengalihkan emosinya. Dengan kembali berlatih menembak dan bermain softball dengan Hana, tanpa sadar tengah malam pun kembali menyambut mereka dengan tubuh yang penuh dengan peluh.


“ Kau... benar benar Byana... Aldrik pasti merasa kesal saat ini...” ucap Hana dengan nafas berat dan tersenggah, kelelahan setelah berlari lari.


“ Ya... aku... memang bodoh... bukan?” tanya Byana yang juga mengatur nafasnya.


“ Lalu... apa kau siap... dengan apa yang akan... terjadi nanti, jika... wanita itu melakukan... XXX pada Aldrik?” tanya Hana bernada jail.


“ Aku bilang... jika Aldrik menginginkannya, maka... aku akan menjauh dan menepati... janjiku.” Balas Byana dengan penuh keyakinan.


“ Lalu?... kau percaya dengan Aldrik begitu saja?. Pria dewasa, tampan, mapan... seperti Aldrik bertemu dengan... wanita cantik. Bahkan pakaian sexy wanita itu... jauh lebih baik dari yang pernah kau kenakan.” Hana menarik baju kemeja Byana seraya mengoloknya.


“ Aku... percaya dengan Aldrik.”

__ADS_1


Penyangkalan dengan kebohongan pada diri sendiri. Byana merasa ragu akan pergaulan Aldrik yang mengikuti adat kebiasan yang sudah terbiasa selama diluar negeri. Menatap pada Hana yang juga pernah berkuliah diluar negeri dan tahu bagaimana pergaulan disana, Aldrik... apa kau bisa menjaga rasa percaya akan komitmen yang baru tumbuh ini?.


__ADS_2