
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Senja POV
Drt drt drt drt drt drt drt drt drt
Drt drt drt drt drt drt drt drt drt
Aku menatap takut ponselku dari tadi Mas Reza terus menelpon. Sumpah demi apapun kenapa sekarang aku benar-benar takut pada suamiku?
Ting
'Angkat Senja! Mas pengen ngomong sama kamu. Kenapa kamu laporin pernikahan Mas ke kesatuan. Sekarang Mas dipanggil sama Kapten Divta. Pokoknya Mas enggak mau pisah sama kamu. Mas enggak bisa kehilangan kamu. Angkat Senja.'
Drt drt drt drt drt drt drt drt drt drt drt
Drt drt drt drt drt drt drt drt drt drt drt
Drt drt drt drt drt drt drt drt drt drt drt
Drt drt drt drt drt drt drt drt drt drt drt
Aku tersenyum kecut ketika membaca notifikasi pesan yang masuk kedalam ponsel ku. Egois, sungguh-sungguh egois. Dia mempertahankan ku hanya karena jabatan dan takut kehilangan pekerjaan, bukan karena mencintaiku apalagi takut kehilanganku.
Ting
'ANGKAT SENJA. KAMU DIMANA SEKARANG. JANGAN BUAT MAS MARAH. KALAU KAMU ENGGAK MAU ANGKAT, BALAS PESAN MAS. JANGAN CUMA DIBACA.'
Dia mengirim pesan dengan huruf kapital yang artinya dia marah besar. Untung saja dia tidak tahu rumah Mas Donny. Aku takut Mas Reza malah datang kesini dan mencari ku. Aku tidak mau pulang. Aku tidak mau bertemu dengan nya lagi.
Ting
'Atau sekarang kamu lagi sama Dokter Langit? Kamu lagi melakukan sama dia. Dasar perempuan ******.'
Aku memejamkan mataku sejenak. Tanpa permisi lelehan bening ini kembali lagi menetes dipipiku. Sekejam-kejamnya lelaki dia takkan mengatakan istrinya sendiri perempuan ******. Aku bukan perempuan ******. Mas Langit sudah seperti Kakak kandungku sendiri.
__ADS_1
"Kamu jahat Mas. Kamu jahat." Dan aku menangis lagi. Jiwaku rapuh.
Ting
'Senja tolong balas pesan Mas. Kamu enggak akan bisa pergi dari Mas. Kamu cuma milik Mas. Mas enggak akan pernah lepasin kamu.'
Aku masih hanya membaca saja chat yang dia kirim lewat aplikasi ini. Dia tidak akan bisa mencegah ku lagi. Keputusan ku sudah bulat. Aku ingin berpisah dari nya. Toh selama ini dia juga tidak pernah mencintai ku dia menikahi ku demi jabatannya. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apa hubunganku dengan jabatannya? Bahkan aku tidak memiliki hubungan apapun tentang dunia kemiliteran.
Aku menyeka air mataku dan menyimpan ponsel ku diatas nakas. Untung aku memiliki dua orang Kakak yang benar-benar peduli padaku.
Aku keluar dari kamar. Sebenarnya hari ini pertemuan ku dengan Mas Chandra dan Boss nya untuk membahas penerbitan buku yang sudah aku tandatangani kontrak nya. Tapi Mas Donny tak mengizinkan ku keluar sampai sidang perceraian ku selesai dengan Mas Reza.
"Mas."
Aku berjalan menghampiri Mas Donny yang tampak sibuk dengan berkas diatas mejanya. Dia kepala bagian dalam mengurus proyek seperti pembangunan sekolah jembatan dan gedung-gedung besar lainnya. Jadi tak heran jika dia sibuk. Untung pun Mas Donny belum ada job ke luar kota. Biasanya dia jarang tinggal dirumah.
"Ehhh adik Mas." Dia tersenyum hangat "Sini temanin Mas kerja." Dia bergeser sambil menepuk ruang kosong disampingnya.
"Iya Mas." Aku duduk dan tersenyum "Sibuk amat Mas?" Ucapku.
"Ya seperti biasa lah. Kamu juga tahu kerjaan Mas." Senyumnya.
Seandainya saat aku lulus SMA kemarin kedua Mas-ku sudah sukses seperti ini, pasti aku bisa mengenyam pendidikan dibangku kuliah. Sayang saat itu mereka belum menjadi apa-apa.
"Kamu habis nangis?" Mas ku yang satu ini memang terlalu peka dengan keadaan ku.
"Enggak kok Mas." Kilahku.
Mas Donny meletakkan bolpoin ditangannya dan menatapku.
"Jangan bohong Ja. Mas tahu kamu habis nangis. Mas kenal kamu. Ayo cerita sama Mas. Jangan bilang kamu nangisin pria brengsekkkk itu lagi?" Mas Donny menatapku dengan selidik.
"Mas." Kembali mataku berkaca-kaca.
"Ayo cerita sama Mas. Pelan-pelan ceritanya." Mas Donny mengenggam kedua tanganku.
__ADS_1
Aku mengambil ponsel yang masih kuletakkan diatas nakas kamarku. Dan menunjukkan pesan Mas Reza.
"Ini Mas."
Mas Donny mengambil ponsel itu. Dia tampak menatap serius layar ponsel yang terbubuhkan tulisan elektronik disana.
"Brengsekkkk." Mas Donny mencengkram kuat ponselku.
"Kamu tenang aja. Enggak usah takut. Mas akan jagain kamu. Kita tunggu surat gugatan itu sampai ke pengadilan." Ucap Mas Donny meletakkan ponselku. Dia tampak marah setelah membaca pesan yang ada di ponselku.
"Mas." Mataku kembali berkaca-kaca "Senja takut Mas. Senja takut Mas Reza nyariin Senja disini Mas. Senja enggak mau ketemu dia lagi." Aku berusaha menahan tangis. Tapi nyata nya justru air mata ini jatuh begitu saja.
Jujur jauh didalam lubuk hatiku. Aku sangat mencintai Mas Reza. Dia cinta pertama ku. Lelaki pertama yang mengambil hatiku. Lelaki pertama yang mengambil mahkota. Mengambil sesuatu yang kujaga dengan susah payah. Aku sungguh begitu mencintainya. Sangat. Tapi sekarang aku sadar cintaku hanya sebatas bayang nya. Dia tega menghianati kepercayaan yang sudah kami bangun dengan susah payah.
"Stttt." Mas Donny menarik ku kedalam pelukannya "Senja jangan takut, ada Mas disini yang jagain Senja. Ada Mas Dicky juga. Senja enggak sendirian. Mas enggak akan ninggalin Senja." Ucapnya tulus. Aku merasa terlindungi. Pelukkan ini begitu nyaman. Sangat nyaman.
"Mas." Aku terisak didalam pelukkan Mas Donny.
Aku menangis sampai susah bernafas. Menangis. Melampiaskan segala amarah dan kecewa yang membelenggu dadaku. Aku tahu menangis takkan menyelesaikan masalah ku tapi menangis dapat memberi kelonggaran didalam sana.
Mas Reza begitu tega. Mas Reza sangat. Dia menghancurkan seluruh hidup dan kepercayaan ku.
Mas Donny melepaskan pelukannya "Ini terakhir kamu nangisin pria brengsekkkk itu. Untuk lain kali Mas enggak mau liat kamu nangis lagi gara-gara dia." Mas Donny mengusap pipiku yang basah "Kamu enggak pantas nangisin pria seperti itu. Kamu terlalu berharga untuk orang murahan seperti Reza."
Aku mengangguk. Percayalah orang-orang yang sedang patah hati mereka tak butuh kata-kata manis atau sekedar penguat iri. Mereka hanya butuh pelukkan hangat dan temani dia hingga perasaan sakit itu lelah menyiksa nya.
"Kalau ada waktu ntar kita pulang kampung ketemu Bapak sama Ibu. Jangan nangis lagi ya?"
Aku mengangguk. Bapak tiriku tidak menyukai ku dari dulu. Aku tidak tahu apa yang membuat nya membenciku. Itulah sebab nya aku jarang bertemu dengan Ibu. Setiap kali pertemuan ku dan Ibu selalu mengundang pertengkaran hebat diantara Bapak dan Ibu.
"Senja bikinin Mas kopi ya?" Ucapku menyeka air mataku.
"Iya Senja." Mas Donny tersenyum.
Aku melangkah ke dapur membuatkan Mas Donny kopi kental manis kesukaan nya.
__ADS_1
Meski ribuan orang mengucapkan kata-kata penguat takkan membuat hatiku kembali membaik. Luka dihatiku takkan bisa di obati oleh apapun.
Bersambung......