Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Pengikatan 2


__ADS_3

( TOKK TOOKK TOKK )“ Byana... ini aku Hana. Boleh aku dan Gestara masuk ke dalam?.”


“ Apa Aldrik yang menyuruh kallian?.”


“ . . . . kurang lebih. Byana, dia hanya mengkhawatirkan kondisimu... sudah 2 hari kau mengurung diri didalam kamar seperti ini. Berhenti bersikap seperti anak kecil.”


“ Anak kecil bahkan tidak akan berprilaku sepertiku ini. Pergilah, apa kalian tidak ada pekerjaan selain mengurusku?!”


Merasa akan percuma dengan keras kepala yang dimiliki Byana, tersadar Aldrik yang juga ikut mencuri dengar dari balik dinding kamarnya pun hanya dapat terdiam tak berkata apa pun. Berjalan menuruni anak tangga, akhirnya Gestara dan Hana pun mengikutinya dari belakang.


Masuk kedalam ruangan baca, Aldrik terduduk pada bangku dan meja kerjanya dengan memberikan sebuah map dokumen kepada Gestara dan Hana yang kini terduduk dihadapannya.


“ Apa ini?” tanya Gestara penuh kebingungan.


“ Alasan Byana bersikap seperti ini.” Balas Aldrik dengan raut wajah seriusnya.


“ Apa ini dokumen yang dibawa oleh Azka, salah satu karyawanmu yang diculik Daniel?. Jadi ini yang diinginkan Daniel?” tanya Hana sembari memeriksa lembaran dokumen bersama Gestara.


“ Ya. Awalnya aku berpendapat Daniel hanya ingin mencoba meretas aplikasi, namun ternyata itu hanya pengalihan. Aku tidak berpikir kearah lainnya.”


“ Dari yang kulihat, ada satu perusahaan yang menonjol yaitu PT. Bumitama. Bahkan mereka memberikan investasi sebesar 75% dari harga saham. Apa Presdir perusahaan ini sudah hilang akal?!” ucap Gestara menyeleneh.


“ Presdir dan CEO dari PT. Bumitama adalah, mendiang orang tua Byana.” Balas Aldrik spontan.


“ APA?!”


Terkejut baik Hana dan Gestara pun tidak menyangka akan kenyataan bukti yang baru didapatkan. Dengan bantuan Haris selaku kuasa hukum dengan kesaksian dari keempat karyawan Aldrik, sedikit demi sedikit bukti itu terkuak secara terbuka.


Namun jika dilihat dari sudut pandang lain, dengan mendiang kedua orang tua Byana yang ikut melakukan transaksi sebelumnya bersama Daniel, semakin membenarkan bahwa mereka adalah pembelot negara mengingat status polisi inteljen yang mereka sandang.


“ Kenapa kau memberitahu Byana soal ini?” tanya Gestara bernada risau.


“ Aku tidak memberitahunya. Saat Byana sakit terakhir kali dan diam dirumah, aku sibuk mencari tahu dan menyelesaikan masalah ini hingga tidak memberi kabar pada Byana.” Aldrik menjelaskan dengan menyilangkan jari jemari seraya menutup wajahnya.


 “ Byana sepertinya waktu itu mencariku ke kamar dan aku lupa mematikan laptop serta lembaran dokumen itu ada diatas meja kerjaku.” Lanjut Aldrik menjelaskan.


“ Jadi Daniel, ingin mengambil saham itu dengan meretas aplikasi milik perusahaanmu... lalu, setelah dia berhasil dia akan mengambil alih pertambangan itu. Apa aku melewatkan sesuatu disini?” tanya Hana begitu serius.


“ Satu hal yang aku yakini, yaitu mendiang orang tua Byana bukan seorang pembelot. Namun ada hal lain yang mencoba mereka lindungi disana sehingga dengan berani mengambil resiko ini.” Balas Aldrik kembali.


“ Tunggu... bukankah kesaksian dari para pegawai, mereka dibawa kesebuah pulau dan ditempatkan pada sebuah tempat yang aneh?” tanya Gestara sembari memberikan pendapatnya.


“ Aneh? tempat aneh apa yang dimaksud?” tanya Hana kebingungan.


“ Keempat karyawan itu berkata bahwa tempat itu seperti memiliki 2 fungsi aneh yang berbeda. Saat pagi menuju malam, terlihat seperti panti sosial. Namun saat malam, tempat itu sungguh berbeda.” Gestara kembali memberikan pendapat dan penjelasan.


“ Apa seperti... klub karaoke itu?” tanya Hana kembali.


“ Kau benar.”


Saling terdiam pikiran mereka pun kini mengambang. Hingga suatu pertanyaan kembali menghampiri Hana yang terlihat masih kebingungan atas sikap Byana saat ini yang terlihat begitu acuh dan dingin pada Aldrik.


Tak menampik akan Byana yang memang sedikit merasa kesal pada Aldrik, akhirnya ia pun menjelaskan pada Gestara dan Hana alasan Byana lainnya hingga bertindak seperti ini pada Aldrik yang berniat membantunya.


“ APA?. KAU MEMBELI SAHAM PT. BUMITAMA?!” teriak Hana dan Gestara berbarengan.

__ADS_1


“ Jadi Byana bukan hanya karena masalah pertunangan bersikap seperti ini padamu... Aldrik, kau benar benar kelewatan. Jelas kau tahu, tapi masih dilakukan...” Gestara terlihat begitu pusing hingga menyandarkan tubuhnya pada sofa tempat duduknya.


“ Aldrik, kau bisa dalam bahaya. Bukan hanya itu, tapi banyak hal lain mengingat kau penerus keluarga Mahendra... kini aku mengerti kenapa Byana memilih ingin menyelesaikan masalah ini seorang diri.” Ucap Hana dengan menatap kosong pada meja didepannya.


“ Aku... tidak bisa membiarkan Byana bertindak dan melihatnya berjuang seorang diri.”


Seketika sunyi, Hana pun menatap pada Gestara yang kini juga sedang menatapnya. Tak urung akan Aldrik yang terlihat serba salah dengan semakin tertunduk lemas, tiba tiba sebuah panggilan masuk melalui panggilan handphonenya.


“ Nathan, katakan ada apa?.”


Mendapat kabar akan Lia yang akhirnya sadarkan diri oleh Nathan yang berada dirumah sakit, mereka semua pun terkejut dan dengan cepat pergi meninggalkan ruangan untuk memberitahukan kabar ini pada Byana.


Namun melihat kondisi kamar Byana yang terbuka dan kosong, dapat terlihat bahwa Nathan menghubungi Byana lebih dulu sebelum kepada Aldrik dengan terdengarnya suara mobil yang keluar dari gerbang pagar kediamannya tanpa meninggalkan pesan apa pun pada Aldrik.


Menanggapi kabar mengejutkan lainnya dimana Fumihiro dan Hideki datang dari Jepang secara tiba tiba, baik Aldrik dan Gestara pun dibuat bingung dengan apa yang harus mereka lakukan lebih dulu.


“ Kalian pergi dan urus masalah dengan kedua orang Jepang itu... biar Byana aku yang menemani dan bantu jika ia butuh sesuatu.” Ucap Hana sembari tersenyum.


“ Terima kasih. Hana, kumohon terus berikan kabar padaku.” Aldrik menatap dengan raut wajah memohon.


“ Tenang saja... lagipula aku tadi ikut menggunakan mobil Gestara, jadi mau tidak mau jadwalku harus kosong hari ini....”


“ Maaf, dan terima kasih banyak Hana.”


Dengan Aldrik yang berjalan menuju ruangan untuk berganti pakaian, Gestara pun mengantar Hana menuju lantai bawah seraya berpamitan satu sama lain. Berkendara menuju rumah sakit, suasana hati mereka semua sungguh tidak menentu dengan banyak hal yang harus dipikirkan.


********


-Rumah sakit tengah kota-


Byana yang sudah sampai lebih dulu pun langsung segera berlari dengan begitu cepat menuju ruangan Lia. Tidak lagi memikirkan apa pun atau siapa yang melihatnya saat ini, Byana hanya fokus berlari tanpa henti.


“ Lia...” ucap Byana begitu lirih.


“ No...na... Byana....”


Suara parau begitu menahan sakit, tubuh yang semakin terlihat kurus dengan tulang yang menonjol. Dibalik senyuman, air mata mengalir deras hingga tak dapat bersuara bagai terkunci rapat saat menatap kedua mata dari seorang gadis yang rela mengorbankan nyawanya.


Menyadari Byana yang terlihat lemas karena terkejut penuh haru, Pak Gio pun memberikan kursi tempat duduknya pada Byana yang kini dapat dengan mudah menggenggam tangan Lia yang akhirnya memberikan respon dengan membalas genggaman Byana.


“ Syukurlah Lia... syukurlah....”


“ Nona Byana, berhentilah menangis...” ucap Pak Gio mencoba untuk menenangkannya.


“ Jam berapa Lia sadar Pak?, bagaimana kata Nathan?” tanya Byana dengan sikap tak sabar.


“ Nona Byana tenanglah... Lia saat ini baik baik saja, bahkan perkembangan kesembuhannya pesat. Jika terus seperti ini, Lia bisa mulai melakukan terapi...” balas Pak Gio menunduk sopan.


“ Benarkah?, syukurlah... Lia... aku benar benar sangat bersyukur... maafkan aku. Lia, kumohon maafkan aku... karenaku, kau...” Byana tidak dapat melanjutkan bicara karena begitu terisak tangis.


Tidak dapat melakukan apa pun untuk mencegahnya, akhirnya Pak Gio pun membiarkan Byana menangis dengan Lia yang mencoba menggerakkan tangannya seraya menyuruhnya untuk berhenti menangis. Terketuk pintu dengan datangnya Hana, suasana haru pun semakin menjadi.


Disatu sisi ruangan lainnya namun berada dalam lantai yang sama, Sandra yang kembali harus masuk rumah sakit karena daya tahan tubuhnya yang lemah pun terbaring tak berdaya bersama kedua orang tua yang menemaninya.


Mendapat kabar bahwa sang anak harus melakukan suatu operasi, Daniel dan Sarah pun tertunduk diam mencoba untuk menerima kenyataan akan kondisi tulang tubuh Sandra yang memiliki kelaianan sejak lahir.

__ADS_1


Alex dan Gerry yang mencoba memberikan ruang pada keluarga kecil itu berjalan keluar meninggalkan ruangan tentu dengan perasaan yang tak menentu. Mencoba untuk membeli minuman dingin, terdengar kabar mengejutkan saat Alex melewati meja perawat yang sedang berjaga.


“ Dokter Nathan sungguh hebat sekali... aku kagum padanya.” Ucap salah satu perawat.


“ Ya... dengan sebuah peluru pada kepala pasien gadis kecil itu, kini ia tersadar bahkan tak lama lagi bisa memulai terapinya.”


“ Ssssttt...!! apa kau lupa?! Jangan membicarakan masalah ini saat diluar! Kau tidak ingin bermasalah dengan keluarga Mahendra bukan!.”


“ Kau benar... aku hampir lupa!. Bisa celaka kalau sampai ada yang tahu bahwa rekam medis gadis ini dirubah.”


“ Sudah, sudah... kita siapkan keperluan lain saja.”


Keluarga Mahendra... mereka sengaja merubah rekam medis dari seorang gadis?. Tunggu, apa gadis ini adalah assisten pribadi Byana yang terluka akibat mendapat perlakuan kasar Byana?. Gumam Alex dalam hatinya.


Membiarkan Gerry pergi lebih dulu untuk membeli minuman, Alex memutar langkahnya berbalik menuju ruangan tempat Lia dirawat. Namun tersadar dengan pintu ruangan yang masih terbuka, Alex pun mencuri pandang dan dengar dari percakapan mereka.


Sesuai dengan apa yang Alex yakini bahwa Byana tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu, keraguan serta curiga mulai hadir dalam diri Alex saat ini mengingat alasan Aldrik yang meminta untuk dirubahnya rekam medis Lia pada pihak rumah sakit.


Alex kembali berjalan menuju meja perawat yang saat ini sudah kosong karena melakukan pemeriksaan pada masing masing kamar. Menatap pada seorang perawat yang berjaga didalam ruangan dengan sibuk memilah obat obatan, Alex pun melancarkan aksinya dengan mengambil dan membaca berkas rekam medis milik Lia.


Luka tembak pada kepala dan bahu?. Jadi gadis ini terluka karena mendapat luka tembak?. Gumam Alex dalam hatinya penuh terkejut.


Alex mencoba mencari atau mencocokkan bukti lain untuk membuang keraguannya dimana waktu, hari, dan tanggal Lia dilarikan ke rumah sakit begitu tepat dan sesuai dengan kejadian baku tembak yang membuat keempat karyawan itu berhasil melarikan diri.


“ Lia?... jadi gadis ini bernama Lia. Menarik.” Ucap Alex dengan melengkungkan senyuman licik diwajahnya.


( DDRRTT DDRRTT DDRTRRT) Handphone Alex yang bergetar dibalik saku celananya.


“ Halo... bagaimana?, apa kita jadi bertemu hari ini?” tanya Alex dengan melengkungkan senyuman kembali diwajahnya pada Vlora yang melakukan panggilan telephone.


“ Satu jam lagi aku akan sampai ditempat. Tunggu aku.” Balas Vlora.


“ Baiklah, aku akan menunggumu....”


Menutup panggilan telephone, Alex pun berpamitan sebentar kepada kedua kakaknya serta keponakannya yang terbaring lemas. Dengan segera kembali menuju parkiran mobil dengan Gerry yang mengantarkannya, Alex pun akhirnya bertemu empat mata dengan Vlora.


Datangnya Vlora dan dengan elegan duduk diseberangnya, Alex tiba tiba melengkungkan kembali senyuman liciknya seolah tahu dan dapat menebak rencana Vlora kali ini.


“ Jadi katakan, berapa lama aku harus berpura pura menjadi kekasihmu?” tanya Alex sembari meminum minumannya.


“ Sampai Aldrik dan Byana berpisah. Tidak akan lama karena aku memiliki rencana lain untuk mereka.” Balas Vlora penuh percaya diri.


“ Oya?, rencana apa itu?” tanya Alex.


“ Kau tidak perlu tahu. Tugasmu hanya ikut bersandirawa denganku saja...” balas Vora.


“ Ckkckck... maaf, tidak seperti ini cara berbisnis denganku. Kau harus tahu jika ingin menjalin kerja sama dengan keluarga Mosse.” Balas Alex sembari menaruh gelasnya diatas meja.


“ Kau, harus memberitahu semuanya tanpa ada yang kau tutupi. Jika sampai, kau melanggar ini maka... jangan salahkan aku tidak akan segan padamu. Bagaiamana?, masih ingin bekerja sama denganku?” tanya Alex kembali.


“ Baiklah. Tapi jangan pernah mencampuri urusan pribadiku!.” Vlora menunjuk Alex dengan salah satu jarinya, hingga beraut wajah kesal.


“ Deal. Tentu saja aku setuju.” Balas Alex tersenyum.


“ Baiklah, kita mulai dari hari ini, dan aku akan memberitahukan rencana apa yang akan aku berikan pada mereka berdua.”

__ADS_1


“  Tentu silahkan... aku akan mendengarkanmu.”


Lihat?. Tidak memerlukan waktu lama untuk memanfaatkan seseorang saat patah hati menerkamnya. Mencoba bersikap kuat, namu begitu rentan dan rapuh hanya karena rasa sayang yang tidak dapat tersambut secara baik.


__ADS_2