Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 24


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫


Aku tak menanggapi permintaan Mas Reza yang menyuruh ku menjaga anaknya. Percayalah sebaik apapun perempuan tetap takkan ikhlas jika disuruh merawat bayi dari selingkuhan suaminya.


"Kamu udah buat Mas kecewa Ja. Mas pikir kamu beda. Mas pikir kamu orang baik. Ternyata kamu sama aja." Ucap Mas Reza kecewa dan menuduh ku tak baik.


"Mas, Mas sadar gak sih yang Mas omongin itu apa Mas? Coba Mas ada diposisi aku, gimana perasaan Mas? Aku dipaksa ngerawat bayi hasil dari perselingkuhan suamiku sendiri. Kamu emang gak punya hati Mas. Kamu egois. Kamu sama sekali gak pernah mikirin perasaan aku. Kamu mikirin diri kamu sendiri." Ucapku penuh emosi. Aku marah diperlakukan begini.


"Senja, bukan gitu maksud Mas. Mas tahu Mas salah tapi kamu gak bisa seenaknya gini sama Mas." Dia masih membela diri.


"Ohh iya. Baiklah mungkin aku yang salah. Tapi sekali lagi aku tegaskan Mas aku menolak dengan keras untuk merawat bayi Mas dan Mbak Siska. Mas cari aja baby sitter." Aku melengang pergi meninggalkan Mas Reza.


"Senja."


"Senja." Dia memanggilku berulang kali.


Aku keluar dari pagar sambil membawa tas kecil dan laptop ditanganku. Tadinya aku ingin menulis dirumah tapi karena perdebatan ini lebih baik aku kabur saja mencari udara segar diluar.


"Ja mau kemana?" Kebetulan aku berpapasan dengan Mbak Lia.


"Mau ke caffe Mbak." Jawabku.


"Ohh ya kerumah Mbak sebentar ada yang ingin Mbak bicarain sama kamu. Lena juga ada dirumah sama suaminya." Ajak Mbak Lia.


Keningku berkerut. Ada apa Lena kesana? Dan kenapa Mbak Lia mengajakku kerumah nya.


"Iya Mbak."


Aku mengikuti Mbak Lia masuk kedalam pagar rumahnya. Dia Kodim ini, rumah Mbak Lia dan Mas Zaenal yang paling mewah dan bagus. Selain Kapten dan ketua batalyon, Mas Zaenal juga memiliki beberapa cabang bisnis disini. Dia memiliki caffe dan rumah makan yang berjejer di bagian tepian Kapuas.


"Ayo masuk Ja."


"Iya Mbak."


Sebenarnya aku penasaran ada apa Mbak Lia mengajakku datang kerumahnya? Apa yang ingin dia bicarakan padaku?


"Ja."


"Len."

__ADS_1


Lena sudah memasang wajah sumringah nya dengan senyuman menggoda. Sudah beberapa hari ini aku memang bertemu Lena. Aku sedang sibuk merevisi naskah yang akan aku terbitkan jadi sebuah buku itu.


"Len kamu ngapain disini?" Tanyaku heran.


"Sini Ja." Lena menarik tanganku agar duduk soffa bersama nya "Kamu mau kemana bawa laptop segala?" Tanya nya heran.


"Mau membobol bank." Jawabku asal.


"Kamu ini." Lena memukul lenganku pelan.


"Apa kabar Senja?" Tanya Mas Zaenal tersenyum simpul.


"Seperti yang Mas lihat, senang-senang Mas." Jawab ku. Aku jarang berinteraksi langsung dengan Mas Zaenal ini.


"Ini kumpul rame-rame ada apa? Mau reunian?" Celetukku sambil meletakkan laptop disampingku.


"Jadi gini Ja, Minggu depan kan semua kesatuan akan dinas. Jadi sebelum dinas satu bulan ke Papua rencananya mau buat acara sekalian mau nyambut ketua Batalyon yang baru." Jelas Mas Zaenal.


"Lho, emang Mas Zaenal mau kemana? Diturunin jabatannya?" Tanyaku heran.


Mereka semua terkekeh termasuk Mas Zaenal. Aku kalau penasaran dan heran selalu bertanya agar perasaan ku puas.


"Mbak Lia ikut?" Tanyaku. Karena kalau Mbak Lia ikut bagaimana dengan anak-anak nya?


"Mbak gak ikut tetap disini. Kasihan anak-anak harus pindah sekolah." Jelas Mbak Lia.


Aku manggut-manggut paham. Sebenarnya menikah dengan abdi negara ini memang harus siap menanggung resiko. Yang pasti dia akan jarang ada dirumah dan dia akan selalu berpindah tugas. Tapi Mas Reza sudah hampir belasan tahun jadi Tentara belum pernah pindah tugas. Dia pindah tugas sebelum menikah dengan ku tapi setelah kami menikah hampir delapan tahun dia belum pernah pindah. Mungkin jika ada jadwal pindah dinas dia akan pindah.


"Ja." Mbak Lia kembali memanggil ku.


"Iya Mbak, kenapa?" Aku tersenyum sambil meletakkan cangkir kopi yang kusesap ini nya ini.


"Ja, kamu jujur ya sama kita? Sebenarnya tujuan kita panggil kamu kesini ada yang pengen kita omongin."


Keningku berkerut heran "Ngomongin apa Mbak?" Kenapa seperti teka-teki saja.


Lena malah mengelus pundakku. Seolah sedang memberi kekuatan padaku.


"Beneran Reza nikah siri sama Siska?" Tanya Mas Zaenal

__ADS_1


Deg


Kenapa jantung ku berdebar? Dari mana mereka tahu tentang ini? Apa mereka lihat kalau Mbak Siska yang tinggal di mess Batalyon?


"Ja." Panggil Lena melihatku terdiam melamun.


"Beneran Ja?" Mbak Lia menatapku.


Mas Zaenal dan Mas Raswan juga tampak menunggu jawaban ku. Benar kata pepatah sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai pasti tercium juga bau busuknya.


Aku menghela nafas panjang dan menatap keempat orang itu secara bergantian.


"Iya Mas. Iya Mbak." Jawabku jujur.


Keempat orang itu tampak menghela nafas panjang. Bahkan Mas Zaenal memijit-mijit pelipisnya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Mas Raswan ikut menyambung.


Aku menggeleng. Aku memang tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Bahkan untuk saat ini saja aku tidak tahu akan melangkah kemana dan pergi kemana?


"Kenapa bingung Ja? Kamu gak bisa bertahan sama orang mendua hati? Kamu jangan mau dibodohi. Semua kesatuan udah tahu kalau suami kamu nikah siri sama Siska." Lena geram sendiri emosinya tampak menggebu-gebu.


"Aku gak tahu Len." Aku hanya menunduk.


"Ja, gini Reza ini udah melanggar aturan yang berlaku. Jadi dia harus memilih. Dia bisa tetap bertahan dikesatuan dengan satu syarat dia harus kembali sama kamu. Kalau dia pilih Siska maka dia akan dikeluarkan dari sini." Jelas Mas Zaenal.


Aku terdiam. Walau sudah disakiti berulang kali aku tetap memikirkan masa depan suamiku. Aku sangat mencintainya. Jika disuruh pilih antara aku dan Siska jelas Mas Reza akan pilih Siska dan anaknya tapi dia akan dikeluarkan dari kesatuan.


"Gimana Ja?" Mbak Lia menyambung


"Kamu bisa bicarain ini sama Reza? Sebelum kepala kesatuan yang baru datang, masalah ini harus clear?" Mas Zaenal ikut menimpali.


"Mas, aku siap pisah sama Mas Reza tapi aku gak mau kalau Mas Reza kehilangan jabatannya. Bisa tolong di urus Mas, jangan sampai Mas Reza dikeluarin dari jabatannya." Ucapku.


Mas Zaenal tampak berpikir lalu dia menatapku dengan kasihan. Sebenarnya aku tidak perlu dikasihani, tohh tidak ada yang benar-benar peduli padaku.


**Bersambung.......


Jangan lupa like komen vote dan rate 5 nya guys**...

__ADS_1


__ADS_2