
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Senja POV
Aku tak lagi meremang dalam kesedihan yang terapal dalam kepalaku adalah bagaimana aku bertahan hari ini, esok dan nanti. Menangisi keadaan takkan membuat rambutku kembali tumbuh, takkan membuat tubuhku kembali sehat. Aku mulai menerima dan terbiasa dengan kondisi tubuh yang tak baik-baik saja. Mungkin ini proses pendewasaan dalam hidupku.
Setelah aku berhasil lepas dari jeratan Mas Reza, sekarang aku dijerat oleh penyakit yang menghilangkan seluruh rambutku. Kadang aku ingin bertanya pada Tuhan, kenapa Tuhan menunjukkan rasa cintanya seperti ini?
“Bunda,”
Bintang adalah salah-satu alasan kenapa aku bertahan hingga kini. Aku menangis terharu saat dia memangkas semua rambutnya agar menemaniku yang tak lagi memiliki rambut, agar aku tak merasa sendirian.
“Sayang, ayo dimakan martabak manisnya, ntar dingin enggak enak,” ucap Mas Langit
“Iya Mas,” sahutku
Martabak manis adalah salah satu makanan yang kusukai, jajanan receh tapi rasanya tidak recehan ini dulu menemani masa-masa SMA ku, apalagi setiap sore makanan ini dijual dipinggir jalan dan harganya juga terjangkau sesuai dengan rasa dan selera.
“Makan yang banyak Ja,” ucap Mbak Aisyah sambil memotong buah alpukat dan memasukkannya dalam piring.
“Iya Mbak. Senja suka banget martabak manis, apalagi kalau yang beli Babang tampan,” goda ku kearah Mas Dicky yang terkekeh.
“Tapi ingat enggak boleh banyak-banyak, enggak baik buat kesehatan kamu,” tegas Mas Dicky mengingatkan aku.
“Iya Mas, Senja tahu kok,” senyumku.
Yang lain hanya terkekeh dan tersenyum gemes. Setiap kali mereka datag kesini pasti membawa buah tangan. Apalagi Mas Dicky dia tahu kalau aku ini suka makan sejak dulu, dan kami sering makan dipinggir-pinggir jalan kota Pontianak jika malam minggu
“Ja, besok Ibu dan Bapak datang kesini mau jenggukin kamu,” ucap Mas Donny.
“Benar Mas?” Tanyaku senang, sudah lama aku tak bertemu dengan Ibu.
“Iya,” sahut Mas Donny
Drt drt drt drt drt drt drt
“Siapa Sayang?” Mas Langit melirik aku yang sedang menatap layar ponselku.
“Mas Chandra, Mas,” sahutku
“Mau apa dia?” Pria ini memang posesif tapi aku suka.
“Kangen kali Mas,” jawabku menahan tawa, sengaja menggoda lelaki pencemburu ini.
__ADS_1
“Kamu ya berani macam-macam,” dia menatapku tajam dengan wajah cemburut
Aku ngakak paling suka melihat wajahnya yang cemburu. Begitu juga yang lainnya geleng-geleng kepala saja.
“Bunda mau duain Ayah?” Ayah dan anak ini memang kompak membuatku terjerat.
“Hem kok Bintang ngomong gitu sama Bunda?” Aku sampai lupa menjawab panggilan Mas Chandra, “Sebentar Sayang,”
“Hallo Mas. Ohh boleh Mas. Pak Jaka mau ketemu besok, iya Mas aku tunggu,” aku lansgung menatap sambungan telponku tak berani melihat wajah Mas Langit dan Bintang yang kompak menatapku dengan tajam.
“Mau apa dia?” Mas Langit terdengar tidak suka.
“Mau ngelamar kali Mas,” jawabku menahan tawa.
“Kamu ya….. Bintang serang Bunda.”
“Iya Ayah,”
Kedua pria ini menciumi bagian wajahku dengan gemes, hingga aku tak mampu menahan tawa. Mas Langit akhir-akhir ini seperti anak kecil yang cemburuan luar biasa sekali hingga membuatku merasa benar-benar senang padanya.
"Hahah Mas geli. Geli Mas,"
"Ampun Bintang, ampun," aku ngakak
"Iya Ayah capek," seru Bintang juga "Minum dulu para kesayangan,"
"Sayang biar Mas yang ambil, kamu jangan gerak. Okey," sergah Mas Langit
"Iya Mas," aku hanya tersenyum simpul.
"Kalian gemes deh. Bikin iri," ujar Kak Hana, "Sayang kamu enggak pernah perhatian kayak gitu lho sama aku," Kak Hana bergelayut manja dilengan Mas Dicky.
"Apa nya yang kurang Sayang, aku perhatian kok sama kamu,"
"Huweekkk," Mas Donny serasa muntah mendengar gombalan Mas Dicky dan Kak Hana.
Hubungan dewasa adalah seperti Mas Donny dan Mbak Aisyah. Mereka sudah sangat lama pacaran, sejak aku SMA dulu mereka memang sudah pacaran. Tapi yang membuat aku heran kenapa sampai sekarang mereka masih betah dengan status yang sama? Padahal usia hubungan mereka terbilang tua kalau saja anak-anak sudah duduk dibangku sekolah.
"Bilang aja Mas iri," cibir Mas Dicky, "Iya kan Sayang?"
"Hem," Kak Hana hanya berdehem.
Sementara Mbak Aisyah wanita berhijab yang lemah lembut dan baik hati itu menampilkan senyuman manisnya. Wanita ini memang murah senyum.
__ADS_1
"Senja,"
Candaan kami terbuyarkan saat mendengar seseorang memanggil namaku. Kulihat Kak Divta datang dengan membawa sebuket bunga. Mau dia kasih untuk siapa?
"Kak Divta,"
Wajah Mas Langit dan Bintang langsung masam. Pasti kedua banteng pencemburu ini, kesal melihat kedatangan Kak Divta.
"Dokter Langit," sapanya menyapa Mas Langit.
"Hem, ada apa Kapten?" Mas Langit menatap tak suka.
"Saya ingin bertemu Senja, Dok," sahutnya
"Ja," Kak Divta menghampiri ku.
"Ini buat kamu," dia menyerahkan sebuket mawar merah dan putih, "Kakak ada dinas di Papua selama dua bulan, jadi mungkin enggak bisa jenggukin kamu. Jadi Kakak disini mau pamitan. Sekalian kasih kamu bunga. Ingat enggak dulu kamu suka banget tanam bunga ini ditaman sekolah?"
"Iya Kak, aku ingat banget. Makasih ya Kak," aku mencium bau harum dari bunga yang diberikan Kak Divta.
"Hem, silahkan duduk Divta," ucap Mas Donny mempersilahkan Kak Divta duduk.
"Aku enggak lama Don, cuma mau pamitan aja. Ini aku udah mau langsung ke Bandara," sahut Kak Divta melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan nya.
"Oh iya," kenapa senyum Mas Donny seperti tidak suka pada Kak Divta? Bukankah awalnya mereka bersahabat?
"Ja, Kakak pamit ya. Semoga kamu cepat sembuh," Kak Divta tersenyum hangat menatap kepala ku yang plontos tanpa sehelai rambut pun disana.
"Iya Kak hati-hati,"
Setelah berpamitan Kak Divta langsung melanjutkan perjalanan nya menuju Papua. Dulu aku memang dekat dengan Kak Divta tapi sebatas kawan. Dia adalah pria terfavorit serta ketua OSIS yang di gilai oleh para siswa perempuan.
"Hem, Lang. Kamu bawa aja Bintang pulang biar malam ini kami aja yang jagain Senja. Takut ntar Bintang sakit kalau lama-lama disini," ucap Mas Donny.
"Tapi,"
"Benar kata Mas Donny, Mas. Enggak apa-apa malam ini aku dijagain sama Mas Donny dan Mas Dicky aja. Mas istirahat dirumah. Titip salam sama Papa dan Mama," ucapku sambil tersenyum.
Mas Langit terlihat menghela nafas panjang. Jika ditanya apakah aku mencintai Mas Langit, aku tak bisa jawab. Aku tidak tahu apakah aku mencintai nya atau tidak yang pasti jika berada didekatnya. Aku merasa aman dan terlindungi, itu saja.
Bersambung....
Jangan lupa like. Komen dan Vote buat author ya guys...
__ADS_1
Love kalian banyak-banyak...........