Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Rekonsiliasi 5


__ADS_3

Sempat terlintas untuk menghentikan langkah ini untuk terus berada disisinya. Namun, saat pintu itu terbuka melihatnya berlari dengan penuh rasa cemas dan khawatir, tatapan yang tidak berbohong akan rasa sayang yang tulus membuat hati bergetar kembali.


Keraguan yang sempat menghampiri, seketika berubah menjadi keberanian untuk terus mempertahankan hubungan yang entah dapat dijelaskan akan hanya kontrak semata.


“ Kau tidak apa apa?, kenapa pulang duluan?... maaf, aku berbicara dengan Haris sedikit lama.” Aldrik menyentuh lembut wajah Byana, memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambut.


“ Aku tidak apa apa, tante Lesti juga sudah mengobati lukaku lagi.” Balas Byana tersenyum.


“ Tidak perlu diperiksakan ke rumah sakit?” tanya Aldrik masih merasa khawatir.


“ Tidak... cukup disini saja. Maaf, sepertinya malam ini aku tidak akan pulang ke---”


“ Tak apa. Aku yang akan menginap disini.”


Kembali terdiam mendengar perkataannya. Jika dipikirkan berulang kali, sungguh tidak masuk akal untuk pria sepertinya untuk terus tetap berada disisi wanita yang sangat jauh berbeda dengannya. Untuk apa kau memaksakan diri seperti ini?. Gumam Byana dalam hatinya.


Kecupan pada kening yang seperti biasa dilakukannya, hanya membuat kaki ini semakin sulit untuk melangkah. Dekapan hangat pun merangkul sempurna memberikan kenyamanan yang selalu diimpikan oleh wanita mana pun saat ini.


“ Apa... Vlora yang melakukan ini padaku?” tanya Byana lirih.


“ Ya. Maafkan aku.” Balas Aldrik dengan memeluk Byana semakin erat.


“ Mau berapa kali kau meminta maaf?. Tidak cape?” tanya Byana kembali dengan menadahkan kepalanya keatas menatap Aldrik yang lebih tinggi darinya.


“ Byana, jika bisa bukan hanya permintaan maaf. Kau meminta aku untuk melakukan apa pun, akan aku lakukan.” Balas Aldrik begitu serius.


“ Apa... pun?” tanya Byana dengan mengangkat kedua alisnya.


“ Apa pun. ASAL, jangan menyuruhku pergi darimu.” Balas Aldrik dengan mencubit pipi Byana pelan.


Kembali mendekap dengan erat, pelukan akan rasa kekhawatiran Aldrik yang masih dapat terasa pun belum menghilang. Mencoba menenangkannya dengan berbalik memberikan pelukan hangat, kami menikmati waktu sesaat yang saling memberikan kenyamanan.


Lepas beberapa detik terdengar langkah kaki yang sedang berjalan menuju arah kamar dimana pelukan hangat ini pun harus berakhir. Dengan berpura pura terduduk membantu, sifat canggung begitu kental terlihat sehingga senyuman pun dapat terliha dari mereka.


“ Meski kau tidak menyapa kami dan langsung berlari kemari selepas hanya memberi salam, kami cukup mengerti...” ucap Om Dhika bernada jahil.


“ Maamaafkan saya, Pak.” Balas Aldrik tertunduk malu.


“ Sudah, sudah... sekarang ceritakan, ada apa dengan kotak kotak indah yang diantar kurir serta perias itu kemari.” Ucap Tante Lesti yang terduduk diatas tempat tidur Byana.


“ Kotak indah dan... perias?” tanya Byana kebingungan.


Tidak menjelaskan, Aldrik justru langsung berjalan keluar dengan senyuman diwajahnya. Terlihat Hana sudah berganti pakaian dengan seorang perias yang sedang meriasnya. Dengan segera Gestara pun memberikan sebuah kotak indah yang diberikan kepada kedua perias lainnya untuk dibawakan menuju lantai atas menuju kamar tidur milik Byana.


“ Aku sudah menyiapkan semua. Hana juga sudah kuceritakan. Kau tenang saja... rencana kali ini pasti akan berhasil.” Ucap Gestara tersenyum saat Aldrik berjalan menghampirinya.


“ Tenang saja Aldrik... kau akan kaget melihat acting yang akan aku lakukan untuk membalas mereka.” Hana berbicara dengan nada sinis meski sedang dirias.


“ Terima kasih.”


Gestara memberikan sebuah kotak lainnya untuk Aldrik dimana 1 stel pakaian formal yang mewah pun hadir untuk Aldrik kenakan. Tak memerlukan waktu lama, Aldrik pun segera bersiap siap dengan penampilan yang seperti biasanya.


Tak urung akan Om Dhika dan Tante Lesti yang begitu kebingungan melihat tingkah laku ketiga anak muda ini, dengan Byana yang juga sedang dirias dikamarnya, mereka turun kelantai bawah untuk meminta penjelasan pada mereka bertiga.


Gestara pun menjelaskan maksud hati yang Aldrik coba lakukan. Mendengar rencana yang tidak pernah terbayangkan oleh Tante dan Om Dhika, sebuah pelukan erat yang diberikannya pada Aldrik begitu mengharukan.


“ Terima kasih, Nak... terima kasih.” Ucap Om Dhika memeluk Aldrik begitu lirih.


“ Nak... kami tidak menyangka, kau... begitu menyayangi Byana...” ucap Tante Lesti yang akhirnya tidak sanggup menahan airmata.

__ADS_1


“ Pak... Bu... kata maaf tentu tidak akan menyembuhkan rasa sakit hati yang dilakukan keluarga saya pada anda. Saya tidak berharap lebih, hanya... memohon Bapak dan Ibu dapat melihat saya berbeda dan masih bersedia menerima saya masuk dalam keluarga ini.”


Menunduk sopan dengan Om Dhika yang melepas pelukannya saat Aldrik berbicara, sungguh tidak dapat membuat mulut mereka sanggup untuk berkata. Mengingat daya upaya mereka yang terbatas dan tidak dapat melakukan apa pun, kehadiran Aldrik bagai obat penyembuh.


Belaian lembut dari seorang ibu di kepalanya serta pelukan hangat yang biasa dilakukan seorang ayah pada anaknya, akhirnya membuat Aldrik semakin tertunduk dengan berbagai perasaan menghampirinya.


Merasa lega akan penerimaan yang kembali diterimanya, akhirnya rasa cemas takut akan kehilangan pun hilang begitu saja dengan Aldrik yang membalas pelukan Om Dhika bagai seorang anak hilang yang merindukan keluarganya.


“ Apa yang... kalian lakukan?. Kenapa terlihat sedih sekali?” tanya Byana saat menuruni anak tangga.


“ BYANA?... WOW, apa aku tidak salah liat?! Sejak kapan rubah kecil ini, menjadi begitu sangat cantik...” ucap Hana begitu terkagum.


“ Kau sangat cantik sekali, Nak...” ucap Tante Lesti membelai lembut wajah Byana.


Gaun abu abu panjang menjuntai tertutup dengan brokat mewah berwarna senada. Kilauan cahaya dari balik payet manik manik swarovski yang menempel membuat gaun berbentuk kerah V semakin terlihat indah dan mewah dengan brokat lainnya yang menjuntai pada lengan.


Terlihat Aldrik begitu memperhatikan luka pada tubuh Byana saat ini dengan sengaja memilih model gaun yang tepat dan riasan rambut yang menutupi luka di keningnya. Dengan jas suit tuxedo modern berwarna abu sama seperti Byana, penampilan mereka berdua bahkan dapat menyaingi pangeran dan putri kerajaan.


“ Kau mau membawaku kemana dengan penampilan ini?” tanya Byana pada Aldrik yang saat ini mengulurkan salah satu tangannya.


“ Ketempat dimana aku bisa menunjukkan dengan bangga bahwa kau adalah Nona keluarga Mahendra yang kupilih.” Balas Aldrik.


“ Tunggu... apa?! kau mau membawaku kemana?” tanya Byana kembali seolah melakukan penolakan.


“ Turuti perkataanku malam ini dan jangan melawan. Oke?,” Aldrik menarik pelan salah satu tangan Byana dan melingkarkan pada lengannya dengan penuh kesopanan.


“ Pak, Bu... kami pergi dulu, nanti malam kami kembali pulang kemari.” Lanjut Aldrik sembari memberi salam meminta ijin pada Tante dan Om Dhika.


“ Baiklah, Nak... pergilah...” balas Om Dhika tersenyum dengan Tante Lesti.


Aldrik mulai melangkah dengan penuh percaya diri yang sudah tidak perlu dikatakan kembali melihat penampilannya yang sungguh tampan saat ini. Tak urung menatap pada Hana dan Gestara yang juga terlihat mewah dan menawan, Byana berjalan dengan penuh keraguan.


Kembali dikejutkan dengan mobil limosin berwarna putih yang saat ini terparkir didepan rumah, Byana sempat merasa tidak nyaman dengan tatapan para tetangga kepadanya.


Berbeda dengan Aldrik yang terbiasa dengan semua fasilitas ini, sungguh terasa canggung untuk Byana saat ini ketika berjalan disampingnya dengan seorang supir yang sudah siap membukakan pintu menunggu mereka.


 “ Byana tegakkan kepalamu. Kau adalah Nona Mahendra...” ucap Hana yang terduduk diseberang Byana saat mobil mulai melaju.


“ Untuk apa sampai memakai limosin?... kemana sebenarnya kita akan pergi dengan penampilan ini!” Byana mulai merasa kesal dengan menatap pada mereka bertiga terkhusus Aldrik.


“ Sudah kubilang ketempat dimana aku bisa menunjukkan dengan bangga bahwa kau adalah Nona keluarga Mahendra yang kupilih.” Balas Aldrik.


“ Maksudku tempat apa itu?! Apa tidak bisa menjelaskan lebih spesifik?!” Byana terlihat sedikit kesal.


“ Kau lihat saja nanti sendiri.” Aldrik menutup percakapan dengan berpura pura memainkan handphonenya.


Mobil pun melaju dengan cepat menuju sebuah hotel berbintang dimana terlihat pantulan cahaya warna warni diatas gedung. Menatap kesekitarnya, tentu saja penampilan mereka saat ini begitu sangat mencolok karena terlalu mewah dan elegant.


Berjalan menuju lift dengan Gestara dan Hana yang berjalan duluan, langkah kaki Byana tiba tiba terhenti disaat secara tidak sengaja bertemu dengan Alex dan Gerry yang juga berniat untuk naik kelantai atas.


Tertunduk sedikit kepala dengan tangan Byana yang tanpa sadar meremas lengan Aldrik, terlihat sedikit ketakutan dalam dirinya yang berusaha disembunyikan Byana.


“ Suatu pertemuan yang tidak disangka kembali Tuan muda Mosse.” ucap Aldrik tiba tiba berkata formal beralih melingkarkan tangannya pada pinggang Byana.


“ Selamat malam Tuan Aldrik...” balas Alex yang juga tiba tiba berkata formal, mencoba memalingkan pandangannya dari Byana.


“ Malam ini akan ada acara perayaan ulang tahun sekaligus lelang. Diantara keduanya, mana yang akan anda datangi?” tanya Aldrik menatap seolah menyudutkannya.


“ Kebetulan... yang berulang tahun adalah teman semasa bersekolah dulu di Kansas.” Balas Alex.

__ADS_1


“ Aaahh... Kansas, Amerika. Jadi kalian satu sekolah?. Pantas saja prilaku kalian sama.” Ucap Aldrik datar tanpa beban.


“ UUHUKK UHUKK... pintu lift sudah terbuka.” Gestara mencoba mengalihkan pembicaraan.


“ Silahkan. Kau sudah lebih dulu menunggu lift ini.” Aldrik mempersilahkan Alex dan Gerry untuk berjalan melewati mereka.


“ Terima kasih.”


Tertutupnya pintu lift terlihat kekesalan dari raut wajah Alex saat ini. Tak lupa akan kakinya yang masih terluka akibat luka tembakan dari sang kakak, kehadiran Gerry saat ini selain membantu Alex, ia diperintahkan untuk memantau agar Alex tidak melakukan hal bodoh lainnya.


“ Boss, kau... tidak apa apa?” tanya Gerry dengan berdiri tegap dibelakangnya.


“ Jika bukan karena acara jamuan para pengusaha muda ini. Aku tidak akan datang!” balas Alex sedikit kesal mengendurkan dasinya.


“ Boss adalah seorang CEO perusahaan. Tentu saja anda harus datang kemari.” Balas Gerry menjelaskan kedudukan Alex.


“ Sahamku dan kakak hanya berbeda 5%. Bagaimana bisa dia menjadi direktur sedangkan aku CEO?!” balas Alex kembali sedikit kesal.


“ Ditambah aku harus berhadapan dengan Aldrik malam ini. Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu malam ini, karena sebelumnya dia jarang hadir dalam perkumpulan seperti ini.” Lanjut Alex.


Terdiam mendengar perkataan Alex, Gerry yang juga terbiasa dibawa oleh Daniel untuk mendampinginya menghadiri acara jamuan, mengetahui bahwa seorang Aldrik Mahendra tidak akan hadir dalam acara yang tidak menguntungkannya.


Dari balik pantulan kaca lift, Gerry melihat aura Alex yang penuh benci dengan api yang siap untuk melahap habis musuhnya. Tiba tiba memberikan sebuah pisau berukuran sedang pada Alex melalui belakang punggungnya agar tidak terlihat rekaman CCTV, tanpa perlu berkata Alex pun mengerti akan maksud Gerry saat ini.


********


(TIINNGG) Pintu lift yang terbuka.


“ Ayo Byana. Tenang saja, malam ini kupastikan tidak akan ada yang terjadi padamu.” Ucap Aldrik kembali mengulurkan salah satu tangannya begitu serius.


“ Kau yakin?... haruskah aku ikut denganmu naik keatas?” tanya Byana ragu.


“ Masuklah baru kau nilai sendiri apakah kau harus ikut denganku atau tidak. Jika memang sangat tidak nyaman, maka aku akan langsung mengantarkanmu pulang.”


Mendengar perkataan Aldrik dengan Gestara dan Hana yang juga terlihat memohon, Byana pun akhirnya meraih uluran tangan itu dan kembali mendekap salah satu tangan Aldrik layaknya pasangan pada umumnya.


Dengan lift yang semakin menuju lantai atas, Byana semakin diselimuti rasa gugup terlebih saat pintu lift terbuka dibawah 1 lantai menuju tempat yang tidak dia ketahui. Alunan musik kencang yang sudah terdengar, Byana menatap pada Aldrik yang hanya tersenyum padanya.


“ Peeepesta topeng?. Kau membawaku ke pesta topeng?” tanya Byana dengan berbisik saat Aldrik memasangkan sebuah topeng yang hanya menutupi matanya.


“ Ya... nanti juga akan ada acara lelang. Mungkin kita bisa mendapatkan sedikit informasi mengenai kehilangan kedua orang tuamu.” Balas Aldrik setelah selesai memakaikan topeng pada Byana.


“ Bagaimana kau tahu hal ini?” tanya Byana kembali terkejut.


“ Sudah kubilang, ikut denganku dan nilailah sendiri apakah kau harus ikut denganku atau tidak.” Aldrik tersenyum sembari memakai topengnya.


“ Kalian sudah siap?” tanya Gestara dengan merangkul Hana begitu mesra menuju pintu masuk.


“ Tentu saja. Kita mulai permainan ini.”


Melihat senyuman diwajahnya tampannya namun berbeda dari biasanya. Entah apa makna dari senyumannya yang mengatakan bahwa permainan akan segera dimulai. Namun bagi Byana, dengan berada tepat disamping Aldrik adalah pilihan yang tepat.


Tangan Aldrik yang melingkar pada pinggang Byana yang terasa erat, mengisyaratkan Byana untuk menegakkan kepalanya seolah mengingatkan bahwa dirinya saat ini adalah Nona keluarga Mahendra. Dengan sedikit mengangguk mengiyakan, Byana pun mengikuti permainan yang entah sedang diperankan apa oleh mereka bertiga.


“ Aldrik??... kau, Aldrik Mahendra?. Wooow... tidak menyangka kau akan datang malam ini.”


“ Sebelumnya kau tidak pernah datang dalam acara ini. Kenapa?, apa kau sekarang baru menyadari bahwa kau juga masih menjadi pengusaha muda?.”


“ Siapa wanita cantik disampingmu ini?.”

__ADS_1


Melihatnya hanya tersenyum pada tiga orang pria yang juga berpenampilan formal dan mewah. Tatapannya kini mengarah pada wanita yang berdiri tepat disampingnya. Aldrik, kau akan memperkenalkanku sebagai siapa diacara ini?.


__ADS_2