Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 46


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Chapter 46


Bintang menatap Kapten Divta dengan tajam. Sedangkan aku menahan tawa. Bintang ternyata bisa membantuku menyingkirkan pembinor dihubungan aku dan Senja.


“Kapten sekali lagi saya minta maag kelancangan Bintang.” Ucapku antara merasa tak enak hati dan senang.


“Enggak apa-apa Dok. Saya malah senang liat Bintang begitu sayang sama Senja.” Tanganya hendak menggapai kepala Bintang.


Namun belum juga tangan Kapten Divta sampai dikepala Bintang. Bintang sudah menyingkirkan dan menepis tangan Kapten Divta.


“Bintang.” Aku menggeleng, meski aku suka Bintang menjaga Senja tapi dia tetap tidak boleh begitu pada orang yang lebih tua darinya.


“Jangan begitu. Bintang mau Bunda marah kalau Bintang enggak sopan?” Aku menatap anakku dengan dalam. Aku tidak mau Bintang menjadi anak yang kurang ajar.


“Maaf Ayah.” Dia menunduk saat melihat tatapan dinginku.


“Jangan diulangi lagi.” Tegurku


“Iya Ayah.” Bintang menurut.


“Hemm. Silahkan duduk Dok.” Ucap Kapten Divta mempersilahkan aku duduk di sofa


“Makasih Kapten. Saya mau periksa Senja dulu.” Aku meletakkan rantang berisi bubur itu diatas nakas.


Aku membuka tasku dan mengambil beberapa alat medis didalam sana. Aku ingin memeriksa Senja.


“Son, Ayah periksa Bunda dulu ya.”


“Iya Ayah.”


Aku memeriksa kondisi Senja, dia sudah baik-baik saja. Hanya saja memang mungkin dia masih lelah sehingga enggan untuk bangun.


“Ayah, tanga Bunda belgelak.” Seru Bintang ketika melihat jari-jari lentik Senja bergerak


“Senja.”


Senyum aku dan Bintang memudar saat Kapten Bintang menggenggam tangan Senja disaat aku sedang memeriksa kondisi wanita itu. Wajah Bintang tampak masam, kenapa duplikan wajah dan sifatku benar-benar menempel pada Bintang?


“Saya periksa dulu Kapten.” Ucapku agar Kapten Divta melepaskan genggaman tangannya pada Senja.


“Iya Dok.” Dia malah semakin mengenggam tangan Senja sambil memanggil nama wanita itu.


Aku mendengus kesal, ingin rasanya ku singkirkan Kapten gadungan ini saking kesalnya. Wajahku juga masam sama seperti Bintang.

__ADS_1


“Om, jangan pegang tangan Bunda, nanti tangannya enggak mau belgelak gala-gala Om.” Ucap Bintang menegur.


Kapten Divta langung kikuk, dia melepaskan genggaman tangan Senja dan sedikit bergeser lalu membiarkan aku memeriksa Senja, Bintang memang bisa diandalkan.


Aku tersenyum penuh kemenangan apalagi melihat wajah Kapten Divta yang berubah ditekuk seperti itu. Bintang memang selalu mengalahkan, aku saja dikalahkan olehnya.


Bulu mata lentik Senja bergerak-gerak dan jari-jarinya juga bergerak.


“Bunda.”


“Senja.”


Perlahan matanya terbuka pelan. Dia menatap langit-langit kamar sepertinya dia sedang bingung berada dimana? Tampak wajahnya bingung.


“Bunda.” Mata Bintang berkaca-kaca “Bunda udah bangun?” Dia menyeka air matanya.


Bintang sampai bolos sekolah agar segera bertemu Senja. Aku sudah membujuknya berulang kali agar masuk sekolah hari ini tapi tetap saja kepala Bintang yang keras itu sama sekali tak mau mengalah padahal dia sudah memakai seragam sekolah.


“Bunda.” Bintang langsung memeluk Senja “Hiks hiks Bintang kangen Bunda. Kenapa Bunda lama banget bobo nya, Bintang takut Bunda pergi.” Bintang meluapkan segala kekhawatirannya. Anak kecil sepertinya sudah mengerti arti kehilangan, anakku ini memang dewasa sebelum waktunya mungkin karena tumbuh tanpa figura seorang Ibu.


“Senja.” Kali ini jantungku berdebar kuat.


Tangannya terulur mengusap kepala Bintang yang berada diatas dadanya. Dia tetap memaksa senyum diwajah pucatnya. Dia memang wanita yang selalu bisa menutupi kesedihannya.


B-bintang.” Dia tersenyum hangat dan suaranya belum tembus.


“Iya Nak, Bunda disini. Jangan nangis lagi ya.” Dia mengangkat tubuh Bintang lalu menyeka air mata pria kecil ini.


“Hiks hiks hiks.” Bintang masih segugukan, perasaanya masih terlalu polos jadi mudah sekali terluka terhadap sesuatu yang dia anggap begitu berharga baginya.


Dia tersenyum sambil mengusap kepala Bintang yang masih menangis segugukan. Aku tak menyangka jika Bintang begitu menyanyangi Senja, padahal dia tahu jika Senja bukan siapa-siapa kami berdua hanya orang asyik yang kebetulan hadir didalam hidup kami berdua.


"Ja." Sapanya


"Mas." Dia membalas dengan senyuman "Mas enggak apa-apa kan? Apa Mas terluka?" Cecarnya sambil memaksakan dirinya duduk.


"Jangan dipaksa istirahat lah." Aku menahannya dan membiarkan dia tetap berbaring.


"Mas enggak apa-apa kan?"


Aku menggeleng sambil tersenyum gemes. Dalam keadaan seperti ini saja dia masih mengkhawatirkan ku. Padahal harusnya aku yang bertanya apa dia baik-baik saja?


"Saya baik-baik aja Ja." Ucapku "Maaf ya." Jujur aku merasa bersalah harusnya aku sebagai laki-laki yang melindungi dia kenapa malah sebaliknya?


"Minta maaf untuk apa Mas?" Kening nya berkerut heran.

__ADS_1


"Udah buat kamu kayak gini. Harusnya kamu enggak usah lindungi saya." Ucapku


"Enggak apa-apa Mas." Dia membalas lagi-lagi dengan senyuman dan membuatku semakin salah tingkah.


"Kak Divta." Dia baru menyadari kehadiran Kapten Divta.


"Senja." Kapten Divta maju mendekat "Dimana yang sakit? Ayo katakan sama Kakak?" Aku mencibir sambil memutar bola mata malas.


"Enggak ada yang sakit kok Kak." Sahut nya


"Kakak panik banget Senja dengar kamu masuk rumah sakit." Wajahnya terlihat sendu.


Dia hanya tersenyum simpul. Dan senyum itu membuatku aku yang salah tingkah, jangan sampai Kapten Divta juga salah tingkah gara-gara senyum mahal Senja ini.


"Ja, kayak nya Kakak enggak bisa lama-lama, pagi ini ada kegiatan. Kakak pamit pulang ya." Ujarnya


"Kakak jagaian aku semalam?"


"Iya Ja. Gantian sama Donny. Donny lagi ada urusan mendadak keluar kota." Jelas nya lagi "Ya udah kalau gitu Kakak pamit ya." Dia mengusap kepala Senja yang masih dibungkus perban itu.


"Iya Kak. Makasih udah jagain aku. Maaf ya Kak ngerepotin."


"Sama sekali enggak! Ntar sore Kakak kesini lagi kamu cepat sembuh ya." Ucap Kapten Divta.


"Iya Kak. Hati-hati." Pesannya.


"Dokter Langit saya permisi Dok. Saya titip Senja sebentar nanti saya kembali lagi." Memangnya Senja barang yang harus dititip?


"Iya Kapten hati-hati." Meski jenggah tapi aku harus tetap menjaga wibawa.


"Bintang Om pulang ya." Dia mengusap kepala Bingang.


Bintang tampak tak suka. Dia hanya diam saja tak merespon ucapan Kapten Divta.


"Dimaklumi ya Kapten, namanya juga anak-anak." Aku tersenyum tak enak hati.


"Enggak apa-apa Dok. Saya pamit Dok." Kapten Bintang keluar dari kamar ruang rawat Senja. Jadi aku bisa bernafas lega dan mendekati Senja.


"Bunda." Bintang naik diatas ranjang.


"Bintang pelan-pelan Nak, nanti jatuh. Bunda harus istirahat dulu." Aku geleng-geleng kepala.


"Bunda kangen Bunda." Dia kembali memeluk Senja sambil berbaring.


"Enggak apa-apa Mas aku juga kangen sama Bintang." Sahut nya.

__ADS_1


Aku tersenyum melihat kedua orang itu, keduanya saling mengobrol hangat. Aku hanya mendengarkan saja. Keduanya seperti sudah lama tak bertemu, padahal baru beberapa hari saja tidak saling bicara.


Bersambung...


__ADS_2