
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Senja POV
Aku merasakan susah bergerak seperti sebuah benda menimpa perutku. Aku masih enggan membuka mata. Enak sekali rasanya tidur dengan posisi seperti ini?
Tunggu dulu, kenapa bau parfum ini sangat familiar? Ini bukan parfum Mas Reza, tapi
"Astaga." Aku membuka mataku dengan cepat ketika melihat orang asing memelukku dengan nyaman "Mas Langit." Oh Tuhan bagaimana bisa aku tidur dengan laki-laki lain. Tolong aku, aku ingin bersembunyi dibalik batu.
Kulirik Bintang yang tertidur disampingku. Kenapa ini malah terbalik? Perasaan Bintang yang ditengah kenapa malah aku yang tiba-tiba berada diantara Ayah dan anak ini?
Tuhan bagaimana bisa aku tidur dengan laki-laki lain, meskipun tidak berbuat apa-apa. Tapi tetap saja aku merasa ini tidak wajar. Mas Reza pasti akan salah paham.
Aku berusaha menyingkir dari pelukkan Mas Langit, mengangkat tangannya yang dimemeluk perutku dengan pelan.Sial, kenapa tangan lelaki ini berat sekali? Dia makan apa sih? Dan lagi kenapa malah semakin erat memeluk ku? Bagaimana kalau ada yang lihat bisa salah paham? Bisa digrebek warga kalau begitu.
Wajah Mas Langit berada dikepala ku, bahkan jika aku bergeser sedikit saja dia bisa mencium ujung kepalaku. Bagaimana ini? Aku harus lepas dari pelukan Mas Langit, aku tidak mau Mama masuk kedalam kamar dan melihat kami dalam keadaan intim begini bisa panjang urusannya.
"Aduhh ini kenapa makin erat sih? Mana udah jam lima lagi aku harus bangun siapkan sarapan?" Keluhku.
Tidak ada cara lain. Aku harus membangunkan Mas Langit agar melepaskan pelukannya. Aku harus pulang sebelum Bintang bangun, berlama-lama disini tidak baik. Apalagi status ku masih bersuami. Nanti bisa terjadi fitnah. Aku tidak mau bermasalah lagi. Masalahku saja belum selesai.
"Mas." Panggilku pelan sambil mendongkakkan kepala ku agar bisa menepuk pipinya.
"Mas Langit." Panggilku sekali lagi "Mas bangun Mas. Lepasin pelukannya." Ucapku setengah berbisik takut jika Bintang nanti malah mendengar suara ku.
"Mas."
Astaga kenapa pria ini semakin erat memelukku? Dia benar-benar tidak ingat atau bagaimana sih?
"Mas Langit. Mas bangun Mas."
"Masssss."
Dan berhasil. Dia bergerak dan mengeliat. Tapi kenapa dia ini tidak mau melepaskan pelukannya. Aku tidak nyaman dalam posisi begini?
Ini juga bagaimana cerita nya aku bisa tiba-tiba ditengah? Bukankah aku didekat Bintang?
"Mas."
__ADS_1
Dia mengeliat lagi dan membuka matanya. Aku tersenyum menatap nya dan berharap dia segera melepaskan pelukannya ini.
"Mas." Aku masih tetap tersenyum. Sebenarnya terpaksa.
"Ehhhh Senja." Dan ini lagi kenapa dia malah membalas dengan senyum juga "Kamu kenapa?" Tanyanya. Ini orang sadar tidak sih saat memeluk ku?
"Mas bisa lepasin pelukannya gak?"
Dia melirik tangannya yang masih melingkar diperut ku. Lalu menatap aku yang tersenyum. Aku bukan tersenyum malu tapi tersenyum risih. Ini duda, uhh bisa khilaf aku nanti. Ingat, aku masih bersuami. Meskipun satu untuk berdua.
"Ehhh maaf Senja." Dia melepaskan pelukannya dan terduduk
Aku bernafas lega. Aku seperti dikurung dalam sangkar yang tidak bisa kemana-mana? Untung saja duda ini cepat bangun kalau tidak bisa habis nafas aku.
"Senja, sa-saya minta maaf. Saya gak sengaja peluk kamu. Saya pikir kamu bantal guling." Ucapnya terlihat gugup. Mungkin malu. Aku juga malu tapi ya sudahlah, sudah terlanjur juga.
"Gak apa-apa Mas." Aku turun pelan dari ranjang takut membangun kan Bintang yang tengah terlelap itu.
"Mau kemana?" Kening nya berkerut heran
"Aku mau masak Mas, mau siapin sarapan buat Bintang dan Mas. Boleh ya Mas?" Pintaku. Kebiasaan ku setiap kali menginap dirumah orang bangun pagi dan masak seperti dirumah sendiri.
"Mas setelah masak, aku mau izin pulang ya sebelum Bintang bangun?" Ucapku
Dia tampak melihat kearah ku. Kenapa raut wajahnya berubah?
"Gak nungguin Bintang?" Tanyanya
"Hem, gak masak. Aku buru-buru soalnya." Jawabku "Ya udah Mas, aku ke dapur dulu."
"Saya bantu." Tawarnya
Aku mengangguk. Bukan apa aku ingin pulang sebelum Bintang bangun, aku takut Bintang menahanku lagi disini. Mas Reza pasti mencariku. Walau bagaimana pun dia tetap suamiku. Meski aku tidak tahu bagaimana dengan nasib pernikahan ku ini nantinya? Apakah akan kandas dan berakhir dengan perpisahan? Atau masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Meski kemungkinan nya sangat kecil. Tapi aku masih begitu berharap.
"Kenapa melamun?" Pertanyaan nya membuyarkan lamunan ku.
Aku langsung tersadar "Ehh gak Mas." Aku mencoba tersenyum.
"Kamu mau masak apa?" Tanyanya
__ADS_1
"Bintang suka nasi goreng gak?" Aku mengeluarkan beberapa sayuran didalam pendingin. Tidak cuci muka langsung masak, begitulah kebiasaan ku.
"Suka." Sahutnya "Ada yang bisa saya bantu gak?" Tawar nya
"Mas potong bawang nya aja." Aku memberikan beberapa butir bawang merah dan putih.
Aku tidak pintar masak tapi aku suka sekali memasak. Apalagi memasak untuk suamiku. Entah kenapa dadaku semakin sesak mengingat perbuatan Mas Reza dan dia bahkan dengan tega-teganya menuduhku selingkuh dengan Mas Langit. Aku tak habis pikir, dia yang selingkuh kenapa aku yang tertuduh?
Sebenarnya aku malu saat Mas Langit tahu masalahku ini. Dia orang asing yang harusnya tidak perlu tahu sisi lemahku. Tapi sekarang Mas Langit bahkan sudah tahu semuanya. Aku hanya takut ini berakibat untuk Mas Reza, bagaimana pun dia masih suamiku.
"Mas mau coba dulu." Aku mengambil sesendok nasi goreng
"Boleh."
Dia membuka mulutnya pas sendok itu kuarahkan padanya.
"Pas gak?" Tanyaku meminta penilaian terhadap masakkan ku.
"Pas. Enak dan gurih." Puji nya sambil mengacungkan jempolnya.
"Saya gak pernah cicipi soalnya kalau masak, jadi biasa rasanya kurang pas." Entah kenapa aku tidak suka mencicipi masakkan setiap kali masak. Aku main tebak-tebakan saja saat memberi bumbu pada masakkanku.
"Tapi bumbu nya pas. Meski tebak-tebakkan." Pujinya
Aku menyajikan nasi goreng buatannya diatas meja. Ketahuilah ini nasi goreng kesukaan Mas Reza. Setiap pagi aku hampir membuat nasi goreng untuk nya meksipun itu tidak baik untuk kesehatan.
"Mas aku mau siapin bekal buat Bintang. Boleh ya?" Ujarku.
"Boleh banget. Bintang emang selalu bawa bekal setiap hari." Jawabnya.
Aku menyiapkan bekal untuk Bintang. Seandainya aku punya anak pasti akan sangat-sangat bahagia bila aku bisa mengurus anakku dengan baik dan menyiapkan segala keperluan nya.
Sayang gelar Ibu belum disematkan padaku. Tapi tidak apa-apa, Betrand dan Bintang bisa menjadi anakku. Jadi anggaplah mereka putraku juga.
**Bersambung....
Makasih buat yang udah ikutin..
Jangan lupa love love dari kalian ya**..
__ADS_1