
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
"Lagi patah hati Om?" Tanya gadis yang duduk disamping Donny sambil mengunyah permen karet di mulutnya. Seperti nya dia masih mahasiswa.
Donny mengalihkan pandangan nya kearah gadis itu. Dia menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Kenapa Om terpesona yaa sama Zion?" Godanya tersenyum mengedipkan matanya jahil.
Donny malah mendelik. Entah siapa gadis ini? Jika dilihat-lihat seperti ada keturunan China nya karena terlihat dari mata nya yang sipit dan kulit yang putih bersih.
"Lagi patah hati ya Om?" Goda gadis itu. "Alah, enggak usah dipikirin Om. Diluar sana masih banyak kok cewek yang mau sama Om. Beneran dehhh," ucapnya sambil meletup-letup kan permen karet dimulutnya.
"Bukan urusan kamu," ketus Donny bergeser. Dia risih sendiri melihat gadis itu yang tampak mengunyah permen nya seperti anak kecil.
"Yang bilang urusan Zion siapa Om?" Gadis itu malah ngakak sendiri. "Anak Om udah berapa sih? Kok masih patah hati aja? Lagi marahan sama istrinya," ledek gadis itu dengan kedua kaki nya yang bersilang dan permen karet yang dia kunyah.
"Kamu pikir saya Om-om. Saya belum nikah," ketus Donny.
"S-serius Om belum nikah?" Tanya gadis itu setengah tak percaya.
"Emangnya kenapa?" Tanya Donny ketus.
"Ohhh my God. Kenapa banyak sekali lelaki Indonesia yang jomblo?" Gadis itu geleng-geleng kepala. "Om mau enggak nanti Zion jodohin sama Tante nya Zion yang udah janda Om? Suaminya baru ninggal kemarin Om, kasihan anaknya masih kecil. Cocok tuh sama Om," gadis itu menampilkan rentetan gigi putihnya saat Donny hendak marah.
"Kamu pikir saya suka janda apa?" Hardik Donny.
"Astaga Om, jangan marah-marah. Entar orang kira kita berantem lagi Om," celetuk gadis itu.
Donny mendengus kesal dengan wajahnya yang masam. Sebenarnya dia bukan tipe pemarah tapi kenapa dia bisa emosi berada didekat gadis ini? Padahal kenal juga tidak.
Hilang sudah kesedihan Donny yang sedang patah hati karena putus cinta setelah bertemu gadis aneh disampingnya ini.
Sedangkan gadis itu malah santai. Dia ikut menikmati kepadatan didekat bambu runcing. Biasa malam Minggu memang selalu padat karena banyaknya anak muda yang pergi berkencan dengan kekasih hati.
"Ehem, Om kenalin Zion?" Dia mengulurkan tangannya kearah Donny. "Om namanya siapa?" Tanya Zion masih setia mengulurkan tangannya.
"Donny," sahut Donny ketus tanpa peduli dengan uluran tangan Zion.
"Zion, Om," gadis itu menarik tangan Donny dengan paksa lalu menjabat nya untuk berkenalan dengan lelaki itu.
"Kamu...." Donny geram sendiri dengan gadis tersebut.
Zion malah tertawa sambil menggoda Donny. Lumayan dapat hiburan gratis menggoda lelaki dewasa seperti Donny.
"Om sibuk enggak?"
__ADS_1
"Kenapa?" Kening Donny berkerut.
"Komsel yuk Om. Kebetulan mulainya jam sembilan. Dari pada kita duduk diam aja disini mending kita ibadah," ajak Zion
Donny terdiam sejenak. Dia memang aktif dalam pelayanan gereja.
Donny mengangguk dan menerima ajakan Zion. Tidak ada salahnya. Anggap saja sebagai penenang diri saat menyembah nama-Nya.
.
.
.
.
.
"Jadi kapan kalian akan mempersiapkan pernikahan kalian?" Tanya Galang, Ayah Fajar.
"Secepat nya Pa, lagi persiapan," jawab Fajar.
Amira tersenyum, dia senang akhirnya putra sulungnya ini bisa melupakan Senja. Setelah keluar dari penjara Fajar memang mengalami banyak perubahan.
"Papa harap secepatnya. Jangan lama-lama," goda Galang.
"Elly gimana kerjaan kamu Nak?" Amira mengusap punggung calon menantunya itu.
"Lancar Ma," sahut Elly.
"Opa. Oma,"
Terdengar suara dari arah pintu masuk. Ada Bintang dan Bee yang masuk kedalam rumah dengan setengah berlari.
"Bee jangan lari-lari Nak," tegur Langit. Langit memang sedikit posesif dengan putri kecilnya itu.
"Iya Ayah," gadis kecil itu cenggesan.
"Bintang. Bee," Amira tersenyum hangat dan menerima pelukan kedua cucunya itu.
"Apa kabar cucu-cucu Oma ini?" Dia menciumi wajah Bintang dan Bee.
"Stoppp Oma. Jangan cium Bintang," Bintang langsung menahan Amira ketika hendak mencium pipinya.
Mereka semua tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Langit dan Senja menyusul masuk kedalam. Seperti biasa, Langit yang posesif luar biasa itu selalu memeluk pinggang ramping istrinya apalagi ada Fajar disana membuat lelaki itu mengeram kesal.
"Ma. Pa," Senja menyalami kedua mertua nya.
"Mas Fajar. Mbak Elly," tak lupa juga Senja menyalami tangan Fajar dan Elly.
Sedangkan Langit hanya menyalami kedua orangtuanya. Pria itu memang pendendam kuat, apalagi Fajar dulu pernah menculik istrinya hingga membuat istrinya itu terluka sampai kapan pun Langit takkan melupakan kejadian yang membuat hatinya sakit itu.
"Apa kabar kamu Senja?" Tanya Elly ramah. Sebenarnya Elly malu bertemu Senja karena dulu dia sangat jahat pada wanita itu.
"Puji Tuhan, Senja baik Mbak. Mbak apa kabar juga? Kapan nihh ke pelaminan?" Goda Senja sambil terkekeh. Sedangkan Langit tampak kesal.
"Sehat Ja. Doain aja cepat, hehe," sahut Elly asal.
"Ya udah Mama siapin makan malam dulu ya. Kalian menginap kan Langit?" Amira menatap putranya
Langit hanya mengangguk. Sebenarnya Langit terpaksa menginap disini karena permintaan Ayahnya. Dia malas sekali melihat wajah Fajar yang sudah membuat istrinya trauma itu.
"Biar Senja bantuin ya Ma," Senja berdiri dari duduknya.
"Sayang, enggak usah. Kamu kan enggak boleh capek," cegah Langit.
"Enggak apa-apa Mas. Masak enggak capek kok," sahut Senja.
"Elly juga mau bantuin Ma," sambung Elly berdiri dari duduknya.
"Ya udah ayo,"
Amira di bantu oleh kedua menantunya. Kedua menantu Amira memang terlahir dari keluarga yang berbeda. Terutama Elly yang terlahir dari keluarga kaya. Begitu juga dengan Senja, meski awalnya dia wanita miskin tapi nyatanya sang Ayah pemilik penerbit buku ternama dan memiliki beberapa cabang cafe yang cukup berkembang pesat.
"Apa kabar kamu Lang?" Tanya Fajar menatap adiknya.
"Baik Mas," sahut Langit, singkat padat dan jelas.
Fajar menghela nafas panjang. Dia tahu jika adiknya itu masih marah dan menaruh dendam padanya karena kejadian lima tahun yang lalu. Meski Fajar sudah meminta maaf pada Langit tetap saja lelaki itu dendam padanya.
"Kapan Mas persiapkan pernikahan Mas?" Tanya Langit mengalihkan pembicaraan. Semakin cepat Fajar menikah maka Fajar tidak akan berani mendekati istrinya
"Secepatnya. Mas lagi mempersiapkan semuanya," jawab Fajar.
"Kalau butuh apa-apa, Mas bilang aja," sahut Langit.
**Bersambung...
Hai guys...
__ADS_1
Jangan lupa like. Komen dan vote buat author. Maksih**.