Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 31


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫


"Udahlah Za, ngapain sih kamu pertahanin wanita mandul itu." Langkahku terhenti saat mendengar bentakkan Ibu mertua ku. Apa yang dia lakukan disini?


"Bu, kalau aku pisah sama Senja. Aku bisa dikeluarin dari kesatuan Bu. Aku bisa kehilangan pekerjaan. Apalagi pernikahan aku sama Siska udah tersebar." Ucap Mas Reza. Aku melirik nya dibalik jendela kaca wajahnya tampak frustasi.


"Ya tapi kamu bukan berarti kamu pertahanin Senja kan? Jangan bilang kamu mulai jatuh cinta sama dia?" Ibu terlihat memincingkan matanya curiga.


"Ayolah Bu, jangan aneh-aneh. Dari awal aku enggak pernah cinta sama Senja. Aku cuma manfaatin dia doang, agar jabatanku tetap bertahan."


Deg


Apa maksud Mas Reza? Jadi dari awal Mas Reza tidak pernah mencintai ku? Sama sekali tidak pernah!


Aku menutup mulut ku tak percaya. Benarkah suamiku tak pernah mencintaiku? Kami menikah hampir delapan tahun. Hari-hari yang kulewati bersamanya mengalir begitu indah. Tapi aku tak menyangka jika itu adalah kepalsuan.


"Ya terus sekarang. Apa lagi alasan kamu? Kamu bisa buat scandal kalau Senja selingkuh sama Dokter Langit. Jadi kamu enggak bakal dikeluarin dari kesatuan, Senja juga bisa dituntut balik."


"Ibu lupa siapa keluarga Dokter Langit?" Ujar Mas Reza.


Aku mundur dan tidak jadi masuk kedalam rumah. Hatiku remuk. Hatiku hancur. Tak sangka lelaki yang kukira mencintaiku sepenuh hati, kini malah menghempaskan ku sesuka hati.


Apa maksud nya menikahi ku demi jabatannya? Apa hubungannya dengan aku? Aku bukan putri dari salah satu kapten disini. Tapi kenapa Mas Reza mengatakan demi jabatan? Aku tak mengerti dan aku tak paham.


Tuhan, kenapa hidupku begini? Tidak kah ada bahagia yang ingin Tuhan berikan padaku? Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir? Sampai kapankah hidupku akan baik-baik saja seperti yang lainnya?


Sejak kecil aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti orang lain. Lahir tanpa seorang Ayah. Tidak dianggap oleh Ibu sendiri. Bahkan Ibu tak pernah mengabariku atau sekedar mengirim pesan padanya. Saat aku ingin menelepon dan berbicara pada Ibu, dia selalu mengatakan sibuk. Lantas kepada siapa aku harus menggadukan semua rasa sakit yang menjalar dihati dan pikiranku ini. Aku lelah. Aku ingin pergi dan hilang ingatan.

__ADS_1


Aku keluar dari pagar asrama tempat kami tinggal. Aku enggan masuk, apalagi ada Ibu didalam pasti aku akan di caci maki, dihina dipandang tak berharga seperti sampah. Entah apa yang Ibu lakukan malam-malam begini? Tak biasanya dia datang melihat keadaan rumah tempat kami tinggal selain meminta uang bulanan pada Mas Reza.


Aku berjalan didalam keheningan malam. Menapakkan kaki yang mulai terasa lelah dan remuk redam. Meresapi rasa sakit yang mendalam. Mencoba menerima segala takdir yang Tuhan ciptakan sebagai hiasan dari hidupku.


Aku berharap hujan turun malam ini, agar dia mengikis air mata yang telah membanjiri pipi. Agar aku tak terlihat menangisi takdir ini. Aku tak ingin terlihat lemah, tapi pada kenyataannya aku hanyalah insan manusia biasa yang begitu mudah meneteskan butiran bening tanpa warna ini.


Ku eratkan jacket tebal Kak Divta yang membungkus tubuh ku ini. Setidaknya aku tidak akan kedinginan karena angin malam yang menghantam tubuh munggilku. Biarlah malam ini kuresapi segala takdir yang telah menjadi bagian dari hidupku.


Aku duduk dikursi taman, dekat Bambu Runcing kota Pontianak. Aku menatap air mancur yang keluar dari sana. Hiasan-hiasan disekitar memancar indah bersama lampu-lampu kecil yang sengaja dipasang disana.


Aku menangis sepuasnya berharap rasa sakit didalam dadaku bisa segera menghilang dan pergi setidaknya jangan membuatku sulit bernafas.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks."


Tangisku pecah. Aku tak peduli seberapa banyak air mata yang keluar dari kelopak mata ini. Aku hanya ingin menangis. Aku ingin menangis dan menangis. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Kenapa semua orang jahat? Apa salahku? Apa dosaku? Kenapa aku dilahirkan didunia yang fana ini?


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks."


Aku sampai tersungkur ditanah. Tak peduli jika orang-orang melihatku seperti orang gila. Aku memang sudah gila. Gila karena memikirkan hidupku yang tak pernah bahagia.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks."


Ku pukul dadaku berulang kali, barangkali sesak didalam sana bisa segera menghilang dan pergi dari sana. Aku tak sanggup menahan sakit ini. Aku tak kuat. Aku ingin menyerah. Aku ingin pergi selamanya. Aku tidak ingin hidup didunia yang fana ini.


"Hapus air matamu."


Kulihat seseorang mengulurkan sapu tangannya padaku. Mungkin dia dari tadi melihat ku menangis.

__ADS_1


Aku mengangkat pandangan ku. Air mataku lagi-lagi menetes dengan deras


"Mas Langit."


"Ayo bangun."


Dia mengulurkan tangannya agar membantu ku berdiri. Aku menyambut uluran tangan itu. Bagaimana bisa Mas Langit ada disini? Rumahnya berada di Jeruju, cukup jauh dari sini. Sedangkan aku tinggal di Parit Baru, jaraknya juga cukup jauh dari sini. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berjalan sejauh ini?


Dia menatapku. Lalu tampak menghela nafas panjang. Apakah dia kasihan? Tapi aku tak perlu dikasihani selama ini juga tidak ada yang pernah kasihan padaku. Semua orang selalu menganggap aku orang bodoh.


Dia merengkuh ku masuk kedalam pelukan nya. Mas Langit sangat tinggi. Badannya kekar dan sehat, karena dia dokter tentu dia harus menjaga kesehatan dan postur tubuhnya.


Aku terdiam didalam pelukkannya. Aku tak paham kenapa pria ini memelukku? Apakah dia ikut merasakan segala gundah dan keresahan yang saat ini menghantam dadaku.


"Menangislah Senja."


Aku memeluk pinggangnya. Aku menangis sepuasnya didalam dada bidang pria ini. Jujur aku butuh pelukkan. Jiwaku lelah. Jiwaku rapuh. Aku dipaksa kuat dalam keadaan yang hendak mematahkan hidup ku ini. Sudah lama tak kurasakan pelukan senyaman ini. Sangat lama. Selama ini, aku selalu sendirian. Tak ada tempatku menggadu atau sekedar bercerita betapa lelah nya aku menghadapi hidup yang kini menginginkan ku mati.


"Hiks hiks hiks hiks hiks."


Tangis ku lagi-lagi pecah. Tak peduli dengan dadanya yang besar karena air mataku. Aku hanya ingin menangis. Kadang menangis memang tak sepenuhnya bisa menyelesaikan masalah. Tapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada.


Bersambung........


Jangan lupa like komen dan vote ya guys...


Love kalian banyak-banyak..........

__ADS_1


__ADS_2