Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 42


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫


Aku keluar dari mobil. Untung Bintang bisa di bujuk agar tetap stay didalam mobil. Aku takut Bintang merenggek keluar. Anak kecil seperti nya tidak boleh melihat pertengkaran orang dewasa karena itu bisa saja menguncang jiwanya.


"Senja." Ketiga pria itu menoleh kearahku.


Aku menatap Mas Reza dengan penuh kebencian, amarah dan kekecewaan. Entah kemana cinta yang selama ini aku pertahankan untuk Mas Reza, semua seolah hilang ketika dia menamparku kemarin. Awalnya aku berniat mempertahankan rumah tangga ini barangkali Mas Reza mau saling memperbaiki tapi nyatanya dia malah membuatku menyerah duluan.


"Senja, jangan tinggalin Mas. Mas enggak mau kehilangan kamu."


Tanpa permisi pria ini memelukku sambil menangis. Entah apa yang membuatnya menangis? Jika saja dia mempertahankan ku karena cinta mungkin aku bisa memberinya kesempatan. Tapi ini hanya demi keuntungan dirinya. Demi jabatannya demi uangnya.


Aku terdiam tak membalas sama sekali pelukkannya. Aku tidak menolak dan tidak juga membalas. Aku hanya diam saja membiarkan dia berbicara.


Mas Langit dan Mas Dicky juga hanya terdiam melihat Mas Reza yang memelukku.


"Mas mohon jangan tinggalin Mas. Mas enggak mau kehilangan kamu. Mas enggak bisa tanpa kamu."


Mengingat pesan yang dia kirim padaku membuat hatiku semakin sakit, seorang suami tega mengatakan jika istrinya ****** dan perempuan murahan. Perkataan itu sungguh begitu menusuk kedalam relung hatiku terdalam. Rasanya sangat sakit. Benar-benar sakit, bagai ditusuk ribuan pisau.


Aku melepaskan pelukan nya. Kenapa hatiku tidak bergetar lagi seperti biasanya? Biasanya melihat wajah Mas Reza saja jantung ku bisa berdebar, tapi kali ini dipeluk pun aku tetap biasa saja. Apakah perasaan ku sudah mati untuk Mas Reza, akibat luka yang dia turihkan begitu dalam dihatiku.


"Maaf Mas, aku enggak bisa bertahan sama Mas. Aku mau kita pisah Mas. Sampai ketemu dipengadilan nanti Mas. Maaf." Ucapku.


Dia menggeleng "Enggak Senja. Mas enggak mau. Kehilangan kamu sama juga Mas kehilangan segalanya. Tolong kasihani Mas." Dia masih egois sangat egois. Cukup. Aku tak ingin menangis untuk kali ini.


Aku tersenyum kecut "Maaf Mas, aku bukan bukan barang yang Mas pakai saat Mas sedang butuh. Aku punya hati Mas. Aku punya perasaan. Mas pertahanin aku, bukan karena cinta tapi karena uang dan jabatan. Aku manusia biasa Mas, aku bukan malaikat Tuhan yang selalu sabar saat dirinya enggak dianggap." Lolos, lolos sudah lelehan tanpa warna ini di pipiku. Sial kenapa air mataku tidak bisa ditahan?


"Kamu enggak akan bisa lepasin Mas. Kamu cuma milik Mas Senja. Mas enggak akan lepasin kamu dan Mas enggak mau cerai sama kamu. Mas enggak mau."


"Lepasin Mas." Dia mencengkram tangan ku.


"Jangan kasar." Mas Langit langsung menarik ku "Jangan coba-coba menyakiti Senja." Tegas Mas Langit.


Prok prok prok prok prok


Dia bertemu tangan tangan sambil mengejek. Padahal Mas Reza masih memakai pakaian dinasnya tapi berani sekali berulah seperti ini.


"Ini alasan Senja mau pisah sama saya? Gara-gara anda dokter. Anda menghancurkan rumah tangga saya, dokter. Anda yang sudah meracuni pikiran Senja supaya pisah sama saya kan?"

__ADS_1


"Mas." Aku menggeleng


"Kenapa Sayang? Kamu takut perselingkuhan kamu sama dia Mas bawa ke pengadilan nanti?" Mas Reza tersenyum licik "Kamu bisa dituntut balik lho." Ujarnya tanpa dosa.


"Silahkan. Silahkan Pak Reza yang terhormat. Saya enggak takut." Tantang Mas Langit "Dan benar saya yang minta Senja buat cerai sama Anda. Kenapa? Karena saya enggak suka Senja dipermainkan oleh pria brengsekkkk seperti anda."


Mas Langit menggeser ku dibelakang nya agar berlindung padanya. Sedangkan aku sudah ketakutan.


"Brengsekkkk."


Brughhhhhhhhhh


Aku langsung melindungi Mas Langit ketika Mas Reza hendak memukul nya dengan kayu dan kulihat kayu itu ada pakunya. Dari tadi kayu itu memang berada didekat mobilnya.


"SENJA."


Pandangan ku mulai kabur. Tapi aku masih ingat teriakkan Mas Langit dan Mas Langit. Seperti nya paku ini menancap dikepalaku dan aku tidak bisa jelaskan sakitnya. Yang pasti aku merasakan darah keluar dari bagian kepala ku.


"SENJA." Mas Langit memangku kepalaku. Kulihat dia menangis.


Lalu aku melirik Mas Dicky yang memukul Mas Reza dengan membabi buta sampai Mas Reza tak memiliki kesempatan untuk melawan.


"M-ma-s t-tid-ak ap-a-ap-a?"


.


.


.


.


Aku duduk dibangku taman ini. Suasana nya sejuk dan dingin. Nyaman sekali disini.


Aku memejamkan mataku menikmati angin yang melayangkan rambut panjang ku. Menikmati setiap udara yang masuk kedalam rongga dadaku.


Tempat ini sangat nyaman. Tempat ini membuat perasaan ku kembali membaik. Tidak ada rasa sakit disini. Tidak ada tangis. Tidak ada air mata. Yang ada hanya kebahagiaan setiap harinya.


"Bunda." Teriak seorang bocah kecil.

__ADS_1


Mataku terbuka dan menatap kearah suara anak kecil itu.


"Bintang." Gumamku.


"Bunda." Senyumnya tampak manis. Kami sama-sama memakai pakaian putih.


"Bintang." Aku berdiri dan menyambut pelukkan Bintang.


"Bunda." Bintang berhambur memelukku seperti biasa "Bintang kangen sama Bunda." Ucapnya tulus, perkataan yang selalu dia katakan setiap hari.


"Bunda juga kangen sama Bintang."


Ikatan batin antara aku dan Bintang seperti Ibu kandung dan putranya. Meski Bintang bukan siapa-siapa ku tapi sungguh aku menyanyangi pria kecil ini.


Dia melepaskan pelukannya dan tersenyum hangat seperti biasa. Wajah Bintang jauh lebih tampan dari biasanya.


"Bintang ngapain disini? Ayah mana?" Aku celingak-celinguk mencari Mas Langit.


"Bintang disini mau bawa Bunda pulang, Ayah udah nungguin dilumah. Ayo Bunda kita pulang." Dia menarikku berdiri dan menggandeng tanganku.


"Pulang kemana Sayang? Bunda enggak mau pulang. Bunda mau nya disini aja. Bintang sama Bunda disini ya?" Mana mungkin aku meninggalkan tempat senyaman ini.


Bintang menggeleng "Tapi kata Ayah, Bunda halus pulang sama Bintang. Pulang ke lumah kita Bunda. Lumah Opa sama Oma." Sahutnya


Biasanya Bintang jika aku bujuk rayu akan langsung menurut. Tapi kenapa kali ini dia tidak mengikuti kataku untuk tetap tinggal disini?


"Tapi_."


"Ayo Bunda. Ayah udah nungguin." Dia menarik tanganku dengan paksa.


"Bintang pelan-pelan Nak." Tegurku.


"Enggak bisa Bunda. Kita harus cepat." Desaknya.


Sebenarnya berat meninggalkan tempat nyaman ini. Tapi aku tak bisa menolak permintaan Bintang yang ingin aku pulang. Tapi pulang kemana? Aku kan tidak tinggal dengan mereka.


Sesekali aku melirik bangku tempatku duduk tadi. Ingin kembali tapi tangan Bintang terus menarik ku menjauhi taman ini.


Sebenarnya Bintang mau membawaku kemana? Jujur disini lebih nyaman dari pada disana. Pasti disana nanti aku akan menangis lagi gara-gara Mas Reza. Aku takut bertemu dengannya. Aku takut dia menyakiti ku lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2