
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
"Maaf ya Ja. Maaf ya Ky." Ucap Mas Langit tak enak hati pada aku dan Mas Dicky.
"Enggak apa-apa Mas. Tapi kalau dia sampai berulah. Saya enggak akan biarin itu terjadi Mas. Saya enggak mau ada orang lagi yang nyakitin Senja." Ucap Mas Dicky "Kamu enggak apa-apa kan Ja?" Tanya Mas Dicky lembut "Enggak usah dimasukkin dalam hati. Kasihan Bintang dia enggak ngerti apa-apa." Sambungnya kemudian.
"Senja enggak apa-apa kok Mas."
Berulang kali Mas Langit meminta maaf padaku dan pada Mas Dicky. Seperti nya dia merasa bersalah dengan ucapan Mbak Elly tadi.
Aku tidak memasukkan nya kedalam hati. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan masalah lain. Yang ada dipikiran ku sekarang adalah ingin segera lepas dari jeratan Mas Reza. Aku tidak mau bertahan lagi. Kali ini, aku tidak mau menuruti perasaan ku. Rasanya sudah terlalu sakit jika aku harus bertahan.
"Bunda, jangan tinggalin Bintang ya? Bintang enggak mau Bunda pelgi lagi. Bintang sayang Bunda." Ucap Bintang air matanya masih menetes.
Bagaimana bisa aku meninggalkan pria kecil yang begitu menyanyangi ku ini? Padahal aku sudah berniat menjauhi Bintang. Aku tidak mau nanti orang-orang berpikir aku menggunakan Bintang demi mendekati Mas Langit.
"Iya Nak. Bunda enggak akan pergi kok." Aku mengusap kepala Bintang "Bunda juga sayang sama Bintang." Sambungku "Udah enggak usah nangis lagi." Ucapku menenangkan pria kecil ini.
"Ja." Mas Langit tampak menghela nafas panjang "Kamu tenang ya. Semua akan baik-baik aja." Seolah dia tahu kegelisahan didalam hatiku.
"Iya Mas." Aku mengangguk.
"Senja."
Kami semua menoleh kearah suara yang memanggil namaku. Sedangkan Bintang masih memelukku sambil menenangkan hati nya yang takut jika aku pergi.
"Kak Divta."
Dia berjalan kearah kami sambil tersenyum masih memakai pakaian dinas. Menurut humor Kak Divta akan pindah juga ke asrama minggu-minggu ini, aku tahu di group gosip para Ibu-ibu Persit dan admin groupnya Lena. Dia tak pernah ketinggalan kalau masalah topik tranding.
"Hai Senja." Sapanya "Kamu kemana aja kok enggak pernah liat?" Tanyanya. Seperti nya dia belum menyadari kehadiran Mas Langit dan Mas Dicky.
"Biasalah Kak. Ayo Kak duduk." Ajakku.
"Ehh Dokter Langit." Dia langsung menyalami tangan Mas Langit.
"Kapten Divta." Mas Langit membalas dengan senyuman terpaksa karena terlihat dari wajahnya.
"Kak, ini Mas Dicky. Kakak saya."
"Dicky."
"Divta."
Kak Divta ikut bergabung dengan kami. Tentu dia tahu Mas Langit. Karena rumah sakit Mas Langit bekerja sama dengan kesatuan. Tak jarang di rumah sakit mewah itu juga dipekerjakan para medis yang mengambil Kesehatan Mililiter. Ada beberapa TNI yang juga mengambil ilmu kedokteran disana terkhusus dokter spesialis.
"Om siapa?" Bintang menatap Kak Divta tak suka.
__ADS_1
"Hai ganteng. Om siapa coba?" Dia mengusap kepala Bintang.
"Jangan pegang-pegang kepala Bintang." Dia menepis tangan Kak Divta.
"Bintang."
"Enggak apa-apa Dok. Namanya juga anak-anak." Dia terkekeh pelan. Kak Divta memang tipikal pria yang santai dan tidak mudah tersinggung.
"Ohh Ja, kemarin Kakak udah bicara sama suami kamu"
"Bicara apa?" Sambung Mas Langit, nada suaranya tampak tak suka.
"Membahas perceraian Senja dan Reza Dok." Jawab Kak Divta "Ohh ya Ja, kapan kamu free Kakak mau jelasin prosedur-prosedur dalam sidang nanti. Bulan depan kamu udah sidang." Jelas Kak Divta.
Aku terdiam. Membahas perceraian, membuat nafasku terasa tercekat. Haruskah cintaku berakhir begitu cepat? Berakhir disaat aku sedang sayang-sayangnya. Disaat hati ini milik Mas Reza seutuhnya. Disaat aku merasa memiliki sandaran.
"Ada banyak hal yang ingin Kakak bicarain sama kamu." Sambung nya kemudian.
"Ntar aku atur waktu Kak." Sahutku
"Bicara apa Kapten seperti nya sangat penting?" Ucap Mas Langit "Kenapa enggak dibahas sekarang aja?" Ujarnya lagi.
"Maaf Dokter Langit, ini sangat privasi. Jadi enggak bisa dibicarain sekarang." Jelas Kak Divta "Ohh ya Ja ini buat kamu. Kebetulan tadi Kakak enggak sengaja singgah sebentar, jadi Kakak beli ini karena Kakak ingat kamu suka banget makanan ini. Dan enggak tahu nya malah ketemu disini." Dia menyerahkan paper bag padaku.
"Kak serius ini buat aku?" Seru ku. Ahhh fizza aku suka sekali.
Dulu aku suka sekali makanan ini. Tak jarang Kak Divta yang baik hati kesayangan sejuta wanita ini membelikan untuk ku. Kami tidak dekat hanya saja sering bekerja sama kalau membahas pertandingan dan event-event menulis di sekolah.
"Makasih Kak aku suka banget."
"Bintang kita pulang yuk Son." Mas Langit tiba-tiba berdiri dari duduk.
"Kok cepat Mas?" Tanya Mas Dicky.
"Banyak pasien dirumah sakit. Saya antar Bintang ke rumah, balik lagi kerumah sakit." Jelas Mas Langit. Wajah nya datar tak bisa ditebak.
"Tapi Bintang masih mau sama Bunda." Ujar Bintang dia masih nyaman memelukku.
"Ntar aja ketemu Bunda lagi ya. Ayah lagi banyak kerjaan." Sahutnya "Ayo Son." Dia hendak mengambil Bintang dalam gendongan ku
"Enggak mau." Tolak Bintang
"Bintang ayo pulang." Bentak Mas Langit. Ada apa dengan Mas Langit ini?
"Mas."
"Hiks hiks hiks Ayah jahat. Ayah jahat." Bintang menangis lagi didalam pelukkan ku.
__ADS_1
Sejenak Mas Langit seperti ini tersadar karena telah membentak anaknya. Dan Bintang ini pria kecil yang sangat sensitif.
"Kenapa anda marah-marah Dokter Langit?" Kak Divta mengusap kepala Bintang.
"B-bintang." Wajah Mas Langit berubah sendu "Maafin Ayah. Ayah enggak bermaksud membentakmu." Dia hendak mengambil Bintang
"Enggak mau Ayah jahat." Hardik Bintang.
"Cup cup. Bintang jangan nangis lagi." Aku juga berusaha menenangkan.
"Hiks hiks Ayah jahat sama Bintang. Bintang enggak mau pulang sama Ayah. Bintang mau pulang sama Bunda." Isak Bintang.
"Hem, Ja. Kamu ikut Mas Langit aja pulang. Ntar Mas jemput kamu disana. Seperti nya Bintang enggak mau pulang sama Ayahnya." Saran Mas Dicky.
Aku menghela nafas panjang. Kenapa selalu ada-ada saja yang membuatku dekat dengan Mas Langit? Padahal aku ingin menghindar tapi kenapa malah dekat.
"Iya Ja. Kamu anterin anaknya Dokter Langit aja." Kak Divta ikut menimpali "Ohh ya Kakak boleh minta nomor kamu?" Dia mengeluarkan ponselnya
"Boleh Kak." Aku memasukkan nomor ponselku kedalam ponsel Kakak Divta.
"Masuk Ja." Ucap Kak Divta.
"Iya Kak ntar aku save." Sahutku.
"Udah ayo cepat."
Mas Langit berjalan duluan tanpa menunggu aku dan Bintang. Ada apa dengan Mas Langit? Tak biasanya dia mengacuhkan Bintang seperti ini.
"Kamu duluan aja sama Mas Langit. Mas nyusul dari belakang. Ini udah sore, Mas Donny bisa marah kalau kita terlalu lama." Ucap Mas Dicky.
"Iya Mas."
"Butuh bantuan Ja?" Tawar Kak Divta "Berat ya?"
"Enggak apa-apa Kak. Aku bisa kok. Aku duluan ya Kak."
"Iya Ja hati-hati. Ntar Kakak chat kamu ya." Dia melambaikan tangan.
Aku menggendong Bintang dengan tertatih. Dan Mas Langit sudah menunggu didalam mobil. Melihatku yang kesusahan, dia segera keluar dari mobil.
"Biar saya aja."
Namun Bintang malah menggeleng dan tetap memeluk leherku.
"Enggak apa-apa Mas. Aku bisa."
Bersambung.....
__ADS_1