Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat matahari pun tenggelam di barat di sertai gelap yang menyusul tampil dengan sangat berani.


David dan Tamara awalnya bingung saat tidak melihat kehadiran putrinya dan keponakannya saat makan malam, pak Hans pun menjelaskan bahwa tuan muda dan nona muda memilih untuk makan di dalam kamar karena merasa kelelahan. David dan Tamara pun mengangguk karena merasa kedua anak itu memang sangat membutuhkan istirahat tanpa tahu keajadian yang sebenarnya terjadi.


Tok tok tok...


"Iya masuk"


"Selamat malam nona ini saya bawakan makan malam anda dan tuan muda"


"Iya terima kasih pak Hans" Marcella segera meraih nampan dari tangan pak Hans.


"Pak Hans kenapa kakak belum sadar juga ya? apa perlu kita menelfon dokter Marten? a ak aku hanya takut hal buruk terjadi"


"Tenanglah nona tuan muda tidak apa-apa mungkin saja masih dalam pengaruh obat yang diberikan dokter Marten saat mengobati tuan muda" jelas pak Hans saat melihat kedua mata sembab itu kembali berkaca-kaca. Pak Hans agak sedikit heran dengat perubahaan perilaku Marcella, entah kemana perginya sifat kuat dan tegar gadis itu.


"Oh iya nona saya sarankan sebaiknya untuk malam ini anda menginap dulu dikamar tuan muda, takutnya tuan muda membutuhkan apa-apa sementara tangan tuan muda belum boleh banyak bergerak" awalnya Marcella agak keberatan saat pak Hans menyarankannya bermalam di kamar Noah, walau bagaimana pun Marcella adalah seorang perempuan. Namun seketika dirinya sadar bahwa Noah sekarang memang membutuhkan seseorang yang membantunya lagi pula ini semua juga terjadi akibat sifat keras kepalanya.


Setelah pak Hans keluar dan menutup pintu gadis itu berdiri terpaku di pinggir ranjang Noah kemudian perlahan membawa tubuhnya duduk di pinggir ranjang.


Marcella menatap dalam wajah tampan yang masih setia menutup mata itu. Rasa bersalah kembali menghujam dadanya layaknya ribuan pisau yang menusuk kejam. Jika saja dirinya mendengarkan kata-kata kakak sepupunya untuk segera melepaskan pisau yang digenggamnya mungkin saja hal ini tidak akan terjadi dan pria itu seperti biasa masih akan menjadi teman bertengkar permanennya. Tanpa di sadari kristal bening perlahan turun dari matanya membawa wajahnya menunduk sedih dengan sebelah tangannya menggenggam lembut tangan Noah yang tidak diperban.

__ADS_1


"Haaaiii..." Marcella yang kaget segera mengangkat wajahnya ke arah suara serak itu.


"Hhhhaaaiii! ka kakak sudah sadar? haaaiii..." Marcella merasa sangat senang, namun ketika tatapannya kembali terpaku pada kedua mata sayu pria itu Marcella kembali terdiam beberapa saat.


"Ma maafkan Elle kak hiks hiks..." sekarang gadis itu meminta maaf langsung kepada sang kakak sambil kembali sesegukan menangis dan terus menangis. Noah yang melihat adik sepupunya tersebut kemudian membalas genggaman Marcella di tangannya yang belum dilepasnya.


"Heeiii... jangan menangis dimana perginya simpanse lucuku yang keras kepala hah..." masih dengan suara yang lemah Noah berusaha menenangkan Marcella.


"Maaf hiks hiks..."


"Hei jika kau tidak berhenti menangis maka aku tidak akan memaafkanmu" mendengar ancaman Noah, Marcella segera menghapus cepat air matanya dan berhenti menangis. Noah yang melihat tingkah adik sepupunya itu hanya tersenyum.


"Anak pintar... aku sudah memaafkanmu untuk apa pun itu"


"Tidak asal berjanjilah satu hal padaku"


"Apa itu?" Noah terdiam sejenak sebelum kemudian berbicara sambil menatap dalam mata gadis itu.


"Jika kau membutuhkan tempat untuk menangis menangislah padaku, jika kau membutuhkan pelukan untuk menghangatkanmu datanglah kepelukanku, jika kau sedih datanglah padaku maka aku akan menghiburmu, jadi jangan pernah kau cari tempat lain untuk itu semua selain aku karena itu adalah tanggung jawabku sebagai kakak, sahabat sekaligus suamimu... dan juga partner bertengkarmu" Marcella yang mendengar perkataan kakaknya langsung menghambur ke pelukan sang kakak yang masih terbaring di atas kasur. Gadis itu terharu dengan perkataan kakaknya lalu kembali mengangis. Noah membalas pelukan adiknya erat dengan sebelah tangannya sambil tersenyum.


Sementara di luar ruangan sepasang langkah kaki terhenti saat baru saja berhasil membuka sedikit celah pintu. Langkah kaki pria itu terhenti tepat setelah kalimat panjang itu selesai diucapkan.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia berkata semanis itu? batin Marcella.


"Sudah sudah mau ku tarik maafku?" pernyataan Noah langsung membuat Marcella dengan segera melepaskan pelukannya.


"Hehehe tidak kak..." Noah yang melihat tingkah adiknya tersebut langsung mencubit gemas hidung Marcella yang memerah karena sedari tadi terus menangis.


...


"Sudah melihat tuan muda?" pertanyaan pria paruh baya tersebut menghentikan langkah kaki Steven.


"Tuan muda sudah beristirahat pak Hans, saya akan kembali menengok besok sambil membawa beberapa berkas perusahaan untuk ditandatangani" jelas pria yang memakai pakaian casual tersebut.


"Baiklah kau juga segera pulang dan beristirahatlah jangan lupa minum obatmu, lagi pula besok tuan dan nyonya akan diantar langsung oleh tuan Iron dan nyonya Lusi ke bandara jadi kau kerjakan saja pekerjaanmu yang lain nak"


"Baik pak Hans terima kasih, kalau begitu saya permisi" pamit Steven.


"Oh ya..." Steven kembali terhenti namun kali ini dia hanya mendengar pak Hans tanpa membalikkan tubuhnya menatap pria paruh baya tersebut.


"Aku tahu seberapa besar apa yang kau rasakan nak, tapi aku mohon berusahalah untuk mengendalikan dirimu dan bersabarlah" Steven masih terpaku beberapa saat setelah mendengar wejangan dari pak Hans sebelum kembali berjalan keluar.


Sepanjang perjalanan pulang Steven meremas keras stir mobilnya sebelum berhenti sejenak menepikan mobilnya dipinggiran hutan yang gelap. Dalam keheningan Steven memukul-mukul setir mobilnya sambil membiarkan kristal bening mengalir membasahi pipinya. Steven mengusap kasar wajah tampannya dengan kedua tangannya lalu memejamkan mata membawa kepalanya bersandar di kursi kemudi sebelum berbisik lirih dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan tuan besar?"


__ADS_2