Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 80


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Fajar POV


Aku meringguk dibalik jeruji besi ini dalam kondisi yang tak sepatutnya. Tubuhku terasa dingin saat duduk seperti ini dengan tatapan kosong.


"Senja," lirihku


Senja Mentari, gadis kecilku. Gadis yang sudah kunantikan selama kurang lebih 15 tahun. Tak menyangka jika takdir mempertemukanku kembali dengannya. Namun dalam keadaan yang sudah berbeda. Tak kusangka Senja adalah wanita yang selalu diceritakan Langit dan Bintang padaku.


"Kenapa kamu ninggalin saya Senja. Kenapa kamu malah pilih Langit dari pada saya?"


Belasan tahun aku mencari keberadaan nya dan saat sudah dipertemukan kembali tapi dia justru jadi milik Langit. Aku tak menyangka jika Senja kecilku dulu tumbuh menjadi wanita cantik luar biasa. Paras cantiknya sama sekali tak berubah. Sikap lembut dan manjanya membuatku seolah kembali lagi ke masa dimana aku mengobati luka-luka dikaki dan bagian tubuh lainnya.


Aku terkejut ketika pertama kali melihat nya dirumah sakit, jantungku seolah berhenti berdetak tak menyangka jika penantian sekian belas tahun akhirnya dipertemukan oleh takdir yang tega mempermainkan aku. Namun kenapa dia melupakan aku. Dia sama sekali tak mengingat aku. Padahal aku berharap dia masih mengingat wajahku lalu berlari kearahku sambil mengatakan rindu.


Aku tidak ikhlas dia menjadi milik Langit. Senja adalah milikku. Aku yang pertama kali bertemu dengannya. Aku yang pertama kali mengenalnya. Bagaimana bisa Langit yang memiliki nya. Aku tidak terima. Sangat tidak terima.


Saat tahu Senja sakit parah, aku hampir saja jantungan ketika mengetahui penyakit yang bersarang ditubuh Senja. Aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk mencari obat yang bisa menyembuhkan penyakit gadis kecilku itu. Setelah dia sembuh aku akan membawa nya pergi. Aku takkan membiarkan Langit memiliki nya. Aku sudah memperingatkan Langit jika dia sampai gagal menjaga Senja maka aku adalah orang pertama yang akan mengambil Senja dari sisinya. Tak peduli jika dia adikku.


Nyatanya aku tak sabar memiliki Senja. Aku tak bisa hidup tanpanya. Selama 15 tahun aku berusaha mengalihkan perasaan ku pada wanita lain hingga aku disakiti oleh kekasihku sendiri, dikhianati dan tinggalkan begitu saja. Hal itu kembali membuat hatiku tertutup dan memang benar hanya Senja yang bisa menerima aku apa adanya tanpa menyakiti hatiku.


"Senja, saya mencintai kamu Senja,"


Aku sungguh mencintai Senja. Sangat mencintainya. Akibat perasaan dan obsessiku. Aku menculik dan menyakitinya. Aku telah membuatnya ketakutan. Aku telah melukainya. Bagaimana kalau dia trauma karena perbuatanku itu? Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Senja. Tapi aku sudah menyakiti nya.

__ADS_1


Kupikir setelah menculik Senja, dia akan kembali mengingatku lalu mencintaiku seperti aku mencintainya. Nyatanya aku salah bagaimana pun usahaku memisahkan Senja dan Langit tetap saja Senja akan kembali kepada Langit.


Aku menyesal karena telah berbuat kasar padanya. Aku menyesal telah membuat dia ketakutan karena diriku. Aku sungguh menyesal rasanya telah menyakiti wanita ini. Mengingat air mata yang jatuh di pipinya membuat dadaku sesak. Kupikir dengan cara menculiknya dan meminta nya menikah paksa denganku kami akan berakhir bahagia. Tapi nyatanya, memaksa sesuatu yang tidak tertakdir itu memang akan berakhir menyakitkan.


"Maafkan saya Senja," gumamku air mata menetes.


Aku tak menyangka cinta yang kuharapkan akan kembali berlabuh ini malah berakhir ditengah jalan. Malah memilih jalan yang lain dan menyerah sebelum berjuang keras dengan ku. Memilih cara bahagia yang tidak sejalan denganku.


"Pak Fajar, silahkan keluar. Orangtua anda ingin bertemu dengan anda," salah seorang polisi membuka pintu jeruji besi ini.


Aku memakai baju tahanan berwarna Orange yang sekarang akan menjadi seragamku selama beberapa tahun disini. Aku tak pernah bermimpi tinggal ditempat menjijikan ini. Namun karena perbuatanku sendiri malah membuatku menjadi salah satu penghuni disini.


Aku mengangguk dan berdiri dari dudukku lalu keluar sambil menunduk. Pasti Papa akan sangat marah besar. Aku tahu Papa bagaimana orangnya, dia tidak suka jika melakukan kesalahan seperti ini. Apalagi memang disengaja.


"Fajar,"


"Ma,"


Plakkkkkkkkkkkkkkkk


Satu tamparan mendarat dipipiku. Pipiku terasa panas sekali dan sudut bibirku mengeluarkan darah segar. Aku tak dapat melawan karena ini memang salahku.


"Apa yang udah kamu lakuin sama Senja, Fajar?" Bentak Papa, "Apa kamu tahu bagaimana kondisi nya sekarang, hah?"


"Pa, sabar," Mama berusaha menenangkan Papa yang tampak marah besar.

__ADS_1


"Dia harus tahu Ma kesalahan nya. Dia harus tahu bahwa yang dia sebut cinta itu hanya obsesi,"


Aku menunduk malu. Ini pertama kalinya kulihat Papa marah sebesar ini padaku. Bahkan sebelumnya Papa tidak pernah marah.


"Maaf," ucapku sambil menunduk malu.


"Maaf? Kamu pikir kata maaf kamu itu bisa buat Senja pulih, hah?" Bentak Papa, "Kamu tahu Fajar akibat perbuatan kamu yang tidak berperikemanusiaan itu kamu tidak hanya menyakiti Senja tapi kamu juga menguncang jiwa Bintang. Bintang dan Senja sekarang....." Papa tampak terduduk sambil menggeleng


"Pa tarik nafas dulu," Mama mengelus dada Papa membiarkan Papa menetralkan emosinya.


Papa tampak menggeleng sambil menunduk. Dia adalah pria yang selalu mampu menahan emosi. Tapi jika kali ini emosi nya meledak berarti Papa benar-benar marah diluar batas.


"Fajar, sebenarnya apa yang kamu inginkan dari Senja? Dari awal Papa udah bilang kamu enggak bisa ambil Senja dari pelukan Langit. Tapi kamu malah memaksakan. Kamu tahu gimana kondisi Senja sekarang Fajar? Kamu tahu?" Bentak Papa lagi.


Aku menunduk dan tak berani melihat wajah Papa yang merah padam akibat perbuatanku. Air mataku luruh. Apa yang terjadi pada Senja? Apa dia baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu padanya? Jika sampai terjadi sesuatu pada Senja, aku takkan memaafkan diriku sendiri.


"Kamu harus menerima hukuman kamu. Kamu harus tanggung sendiri kalau Langit sampai datang kesini dan menghajar kamu. Papa sudah angkat tangan. Kamu tahu kan gimana kejamnya kalau Langit marah?"


Aku tak dapat berkata apa-apa. Tentu aku tahu bagaimana kejamnya Langit jika dia marah. Dia lebih menyeramkan dari malaikat pencabut nyawa.


"Fajar," Mana mengusap lenganku, "Semoga kamu berubah. Jujur Mama kecewa sama kamu. Tapi Mama enggak bisa berbuat apa-apa untuk marah lebih. Mama tahu kamu punya alasan. Jadikan ini pelajaran, enggak baik memaksakan sesuatu yang bukan punya kamu," ucap Mama menatapku berkaca-kaca.


"Ma," Aku sedih melihat Mama menangis "Maafkan aku Ma." Aku menyesal seandainya bisa diulang kembali aku takkan menculik dan menyakiti Senja.


"Kamu harusnya minta maaf sama Langit dan Senja. Karena merekalah yang paling terluka disini,"

__ADS_1


**Bersambung....


Apakah yang terjadi pada Senja**?


__ADS_2