Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 28


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫


Senja POV


"Mas."


"Ada apa Senja?" Tanya Mas Reza, kami selesai makan malam bersama. Seperti biasa aku akan menjadi babu untuk mereka berdua. Tapi semoga ini segera berakhir.


"Aku mau kita cerai Mas."


Mas Reza menatap ku tak percaya bagaimana bisa istri yang begitu mencintai nya ini mengatakan kata cerai?


"Apa maksud mu?" Tanyanya seolah tak mengerti.


"Aku mau pisah sama Mas. Aku lepasin Mas buat Mbak Siska. Mas berhak bahagia tanpa aku." Ucapku. Sekuat tenaga ku tahan lelehan bening yang mengalir keluar dari kelopak mataku.


Sementara Mbak Siska tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa menang karena sudah berhasil menggeser posisiku disini.


"Enggak. Mas enggak mau pisah sama kamu. Kalau Mas pisah sama kamu, Mas akan dikeluarin dari kesatuan."


Aku menggeleng saja. Dia mempertahankan ku hanya karena takut kehilangan pekerjaan nya bukan sungguh-sungguh ingin aku ada disisinya. Kenapa sangat sakit menerima kenyataan ini?


"Kamu egois Mas. Kamu jahat. Kamu jahat." Pekik ku "Kamu pertahanin aku cuma karena takut kehilangan pekerjaan bukan karena kamu sayang sama aku Mas." Air mata berlinang lagi.


"Enggak. Bukan gitu Senja. Maksud Mas_."


"Udahlah Mas, kamu enggak usah khawatir. Kalau dia nuntut kamu cerai hanya karena selingkuh, kamu bisa tuntut balik. Dia juga kan selingkuh sama Dokter Langit." Mbak Siska tersenyum smirk.


Aku menggeleng tak percaya. Selingkuh dengan Mas Langit? Bahkan aku sama sekali tak memiliki rasa dengan nya. Dia hanya Ayah Bintang, pria kecil yang kebetulan sudah ku anggap sebagai anakku sendiri.


Mas Reza tampak terdiam. Dia juga menatapku tajam. Tatapannya seolah hendak menguliti tubuh ku hingga menampilkan tulang-tulang.


"Kamu benaran punya hubungan spesial sama Dokter Langit?" Tanyanya mengintimidasi.


Aku menggeleng. Aku menolak dituduh selingkuh dengan Mas Langit. Aku sama sekali tak memiliki hubungan apapun selain mengurus Bintang saja.


"Aku enggak sejahat itu Mas." Jawabku "Aku tunggu dipengadilan."


"Tunggu." Mas Reza mencengkram tanganku.

__ADS_1


"Ada apa lagi Mas?" Aku menatapnya


"Mas mohon jangan ceraikan Mas, Senja. Mas_."


"Mas kayaknya kita udah mau telat. Udah ayo, ngapain sih bujuk dia. Kita bisa tuntut balik Mas. Ayo."


Mbak Siska langsung menarik tangan Mas Reza dengan erat seolah takut jika aku menyentuh nya.


Aku memejamkan mataku menahan sesak yang mulai menyerang dadaku. Lagi dan lagi butiran bening ini lolos begitu saja. Sumpah demi apapun, aku tak bisa berpisah dengan suamiku. Aku mencintai Mas Reza. Sangat.


Aku menyeka air mataku sambil mengumpulkan piring kotor diatas meja. Entah bagaimana Mas Reza mengelabui kesatuan hingga Mbak Siska bisa tinggal disini bersama kami? Harusnya tidak boleh orang lain masuk. Tapi kenapa Mbak Siska bisa tinggal disini?


"Kuat Senja. Kuat. Kamu pasti bisa lupain Mas Reza. Kamu enggak bisa bertahan seperti ini terus. Kamu enggak akan bahagia." Gumamku.


Aku segera menuju kamar untuk bersiap-siap. Malam ini adalah perpisahan dengan Mas Zaenal, sekaligus penyambutan Kapten yang baru pengganti Mas Zaenal.


Sebenarnya aku tidak ingin ikut, tapi semua Ibu Persib wajib hadir didalam acara ini. Jadi mau tak mau aku harus ikut, meski harus berperang dengan perasaan ku sendiri.


Aku memakai gaun berwarna peace yang hanya sepanjang lutut dan lengan pendek. Gaun ini pas sekali ditubuhku. Hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ke enam.


"Kamu bisa bahagia Senja. Kamu harus siap melepaskan Mas Reza. Kamu bisa. Kamu kan kuat." Aku terus menyemangati diriku dengan bahasa-bahasa penguat. Padahal aku sebenarnya tak kuat.


Aku melihat mobil Mas Reza yang keluar dari pagar. Bahkan dia sama sekali tak berniat menunggu ku atau sekedar menawari tumpangan untukku.


"Kamu benar-benar udah lupa aku Mas." Aku berusaha untuk tetap kuat meski sebenernya aku bukanlah wanita kuat.


Aku memesan ojek online, penampilan sudah serapi dan secantik ini tapi naik ojek. Rasanya aku ingin mentertawakan kebodohan ku sendiri. Aku bersusah payah tampil cantik hanya agar suamiku dihargai. Tapi suamiku sendiri tak pernah menghargai ku.


"Jalan Kang."


"Iya Neng."


Aku melamun diatas motor. Setelah ini aku akan hidup sendiri. Aku akan mandiri. Aku sudah mencari kos-kosan yang murah dengan uang tabungan hasil dari aku menulis. Tidak besar, tapi setidaknya aku tidak akan jadi gelandangan setelah berpisah dari Mas Reza.


Sampai di tempat acara. Acara ini dilaksanakan digedung kesatuan militer. Dimana gedung ini memang sering digunakan untuk acara-acara tersebut.


Aku turun dari motor tak lupa melepas helm dan membayar ongkos. Aku memperbaiki rambutku yang berantakan karena helm dikepalku.


"Ini Kang."

__ADS_1


"Makasih Neng."


Aku masuk kedalam gedung itu. Para militer dan kesatuan yang lain sudah berdatangan dan memenuhi tempat.


"Ja."


"Mbak Lia. Lena." Aku tersenyum menyambut kedua wanita ini.


"Kamu sama siapa? Kamu cantik banget Ja malam ini! Aku hampir lupa tadi. Heheh." Goda Lena cenggesan sambil mencolek daguku dengan jahil.


"Iya iyalah masa iya aku ganteng." Celetukku.


"Reza mana Ja?" Mbak Lia celingak-celinguk mencari Mas Reza.


"Sama istri nya Mbak." Jawabku tersenyum getir.


"Emang kamu bukan istrinya?" Goda Mbak Lia.


"Bentar lagi bukan Mbak." Jawabku asal.


Mbak Lia dan Lena ngakak mendengar jawabanku. Aku sudah tenang karena Mas Zaenal akan mengurus perceraian ku dengan Mas Reza. Saat hari perpisahan itu tiba, aku harus mempersiapkan mentalku untuk melepaskan cinta yang tidak ingin memiliki ku lagi.


"Ya udah ayo masuk."


Kami bertiga masuk. Seperti nya Mbak Lia dan Lena memang sengaja menungguku diluar agar bisa masuk bersama. Karena kulihat Mas Zaenal dan Mas Raswan sudah duduk ditempatnya. Sedangkan anak-anak Mbak Lia tidak diajak, seperti nya dititip pada orangtua Mas Zaenal.


"Hem, banyak cowok ganteng Ja. Waktu nya kamu tebar-tebar pesona. Siapa tahu mereka terlena-lena sama kamu." Bisik Lena dengan suara cekikikan seperti kuntilanak.


Aku mendelik sambil geleng-geleng kepala. Sedangkan Mbak Lia hanya tersenyum dengan kekehan. Lena ini ada-ada saja. Mana mungkin aku tebar-tebar pesona. Meski banyak anggota TNI ini yang masih jomblo. Tapi sama sekali tidak tertarik, apalagi aku belum sah bercerai dari Mas Reza.


"Ayo Ja."


Aku terpaksa duduk di samping Mas Reza. Rata-rata istri dari TNI harus duduk disamping suaminya. Mbak Lia dan Lena juga duduk disamping suami mereka.


Tapi kemana Mbak Siska? Ohh ya aku lupa, tentu saja Mas Reza takkan berani membawa Mbak Siska ke acara seperti ini. Sama saja itu memasukkan dirinya kedalam lubang buaya.


"Kamu cantik banget malam ini!" Bisiknya


Aku terkejut dan melirik kearah Mas Reza yang tampak tersenyum padaku.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2