
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Langit POV
Aku menggenggam tangan Senja. Dia masih terpejam dengan lelap. Untung tidak ada sesuatu yang berbahaya terjadi pada Senja. Kalau sampai Senja kenapa-kenapa aku takkan pernah memaafkan Mas Fajar.
"Senja, bangun Sayang. Mas kangen sama kamu," baru saja kami bertemu tapi Senja harus mengalami hal ini.
"Bunda, bangun," Bintang juga ikut membangunkan Senja.
Aku mengusap kepala wanita-ku ini. Tak bisa ku bayangkan jika aku datang tak tepat waktu, Senja pasti sudah menjadi milik Mas Fajar. Dan Tuhan memang menakdirkan kami bersama sehingga apapun bisa terlewati.
Jari-jari lentiknya bergerak. Bulu mata itu juga ikut bergerak-gerik.
"Senja,"
"Bunda,"
Aku segera memeriksa keadaan Senja. Jantungku berdebar-debar saking senang dan bahagia nya melihat Senja terbangun seperti ini.
Aku menarik nafas lega karena kondisi Senja sudah membaik dan dia juga sudah sadar.
"Bunda,"
Perlahan mata wanita itu terbuka. Dia tampak menatap langit-langit kamar rumah sakit. Pasti dia heran karena merasa tempat ini begitu asing. Tempat yang mungkin tak ingin dia lihat. .
"Sayang," mataku berkaca-kaca dan terharu melihat wanita ku terbangun kembali.
"Bunda,"
Senja melihat kami berdua Lalau wanita itu tersenyum dengan bibir pucat tanpa darah. Senyum Senja selalu mampu mengalihkan duniaku. Senyum yang membuatku tak bisa berpaling ke lain hati
"M-mas," lirihnya. Suaranya masih kurang tembus.
"Iya Sayang. Kenapa?" Aku menyeka air mata bahagiaku.
"Bunda," panggil Bintang.
"Bintang." Dia tersenyum hangat melihat Bintang.
Aku dan Bintang memeluk wanita ini sambil menangis karena merindukannya. Perpisahan sementara yang begitu menyiksa membuatku sadar betapa pentingnya menjaga kebersamaan.
"Bintang kangen banget sama Bunda," ucap Bintang sambil menangis
"Bunda juga kangen sama Bintang,"
Aku berharap setelah ini kami akan bahagia dan tidak ada lagi yang berani menganggu kehidupan kami.
__ADS_1
"Senja,"
Donny dan Dicky masuk bersama Hana dan Aisyah calon istri mereka.
Pelukan kami terlepas. Kami sama-sama menyeka air mata ketika melihat ada yang masuk kedalam ruangan.
"Mas,"
Donny menatap Senja dengan mata berkaca-kaca. Bisa kulihat Jika Donny sungguh menyanyangi Senja.
"Senja," Donny mengusap kepala plontos nya, "Gimana? Masih ada yang sakit? Ayo bilang sama Mas," ucap Donny.
Senja menggeleng, "Senja baik-baik aja Mas. Senja takut," lirih Senja. Seperti nya mental Senja memang sedikit terganggu gara-gara Mas Fajar.
"Jangan takut ya. Disini ada Langit juga yang jagaian. Kan ada Bintang juga," Donny terkekeh.
Senja dan Bintang saling mengobrol melepaskan kerinduan mereka. Untung saja kondisi Senja sudah membaik. Dia hanya kelelahan. Tapi setelah ini akan ada beberapa treatment yang harus dijalani Senja untuk mengantisipasi obat-obatan yang masuk kedalam tulang-tulang nya.
"Gimana keadaan Senja, Lang?" Tanya Donny.
Kami bertiga duduk disoffa ruangan rawat Senja. Sedangkan Senja dan yang lainnya sedang mengobrol didepan ranjang Senja. Bintang duduk diatas ranjang bersama Senja.
"Dia baik-baik aja. Hanya trauma itu kayaknya masih membuat Senja takut," sahutku menghela nafas panjang. "Don, setelah Senja pulang dari rumah sakit. Aku mau segera menikahi Senja, supaya Senja bisa tinggal sama aku dan Bintang," lebih tepatnya aku meminta restu. Aku tak sabar agar bisa mempersunting Senja menjadi istriku.
Donny menepuk bahuku, "Aku merestui hubungan kalian Lang. Bahagiain Senja yaa. Aku titip dia sama kamu," ucap Donny.
"Makasih Don. Makasih Ky, kalian udah restuin hubungan kami. Aku janji bakal jaga Senja dengan baik,"
Kali ini aku tak mau lengah lagi. Aku akan bertarung nyawa bagi siapa saja yang berani mengambil Senja dariku.
Setelah ini, semua akan baik-baik saja. Aku dan Senja akan bahagia bersama Bintang merajut cinta dihati kami berdua. Menjaga cinta yang sudah kami bangun dengan susah payah.
"Ya sudah. Mas tenang aja nanti masalah semua urusan pernikahan biar aku yang urus yaaa Mas," pinta Dicky. "Ada Hana yang bantu nanti,"
Aku mengangguk. Aku bisa fokus pada kesehatan Senja. Biarlah Donny dan Dicky yang mengurus semua pernikahan ku.
.
.
.
.
"Pelan-pelan Sayang,"
Aku mengulurkan tanganku agar Senja menyambut nya. Dia turun dari mobil sambil tersenyum menyambut tanganku.
__ADS_1
Dia tampak menghela nafas panjang data melihat rumah Donny.
"Ayo Sayang." Aku mengiringi langkah kakinya memegang tangannya agar dia tidak terjatuh.
"Selamat datang Bunda," Bintang sudah menyambut didepan pintu bersama yang lainnya.
"Bintang." Dia tersenyum manis sekali
"Silahkan masuk Bunda," seru Bintang dengan semangat.
Kami terkekeh. Bintang memang pulang duluan bersama yang lainnya. Sedangkan tadi aku mengajak Senja memilih cincin pernikahan kami. Aku tak bisa lagi menunda-nunda untuk mempersunting Senja. Akibat kelalaian ku, aku hampir saja kehilangan wanita yang sudah ku genggam ini.
"Ayo duduk Sayang,"
"Makasih Mas,"
Hana dan Aisyah tampak sibuk menyiapkan jamuan menyambut Senja. Kedua calon ipar Senja ini selalu peduli pada Senja. Tampak mereka menyanyangi Senja dengan tulus.
"Ja, kamu makan ya. Ini Mbak udah masakkin bubur kesukaan kamu. Kebetulan tadi Mbak juga baru masak buat menu buka puasa," Aisyah adalah salah satu muslimah yang selalu menjalankan puasa, kata Donny.
Senja menggeleng, "Senja mau bubur ayam buatan Mas." Dia menatapku penuh harap.
Aku terkekeh pelan, "Iya Sayang. Mas masakkin ya." Aku gemes sendiri. Tak pernah melihat wanita ini manja. Sekali nya manja terlihat imut dan menggemaskan.
"Ya udah kamu istirahat dulu. Biar Mas masakkin," ucapku.
"Ikut," renggek nya. Sejak kejadian penculikan itu sifat Senja menjadi berubah. Dia lebih manja dari biasanya.
"Bintang juga ikut," Bintang langsung menggandeng tangan Senja.
"Emang kamu mampu berdiri Sayang? Mas lama lho masaknya," kataku
"Mampu kok Mas. Kan aku nungguin Mas sama Bintang," Jawabnya
"Iya Ayah. Bial Bintang temanin Bunda juga," sahut Bintang.
Kedua orang ini seperti nya kompak tidak mau jauh dariku. Aku tersenyum gemes.
"Ya sudah ayo,"
Mereka yang lain hanya bisa menggeleng kepala saja. Senja sebenarnya tak pernah semanja ini padaku. Tapi karena banyaknya yang dia alami membuat dia menjadi wanita yang seperti ini.
Tadi Senja membahas tentang kedua orangtuanya. Sebelum nya aku tak menyangka jika Pak Jaya adalah Ayah kandung Senja. Pak Jaya adalah pengusaha yang bergerak di bidang penerbitan buku dan bahkan dia memiliki beberapa cabang penerbit buku yang ada diberbagai kota di Indonesia. Senja mengatakan bahwa dia sudah memaafkan kedua orang tua nya dan ingin kedua orangtuanya hadir didalam pernikahan kami nanti.
**Bersambung....
Jangan lupa like komen dan vote ya guys..
__ADS_1
Selamat berbuka puasa buat kalian**.