
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Siang ini aku ditemani oleh Kak Hana menemui Mas Chandra. Kalau aku pergi sendiri pasti tidak di izinkan oleh Mas Donny dan Mas Dicky.
"Senja."
"Mas."
"Ayo silahkan duduk." Ajak Mas Chandra.
"Selamat siang Pak Jaka." Sapa ku pada pria paruh baya yang juga tersenyum kearahku itu.
"Siang Senja." Balasnya.
Kenapa, setiap kali melihat wajah pria ini aku selalu melihat ada diriku didalam nya dan hatiku juga hangat saat ku cium tangan nya seperti sedang mencium tangan Ayah kandungku sendiri?
"Mas, kenalin ini Kak Hana. Kakak ipar saya."
"Chandra."
"Hana."
Aku dan Kak Hana ikut duduk bergabung dengan Mas Chandra dan Pak Jaka.
"Gimana kabar kamu Senja?" Tanya Pak Jaka tersenyum lembut padaku.
"Puji Tuhan sehat Pak. Bapak apa kabar juga?" Tanya balikku.
"Sehat Ja." Dia tersenyum padaku "Tapi kamu kok keliatan pucat? Kamu sakit?" Tanya nya. Nada nya sedikit panik.
"Enggak apa-apa kok Pak. Saya baik-baik aja." Jawabku.
"Ohh ya Ja. Ini surat kontrak baru kamu. Kamu boleh baca-baca dulu." Mas Chandra meletakkan berkas itu ditangan ku.
Aku membaca surat kontrak itu, tidak ada isinya yang membuat ku rugi. Ini akan menjadi awal karier ku dalam dunia menulis. Semoga ini jalanku menemukan terang di tengah kegelapan.
Aku membubuhkan tanda tangan diatas berkas itu sebagai persetujuan bahwa surat kontrak kerjasama ini telah sah aku setujui.
"Makasih Senja."
"Sama-sama Mas." Sahutku membalas dengan senyuman.
__ADS_1
"Senja." Panggil Pak Jaka.
"Iya Pak?" Aku menatap kearahnya sambil tersenyum "Kenapa Pak?" Sambungku.
"Enggak apa-apa. Kapan-kapan kalau ada waktu saya mau ajak kamu dinner anggap aja sebagai apresiasi atas kerjasama kita," ucapnya tersenyum hangat.
"Ohh boleh Pak." Balas ku.
Kami mengobrol panjang. Dan entah kenapa mengobrol dengan Pak Jaka membuatku merasa sedang berbicara dengan Ayahku. Aku tak kaku sama sekali. Malah rasanya aku ingin menceritakan semua isi hatiku pada Pak Jaka. Tapi tidak mungkin dia orang asing yang bahkan baru mengenalku beberapa waktu yang lalu.
"Kalau begitu kami permisi Senja terima kasih waktunya," ucap Mas Chandra berdiri dari duduknya.
"Senja saya pamit ya. Kamu jangan lupa jaga kesehatan dan semoga buku kamu terjual banyak," ucap Pak Jaka tersenyum hangat dan tangannya terulur mengusap kepala ku.
Dan kenapa rasanya berbeda? Jantungku berdebar dan hatiku merasa nyaman dan hangat.
"Iya Pak. Bapak juga jaga kesehatan." Aku menyalami tangannya.
Dia lagi-lagi tersenyum hangat. Terlihat sekali jika Pak Jaka ini bukan orang sembarangan. Dari pakaian dan penampilan nya saja sudah terlihat kalau Pak Jaka ini adalah orang kelas atas.
"Mau langsung pulang Ja?" Tanya Kak Hana.
"Kak temani Senja ke toko buku dulu ya. Senja mau beli beberapa buku Kak," ucap ku berdiri sambil menggantung tas di bahu ku.
"Senja."
Aku dan Kak Hana menoleh kearah suara yang berjalan kearah kami dengan senyuman angkuh.
"Mbak Elly." Gumamku.
Dia mendekat dan menatap ku sinis. Melirik ku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Kenapa Mbak?" Kening ku berkerut heran.
"Masih nanya kenapa?" Dia menatapku tak suka.
"Heh kalau orang tahu juga enggak bakal nanya kali. Loe mau apa?" Kak Hana terpancing emosi. Dia memang tipikal orang yang suka main gebrek kalau ada orang yang sombong.
"Gue enggak ada masalah sama loe." Dia menatap Kak Hana sinis "Gue punya masalah sama cewek yang suka rebut pacar orang." Dia menunjuk kearah ku.
Aku tak mengerti maksudnya apa? Pacar siapa yang aku rebut? Status ku masih bersuami, meski sebentar lagi aku akan menjadi janda.
__ADS_1
"Maksudnya apa Mbak?"
"Senja Mentari, dengarin saya. Kamu tuh enggak pantas jadi Bunda-nya Bintang, apalagi bersanding sama Mas Langit. Harus nya kamu ngaca, kamu tuh siapa? Kamu pikir Mas Langit mau sama kamu. Jangan mimpi Senja. Mas Langit peduli sama kamu karena Bintang, bukan karena dia suka sama kamu," ucap Mbak Elly sambil melipat kedua tangannya didada.
"Maksud Mbak apa ya? Saya enggak ada niat buat dekatin Mas Langit, apalagi berharap bersanding dengannya." Jawabku.
"Alah, enggak usah pura-pura Senja. Kamu sengaja kan dekatin Bintang, biar Mas Langit terpesona sama kebaikan kamu. Padahal dalam hati kamu tuh busuk," ujarnya
"Ehh jaga omongan loe ya." Kak Hana mendorong tubuh Mbak Elly.
"Kak, jangan." Cegah ku.
"Jangan pegang-pegang gue." Dia menyapu-nyapu baju nya bekas dorongan Kak Hana.
"Senja, saya ingatin kamu sekali lagi. Jangan pernah dekatin Mas Langit dan Bintang, karena saya calon istrinya Mas Langit. Saya enggak mau kamu dekatin calon suami saya." Tegasnya "Dan satu lagi, jangan caper dan minta dimanja sama Mas Langit, karena dia enggak akan pernah kasih perhatian lebih sama kamu. Dia cuma menghargai kamu doang." Dia lagi-lagi menatapku sinis.
"Dasar wanita penyakitan." Ejeknya.
"Stop ya." Sergah Kak Hana "Jangan-jangan loe yang penyakitan. Penyakit meriang, merindukan kasih sayang dari Dokter Langit. Gue yakin sih kalau loe tuh cuma benalu dihidup Dokter Langit. Kasihan banget sih." Ledek Kak Hana sambil melipat kedua tangannya didada.
"Kak Hana." Tegurku
"Loe....." Mbak Elly mengepalkan tangannya geram lalu pergi meninggalkan kami.
Aku terduduk kembali dikursi. Hati teriris sakit mendengar tuduhan Mbak Elly. Aku sama sekali tak memiliki niat untuk mendekati Mas Langit. Sungguh aku menyanyangi Bintang seperti anakku sendiri. Dan Mas Langit, aku juga memiliki perasaan apapun padanya dia sudah kuanggap seperti Kakak ku sendiri, sama seperti Mas Donny dan Mas Dicky. Aku juga sadar diri untuk tak berharap lebih dari hubungan tak mungkin ini. Dan mungkin aku akan mati rasa setelah dilkecewakan dan dipatahkan teramat tak berharga.
"Ja."
Air mataku menetes. Aku merenggek sambil menatap Kak Hana. Kenapa masalah tidak pernah berhenti mendatangi hidupku?
"Kak."
Kak Hana merengkuh tubuhku kedalam pelukannya. Perkataan Mbak Elly yang mengatakan aku penyakitan masih terus terngiang-ngiang dikepala ku.
"Enggak usah dipikirin. Anggap aja angin lewat." Kak Hana mengusap bahuku berulang kali.
Aku menangis segugukan dipelukkan Kak Hana. Seperti nya aku harus menjauhi Mas Langit dan Bintang, aku tidak mau terus dituduh menggoda Mas Langit karena aku tidak seperti itu.
"Udah enggak usah nangis. Malu dilihat orang." Celetuk Kak Hana melepaskan pelukannya "Udah yuk, ntar toko buku nya tutup lagi." Dia menarik tanganku agar berdiri.
Aku mengangguk dan mengikuti tarikan tangan Kak Hana. Bukan hanya hatiku yang lelah tapi tubuhku juga lelah. Lelah menangis. Lelah menanggung segala beban yang menimpa pundakku ini.
__ADS_1
Bersambung.....