
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
"Kenapa enggak pantas? Apa yang buat kamu enggak pantas buat saya dan Bintang? Katakan Senja, biar saya bisa perbaiki?" Cecarnya lagi, kenapa air matanya seolah menunjukkan bahwa dia patah hati hebat saat ini?
"Apa karena kamu sakit? Apa karena kamu janda? Apa karena kamu enggak bisa punya anak?" Tuturnya lagi "Senja saya enggak peduli apapun itu. Saya cinta sama kamu Senja."
Deg
Tangisku seketika terhenti ketika mendengar ungkapannya. Aku menatap nya, benarkah? Benarkah Mas Langit mencintaiku? Apa ini artinya yang dikatakan Mas Donny dan Mas Dicky itu benar adanya.
"Saya mencintai kamu Senja. Sangat mencintai kamu. Bukan hanya Bintang yang butuh kamu tapi saya juga butuh kamu. Saya enggak mau kamu jauhin saya lagi. Saya enggak sanggup Senja. Saya enggak bisa. Liat kamu kesakitan kayak gini, membuat saya merasa bersalah karena saya merasa gagal sebagai seorang Dokter," ucapnya sungguh-sungguh.
"Mas."
"Saya enggak peduli kamu tolak saya berulang kali. Saya enggak akan nyerah buat dapatin hati kamu. Saya mencintai kamu sungguh-sungguh mencintai kamu, Senja Mentari."
Hatiku hangat seketika mendengar ucapan Mas Langit. Sudah lama aku tak diperjuangkan selama ini aku yang selalu berjuang sendirian tanpa siapapun. Sekarang, ada seorang lelaki sempurna seperti Mas Langit yang mengatakan hal ini padaku. Bolehkah aku menangis mengucapkan ribuan terima kasih?
"Saya tahu kamu enggak punya perasaan apapun sama saya. Saya juga tahu kamu enggak akan mudah buka hati buat saya. Tapi berjanji Senja, saya akan buktiin bahwa saya sama dia enggak sama. Saya sama dia adalah orang yang berbeda. Saya akan buktiin bahwa saya mencintai kamu tulus apa adanya."
Aku menatap wajah Mas Langit, melihat kearah bola matanya berusaha mencari kebohongan namun yang kutemukan adalah kebenaran. Aku bisa lihat jika dia sungguh tulus mencintaiku. Tapi bagaimana denganku? Bukan aku tak memiliki rasa lebih dari seorang Kakak, hanya saja aku sadar perasaan ini salah. Sekarang aku tak lebih dari wanita menyedihkan yang pernah ada.
"Mas."
Mas Langit memeluk ku sambil menangis. Aku tahu dia mencari ku beberapa hari ini dan kami seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
"Apapun jawaban kamu saya akan tetap disini menjaga kamu."
Aku memejamkan mataku meresapi pelukkan nyaman dan hangat ini. Entahlah, sekarang aku bukan lagi patah hati karena Mas Reza, aku pahat hati karena penyakit yang bersarang ditubuhku. Kapan? Kapan waktu Tuhan memanggil ku pulang? Aku lelah aku ingin menyerah!
Tapi bagaimana dengan Mas Langit dan Bintang. Apa aku tega meninggalkan mereka berdua? Disaat-saat aku berada dititik terendah sebagai seorang wanita, mereka berdua hadir dan menyakinkan ku bahwa semua akan baik-baik saja.
Sekarang Mas Langit sudah mengungkapkan perasaan nya padaku. Bukan aku tak tahu jika yang dia lakukan selama ini. Aku tahu. Aku bisa rasakan. Hanya saja aku berpura-pura tidak tahu. Berpura-pura tak paham karena aku tidak mau perasaan Mas Langit semakin dalam. Namun, Lihatlah sekarang, dia malah memelukku kian erat seolah takut jika aku lepas.
Pantas saja Mas Langit begitu semangat mengurus semua urusan perceraian ku dan Mas Reza, ternyata dia ingin aku segera lepas dari pria yang salah agar pria baik seperti nya berkesempatan memiliki hatiku.
Tapi bagaimana dengan aku, apakah aku bisa membalas perasaan Mas Langit? Jujur aku memiliki perasaan yang sama. Tapi aku takut terluka lagi. Aku takut patah lagi. Karena jika bersangkutan dengan hati tak ada sesuatu yang sepele. Aku tidak mau terjebak lagi. Aku tidak mau berakhir dengan perpisahan lagi. Bisakah kali ini Tuhan biarkan aku bahagia sekali saja sebelum aku pulang ke pangkuan-Nya.
__ADS_1
Aku melepaskan pelukan Mas Langit. Aku tersenyum sambil mengusap pipinya yang basah. Dokter tampan ini kalau menangis terlihat lucu dan menggemaskan.
"Jangan tinggalin saya?" Dia kembali menggenggam tanganku "Tetap bertahan apapun yang terjadi ya. Kamu jantung hati saya," ucapnya lagi.
"Aku enggak akan pergi kok Mas." Jawab ku "Aku akan temanin Mas sama Bintang, kapanpun Mas mau." Sambungku kemudian.
"Makasih Senja." Dia kembali memelukku.
.
.
.
.
"Senja."
Lena dan Mbak Lia masuk kedalam ruangan rawat inap ku.
Aku tersenyum melihat mereka masuk. Tapi tidak dengan wajah Bintahg, apalagi ada Betrand disana. Aku heran, anak kecil saja sudah tahu cemburu.
"Len." Aku menyambut pelukan Lena.
"Astaga Ja, kamu kenapa sih? Kenapa enggak cerita kalau kamu sakit?" Celoteh Lena. Aku rindu sekali dengan sahabat ku yang satu ini.
"Akh juga kangen sama kamu Len." Jawabku "Mbak Lia."
"Senja." Mbak Lia juga memberikan pelukkan hangat padaku.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Mbak Lia tampak khawatir. Mbak Lia ini memang baik aku sudah menganggap nya sebagai Kakak ku sendiri.
"Senja udah sehat kok Mbak." Senyumku.
Tampak Mas Zaenal dan Mas Radwan yang baru masuk bersama Mas Langit. Mereka tampak berbincang-bincang.
"Tante Senja, Betand kangen." Bertrand hendak memeluk ku.
__ADS_1
"Jangan peluk-peluk Bundaku." Hardik Bintang memeluk ku agar Betrand tidak memeluk ku.
"Hiks kamu yang enggak usah peluk Tante Senja Betand." Hardik Betrand tak mau kalah.
"Betrand." Tegur Lena
"Bintang." Mas Langit geleng-geleng kepala.
Aku malah tersenyum. Sebagai seorang wanita yang ingin mendapat gelar Ibu tentu aku senang karena mereka memperebutkan ku.
"Enggak boleh berantem," ucapku.
"Sini peluk sama-sama aja. Bunda kan milik kalian berdua." Aku merengkuh tubuh Bintang dan Betrand secara bersamaan, kebetulan Betrand juga naik keatas ranjang.
"Tante Senja kemana aja? Betand nyaliin Tante. Betand kangen makan disuapin Tante," ucap Betrand sendu.
"Maafin Tante ya Sayang." Aku mengusap kepala Betrand.
"Bunda." Bintang merenggek lagi. Anak kecil ini memang pencemburu hebat.
Sudah lama aku tak bertemu Mbak Lia dan Lena. Kami juga lost kontak karena aku sibuk mengurus permasalahan ku dengan Mas Reza kemarin.
"Ja tadi Kapten Divta, mau kesini katanya. Cieee yang udah dapat pengganti Mas Reza." Goda Lena.
Wajah Mas Langit dan Bintang langsung berubah masam. Ingin rasanya ku sumpal mulut Lena yang asal menyerocos tanpa melihat sekitar nya.
"Iya Ja. Kapten Divta ganteng lho. Masih muda lagi. Cocoklah sama kamu." Mbak Lia ikut menimpali
Aku menggaruk kepalaku dan menelan saliva susah payah. Apalagi tatapan marah dari mata Mas Langit terlihat jelas. Bahaya kalau pria cemburu ini nanti memberontak.
"Enggak boleh. Bunda cuma boleh sama Ayah." Seru Bintang.
"Tante jangan jodoh-jodohin Bunda sama yang lainnya. Bunda itu milik Ayah." Tegas Bintang.
Kami semua melihat kearah Bintang yang tampak kesal.
Bersambung.....
__ADS_1