
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Reza POV
Penyesalan adalah sesuatu yang tak ada akhirnya. Ketika sesuatu yang kamu miliki, kamu lepas begitu saja berharap bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari dia. Namun, kenyataan nya justru mendatangkan penyesalan yang teramat sangat menyiksa jiwa dan batin.
Aku, adalah lelaki yang telah menyia-nyiakan permata indah, seorang wanita yang tak memandangku sebelah mata. Seorang wanita yang selalu menungguku didepan pintu ketika aku pulang bekerja. Seorang wanita yang memeluk ku dikeheningan malam. Yang mampu mengobati segala lelah yang mendera.
Aku, adalah lelaki bodoh yang hanya dibutakan oleh kenikmatan sementara. Melepaskan seseorang yang membuatku berada dititik ini. Demi seseorang yang kuharapkan menjadi tempat peraduan terakhir. Berharap segala mimpi dan impian membuatku berada dititik terbaik dalam hidup.
Senja Mentari, istriku. Aku tak pernah benar-benar mencintainya diawal pernikahan kami, aku mencintainya demi jabatanku bertahan sebagai Tentara Angkatan Laut. Aku tak pernah menaruh rasa padanya. Berpura-pura mencintai itu ternyata tidak baik untuk kesehatan hati dan jiwa. Aku tersiksa. Selama delapan tahun mencoba bertahan dan mencoba membuka hati barang kali aku bisa mencintai wanita itu tanpa berpura-pura.
Usahaku gagal, aku tak tahan godaan. Saat Siska datang menawarkan tubuhnya padaku. Aku tak bisa menolak, apalagi dia memiliki postur tubuh yang menggoda yang jelas jauh berbeda dari Senja. Kami menjalin hubungan terlarang dibelakang Senja dan aku menikahi Siska setelah tahu bahwa benih yang aku tanam telah tumbuh didalam rahim Siska. Meski aku bukan yang pertama menidurinya tapi aku yakin itu anakku, meski aku sedikit ragu. Aku yang ingin menjadi seorang Ayah tentu senang ketika wanita yang aku cintai mengandung buah cintaku. Senja tak tahu apa-apa, aku berulang kali membohongi nya dan dengan wajah polosnya dia percaya pada apa yang aku katakan.
Saat Senja tahu penghianatanku, aku tak takut sama sekali karena aku yakin Senja takkan meminta pisah padaku. Dia mencintaiku jadi dia akan menerima aku yang menikah diam-diam dibelakang nya. Aku sama sekali tak merasa bersalah karena aku tidak mencintai Senja. Meski begitu aku tak pernah berlaku kasar padanya.
Aku pikir aku akan bahagia, memiliki istri cantik dan bayi yang menggemaskan serta istri yang memiliki karier cemerlang. Tidak seperti Senja yang hanya lulusan SMA dan menjadi Ibu rumah tangga, mengurus semua keperluan suami tanpa memiliki keahlian apapun.
Setelah ku melihat dia menangis. Ketika aku selesai menamparnya dan pipinya memerah, kenapa hatiku sakit? Sakit sekali, selama menikah aku tak pernah menyakiti nya meski aku tak mencintai nya. Aku tetap menghormati nya meski kedua orangtuaku dari awal melarang keras hubungan kami tapi demi jabatanku aku melawan orangtuaku dan pura-pura mencintai Senja.
Malam itu disamping bambu runcing aku hendak menyusulnya karena ternyata dia mendengar percakapan ku dan Ibu. Senja tahu kalau aku tak mencintai nya setelah pernikahan yang cukup lama ini. Aku ingin menjelaskan padanya bahwa yang dia dengar tak benar agar dia tak lepas dariku.
Namun aku melihat Dokter Langit memeluk Senja yang terlihat begitu rapuh. Hatiku mulai terganggu dan panas. Kenapa bisa sakit padahal aku tak mencintai nya? Apalagi Dokter Langit tampak begitu tulus saat memeluk tubuh Senja
Aku mendapat kabar bahwa istriku ini seorang penulis novel online yang sudah menghasilkan banyak uang. Selama menikah aku memang tak pernah memberi nya banyak uang selain kebutuhan hidup kami berdua. Entah kenapa aku tak bisa memberikan uang banyak padanya. Apa mungkin karena aku tidak mencintai nya? Aku tidak tahu jika istriku memiliki bakat terpendam, pantas saja kebutuhan rumah selalu tercukupi meski aku memberikan uang yang tipis padanya. Aku baru tahu ketika Raswan mengatakan nya padaku.
__ADS_1
Saat Senja kabur dari rumah, kupikir aku akan lega dan tak perlu berepot-repot menjaga perasaan nya dirumah karena ada Siska. Ternyata aku salah, aku merasa ada sesuatu yang hilang saat dia pergi. Aku merasa bagian rongga hatiku terasa kosong dan hampa.
Aku mencarinya, aku mengirim pesan padanya dan mengancamnya. Entah kenapa begitu berat untuk mengatakan kata pisah darinya? Berat sekali. Aku tak bisa melepaskan nya, apa karena aku takut jabatanku menjadi jaminannya? Entah lah aku tidak tahu.
Perasaan ku mulai kalut, aku panik. Tidak. Aku tak bisa melepaskan nya. Apalagi hubungan ku dan Siska semakin renggang setiap hari terjadi pertengkaran antara kami hanya karena siapa yang akan mengasuh Queen putri kecilku.
Hari berganti, aku semakin gelisah. Aku seperti pria yang patah hati, tak melihat Senja bagai tak melihat matahari terbit dan saat itulah aku sadar bahwa aku sudah jatuh cinta pada istriku sendiri, apakah terlambat?
"Senja."
Aku terkejut ketika mendapat surat panggilan dari kesatuan, apa pernikahan siri ku sudah tersebar di batalyon? Tentu saja aku panik, aku akan dipecat dan dipidana tinggal dijeruji besi. Aku tidak mau, aku menolak dan tak bisa mengelak. Tapi aku tak bisa memilih antara Siska dan Senja. Aku mencintai mereka berdua terkhusus Senja, aku rela kehilangan Siska dari pada kehilangan Senja.
Jantungku kembali berdebar saat menerima surat gugatan cerai dari Pengadilan Negeri Agama, Senja mengugatku? Tidak, aku tidak terima. Aku tidak mau berpisah dari Senja, aku sudah jatuh cinta padanya. Aku ingin memperbaiki hubungan kami. Aku akan lakukan saja apapun agar dia dan aku tetap menjadi kita.
"Enggak, Mas enggak mau pisah dari kang Senja. Mas cinta sama kamu."
"Silahkan keluar Pak Reza, istri anda ingin bertemu."
Aku keluar dari balik jeruji besi yang akan menjadi tempat tinggalku selama lima tahun kedepan.
"Mas." Siska mencari ku.
"Ada apa?" Aku duduk dibangku besuk
"Mas, aku....." Siska tampak menarik nafas dalam
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku mau kita cerai," ucapnya gampang.
Aku terdiam menatap Siska. Kecewa sudah pasti, apa dia juga ingin meninggalkan ku disaat aku mengalami kerapuhan seperti ini.
"Maaf Mas, aku enggak bisa bertahan sama kamu. Aku enggak mampu nunggu kamu, lima tahun terlalu lama. Mungkin bercerai lebih baik."
Tentu perceraian tak memerlukan pengadilan karena pernikahan ini secara siri tidak tercatat baik dalam agama mau pun hukum negara.
"Hak asuh Queen tetap jatuh ke tangan kamu. Queen aku titipkan sama Ibu." Sambungnya.
Aku mengangguk, aku tak mungkin memaksa Siska untuk menunggu ku dan lagian hubungan kami memang sudah bermasalah.
"Aku pamit Mas." Dia berdiri dari duduknya dan melenggang meninggalkan ku.
Hancur. Hidupku hancur. Tak ada lagi sisa kebahagiaan yang tersisa. Mungkin ini karma atas apa yang aku lakukan pada Senja. Benar kata orang-orang hukum karma itu berlaku dan seseorang akan terasah sangat berarti setelah dia pergi dan takkan kembali.
"Senja."
Bersambung......
**Bersambung...
Jangan lupa dukungan buat otor ya gaesss...
__ADS_1
LoveU banyak2**...