
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Senja dipindahkan keruangan rawat inap. Aku sengaja meminta asistenku menyiapkan ruangan yang nyaman agar Senja bisa istirahat.
"Hiks hiks hiks Senja, kenapa kamu bisa gini sih?" Lena sahabat nya mengenggam tangannya sambil menangis
"Tante Senja." Ucap anak kecil yang sering adu mulut dengan Bintang karena memperebutkan Senja.
Sedangkan menggendong Bintang. Dia masih menangis didalam gendonganku. Apalagi dia masih begitu takut melihat kepala Senja yang mengeluarkan banyak darah.
"Gimana keadaan Senja Lang?" Tanya Donny.
"Dia udah melewati masa kritisnya. Dia cuma Peru istirahat aja." Ucapku "Son, Bintang balik sama Oma ya. Biar Ayah yang jagain Bunda disini." Ucapku lembut.
"Enggak mau, Bintang mau jagain Bintang." Tolak Bintang sambil menggeleng cepat dan mata yang berkaca-kaca.
"Lang kamu bawa aja Bintang pulang. Biar Senja aku sama Dicky yang jagain." Ucap Donny.
Aku mengangguk karena memang dari semalam aku dan Bintang belum pulang. Papa sama Mama sampai menyusul kerumah sakit karena khawatir apalagi aku mengabari bahwa Senja kecelakaan dan terluka karena menolong ku.
Aku menggendong Bintang yang merenggek karena tidak mau pulang. Rumah sakit tidak baik untuk kesehatan anak-anak. Aku saja jarang membawa Bintang kesini kecuali kalau dia kurang sehat. Tapi jika hanya untuk menemaniku bekerja aku lebih memilih tak bekerja saja dari pada harus membawa Bintang kesini, tidak baik untuk kesehatan nya.
"Ayah, Bintang mau sama Bunda. Bintang enggak mau pulang." Bintang memberontak ingin turun dari gendongan ku.
"Son." Aku menatap anakku.
"Iya Ayah." Dia masih segugukan
"Bintang sayang sama Bunda?" Dia mengangguk cepat "Kalau sayang, Bintang nurut ya. Biarin Bunda istirahat. Besok kita kesini lagi ya Nak?" Rayuku sambil mengusap kepala putra semata wayang ku ini.
Dia tampak berpikir meski dengan lelehan bening dipipinya. Sebegitu sayang nya dia pada Senja sehingga menangisi wanita itu seperti menangisi Ibu nya sendiri.
"Ayo Lang." Ajak Papa.
__ADS_1
Aku membawa Bintang bersama Papa dan Mama. Sejujurnya aku tak ingin meninggalkan Senja tapi kasihan Bintang jika terlalu lama dirumah sakit.
Karena puas menangis Bintang sampai tertidur digendongan ku. Mungkin dia lelah, apalagi seharian tidak tidur siang. Biasanya Bintang harus tidur siang karena itu kewajiban yang aku terapkan padanya sejak bayi.
Aku meletakkan putraku dengan pelan diatas ranjang takut dia terbangun. Tak lupa melepaskan sepatu yang masih melekat dikakinya. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya.
Ku tatap wajah teduh anakku. Dia terlelap dengan nyaman tanpa terganggu dengan sentuhanku.
"Semoga Ayah bisa jagain Bunda buat kamu ya Nak." Ucapku pelan sambil mengusap kepalanya terdengar dengkuran halus dari mulutnya.
"Tapi Ayah enggak yakin kalau Bunda bakal mau tinggal sama kita. Apalagi sama Ayah." Aku sudah pesimis duluan. Aku tahu bahwa Senja itu mengalami trauma dalam rumah tangganya.
"Selamat tidur anak Ayah." Aku mengecup kening Bintang dan tak lupa menyelimuti tubuh kecilnya.
Aku keluar dari kamar dan tak lupa mengunci pintu kamar Bintang.
"Lang."
Papa menghela nafas dan melepaskan kaca yang bertengger dihidung nya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Senja bisa sampe celaka gitu?" Cecar Papa.
Wajah Papa tampak serius. Jika sudah begini ada kemarahan yang Papa simpan. Dia paling tidak suka mendengar kekerasan pada wanita.
"Reza masih keukeh nuduh aku sama Senja selingkuh Pa. Dia tiba-tiba menghalangi ku dan teriak-teriak manggil nama Senja. Aku turun dari mobil dan ngomong sama dia baik-baik tapi dia masih aja pengen bawa Senja pulang."
Papa tampak diam seperti berpikir. Lalu dia menatapku dengan tatapan selidik.
"Kamu suka sama Senja?" Ini seperti mengintimidasi bukan mencari jawaban.
Aku tak menjawab namun mengangguk. Aku tidak tahu pasti sejak kapan perasaan pada Senja ini hadir. Aku mulai merasa nyaman sejak aku menjemputnya dirumah mertuanya dan dia menangis karena tuduhan mertua nya yang mengklaim aku dan dia selingkuh.
"Kalau kamu emang sayang perjuangkan dia." Papa menepuk bahuku "Papa restui hubungan kamu sama dia tapi jangan gegabah, Senja belum sah bercerai sama Reza. Kamu tetap salah jika kamu terus bersama Senja." Imbuh Papa "Papa udah laporkan proses hukum Reza, setelah sidang perceraian di pengadilan nanti dia akan dipidana karena kasus kekerasan. Jadi kamu cuma cukup support Senja."
__ADS_1
Kalau Papa sudah turun tangan, dipastikan kasus ini tidak akan bisa ditarik kembali. Bersiap-siaplah Reza akan mendekam ke penjara dan aku tidak sabar hal itu terjadi. Aku ingin melihat penderitaan Reza dia harus rasakan apa yang dirasakan Senja.
"Makasih Pa." Aku tersenyum bangga pada Papa yang tak membiarkan aku melewati masalahku seorang diri.
Papa mengangguk "Semangat demi Bunda Bintang." Goda Papa.
Aku memutar bola mata malas "Aku masuk kamar dulu."
Aku segera membersihkan diri badanku sudah bau keringat apalagi kemeja putih ini masih dilumuri darah.
"Senja." Aku tersenyum mengingat satu nama itu.
"Makasih kamu udah nolongin saya. Semoga cepat sembuh."
Mungkin jatuh cinta pada wanita bersuami adalah sesuatu yang salah tapi aku tidak bisa mengontrol perasaan ku sendiri. Aku sungguh tak bisa membohongi perasaanku sendiri bahwa aku memang menyimpan Senja didalam relung hatiku terdalam.
Aku cemburu saat Kapten Divta memberikan pizza untuk Senja. Aku cemburu dan aku marah, aku tidak suka sesuatu yang sudah ku cap jadi milikku malah direbut oleh orang lain. Aku takkan biarkan itu terjadi lagi. Kali ini aku tak ingin gagal memperjuangkan cintaku.
Setelah Senja dan suaminya berpisah aku akan membuat nya jatuh cinta padaku. Tak peduli jika dia menolak rasa yang ku ciptakan untuknya. Aku mencintainya itu saja.
Mungkin Senja mati rasa tapi aku akan menghidupkan rasa itu kembali dan menyakinkan nya bahwa aku lebih baik dari seseorang dimasa lalu nya.
Aku tak menginginkan wanita lain selain Senja. Sebelum bertemu dengannya aku tak memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis. Namun setelah dia hadir, perasaan yang tak seharusnya ada kini mulai menggebu didalam sana. Perasaan yang sudah lama mati kini mulai kembali hidup dan tumbuh memekar. Awalnya kupikir ini hanya sebatas rasa kagum namun setiap kali mengingat wajah dan menyebut namanya, hatiku selalu berdebar-debar dan berdisko disana.
Semoga perjuangan ku menaklukkan hati Senja tak gagal. Aku tak ingin patah hati lagi kali ini. Ini bukan hanya tentang aku tapi juga Bintang. Jika Senja tak memilih kami berdua, mungkin kami akan menjadi pria paling menyedihkan dan patah hati secara bersamaan.
Bersambung.....
Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5
Mampir ke karya baru author...
Go merried with My Sunshine
__ADS_1