Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Stabilitas Keyakinan 3


__ADS_3

“ Aldrik... kami minta, kau... putuskan hubunganmu dengan Byana saat ini juga.”


Tatapan matanya tertuju pada satu titik temu yang tangkap. Menyadari intonasi bicara yang serius, kini labur sudah restu dari orang terkasih yang dengan susah payah didapatkannya. Tak ingin menerima kenyataan, pengelakan pun  dilakukan sebisa mungkin.


“ Tidak Pak. Saya tidak bisa melakukannya.”


“ APA?!”


“ Saya tidak bisa memutus hubungan ini dengan Byana.”


Raut wajah yang kembali terlihat serius itu kini berubah menjadi tatapan penuh iba dan permohonan. Tak kuasa ingin mendapat restunya kembali, duduk bersimpuh pun dilakukan untuk memohon maaf atas luka yang tergoret begitu dalam.


Entah apa yang dipikirkan pria muda ini. Dia mempunyai jabatan dan posisi sosial yang tinggi. Tapi kenapa demi Byana dia mau merendahkan dirinya seperti ini?. Apa anak muda ini benar benar menyayangi Byana?. Gumam Om Dhika dalam hati sembari menatap Aldrik.


Dengan masih bersimpuh, Aldrik menjelaskan apa maksud hatinya dan juga menceritakan sebisa mungkin tentang bagaimana hubungannya dengan Byana sejak awal. Dengan masih menyisakan sedikit rahasia, rasa kecewa pun semakin meluap mendengar Byana masih belum mendapat restu dari pihak keluarga Aldrik yang saat ini berusaha menjodohkannya dengan wanita lain.


“ Kenapa kau berbohong pada kami?... Aldrik, apa salah kami padamu?” tanya Tante Lesti lirih menitikkan air matanya penuh pilu.


“ Tidak ada Bu. Sayalah disini yang bersalah. Saya tidak bermaksud berbohong Bu... saya pun baru mendengar kabar perjodohan baru baru ini. Sungguh, tidak ada niat hati mempermainkan Byana.” Ucap Aldrik masih bersimpuh, menatap serius pada Tante Lesti.


“ Jika kau tidak ingin mengakhiri hubungan dengan Byana. Lalu apa yang akan kau lakukan nanti?, melawan orang tuamu?” tanya Om Dhika begitu tegas.


“ Jika perlu. Karena bagiku... mereka...” Aldrik terdiam sejenak tidak bisa menjelaskan akan kondisi keluarganya yang rumit dan dirinya yang sebenarnya membenci hubungan darah dengan sang ayah.


“ Bagimu mereka apa?. Aldrik, kau jelas harus mengerti aku tidak bisa memberikan restu pada kau dan Byana, terlebih Byana sampai tinggal di kediamanmu!” ucap Om Dhika kembali dengan begitu emosi sembari bertolak pinggang.


“ Kami... tidak ingin Byana kesulitan kembali... Aldrik, masa lalu Byana sudah kelam... kami mohon jangan berikan dia kenangan buruk lainnya...” ucap Tante Lesti dengan begitu memohon.


Masih bersimpuh, tatapan Aldrik tertuju pada lantai keramik dengan kedua bola matanya yang berlari kesana kemari mencoba mencari alasan yang bisa diterima oleh Tante Lesti terlebih Om Dhika yang kini terlihat begitu menentangnya.


Kebingungan semakin jelas dengan Aldrik yang akhirnya menundukkan kepalanya. Kedua tangan yang mengepal itu pun kini terlepas menepuk kedua lututnya, menatap pada kedua orang tua yang dihormatinya, Aldrik mencoba untuk tetap bersikap sopan.


“ Pak, Bu... saya berjanji akan melindungi Byana. Saya juga sangat membutuhkan kehadiran Byana saat ini. Bukan hanya sekedar hubungan biasa, kami berjanji untuk me---”


( PRAAANNGG ) Suara gelas yang terjatuh dan terpecah pada anak tangga oleh Byana.


Jadi... seperti itu?. Aldrik bersikap baik dan sampai seperti ini padaku, hanya demi memenuhi ambisinya untuk mencari keempat karyawannya yang hilang?... tentu saja, kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehku?! Dengan kembalinya keempat karyawan itu, tentu posisi Aldrik sebagai CEO aman dan status sosialnya akan lebih terangkat saat Daniel berhasil masuk dalam penjara.


Tatapan Byana dan Aldrik pun akhirnya bertemu. Aldrik yang terkejut melihat Byana yang saat ini berdiri membeku diatas anak tangga, dapat terlihat jelas bahwa Byana saat ini menyalahartikan maksud dari perkataan Aldrik.


Byana menggelengkan kepalanya berkali kali pada Aldrik seraya tidak percaya akan begitu bodohnya dia merasa mungkin ada sedikit perasaan yang muncul diantara keduanya. Memalingkan tubuhnya dengan langsung berlari menuju kamarnya, Byana kembali mengunci diri didalam kamarnya.


“ ALDRIK MAU KEMANA?! ALDRIK!” teriak Om Dhika pada Aldrik yang langsung berlari menaiki anak tangga mencoba mengejar Byana.


( TOKK TOKK TOKK ) “ Byana, dengar... kau sudah salah paham. Ijinkan aku menjelaskan!.” ( BHAAKK BHAAKK BHAAKK) “ Byana, aku mohon buka pintu ini.” ( TOKK TOKK TOKK ) “ BYANA!.”


“ Aku mengerti Aldrik. Pulanglah, nanti aku akan kembali ke kediamanmu begitu urusanku disini sudah selesai.” Balas Byana dari balik pintu menahan isak tangisnya.


“ Tidak, tidak. Kau jelas sudah salah paham... Byana ijinkan aku menjelaskan. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mem---”


“ Cukup Aldrik. Pulanglah. Biar masalah dirumah ini serahkan saja padaku, kau tidak perlu ikut campur.” Balas Byana kembali.


“ Apa?... Byana, apa maksudmu aku tidak perlu ikut campur dalam masalah ini?.” ( BHAAKK BHAKK BHAKK) “ Byana, buka pintunya kumohon....”


Permohonan terakhir yang tidak didengarkan, ternyata dapat membuat Aldrik menjadi begitu frustasi. Menyandarkan kepalanya pada pintu kamar Byana, tidak ada siapa pun yang bakal menyangka bahwa pria itu adalah seorang Aldrik Mahendra yang terkenal dengan harga diri yang tinggi.


“ Aldrik, pulanglah Nak...” ucap Om Dhika dengan menepuk pundaknya pelan.


Berjalan menuju pintu keluar dengan begitu muram, tidak lagi tersambut dengan senyuman hangat seperti biasanya ternyata membuat Aldrik menjadi begitu kehilangan. Merasa sesak dalam dadanya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, hingga memilih untuk tertidur didalam mobilnya.

__ADS_1


Kenyataan suka berbanding terbalik dengan pengharapan. Apa pun alasan pembenaran dibelakangnya, tak kan mampu mengubah fakta bahwa yang terjadi sudah lebur menjadi debu diterbangkan angin. Mencoba berlari mengejar pun akan sangat tidak mungkin untuk dilakukan.


“ Byana, kau yakin?, kenapa harus keputusan ini yang kau ambil?!”


“ Om... meski saat ini aku dan Aldrik belum bisa menjelaskan secara menyeluruh. Tapi percayalah, sebenarnya Aldrik memperlakukan Byana sangat baik meski keluarga Mahendra...” Byana menundukkan kepala tidak mampu melanjutkan pembicaraannya.


“ Tapi Nak... apa kau sanggup?. Dan kenapa kau harus kembali ke kediaman Aldrik meski kalian kembali bersama nanti?” tanya Tante Lesti yang masih belum bisa mengerti.


“ Ya. Byana, hal ini tidak bisa selesai begitu saja melihat ibu dan calon tunangannya datang kemari.”


Byana terdiam sejenak dan sedikit kebingungan karena tidak bisa menjelaskan hubungan kontraknya dengan Aldrik yang saat ini sedang mengelidiki Daniel dan lainnya. Sungguh tidak mungkin memberitahu mereka. Lebih baik, mereka sama sekali tidak tahu hal ini. Gumam Byana dalam hati.


“ Ada beberapa hal lain yang masih belum bisa juga Byana dan Aldrik jelaskan. Tapi Om, Tante... percayalah Byana berjanji bisa menempatkan dan melindungi diri sendiri.”


“ Byana... kau tidak sakit hati?” tanya Om Dhika menatap Byana sedih.


Senyuman penuh kebohongan pun Byana berikan seolah dirinya dan Aldrik benar benar saling akan saling bersama hingga ujung waktu. Hanya dapat berpendapat bahwa hubungan kontrak ini harus segera berakhir, dengan hanya itu Byana dapat pergi dari sisinya dengan tenang.


********


“ Byana, apa yang terjadi padamu?! Kenapa kau menjadi seperti ini lagi?!”


“ Maaf, beberapa hari ini aku... mengalami banyak kejadian.”


“ Byana, jika kau ingin menyembuhkan traumamu, kau harus bersungguh sungguh ingin sembuh, jika tidak semua yang kita lakukan ini percuma!.”


“ Maaf, maaf... kali ini aku akan benar benar serius.”


Seperti itulah kemarahan Dokter Hana yang saat ini melihat rekam medis terbaru. Masih tidak fokus, kekesalan akan menurunnya perkembangan kemampuan diri, kembali membuatnya naik pitam setelah sebelumnya berhasil memberikan laporan yang baik.


Semingu sudah menjalani terapi ini, meski Byana banyak perkembangan, dia masih kesulitan untuk menentukan titik fokusnya untuk mengalihkan pikiran jika dalam keadaan mendesak. Byana yang menyadari itu pun hanya dapat menundukkan kepalanya.


“ Haruskah aku, menceritakannya?.”


“ Jika kau ingin sembuh... jika tidak pergi dari sini dan jangan buang waktuku!.”


“ Oke, oke... aku akan bercerita padamu.”


Pikiran Byana pun seolah langsung melayang mendengar detuk jarum jam yang khusus dimiliki oleh seorang psikolog. Terbawa suasana, Byana pun mulai menceritakan apa saja yang dia alami selama tiga hari kebelakang secara detail tanpa terlewat sedikit pun.


Merekam dan mencatat semua hal yang Byana ceritakan, Hana pun hanya terdiam dan meminta Byana untuk kembali datang pada lusa hari berikutnya. Selama masa waktu itu, Hana hanya meminta Byana untuk terus menitikkan fokusnya meski dalam kondisi sulit.


Pagi kembali menyambut dengan sinar matahari yang menyilaukan. Sudah cukup waktu untuk Byana bersedih karena kenyataan tidak akan dapat mengerti arti dari kesedihannya. Byana pun memilih untuk bangkit meski dalam hatinya merasa lirih.


( TOKK TOKK )“ Byana... kau sudah bangun?” tanya Tante Lesti saat mengetuk kamar Byana.


“ Ya Tan?, ada apa?” tanya Byana dengan mata yang juga terlihat sembab.


“ Nak... semalam Aldrik datang lagi dan tidak pulang. Dia masih berada didalam mobil depan rumah. Sudah beberapa hari dia seperti ini. Menurutmu baik?” tanya Tante Lesti pada Byana.


“ Tidak baik sama sekali, Tan... sepertinya, sudah waktunya Byana kembali ke kediaman Aldrik.” Balas Byana sembari tersenyum.


“ Nak... jika ada yang bisa kami lakukan untuk merubah keputusanmu, maka akan kami la---”


“ Tidak ada dan tidak bisa, Tan... Om... bukankah sudah kita bahas sebelumnya?,” jawab Byana dengan kembali tersenyum dan masuk kedalam kamarnya membereskan barang barangnya kembali.


Sudah tidak lagi dapat dihentikan akan rasa kekhawatiran yang semakin berkecambuk. Tante Lesti berlari menuruni anak tangga dengan terburu buru menghampiri Aldrik yang masih saja diam didalam mobil depan rumah.


Terkejut melihat Tante Lesti yang berjalan kearahnya, Aldrik pun turun dari mobil dan dengan menarik tangan Aldrik, Tante Lesti membawanya masuk kedalam rumah untuk berbicara kembali empat mata dengannya.

__ADS_1


“ Dengar, aku tidak mengerti akan alasan atau hal lain yang terjadi dengan Byana yang saat ini berniat kembali ke kediamanmu. Aldrik, perasaan ini benar benar tidak tenang...” ucap Tante Lesti dengan mulai menitikkan airmatanya lagi.


“ Byana... dia, bersedia kembali ke...” ucap Aldrik merasa tidak percaya.


“ Ya. Dia memilih untuk tetap berada disisimu setelah apa yang terjadi. Kami sungguh sungguh tidak mengerti. Aldrik, beritahu kami sebuah alasan agar kami tenang melepas Byana kembali ke kediaman dan berada disisimu.” Ucap Om Dhika begitu tegas.


Aldrik memperlihatkan luka ditangannya yang saat itu terbalut perban. Terlihat jelas luka goresan panjang pada telapak tengah tangannya yang belum hilang bahkan masih sedikit memerah. Tertegun pada luka itu, mereka pun akirnya menatap pada Aldrik.


“ Luka ini saya dapatkan saat akan pulang kemari dari perusahaan. Alex, salah satu pria yang menyukai Byana menghadang mobil saya dengan begitu berani menanyakan alasan kenapa Byana tidak dapat dihubungi dan mengira saya mengurung Byana di kediaman saya.”


“ Alex?, siapa dia?... kenapa kami baru mendengarnya?” tanya Om Dhika kebingungan.


“ Ya, karena memang baru baru ini dia kembali ke indonesia dan ternyata menaruh hati pada Byana. Luka ini saya dapat saat tidak sengaja melakukan perlawan ketika dia mencoba untuk datang kemari menemui Byana. Dia pria yang berbahaya, hanya itu yang dapat saya katakan pada Ibu dan Bapak.”


Tatapan mata Tante Lesti dan Om Dhika yang akhirnya saling menatap pun dapat melihat jelas keseriusan Aldrik dalam hubungannya bersama Byana. Tidak terlihat kebohongan sedikit pun dimata Aldrik saat ini ketika berbicara. Ketulusan pun dapat terasa jelas dari raut wajahnya.


“ Masalah pertunangan saya, saya sangat memohon maaf pada Ibu dan Bapak. Tapi tidak sedikit pun saya berniat berhubungan dengan wanita lainnya, selain Byana. Jadi saya mohon berikan saya kepercayaan kembali untuk membuktikannya.”


“ Lalu, bagaimana dengan keluargamu?” tanya Om Dhika kembali begitu serius.


“ Urusan keluarga Mahendra akan saya bereskan secepat mungkin. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir karena ini pertama dan terakhir kalinya Ibu dan Bapak, terkhusus Byana mengalami hal seperti ini... saya memohon maaf pada anda semua.”


Aldrik membungkukkan tubuhnya penuh hormat dengan rasa penyesalan begitu mendalam. Tak urung akan Om Dhika dan Tante Lesti yang merasa tidak nyaman atas Aldrik yang membungkuk, luluh hati pun kembali datang dengan Om Dhika yang memeluk Aldrik erat seraya memaafkannya dan memohon menitipkan serta melindungi Byana.


Aldrik yang akhirnya merasa lega, menutupkan kedua matanya seraya menahan tangis akan restu yang kembali ia dapatkan dari kedua orang tua yang hampir saja membuangnya. Juga tak ingin kekurangan rasa kasih sayang kembali, Aldrik pun membalas pelukan Om Dhika dengan erat.


Byana yang mencuri pandang dan dengar dari lantai atas pun akhirnya sedikit dapat tersenyum meski dalam hatinya begitu tergores luka yang dalam. Kesalahpahaman diantara mereka pun belum selesai, namun mereka harus tetap melanjutkan sandiwara hubungan kontrak.


“ Byana...” ucap Aldrik saat menatap Byana yang menuruni anak tangga.


“ Aku akan pulang bersamamu sekarang. Tapi sebelumnya ada yang harus aku la---”


“ Terima kasih... terima kasih Byana.” Aldrik tanpa segan memeluk Byana erat dihadapan Om Dhika dan Tante Lesti yang terlihat memalingkan kepalanya.


“ Lepaskan... apa kau tidak malu dilihat mereka?!” ucap Byana mencoba mendorong pelan Aldrik.


“ Sebentar saja... hanya sebentar biarkan aku memelukmu.” Bisik Aldrik pada telinga Byana.


Entah karena rindu atau terhipnotis wangi parfum dari aroma tubuhnya, Byana pun menikmati waktu saat dekapan penuh kehangatan itu begitu erat memeluknya. Namun tetap tidak bisa melupakan rasa sakit hati, Byana pun akhirnya mendorong Aldrik dan mereka pun pulang bersama.


Sepanjang perjalanan Byana kembali terdiam. Aldrik yang mengemudikan mobilnya pun menjadi serba salah dan takut untuk memilih topik pembicaraan mengingat terakhir kali kejadian bersama Gestara.


“ Luka itu... gara gara Alex?. Dia benar benar menghadang mobilmu?” tanya Byana dengan tidak menatap pada Aldrik.


“ Ya. Dia berniat untuk datang ke rumahmu. Tanpa sengaja ada besi pembatas jalan yang menonjol keluar dan tanganku tergores saat menarik memaksa Alex untuk pergi.”


“ Jadi, kau tidak pulang malam itu karena alasan ini?” tanya Byana mulai bernada rendah.


“ Ya. Aku dibawa Gestara ke rumah sakit dan mendapat beberapa jahitan. Dari situ aku mendapat kabar bahwa aplikasi reksa dana kembali dapat ancaman virus yang dikirimkan oleh Gerry dan Alex. Aku terlalu fokus bekerja hingga lupa waktu.”


“ Aku... sempat datang ke....”


“ Aku tahu. Maaf aku tidak menyambutmu tapi percayalah aku menghabiskan bekal makanan yang kau buat. Serta, saat itu Vlora memaksa memasangkan dasi untukku karena aku ada pertemuan penting dengan salah satu klien. Tanganku terluka, jadi saat itu---”


“ Cukup. Aku mengerti, kau tidak perlu menjelaskannya.”


“ Byana, sepertinya kau salah paham akan maksud dari omonganku wak---”


“ Bisa berhenti sebentar di toko itu?. Aku mau beli pembalut.”

__ADS_1


Lagi lagi mengalihkan pembicaraan. Entah kapan aku bisa benar benar menjelaskan apa isi hatiku padamu. Byana, apa kau tidak bisa memberikan waktu untukku agar bisa menjelaskannya?.


__ADS_2