
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Langit POV
Aku mengangkat tubuh Senja. Darah mengalir deras dibagian kepalanya beriringan dengan air mataku.
Sedangkan Dicky menggendong Bintang yang juga menangis sambil memanggil nama Senja. Wajah kami bertiga sama-sama panik dan pucat fasih ketakutan jika terjadi sesuatu pada wanita ini. Bisa gila Bintang jika sampai terjadi sesuatu pada Senja dan aku yang akan menyesal seumur hidup.
Sedangkan Reza, dia sudah diamankan oleh anggota kepolisian. Jika saja aku tidak memikirkan Senja, mungkin aku sudah membunuh Reza. Kenapa dia tega melakukan ini pada istrinya?
Senja. Senja tadi melindungi ku, entah apa yang dia pikirkan? Padahal aku bisa melindungi diri tapi dia justru mengorbankan dirinya demi aku.
"Bunda. Bunda." Bintang masih menangis.
'Senja, kamu harus bertahan. Kamu enggak boleh pergi. Maafkan say. Enggak seharusnya kamu melindungi saya. Saya mohon Senja bertahanlah. Saya berjanji enggak akan ada lagi yang berani nyakitin kamu."
Ini kali keduanya aku menangis hebat. Kala itu aku menangis kehilangan Amara istriku tercinta. Meninggal saat melahirkan Bintang karena pendarahan yang dia alami. Aku sangat mencintainya. Sangat. Tapi takdir malah berkata lain, Amara adalah cinta pertamaku. Wanita yang membuatku berhasil jatuh cinta dan patah hati. Melupakan nya aku butuh waktu seumur hidup. Lima tahun kepergian nya aku tak pernah benar-benar bahagia, senyum yang kutunjukkan adalah kepalsuan untuk menutupi luka. Aku harus kuat demi putraku Bintang.
Hingga pertemuan tak sengaja ku dengan Senja. Wanita yang ku tabrak saat di toilet ketika menghadiri acara pernikahan temanku. Semua berubah sejak Senja hadir. Ada getaran aneh yang menjelajar dihatiku. Aku sedikit kecewa ketika tahu Senja sudah menikah. Padahal aku berharap dia masih sendiri.
Dan aku tidak mau itu terjadi lagi pada Senja. Ku akui, aku tidak sanggup jika Senja juga harus pergi meninggalkan aku dan Bintang. Apalagi Senja terluka karena melindungi ku. Ini bisa menjadi perasaan bersalah yang akan menghantuiku seumur hidup.
Senja wanita baik. Wanita lemah lembut yang bisa menenangkan hati Bintang. Aku tidak akan sanggup melihat Bintang patah hati jika Senja pergi. Bukan hanya Bintang yang akan patah hati tapi mungkin aku juga akan mengalami patah hati yang kedua kalinya.
"Siapkan ruang operasi." Teriakku.
"Baik Dok."
Aku meletakkan Senja di atas brangkar. Tanganku bergetar ketakutan. Apalagi darah keluar dari bagian kepalanya sangat banyak dia bisa kehabisan darah.
Aku kembali merasakan hatiku sakit ketika mengingat paku yang menancap di kepala Senja. Aku meringgis saat mencabut paku yang menempel dikayu dan tertanam sangat dalam dikepala wanita ini. Ku mohon, Senja tidak boleh pergi. Aku bisa gila kehilangan dia.
"Ambilkan oksigen."
__ADS_1
"Baik Dok."
Aku langsung memasang oksigen dihidung Senja. Dia terpejam. Wajahnya pucat tanpa darah. Dan kenapa tangan nya sangat dingin.
"Bertahan Senja. Jangan tinggalin saya."
Aku tidak peduli sambil menangis dan membersihkan luka dikepala Senja. Aku harus menghentikan darah ini agar tidak keluar lebih banyak. Aku takut Senja mengalami pendarahan otak.
Sedangkan para perawat yang lain memasang alat medis di bagian tubuh Senja yang lain.
"Cepat siapkan golongan darah O-." Teriakku.
"Baik Dok."
Sambil dengan menangis kubersihkan dengan pelan luka dikepala Senja serta berusaha menghentikan darah itu. Dia berbaring menyamping hingga aku dengan mudah membersihkan lukanya. Sialnya lagi kenapa kali ini aku lemah, air mata ini tak mau berhenti menetes sejak tadi.
"Dok, pasien kekurangan banyak darah." Lapor salah satu perawat.
"Cepat lakukan transfusi." Teriakku menggema.
"Saya mohon Senja bertahan. Jangan tinggalin saya. Jangan tinggalin saya Senja. Bintang masih butuh kamu. Bintang butuh kamu."
Aku terus berucap sambil membersihkan berkas paku yang menancap tadi. Paku itu sudah berkarat dan seperti nya sudah lama. Kalau tidak dibersihkan bisa infeksi nantinya.
Aliran darah dialirkan kedalam tubuh Senja. Syukur saja rumah sakit ku ini tidak kekurangan stok darah. Karena memang selalu ada relawan yang mencari pendonor darah setiap harinya. Agar tidak kekurangan darah disaat genting seperti ini.
"Dok."
Tiba-tiba Tubuh Senja kejang-kejang, mungkin akibat darah yang baru saja masuk kedalam tubuhnya.
Tit tit tit tit tit tit
"Percepat."
__ADS_1
"Baik Dok."
Untuk sesaat kemudian dia tidak dia lagi kejang-kejang. Aku bisa sedikit tenang.
Aku memasang perban untuk menutupi lukanya. Sesekali kuseka air mataku dengan lengan sambil memasang perban ini.
Hatiku tak bisa dibohongi jika aku ketakutan bukan main. Sangat takut. Takut jika Senja pergi meninggalkan aku dan Bintang seperti Amara meninggalkan kami berdua.
Cukup lama berkutat diruangan operasi. Akhirnya Senja bisa melewati masa kritisnya. Hanya saja aku tidak tahu kapan dia akan bangun selain pengaruh obat dia memang sudah kehilangan kesadaran saat datang kerumah sakit tadi.
"Siapkan ruang VVIP." Perintah ku.
"Baik Dok."
Aku menatap wajah Senja yang tampak pucat. Aku mengenggam tangan wanita ini. Tangannya sangat dingin seperti es. Wajahnya lelah.
"Bangun Senja. Maafin saya."
Entah keberanian dari mana. Aku memeluk tubuhnya yang terbaring sambil menangis. Kenapa dia menyelamatkan ku? Harusnya aku yang terbaring bukan dia? Aku tidak sanggup melihat nya terpejam begini.
"Jangan tinggalin saya." Pokoknya aku tidak akan bisa jika Senja pergi meninggalkan ku.
Aku melepaskan pelukan ku dan menyeka air mataku. Jas putihku penuh darah tapi aku tidak peduli, yang penting sekarang adalah Senja.
Aku hampir mati jantungan saat tadi Senja tiba-tiba kritis dan jantung nya berhenti berdetak. Namun, kuasa Tuhan masih memihak ku hingga dia mengembalikan Senja lagi.
Mulai saat ini, aku berjanji akan menjaga Senja. Dia jantung hati Bintang yang juga akan menjadi jantung hatiku. Apalagi setelah ini Senja akan bercerai dengan Reza jadi aku tidak perlu takut lagi jika dikatakan pembinor dirumah tangga orang.
"Sejak kamu hadir di hidup saya dan Bintang. Semuanya berubah. Kamu bagai cahaya yang membuat kami berdua menemukan terang ditengah patah hati ini. Senja, kamu harus bertahan. Saya dan Bintang nungguin kamu disini. Dia masih nangis nyariin kamu. Apa kamu enggak sayang sama dia? Bangun Senja."
Aku mengusap kepala yang dilingkari perban disana. Setiap kali melihat wajahnya aku selalu merasa nyaman? Merasa hangat. Jantungku berdebar kuat.
Benar kata Papa bahwa aku sudah jatuh cinta pada istri orang. Tapi aku terlalu takut mengakui perasaan ku. Aku takut Senja malah menjaga jarak ketika tahu perasaan tidak mungkin ini. Tapi sekarang aku sudah tidak peduli, Senja akan menolak atau bahkan menjauh dari aku.
__ADS_1
Aku, aku sungguh tak bisa hidup tanpanya. Aku tak bisa apalagi Bintang. Kami berdua sama-sama menyanyangi wanita yang masih berstatus istri orang ini.
Bersambung...